Jangan Ditanya Soal Medsos, Tau Ah Gelap

Spread the love

Media sosial adalah salah satu sarana paling penting bagi kehidupan manusia di era sekarang. Gawai menjadi prasarana dalam menunjang aktivitas media sosia kita. Gawai dan media sosial. Ya kedua hal ini tak bisa dilepaskan dari sesuatu yang disebut dunia maya. Dengan gawai, kini, hampir tiap orang memiliki dua kehidupan yaitu kehidupan nyata dan kehidupan maya. Semua itu merupakan dampak kemajuan teknologi.

Saya adalah salah satu orang yang dahulu sangat antusias dengan kemajuan teknologi. Semua jadi lebih cepat. Jika dahulu gawai hanya bisa untuk ngobrol lewat sms saja, kini kemajuan teknologi bisa melakukan segala apa yang kita butuhkan. Mau pesan makan? Bisa. Jasa antar? Bisa. Pijat? Bisa. Bahkan dengan gawai kini mencari jodoh pun bisa lebih mudah. Sudah bukan perdebatan lagi jika kini sebagian besar orang sangat menikmati kemajuan teknologi.

Di masa pandemi seperti sekarang ini gawai menjadi sesuatu yang sangat penting. Belajar, bekerja, berkonten, ber-mukbang, bahkan rencana tawuran pun bisa dikelola melalui gawai. Kombinasi kelihaian jari dan gawai memberi kita kebebasan dan kemudahan untuk mengakses apapun. Namun tidak selamanya teknologi memberi dampak positif. Salah satu dampak negatif akibat kemajuan teknologi adalah kita menjadi sibuk dengan dunia kita sendiri atau dalam istilah lain disebut asosial, tak peduli pada lingkungan sekitar. 

Kehidupan nyata dan kehidupan maya seringkali berbeda. Di kehidupan maya kita secara sadar atau tidak telah memasuki dunia baru, dunia yang bisa kita bayangkan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kisah Fiki dan Dayana adalah contoh menarik. Mereka adalah sejoli beda negara yang sempat viral beberapa waktu lalu. Fiki dari Indonesia dan Dayana dari Kazakhstan. Awalnya mereka dekat namun tak lama kemudian bubar. Ketika bubar banyak netizen Indonesia yang menyayangkan sikap Dayana. Netizen “marah” dan “menyerang akun sosial media Dayana. Hal itu membuktikan bahwa kini hanya dengan jari sekelompok manusia bisa membalas perbuatan orang lain. Menurut saya itu bukan bentuk kedewasaan bertindak kritis dalam dunia maya. Alih-alih mengomentari Dayana, netizen Indonesia justru memberikan efek negatif baginya di dunia nyata.

Kebebasan menilai dan membenci orang lain sesuka hati menjadi sesuatu yang biasa kita temui. Hal itu membuat sisi baik dan sisi buruk seseorang memudar dan kita asik menelusurinya.

Saat ini kita dapat dengan mudah mengetahui kisah kehidupan seseorang. Aktivitas sehari-hari, makan, tidur, bahkan berak pun kita bisa tahu. Kehidupan nyata menjadi semu seolah sedang memainkan peran agar kita terhibur. Padahal? Tidak mudah semudah itu ferguso. Kita menjadi pribadi yang bisa dilihat orang tanpa ada batas demi sebuah harga.

Hidup ini begitu murah untuk kita jual, dan kita begitu mudah untuk membeli. Kita menjadi pribadi yang mudah mencintai idola baru namun bisa berubah menjadi sampah sewaktu-waktu. Dunia ini semakin kejam. Kesehatan fisik di masa pandemi memang kita jaga namun kesehatan mental kita lupa. Kita lupa media sosial itu untuk apa.

Saya pikir mereka lupa bahwa ada dunia nyata yang mereka harus disadari. Kita harus segera bangun dari keasikan dunia maya kita. Kita sudah terlalu jauh tertinggal, dan terlalu lama untuk mengejar. Tapi bukan berarti tidak ada waktu. Lalu mau sampai kapan? Sampai orang-orang pindah ke planet baru? Ah terlalu tertinggal!

Ini masih sedikit hal yang membuat saya gelisah. Bagaimana dengan kebijakan pemerintah? Ah sudahlah. Susah. Wasallam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.