Iva Ingin Mati Hari Ini

Spread the love

Cerpen Renyta

“Aku ingin mati saja,” kata Iva dengan suara dan nada datar.

“Heh! Bicara apa kamu?” ujar Runi kaget, seakan tak percaya apa yang baru saja dia dengar dari sahabatnya.

“Aku bosan hidup. Tampaknya tak ada gunanya aku di muka bumi ini. Hanya jadi sumber masalah bagi orang lain saja,” jawab Iva sambil menundukkan kepala, memandang kaki yang dia goyang-goyangkan bergantian. Dia memangku tangannya. Telapak tangannya menadah ke atas. Wajah sayunya, memandang lurus ke depan, menghiraukan Runi di sampingnya. Pandangannya pedih dan raut wajahnya gelap seperti ada mendung gelap menggelayuti.

Runi menghela napas. “Ndak usah mikir seperti itu. Itu hanya pikiranmu. Pikiran yang tak tampak dan tidak nyata. Berhentilah bergelut dengan pikiranmu. Keluarlah dari kamar ini. Berbaurlah layaknya manusia normal. Iya, aku paham kamu berbeda. Pola pikirmu tidak sama dengan kebanyakan orang. Lagipula umurmu masih panjang. Kau baru berumur dua puluh tahun dan kemarin baru saja kaurayakan. Lagipula nanti jika sudah waktunya mati juga mati tanpa kauminta.”

Iva menoleh, memnatap Runi. “Tapi aku tidak normal. Aku sakit. Ada yang tidak beres dengan otakku. Neurotransmitterku rusak. Aku tak dapat dengan mudah menyinkronkan pikiranku.”

Raut wajahnya kusut. Ibarat kertas tisu yang tak terpakai; diremas-remas dan dibuang begitu saja.

“Dunia ini sudah penuh kebusukan. Aku muak dengan semua. Manusia sudah tak saling menghargai lagi, mengagungkan nafsu, dan selalu penuh pencitraan. Palsu. Semua palsu.”

Suaranya seperti tercekat dalam tenggorokan. Dia ingin menangis, tetapi rasanya air mata sudah habis. Dia peras pun tak akan keluar.

“Kamu ada masalah apa?” tanya Runi sambil mendekati Iva. Dia menyejajarkan badan dengan Iva. Runi menebar pandangan ke seantero kamar kos Iva. Kamar yang sepetak berukuran 2 x 4 meter dengan tumpukan baju kotor, kaus yang sudah terpakai, celana jins, dan beberapa daster di pojok kiri kamar. Beberapa baju tergantung di cantelan, buku-buku sastra tertumpuk tanpa nyawa di dekat rak buku dan di pojok kasur. Beberapa gelas dan piring kotor teronggok di belakang pintu. Gorden tertutup, hanya memperbolehkan sinar mentari masuk segaris saja.

“Sudah makan, Va?” tanya Runi.

Iva diam dan makin diam dalam lamunan. Dia menenggelamkan wajah dalam lamunan. Lalu, menengadah, memandang langit-langit kamar. Lampu kuning lima Watt membuat kamar itu temaram. Sebelas-dua belas dengan keadaaan Iva.
”Aku tidak boleh menangis. Tidak boleh. Menangis hanya untuk orang lemah,” batin Iva sambil tetap menengadah, untuk air matanya turun. “Aku benci gravitasi,” batin dia sambil memejamkan mata.
Namun akhirnya air mata mengalir melewati ekor mata. Mengalir bagai anak sungai rindu hilir. Iva diam, menerawang jauh. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba dia memeluk Runi, erat, eraaat sekali. Tangisnya pun pecah.

***

Hari yang cerah. Matahari bersinar lembut. Udara pagi juga segar. Burung berkicau, tanda masih layak manusia hidup di muka bumi ini. Runi berjumpa dengan Iva. Wajah Iva tampak segar dan suaranya riang. Senyum selalu menggelayut di sudut bibir. Hari ini, dua minggu setelah kejadian di kamar kos itu.

“Va, segeran nih. Kayak abis menang lotre,” goda Runi.

“He-he-he. Mayan nih.” Senyum tipis mengembang di bibir Iva.

Iva mengenakan baju biru bermotif bunga-bunga warna merah muda dan merah. Ada beberapa sulur berwarna hijau menjulur mengelilingi motif bunga. Iva memang manis. Tidak cantik, tetapi orang pasti tak akan jemu memandang dia.

Dia sebenarnya gadis yang baik. Namun, entah kenapa, kini dia berubah drastis. Kadang omongannya terdengar meracau dan tak masuk akal. Bahkan beberapa kali menyelipkan kata bunuh diri.
Mereka berdua berjanji bertemu di sebuah warung kopi untuk sarapan. Warung makan sederhana, baik dalam menu maupun harga. Cocok bagi mahasiswa macam Iva dan Runi.

Iva memesan nasi pecel, tempe mendoan, dan es teh. Runi memesan ayam geprek kesukaan plus jus alpukat.

“Apa rencanamu hari ini?” tanya Runi.

“Tak ada. Aku hanya sedang menikmati sisa hidupku,” jawab Iva sambil melihat ke jalan yang penuh orang lalu-lalang; sibuk dengan diri sendiri dan kepentingan masing-masing.

Runi memandang Iva. Mereka duduk berhadapan, dipisahkan sebuah meja kayu kecil. Raut wajah Iva penuh sinar. Cerah dan gemilang. Namun tidak pada sorot matanya. Sorotnya mata kosong. Banyak beban? Banyak perkara dia pikirkan? Sadarkah dia bahwa mata tak dapat berbohong? Senyumannya selalu manis dan ringan bertabur di wajah. Namun tidakkah dia tahu sorot matanya selalu menampilkan kepedihan mendalam? Kepedihan yang bahkan dapat membawa dia makin masuk dan terperosok dalam jurang kehampaan.

“Ah, Iva, kamu kenapa? Kenapa tidak bisa bercerita banyak? Apa yang terjadi padamu? Kamu bisa bercerita apa pun padaku. Apa pun. Aku akan selalu di sampingmu,” batin Runi.

“Kamu percaya Tuhan?” tanya Iva tiba-tiba.

“Enggak. Tapi aku percaya ada suatu kekuatan yang mengatur dunia ini. Ya, semesta itu sendiri. Kenapa? Ini mau bahas ala Jujun Suriasumantri? Kalau mau bahas Tuhan ala dia, ya kamu harus terbiasa membebaskan diri berpikir, bebas, tak ada ancaman. Indoktrinasi yang sudah kita dapatkan sejak kecil membatasi dan mengancam. Mencari tahu kebenaran mungkin memang hasrat ingin tahu. Bukan karena diancam pakai surga dan neraka. Mencari kebenaran tidak indah. Hidup seseorang bisa kacau. Menurutmu, apakah Tuhan itu, Va?”

“Pencipta alam semesta.”

“Pencipta masih terlalu umum. Cipta yang gimana? Sama enggak kayak menciptakan kue?”

“Kekal?”

“Kekal itu kayak apa? Jika kekal berartinya selama, selamanya kan dimensi waktu? Waktu yang bikin siapa? Kalau Tuhan yang bikin waktu, sebelum waktu tercipta Tuhan ada di mana?”

“Esa? Satu?” kejar Iva.

“Satu kan bilangan. Bilangan digunakan untuk memberi atribut pada satu benda atau satu hal. Nah, bagaimana Tuhan itu? Benda atau bukan? Jika Tuhan itu hal, di mana posisinya terhadap hal lain? Padahal, semua hal yang dihitung itu adalah hal. Hal itu ciptaan atau bukan? Kalau Tuhan bisa dihitung, Dia benda atau hal sebagaimana hal-hal lain?” ujar Runi.

Iva berhenti sejenak dan memandang Runi. “Mengapa Tuhan tidak adil?” tanya Iva. Dahinya berkerut, tambah penasaran atas penjelasan Runi.

“Tuhan itu apa? Apa syarat sesuatu dianggap Tuhan? Tuhan itu beneran ada apa enggak?” berondong Runi.

Iva terdiam. Sejenak kemudian dia berkata, “Aku ingin bertemu Tuhan. Aku ingin mengadukan semua kepada-Nya, terutama yang sudah diperbuat Guntar padaku.”

“Guntar? Yang selalu memakai sarung dan berangkat magriban di masjid deket sini? Ada apa dengan dia?” tanya Runi.
Iva terdiam memandang ke arah jalanan kembali. Pesanan mereka datang.

***

Angin bertiup lembut, sepoi-sepoi menerpa dedaunan di pepohonan. Sang mentari kembali ke peraduan. Warna kuning keoranyean memantul.

Iva berlari, tergesa-gesa, menuju ke sebuah ruangan. Dia berbelok ke kiri, lalu ke kanan. Ruangan-ruangan begitu sepi. Dingin dan kaku. Tak ada kesan ramah sekalipun. Cat tembok putih dan aroma karbol khas ruangan tempat orang-orang tak sehat berada. Bangku-bangku panjang dingin dan lengang. Selasar panjang dan berliku menambah miris perasaan.

Iva datang segera setelah menerima telepon darurat. Hatinya kacau, bergetar hebat. Pikirannya ke mana-mana.

“Mbak di mana?” tanya Iva terengah-engah kepada seorang perempuan di balik meja.

“Anda siapa?” tanya perempuan paruh baya berpakaian putih berjilbab senada. Dia memegang bolpoin. Beberapa buku berserakan di depannya. Di papan nama tertulis “Sari” dengan gambar logo rumah sakit.

“Saya Iva Prameswari, teman dekat Runiana. Keluarganya ada di kota lain.”

“Mari ikut saya.”

Perempuan berseragam putih itu segera berjalan menuju ke suatu ruangan, melewati beberapa koridor dan berbelok ke kanan. Sebuah ruangan paling belakang. Selasar menuju ke ruangan itu dipenuhi emergency scratcher. Di depannya ada sebuah taman kecil dengan beberapa tanaman hijau yang baru saja ditanam.
Bu Sari, perempuan paruh baya itu, dan Iva berdiri di pintu sebuah ruangan. Pintu dengan pegangan besi berbaris horizontal, mengilat terpapar sinar lampu. Bu Sari segera membuka pintu. Mereka berdua masuk ke ruangan itu. Ruangan dengan banyak pintu kecil berderet seperti loker.

Hati Iva berdebar tak menentu. Pikirannya langsung melesat. Baru saja Iva menelepon Runi, mengadukan semua kejadian malam itu. Malam ketika Guntar merudapaksa dia. Runi berjanji akan menemani dia membuat laporan pengaduan di kantor polisi.

Bu Sari memberikan map kepada perempuan yang bertugas di ruangan itu. Perempuan berseragam putih itu membaca, mencari-cari nama dalam sebuah daftar. Segera setelah mendapatkan apa yang dia cari, perempuan itu berjalan menuju sebuah loker. Dia membuka loker itu. Nomor dua 23, dua nomor dari sebelah kiri, tepat seperti tanggal lahir Runi. Kreeeekkkkk! Pintu loker nomor 23 terbuka. Sebuah wajah menyembul, wajah pucat dengan baret di wajah sebelah kiri. Tak ada darah. Wajah yang damai. Utuh.

Iva melihat. Tak butuh waktu lama untuk mengenali. Kaki Iva langsung lemas. Dia membekap mulut. Tangisnya pecah. Air matanya jatuh.

Iya, ini Runi! Iva terjatuh ke lantai. Semua gelap, gelap, gelap. Pemandangan terakhir yang dia lihat sebelum semua menghitam adalah sebuah papan bertulisan “Ruang Jenazah”.

Iva tak tahu, beberapa saat setelah dia menelepon, Runi bergegas menuju ke rumah kosnya. Runi memacu sepeda motor, tanpa helm, tanpa memedulikan keadaan sekitar. Lalu, tiba-tiba brak! Runi tertabrak dan kini “menghuni” loker 23 di ruang jenazah rumah sakit itu.

Renyta, guru sekolah menengah pertama di Gubug, Grobogan, Jawa Tengah.

Gambar Ilustrasi: Metropolitan Magazine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.