Islam dan Relevansinya Menentang Kapitalisme

Spread the love

Oleh Eko Santoso

 

Abad Kebangkitan Agama

Perkembangan pesat dunia begitu terasa ketika menemukan masa dimana keberadaan mesin-mesin mengambil peran sentral dalam hal produksi berbagai kebutuhan hidup, menggantikan tenaga manusia. Tingkat konsumerisme sebagai akibat melimpahnya hasil produksi tak kalah ketinggalan untuk meroket pula. Perkembangan ini pada akhirnya memicu negara-negara di dunia—terutama mereka yang menguasai teknologi—turut serta melakukan industrialisasi secara besar-besaran yang dimulai pada awal abad ke 19. Munculnya penjajahan menjadi bagian tak terpisahkan sebagai penunjang bagi negara-negara industrialisasi dalam memenuhi kebutuhan bahan baku secara cuma-cuma demi meraup profit sebesar-besarnya, termasuk marjinalisasi terhadap kaum buruh dengan upah murah. Hal inilah yang kemudian secara tidak langsung memberikan fakta bahwa modernisasi yang berkembang di dunia turut menyumbang pula krisis kehidupan multidimensional di berbagai bangsa-bangsa terjajah maupun penjajah,  yang nantinya memasuki pertengahan abad ke 20. Mereka yang terjajah mendapatkan kemerdekaan dan menjadi negara dunia ketiga, dengan kondisi bangsa yang tak berubah dan tetap sama menderita seperti halnya kala dijajah. Penindasan, eksploitasi tanpa batas terhadap manusia dan alam serta berbagai pelanggaran terhadap Hak-Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi  hal lumrah yang tak terhindarkan—terjadi begitu saja serta menjadi krisis kehidupan yang tak terbendung.

Muncul lah kemudian sebuah gerakan-gerakan penentang terhadap hegemoni dan superioritas negara-negara dengan basis industrialisasi dengan paham kapitalisme ini. Sosialisme dan Komunisme muncul untuk menentang adanya konsentrasi kekayaan yang dilakukan oleh negara-negara penjajah dengan memberikan alternatif berupa sebuah sistem sosialis, dimana menghapus makna kepemilikan secara individu dan mengedepankan kepemilikan bersama sebagai antitesis terhadap sistem kapitalisme yang diterapkan dalam modernisasi berbentuk yang dianggap sebagai pemicu krisis—sekalipun mereka juga gagal. Postmodernisme juga muncul dengan menunjukan adanya berbagai macam krisis yang ditimbulkan oleh gerakan modernisme karena telah melupakan dimensi yang teramat penting dalam kehidupan manusia, yakni dimensi spiritual.

Oleh karena itu, untuk keluar dari lingkaran krisis tersebut ada kecendrungan bahwa manusia akan mencoba kembali kepada hikmah spiritual yang terdapat dalam semua agama yang otentik. Itulah sebabnya, banyak ahli seperti Soejatmiko, Andre Malraux, serta John Naisbitt dan Patricia Aburdune, yang meramalkan bahwa abad keduapuluhsatu, yang merupakan awal milenium ketiga dari sejarah peradaban manusia, adalah abad kabangkitan agama. [1] Bila dicermati, ini bisa menjadi sebuah kontradiksi atas rasa sentimen terhadap agama yang muncul dan berkembang pada masa modern dan dalam paham benak kapitalis.  Pertama, agama dengan doktrin-doktrin teolognya yang tak masuk akal dalam pandangan modernisme, dianggap sebagai ganjalan dalam perkembangan sains dan teknologi karena terpaku pada dunia akhirat dan bukan kenyataan empiris yang sedang diperjuangkan dalam hidup. Kedua, agama dianggap sebagai penyokong atas status quo dan bersifat konservatif. Hal ini mengacu atas dasar keangkuhan agama masa abad gelap di Eropa yang menjadi tulang punggung penguasa kala itu dan menjadi kaki tangan kerajaan yang feodal. Agama kala itu dipandang hanya memberikan doktrin-doktrin yang melanggengkan praktek-praktek penindasan ala feodal dan jauh dari citra pembebasan. Tak ayal bila Karl Marx menyebut bahwa Agama adalah Candu. Meskipun banyak dikritisi oleh kalangan agamawan gereja dan begitu pula para penganut Protestan-Katolik maupun agama lain, karena terkesan melakukan generalisasi yang serampangan tanpa melihat, tahu, dan paham secara mendetail ajaran agama-agama tersebut serta mengesampingkan keberadaan agama lain, semisal Islam, memang perlu diakui bahwa Marx berkata benar bila memakai dasar situasi di Eropa kala itu.

Potensi Islam Sebagai Agama Mayoritas Dunia

Semenjak abad kejayaan Islam yang ditandai dengan lahirnya para Ilmuwan terkemuka dalam berbagai Ilmu pengetahuan, baik sains, matematik, kedokteran hingga sosial; dari Ibnu Khaldun, Ibnu Rusd, hingga Ibnu Sina dan masih banyak banyak lagi; serta didukung dengan kekuatan politik dan militer yang akhirnya berbutut pada penaklukan Romawi hingga Andalusia di permulaan milenium kedua perkembangan hidup manusia; membuat mata dunia terbuka bahwa ada kekuataan seperior lain selain Yunani dan Romawi.

Kejayaan kala itu menjadi kenangan dalam benak-benak beberapa insan yang masuk dalam romantisme alam khayalan dan harapan di dalam bayangan novel-novel dan film. Sementara di Eropa yang sempat tenggelam dalam abad kegelapan kala Islam menunjukan taringnya, menuntut semua elemen untuk berbenah. Perang Salib yang sering kali hanya dianggap sebagai sebuah pertentangan di antara kedua agama, Islam dan Kristen, atau antara Timur Tengah (Asia) dan Eropa dalam pandangan orientalis, ternyata menjadi titik tolak dari kecemburuan orang-orang Eropa yang melihat kemolekan perkembangan ilmu Pengetahuan, teknologi dan militer dari Islam. Kecemburuan inilah yang pada akhirnya mendapat tamparan luar biasa kala Romawi takluk di tahun 1453 dan begitupun Andalusia di bawah Imperium Islam.

Hingga akhirnya, bangkitnya Eropa dengan ditandai masa Renaisance yang merangsang hingga meletusnya Revolusi Perancis dan Revolusi Industri di abad ke 18 dan permulaan abad 19, adalah momentum menjanjikan yang justru di lain pihak turut menutupi keberadaan Islam yang mengalami kemunduran akibat mangkatnya kembali sistem feodal dan para penguasa yang bengis. Dan demikian hingga seterusnya sampai dewasa ini, dimana perkembangan Ilmu Pengetahuan, teknologi dan pemikir-pemikir Islam semakin tenggelam dan terus mencari jalan keluar demi sebuah kejayaan yang dirindukan untuk kembali hadir. Sementara dunia memandang negara-negara di Asia dan Afrika dengan mayoritas Islam dianggap sebagai suatu subordinat dari motor kemajuan dunia.

Namun, tren perkembangan jumlah umat Islam yang menanjak menjadi bagian penting yang harus turut pula diperhatikan oleh dunia. Di Indonesia, selain sebagai agama mayoritas dan dominan dengan penganutnya yang mencapai tak kurang dari 80 % dari jumlah penduduk, di sela-sela berbagai dinamika yang menyertainya, seperti isu-isu terorisme dan hal-hal lain, Islam di Indonesia memiliki kekuatan secara budaya dan politis. Terlepas dari berbagai macam konflik agama yang menyertai mulai dari Aceh, ambon, Poso dan beberapa daerah lainnya, perkembangan kehidupan beragama di Indonesia bisa dibilang cukup aman dan stabil bila dibandingkan dengan negara-negara lain, semisal negara-negara Islam di timur tengah. Gerakan Islam fundamentalis dan ekstrimis di tanah air nyatanya sejauh ini tetap terkendali dan tidak seradikal dari kebanyakan gerakan-gerakan semacamnya yang berada dibelahan negara lain.

Sedangkan dalam skala global, setidaknya sampai sejauh ini ada sekitar 1/5 penduduk di dunia yang beragama Islam. Jumlah ini lebih besar bila dibandingkan dengan penganut agama-agama lain seperti; Hindu, Budha, Katolik, Yahudi maupun lainnya. Meskipun jumlahnya masih dibawah jumlah penganut agama Kristen. Bahkan banyak penelitian dan prediksi yang menyatakan bahwa jumlah ini akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Keberadaan komunitas Islam yang hampir menyebar di seluruh negara yang ada di penjuru dunia, menjadi faktor penting yang memberikan sumbangsih atas keberadaan umat Islam di dunia dengan jumlah yang banyak dan terbilang mengalami perkembangan yang cukup pesat. Conrad Hackett dari Pew Research Center mengatakan, “Kami memperkirakan selambat-lambatnya pada tahun 2070, jumlah pemeluk agama Kristen dan Islam akan sama di dunia”. Ia menyimpulkan pada bagian utama jajak pendapatnya, bahwa Islam saat ini adalah agama yang paling cepat berkembang di dunia.[2]

Meskipun memang perlu diakui bahwa masalah kuantitas dan jumlah tak lantas memberikan pengaruh signifikan begitu saja, mengingat perkembangan dunia sejauh ini selalu terikat dengan masalah produktivitas ekonomi dan budaya yang dinilai menjadi motor penggerak kehidupan. Sebuah tantangan besar yang muncul kemudian adalah apakah kemudian negara-negara dengan mayoritas umat Islam mampu memanfaatkan besarnya jumlah pemeluk agama menjadi kekuatan—baik dalam ekonomi global maupun dalam pengaruh yang lebih lunak. Para peneliti mengakui bahwa mengukur jumlah penganut agama dan pengaruhnya merupakan sesuatu yang tidak bisa dipastikan dan trend demografi bisa mengubah hal itu secara tidak terduga.

Tapi setidaknya potensi ini bisa menjadi acuan dan hendaknya dapat dimanfaatkan—juga menjadi tantangan bagi Islam sendiri. Apakah Islam dengan potensinya, berupa jumlah penganutnya yang terus melesat mampu untuk turut serta memberikan solusi atas krisis kemanusian dan krisis kehidupan yang terjadi dalam skala nasional, regional, maupun Global, sebagaimana yang tercantum dalam ayat bahwa “Islam datang sebagai rahmat bagi alam semesta”. Tentulah peran sentral atas semua harapan ini akan kembali lagi kepada diri umat Muslim sendiri, untuk menunjukan kapasitas dalam memaknai ajarannya serta menerapkannya dalam berbagai sendi permasalahan kehidupan, baik ditataran permukaan sampai dengan akar rumput sebagai bentuk responsif terhadap permasalahan multidimensional saat ini.

Melihat Islam Secara Otentik

Agama Islam sejatinya hadir bukan hanya berbentuk aktivitas ritual rutinan yang dijalankan sebagai bentuk kepercayaan terhadap Tuhan. Namun lebih dari itu, agama pada hakikatnya datang untuk menjadi penyelamat, pembela dan menghidupkan keadilan dalam bentuk yang paling konkret. Islam tidak seharusnya hanya dilihat sebagai sebuah gerakan keagamaan dalam pengertian teologis. Ia lahir untuk membebaskan manusia dari praktik-praktik ketidakadilan.[3] Hal ini merupakan buah benang merah dari berbagai ayat Al-Quran yang memerintahkan manusia untuk berbuat adil.

Dalam perspektif Islam, keadilan merupakan nilai-nilai moral yang sangat ditekankan dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an tidak kurang ada seratus ungkapan yang memasukan gagasan keadilan, baik dalam bentuk kata-kata yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Demikian pula di dalam kitab itu ada dua ratus peringatan untuk melawan ketidakadilan. Semua ini jelas mencerminkan komitmen Islam terhadap keadilan.[4]

Namun, bila kita berkaca pada perkembangan Agama Islam dan kemudian melihat wajah yang nampak saat ini, terasa begitu kontradiktif dengan hakekatnya, Islam seakan hanya mencakup dan terbatas pada ruang-ruang spiritual belaka. Spirit dari ajaran-ajaran yang seharusnya berjalan beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari, nampak berjalan secara terpisah dan bahkan tak sampai menjamahnya. Hingga pada akhirnya yang terjadi adalah praktik-praktik keagamaan yang berjalan secara parsial, terlepas-lepas sehingga spirit keadilan yang juga harus diperjuangkan menjadi melemah. Disisi lain fundamentalisasi ajaran agama justru mempersempit ruang gerak penganut agama itu sendiri untuk bersikap dan bertindak secara lebih jauh dan kritis. Tak ayal bila kemudian muncul lah sikap-sikap skeptis di kalangan umat muslim dalam melihat tantangan jaman yang ada di depan mata, diatas meja permasalahan keagaman internal maupun eksternal yang membelenggu umat Islam sendiri, diatas fakta bahwa; Islam adalah agama mayoritas di Asia dan Afrika.

Asghar Ali Engineer dalam bukunya Islam dan Teologi Pembebasan dengan fasih menjabarkan dan mencoba mengejawantahkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk ditarik kedalam suatu garis lurus dengan perilaku dan kehidupan Nabi Muhammad—selaku interpretasi kandungan Al-Qur’an, menjadi suatu pemahaman yang utuh bahwa agama Islam adalah musuh terhadap tindakan eksploitasi, penindasan, ketidakadilan, pengisapan, pelanggaran HAM yang merebah kala itu. Disinilah kemudian ia menyebut bahwa Islam lahir sebagai sebuah gerakan pembebasan atas kondisi masyarakat Arab yang jahiliyah serta lengkap dengan segala permasalahan kehidupan yang tak lepas dari problem sosial, politik, relijius, budaya, dan ekonomi. Hal ini yang sekiranya menjadi poin penting, dimana Islam dengan ajaran, nabi, kitab, dan Tuhan yang tidak berubah sampai saat ini dan kapanpun, hendaknya tetap berlaku dan mengedepankan sikap revolusioner semacam ini dalam menentang segala bentuk penindasan dan ketidakadilan.

Kehadiran Nabi Muhammad yang menentang para borjuis dan oligarki Arab atas tindakan eksploitatif terhadap perekonomian oleh para kafilah-kafilah dagang yang menindas masyarakat Arab; pembebasan atas perbudakan sebagaimana yang dilakukannya terhadap Bilal dan lainnya; diturunkannya ayat-ayat suci Al-Qur’an yang akhirnya menuntut beliau belajar membaca dan menulis sehingga turut menjadi pioner pencerdasan dan pembebasan masyarakat  Arab jahiliyah yang semula buta huruf; persatuan yang digalakkan Muhammad atas sikap primordialisme diantara suku-suku arab yang membuat mereka saling sikut dan begitu ganas untuk saling membunuh demi mendapat kekuasaan secara politis; kampanye-kampanye Beliau kala menentang penindasan dan pelecehan terhadap perempuan yang dianggap tak ada artinya bagi orang Arab, bahkan sering kali dibunuh ketika lahir; pernikahan yang semula dianggap sebagai pemuas nafsu dan dilakukan semaunnya diatur dan dibatasi; perlindungan terhadap orang-orang kafir dan anak yatim serta janda; sikap menghargai dan toleransi terahadap perbedaan agama dan berbagai sikap revolusioner lainnnya adalah bukti nyata, bahwa Islam tak hanya sebagai sebuah agama yang mengatur tata cara beribadah secara spiritual, namun disinil ah kita menemukan fakta bahwa Islam begitu demokratis dan membebaskan.

Lantas mengapa sekarang pemaknaan Islam terhegemoni di dalam satu ajaran fundamentalis yang berkutat dan berdebat pada masalah tata aturan beribadah dan masalah fiqih yang justru kurang disentuh oleh Nabi Muhammad kala itu dan disisi lain mengesampingkan masalah-masalah kehidupan sosio-ekonomi-politis?  Dalam penjabarannya, Asghar Ali Enginer menyampaikan bahwa sifat-sifat liberatif, demokratis, dan revolusioner Islam mulai disingsingkan dan luntur, manakala setelah Nabi Muhammad wafat. Keretakan Umat Islam yang dimulai ketika masa kekhalifahan Ali menjadi penanda kemunduran pemaknaan umat atas kehidupan beragama. Pemerintahan Monarki yang tak pernah diajarkan dan diperintahkan dalam Al-Qur’an dan oleh Nabi, yang justru dipakai dinasti bani Ummayah dan Abbasiyah adalah akar biang keladi. Khalifah Ummayah yang hidup secara gelamor bersama para tiran dan penindas yang kuat serta bersikap kejam dan menidas terhadap mereka yang mentang pemerintahan yang represif itu, dikala Nabi Muhammad mengajarkan hidup secara sederhana dengan membersamai orang-orang miskin, tertindas dan para budak.  Pada masa inilah, jumlah budak kembali merebah, wanita turut kembali dilecehkan, dan diskriminasi terhadap orang-orang kecil maupun non-Arab menjadi terbiasa, sehingga kita dapati bahwa Islam kehilangan sikapnya yang liberatif dan menunjukan keangkuhannya yang fatalistik.

Dalam perkembangan selanjutnya, nilai-nilai feodal-monarkhi melingkupi seluruh kehidupan bangsa Arab. Hirarkhi kekuasaan semakin menguasai, sedangkan kesamaan sosio-politik dilenyapkan, dan kesamaan itu hanya dibatasi ketika beribadah di Masjid, kaum wanita betul-betul dicampakkan dan status sosialnya dikikis habis, serta dominasi bangsa Arab menancap secara kuat. [5] Disisi lain ulama-ulama masa itu, atas tuntutan Khalifah Umayah dan Abbasiyah ditekankan memproduksi kitab-kitab dan berdakwah hanya pada masalah fiqih dan tentang pemahaman cara beribadah. Mereka mencampakkan konsep keadilan Islam dan mereduksi ketaqwaan menjadi sekedar konsep ritualistik. Orang yang dianggap shaleh hanyalah mereka orang yang sekedar  mengerjakan shalat, membayar zakat, dan menunaikan haji, namun ke shalehannya dijauhkan dari masalah keadilan sosio-ekonomi.   Hal ini ditempuh sebagai sarana mengasingkan masyarakat Arab terhadap ajaran Islam yang revolusioner agar rakyat tidak mempertentangkan dan mengusik kekuasaan dan status quo Dinasti Umamayah dan Abbasiah. Mereka menghancurkan struktur sosial yang adil yang sangat ditekankan dalam Islam dan kemudian membuat peraturan-peraturan yang menindas. Kebijakan ini telah mengebiri semangat revolusi Islam, dan sekarang revolusi itu hanya berada dalam kerangka-kerangka kosong. [6]

Inilah kemunduran yang sangat jauh dan Islam kehilangan semua daya dobraknya serta tidak pernah menangkap semangat awal ketika Muhammad SAW mendakwahkan dan mempraktekkannya. Oleh karena itu, perlu kiranya bagi semua komponen Muslim untuk kembali mengkaji ajaran Islam secara utuh dengan melihat realitas sejarah Islam. Sehingga umat Islam akan lebih responsif terhadap berbagai problematika  multidimensinal di tataran umat secara khusus dan global pada umumnya, minimal,  untuk senantiasa memberikan pesan-pesan yang solutif.

Ajaran Islam kontra Kapitalisme

Perlu diakui bahwa neoliberalisme dan juga kapitalisme dalam bentuk korporasi-korporasi baik di tataran global maupun nasional saat ini adalah invisible hand yang menggerakkan dan mengatur secara sepihak perkembangan perekonomian dan juga politik di dunia. Menggunakan wadah pasar yang harus bekerja secara bebas tanpa campur tangan negara; mengandalkan komoditi dan modal sebagai pedang yang mengekang; menekan pengeluaran upah dan melenyapkan hak-hak buruh; menghilangkan kontrol atas harga; mengurangi pemborosan anggaran negara dengan memangkas semua subsidi untuk pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan, BBM dan jaminan sosial (social safety net); dan pada saat yang sama subsidi besar-besaran diberikan kepada perusahaan transanasional (TNCs) ataupun multinasional (MNC) melalui tak holiday, yang turut pula menyertakan peran IMF, Bank Dunia, WTO, GAAT sebagai lembaga presure dan selalu melakukan intervensi atas kebijakan negera-negara dunia ketiga dalam mengakomodasi kepentingan korporasi global; mempercayai deregulasi ekonomi; privatisasi adalah jalan menuju persaingan bebas yang dibungkus dengan  efisiensi dan mengurangi korupsi, meski kenyataanya terjadi konsentrasi kapital di tangan sedikit orang dan memaksa rakyat kecil membayar lebih mahal kebutuhan mereka; dan mempetieskan paham tentang public goods dan solidaritas sosial dan menggantikannya dengan tanggungjawab individu.[7]

Hal-hal semacam ini yang dibawa oleh para kapitalis dan diyakini secara fundamental oleh para neoliberalisme, pada kenyataannya telah melahirkan ketidakadilan dan penderitaan rakyat banyak, terutama di negara-negara dunia ketiga, karena perdagangan bebas telah menaikkan harga pangan; WTO, MNC dan TNCs telah memproduksi pangan yang tidak aman dikonsumsi karena rekayasa genetika, pestisida dan racun kimia; petani semakin termarjinalisasi, baik sebagai produsen maupun konsumen; hak paten dan kekayaan intelektual karya Rezim of Knowledge menjadi kedok pencurian keanekaragaman hayati (biodiversity) para petani dan menjualnya kembali kepada mereka dengan harga yang tinggi; sementara para perusahaan transnasional melakukan ekspansi besar-besaran kala sebagian besar penduduk dunia mengalami keterpurukan.

Konsentrasi penguasaan tanah yang dibarengi koalisi pemodal dan negara dalam merampas tanah secara angkuh, dan menggusur rakyat bawah; nilai tukar pertanian yang rendah akibat monopoli harga sehingga hasil pertanian rakyat dihargai serendah-rendahnya; konversi lahan-lahan pertanian ke non-pertanian atas dalih pembangunan infrastruktur dan pabrik bagi pemodal disertai penggusuran; perkembangan teknologi produksi; dan pertumbuhan penduduk miskin; adalah buah atas  berbagai kebijakan di berbagai negara, terutama negara dunia ketiga yang terus mengejar makna developmentalism dan percepatan ekonomi yang dijanjikan para kapitalis dunia. Demikianlah, ekspansi sistem produksi kapitalis memerlukan reorganisasi ruang (spatial reorganization) yang khusus agar sistem produksi yang bercorak kapitalistik bisa meluas secara geografis (Geografic Ekspantion). [8]

Melihat berbagai krisis dan mudharat yang ditimbulkan oleh kapitalisme, yang mana mengarah pada pengingkaran atas makna-makna humanisasi yang diterapkan, baik dalam bentuk kasat mata ataupun tidak yang selalu berkenaan  pada tindakan dan kebijakan yang tidak berkeadilan dan sekaligus memunculkan penindasan tidak karuan, maka Islam sebagai sebuah agama yang dalam konteks ajarannya menentang ketidakadilan dan penindasan, begitu dinanti kontribusinya. Dalam hal aktivitas ekonomi konsumsi dan distribusi, Al-Qur’an menyebutkan larangan memakan harta dengan cara “batil”. Maksud batil disini mengarah pada perilaku curang, menipu, menindas, dan sekaligus akumulasi nilai barang yang berlebihan pada komoditas. Dengan demikian jelaslah bahwa ajaran Islam sebagaimana tertuang dalam kitab, terutama terkait dengan masalah ekonomi berlainan dengan sistem kapitalisme.

Di dalam Islam hendaknya semua aktivitas ekonomi produksi, konsumsi, dan distribusi itu berlandaskan pada nilai-nilai keadilan. Dengan demikian upaya merealisasikan prinsip-prinsip keadilan Al-Qur’an dalam aktivitas ekonomi dilakukan dengan menolak kompartementalisasi sekular dan sakral. Spiritualisasi dan moralisasi aktivitas ekonomi individu dan kolektif akan mempromosikan keadilan ekonomi yang dicita-citakan.[9]

Oleh karena itu pesan-pesan keadilan Islam harus mampu membangkitkan kekuatan-kekuatan protes dan perlawanan atas poros-poros neoliberalisme dan kapitalisme yang selalu ambil peran dalam meningkatkan angka-angka depresi sosial-ekonomi yang makin akut dan ancaman bagi dehumanisasi nilai-nilai kemanusian yang semakin menjadi-jadi. Jiwa-jiwa revolusioner sebagaimana telah dicontohkan Nabi Muhammad, sedini mungkin harus dipupuk di kalangan umat muslim. Bila Nabi menentang penindasan dalam bentuk perbudakan kala itu, maka sekarang kita harus menentang penindasan terhadap petani dan buruh. Bila Nabi menentang oligarki borjuis Arab kala itu, maka kita harus menetang era pasar bebas ala kapitalis dan semua elemen pendukungnya yang hanya akan membuat kaum bawah semakin tertindas secara sosio-ekonomi. Bila Nabi mengedepankan nilai-nilai toleransi, demokratis, dan liberatif, maka sudah sepantasnya kita bersikap demikian dengan membuang jauh-jauh sikap fanatik dan primordial yang terlewat batas.

Aktualisasi konkret atas penerapan ajaran Islam yang menentang ketidakadilan dan penindasan harus segera mungkin dijalankan, dengan ikut terlibat secara aktif dalam menentang berbagai kebijakan penguasa yang mendiskreditkan para kaum miskin, petani, dan buruh,  sebagaimana Nabi yang membersamai orang-orang kafir, miskin, dan tertindas. Disisi lain perlu pula di dorong bagaimana menerapkan sistem perekonomian yang adil dengan mempertimbangkan segi ekologis sebagai upaya dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, dimana hal ini selalu diasingkan oleh para kapitalis yang acapkali mengagungkan proyek-proyeknya (pertambangan, perkebunan, infrastruktur, dll) sebagai sebuah dasar menuju “kesejahteraan” (berlaku hanya untuk pemodal dan segelintir orang), yang kemudian dengan semena-mena mengeksploitasi alam, namun disisi lain dampak lingkungannya harus ditanggung semua manusia—sekalipun mereka yang selalu tertindas oleh makna “kesejahteraan” yang digalakkan dengan berbagai program dan bentuknya.***

Catatan akhir

[1] Musahadi HAM dkk, Mediasi dan Resolusi Konflik di Indonesia: Dari Konflik Agama Hingga Mediasi Peradilan ,(Semarang: Walisongo Mediation Center, 2007), hal. 165

[2] Dalam laporan VOA yang dirilis secara online di media pada 29 April 2015 yang diunduh pada penulis pada 14 Januari 2017

[3] Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal.v

[4] Zakiyuddin Baidhawy, Islam Melawan Kapitalisme, (Yogyakarta: Resist Book, 2007), hal. 10

[5] Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 55-56

[6] Ibid, hal. 58

[7] Zakiyuddin Baidhawy, Islam Melawan Kapitalisme, (Yogyakarta: Resist Book, 2007), hal. 11

[8] Noer Fauzi Rachman, Panggilan Tanah Air, (Yogyakarta: Literasi Press, 2015), hal, 16.

[9] Zakiyuddin Baidhawy, Islam Melawan Kapitalisme, (Yogyakarta: Resist Book, 2007), hal. 12

Gambar: islambergerak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.