Jalan Masih Panjang

Spread the love

Oleh Saiful Anwar

Sudah satu tahun Kooperasi Moeda Kerdja berdiri. Selama kurun waktu itu Moeda Kerdja sudah melakukan banyak percobaan sosial. kami membangun kooperasi ini dari ketidaktahuan kami tentang kooperasi, kami memulainya dari nol. Selama kurun waktu itu kami sering menemui kegagalan, dari mulai sistem administrasi yang belum maksimal, keanggotaan yang masih belum tertata rapi, hingga skema bagi hasil usaha yang masih jadi bahan perdebatan. Moeda Kerdja masih dalam proses membangun.

Kita tentu tahu betapa sulitnya memperoleh contoh sistem kooperasi yang ideal di Indonesia. Indonesia memang mengakui kooperasi sebagai sistem ekonomi, bahkan disebutkan bahwa kooperasi adalah saka guru kehidupan ekonomi bangsa. Semua pranata kooperasi pun ada, dari mulai mentri, dewan kooperasi nasional, hingga produk undang-undang. Semua syarat untuk membentuk sistem ekonomi kooperasi sudah lengkap, tapi mengapa percobaan kami belum menemui hasil maksimal? Jawabannya adalah karena semua pranata itu tak pernah benar-benar mempraktikkan sistem kooperasi. Kooperasi hanya dijadikan gincu, hanya kedok.

Kooperasi Moeda Kerdja dibangun dengan semangat mengembalikan fitroh kooperasi sebagaimana mestinya. Semangat yang dibawa oleh teman-teman Kooperasi Moeda Kerdja adalah semangat memerangi narasi kooperasi yang kapitalistik, yang hanya berkutat pada simpan pinjam, laba, dan bunga. Karena dibangun dengan semangat yang “bertentangan” dengan semangat kooperasi kebanyakan Kooperasi Moeda Kerdja sering mengalami kesulitan. Kesulitan-kesulitan itu dalam beberapa hal mampu diatasi namun dalam beberapa hal lain tidak. Seperti misalnya pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU). Dalam Rapat Anggota Tahunan pertama Kooperasi Moeda Kerdja yang dilaksanakan pada 28-29 September 2019 kami belum sepakat terkait berapa persen jumlah yang harus kami sisihkan untuk anggota, kas, dan gerakan sosial. angka sudah muncul dari usulan peserta rapat, namun belum disepakati secara bulat. Hal itu menjadi pekerjaan rumah yang harus segera kami selesaikan.

Selain masalah pembagian SHU masalah lain yang tidak kalah pelik adalah keanggotaan dan lini usaha. Saat ini Moeda Kerdja memiliki 33 anggota, namun tidak semuanya ergabung/masuk di lini usaha kooperasi.  Masalah ini belum mampu dipecahkan oleh Moeda Kerdja hingga hari ini. Keanggotaan lini usaha yang tidak mencakup semua anggota kooperasi itu pada beberapa kesempatan mengganggu performa lini usaha kooperasi. Misal pada contoh kasus berikut: Pada hari Rabu 20 November 2019 lini usaha Moeda Kerdja yang bergerak di bidang buku yakni Orde Buku jualan di Hotel Patrajasa Semarang. Pada saat itu anggota Orde Buku yang ada hanya Amir dan Eko, sedangkan Silvan dan Widya sedang tidak di Semarang sehingga tidak memungkinkan mereka ikut. Nah di sinilah letak masalahnya; karena hanya Amir dan Eko anggota Orde Buku yang ada maka tanggungjawab jualan itu hanya miliki mereka berdua, anggota lain hanya bantu-bantu saja. Jika jualan itu memperoleh untung keuntungan tersebut akan masuk ke anggota Orde Buku walaupun pada saat pelaksanaannya ada anggota lain di liar Orde Buku yang membantu. Sangkan jika jualan itu tidak mendapat keuntungan baik Amir, Eko, dan anggota lain yang membantu itu sama-sama mendapat lelah. Bagi yang bukan anggota Orde Buku jika untung tidak kebagian, jika ada kerugian ikut menanggung. Pembagian hasil yang belum jelas dan keanggotaan tiap lini usaha yang masih rancu terkadang membuat kooperasi tidak berkembang.

Ada kasus lain yang lebih menarik. Salahsatu lini usaha Moeda Kerdja yang bergerak di bidang konveksi baju yakni Orde Baju meraih laba bersih Rp. 10.000.000 pada bulan Oktober 2019. Angka itu sudah dikurangi dengan biaya produksi dan modal. Selama bulan Oktober itu Orde Baju  digerakkan oleh 2 orang (sama dengan Orde Buku) yakni Nanang dan Dayu. Memang jika kita melihat pangsa pasar dan perputaran uangnya konveksi baju jauh lebih menjanjikan dibanding jualan buku. Namun bagaimana dengan Berikari Book misalnya, yang berhasil mengumpulkan laba kotor hingga puluhan juta rupiah per tahun? Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan antar lini usaha maupun antar anggota namun sebagai bahan refleksi untuk mencari jalan keluar atas maslaah yang sedang dihadapi Moeda Kerdja. Dengan menemukan jalan keluar yang tepat Orde Buku pasti bisa sebaik Orde Baju. Namun Moeda Kerdja memang sedang mengalami performa fluktuatif.

Performa fluktuatif yang dialami Moeda Kerdja terus diperbaiki oleh seluruh anggota. Dalam hal mengambil ilmu dan pengalaman Moeda Kerdja belajar dari kooperasi-kooperasi sejenis yang pernah ada. Contoh kooperasi yang satu nazab dengan Moeda Kerdja adalah Kooperasi Literasi.Co (Lico) yang berdiri di Yogyakarta beberapa tahun lalu. Kooperasi Literasi.Co adalah kooperasi yang bergerak di bidang literasi dan penerbitan, mereka juga sempat memiliki kedai kopi. Namun seiring berjalannya waktu Kooperasi Literasi.Co akhirnya vakum-untuk tidak mengatakan bubar-, anggotanya menyebar ke berbagai tempat. Lico sudah tidak menunjukkan aktivitas hari ini. Banyak anggota Moeda Kerdja yang belajar dari “bekas” anggota kooperasi itu. Kami belajar sistem administasi, perekrutan anggota, hingga pembagian hasil usaha. Walau sudah vakum pengalam Lico merupakan pelajaran penting bagi siapapun, termasuk Moeda Kerdja.

Selain belajar dari Lico, Moeda Kerdja juga belajar dari Koperasi Mahasiswa (Kopma) Universitas Negeri Semaarang (Unnes). Kami pernah mengadakan satu kegiatan bersama pada perayaan Hari Kooperasi 12 Juli 2019. Pada kesempatan itu kami mengadakan acara Wungonan Kooperasi. Kami belajar bagaimana Kopma Unnes melakukan administrasi sehari-hari, juga bagaimana mereka memperoleh modal, serta bagaimana sistem bagi hasilnya. Acara Wungonan Kooperasi juga diisi dengan diskusi yang diikuti oleh orang-orang yang hadir. Pada acara diskusi itu kami saling berbagi pengalaman dalam dunia perkooperasian. Banyak perbedaan diantara Moeda Kerdja dan Kopma Unnes. Perbedaan yang paling mendasar adalah dasar dan semangat masing-masing dari kami. Moeda Kerdja dibangun dengan semangat mewujudkan perekonomian yang lebih manusiawi dan tidak kapitalistik (walaupun belum bisa terwujud hingga hari ini) sedangkan Kopma Unnes didirikan sebagai media “belajar” mahasiswa, sekadar organisasi kampus. Bukannya saya mendiskreditkan peran organisasi kampus, namun dari berbagi pengalaman dengan anggota Kopma Unnes itu saya berasumsi mahasiswa yang mengikuti Kopma hanya dijadikan alat oleh dosen atau pihak yang lebih berwenang untuk merauk keuntungan sebesar-besarnya. Mereka diberi tugas menjalankan kerja layaknya pekerja namun dengan upah yang sangat sedikit. Cara-cara seperti itu menurut asumsi saya adalah cara menghisap berkedok kooperasi. Tentu ini hanya asumsi dangkal, harus dibuktikan secara ilmiah agar tidak menimbulkan duga sangka. Namun jika hal itu benar bukankah artinya kooperasi dijadikan alat yang jauh lebih kejam dari kapitalisme?

Masih banyak kekurangan yang harus dibenahi Moeda Kerdja. Ya, itu sudah jelas. Kami harus berusaha keras untuk mewujudkan kooperasi yang ideal, yang mampu memenuhi kebutuhan anggotanya. Namun layaknya Tirto Ahisuryo yang memenuhi kegagalan demi kegagalan dalam membangun organisasi modern, Moeda Kerdja tidak akan menyerah dalam mewujudkan kooperasi yang sesungguhnya. Gagal bangun lagi, gagal bangun lagi, begitu terus sampai kegagalan bosan menghinggapi kami. Saya juga berharap anggota yang lain juga tetap semangat. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri. Jalan masih panjang. Semoga kami bisa. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.