Isyarat yang Entah

Spread the love

I

Hai, selamat pagi 

Tengoklah jendelamu yang nampak basah itu!

Bukan embun, itu hanya tentang kopi 

Dan doa-doa sepanjang malam

Sekali lagi ini untukmu,

Harus jadi apa agar aku selalu dekat denganmu?

Diriku layaknya angin yang tak bisa kaugenggam

Apakah kita harus berpeluh, Sayang?

Takdir yang paling tidak diinginkan adalah perpisahan

Semoga aku kuat, seperti kamu yang mendekap tubuh ini

Sudah cukup kauhunjamkan, tinggal menunggu isyarat yang entah


II

Bayangmu menjelang 

dari tengah-tengah kenestapaan.

Air mata tampak memeluk pipimu,

Sekejap terjun dengan memerihkan.





Perpisahan adalah prasyarat yang wajib dari hidup.

Tiada bisa kauterka baik yang menyala 

maupun yang meredup.

Jangan kauseka air matamu.

Biar ia padamkan sependar perpisahan

Yang membabibuta.





Sungguh, pun aku enggan 

Tak mengacuhkanmu.

Kepalaku masih tak menoleh,

Mataku mematung kepada

Bayangmu.





Kumohon, beri aku ruang

Untuk menyebut nukilan namamu

Di tiap ujung kalimat yang kuucap.

Sesaplah bisikanku untuk kali terakhir:

Aku pamit dulu.









Semarang, 16 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.