Jangan Lupa, Bangsa dan Negara Ini Hasil Imajinasi Anak-anak Muda

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

Saya sedang memelototi beranda akun Facebook ketika Kluprut datang. Tampangnya mengunjukkan kegeraman. Belum lagi saya persilakan duduk dan saya suguhi minuman, Kluprut langsung mencerocos.

“Kaupikir atau kauanggap para pelajar itu tidak paham persoalan dan hanya ikut-ikutan demo? Coba pikir, misalnya, apakah para pelajar yang membentuk Tentara Pelajar pada masa Perang Kemerdekaan tidak paham persoalan, tidak paham risiko, dan menganggap perang melawan Belanda adalah perang-perangan dan kalaupun mati, mereka cuma mati-matinan? Kalau pelajar sekarang kauanggap bodoh, tak paham persoalan, apakah itu bukan karena kebodohan kalian, para orang tua dan guru mereka? Mikir!” cetus Kluprut getas.

Saya belum ngeh benar apa yang dia maksud, siapa yang dia tuju, mengapa pula datang-datang mengunjukkan kejengkelan. Dia lalu duduk di samping saya, meminta saya mengeklik sebuah unggahan. Itulah kompilasi berbagai komentar mengenai demonstrasi yang dilakukan para siswa sekolah teknik menengah (STM) di Jakarta, beberapa hari lalu. Saya membaca sekilas. Kebanyakan komentar merendahkan, melecehkan, menista.

“Ya juga sih. Para pelajar STM itu tidak bodoh. Keterlibatan mereka dalam demonstrasi di Jakarta, dan mungkin juga di kota-kota lain, selain karena paham persoalan, juga: demonstrasi adalah resolusi konflik. Bukankah lebih elok mereka demonstrasi menyoal kebijakan penguasa yang tidak memihak rakyat, ketimbang menghabiskan energi potensial mereka untuk tawuran? Lagipula, bukankah mereka pun sudah mencukupi umur untuk mencoblos — dan itu batas usia yang pantas disebut dewasa?” sahut saya, setelah akhirnya tahu juga apa pangkal kegeraman Kluprut.

La iya. Atau, apakah kau lebih memercayai kenyinyiran para penerima keuntungan dari penguasa yang mengecam keterlibatan para pelajar itu demonstrasi dengan ‘rela’ menyebut anakmu bodoh ketimbang mengakui sesungguhnya mereka pintar dan sadar keadaan?” timpal Kluprut.

“Wah, ya nggak! Apalagi kau tahu, Prut, anak sulungku, Kinan, beberapa hari sebelumnya juga demonstrasi di Jakarta perkara perusakan alam.”

“Nah!”

***

Saya teringat percakapan dengan Kinan via kotak pesan di akun Facebook, beberapa saat setelah dia mengikuti demonstrasi.

Kinanti Gurit Wening, sulung saya yang berusia 15 tahun, kini bersekolah di sekolah ekologis di Bogor, Jawa Barat. Jumat, 20 September 2019, lalu, dia dan kawan-kawan beserta para guru mengikuti aksi damai mengenai jeda iklim di Jakarta.

“Pak, kok orang-orang bilang pernah melihat Mbak di video tuh video mana sih?” tulis Kinan.

“Video di pesantren, yang ada Faiq juga itu lo. Juga di berita-berita media massa dalam jaringan, seperti BBC dan Antara. Mbak, jangan terprovokasi oleh komentar-komentar negatif soal aksi damai yang Mbak ikuti ya. Mereka tidak paham persoalan, tetapi begitu gampang berkomentar, misalnya, bahwa para siswa atau anak-anak yang ikut aksi tak paham persoalan. Justru merekalah yang tak paham. Bapak sepenuhnya mendukung aksi Mbak dan kawan-kawan. Teruslah belajar ya. Sekolah macam Mbak jalani sekarang inilah yang Bapak idamkan, dulu ketika Bapak remaja.”

“Ya, Mbak baru saja baca komentar di Facebook Gus Roy. Ada yang bilang, ‘Apa nggak kasihan bawa anak-anak ke sana? Lo? Mengapa harus kasihan? Justru kami excited sebab ikut andil dalam langkah awal suatu perubahan. Ya kan?”

“Ya. Justru sejak dini para siswa harus tahu persoalan nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari di negeri ini. Dan, jika mungkin terlibat dalam penyelesaian masalah, setidaknya dengan membangun kesadaran: bahwa kerusakan di bumi ini akibat tangan manusia dan manusialah yang harus menuntaskan.”

“Nah itu! Kawan-kawan Mbak, bisa Mbak yakini seratus persen, mereka tidak peduli, bahkan tidak tahu ada aksi damai #ClimateStrike di Semarang. Di Taman Indonesia Kaya.”

“Ya, karena pendidikan formal, macam sekolah-sekolah ‘konvensional’ itu bagai ruang kedap persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari, Ndhuk. Mbak lebih beruntung ketimbang mereka lantaran memperoleh pemahaman dan kesadaran secara dini mengenai berbagai persoalan nyata dalam kehidupan bersama. Jadi, Mbak pun bisa terlibat sejak awal untuk memberikan sumbangan dalam penyelesaian, baik berupa pemikiran maupun tindakan. Namun Mbak juga tak perlu mencela kawan-kawan yang tak memahami perkara ini. Kewajiban Mbak untuk menjelaskan pada mereka, sehingga mereka pun kelak memahami.”

“Ya, Pak, terima kasih.”

Percakapan dengan Kinan itu meneguhkan keyakinan saya: anak-anak muda, bahkan sejak dini, memang seyogianya paham dan syukur-syukur mampu terlibat dalam penyelesaian berbagai problem dalam kehidupan bersama, bahkan di ranah dan dataran negara-bangsa. Bukankah negara dan bangsa ini adalah hasil imajinasi anak-anak muda? Apakah kenyataan itu hendak sampean elaki?

Ya, siapa mampu menyangkal: bangsa dan negara ini hasil dan perwujudan dari mimpi atau lebih tepat imajinasi anak-anak muda. Mereka, pemuda belasan sampai likuran tahun itu, yang mula-mula menyadari bahwa siapa pun yang hidup di wilayah yang kini menjadi Indonesia ini tak bisa terus bertumpu pada keterpisahan berdasar perbedaan, antara lain subkultur, ras dan suku-bangsa, dan wilayah geografis. Mesti ada (faktor) yang memadukan, menyatukan, mengutuhkan.

Saat itu, yang ada adalah, antara lain, perhimpunan berdasar (asal dan kultur) kesukubangsaan. Itulah Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Borneo, dan lain-lain, dan sebagainya. Namun, begitulah, anak-anak muda bermimpi, anak-anak muda berimajinasi: mereka membuhulkan tekad menjadi satu bangsa, Indonesia. Itu berlangsung pada Soempah Pemoeda, 28 Oktober 2019.

Lalu, secara ringkas, tak butuh waktu lama, cuma 17 tahun kemudian, negara ini pun, Negara Republik Indonesia, diproklamasikan. Indonesia merdeka; Indonesia sebagai bangsa, Indonesia sebagai negara.

Kini, anak-anak muda pula telah menyuarakan kegelisahan mereka mengenai berbagai persoalan bersama – dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apakah sampean masih mau menganggap mereka anak kemarin sore yang tak tahu apa-apa, yang gampang dibelak-belokkan, gampang ditunggangi, gampang disusupi berbagai kepentingan?

Jika sampean masih menyikukuhi pandangan itu, lihatlah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), partai politik-partai politik, pemerintahan di negeri. Apakah sampean berani bilang bahwa mereka, lembaga tinggi dan tertinggi negara ini, sudah kalis dari berbagai kepentingan di luar tekad dan kehendak menciptakan kemakmuran yang berkeadilan dan keadilan yang berkemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia? Jika belum, apakah berarti mereka kanak-kanak dalam tubuh manusia dewasa?

Ya, bukankah dulu, Gus Dur pernah bilang, DPR tak lebih dari anak-anak taman kanak-kanak (TK)? Apa pula hendak kita katakan jika ternyata, sungguh telah ternyata, anak-anak STM, para remaja macam Kinan, anak saya, jauh lebih dewasa daripada para “wakil rakyat” yang terhormat. Menggelikan bukan, misalnya, melihat foto seseorang yang terpilih menajdi anggota DPR bersama ketiga istrinya, lalu melihat foto dia ketika sidang pertama: ngorok di kursi dewan yang terhormat!

Siapa lebih terhormat? Anak-anak STM yang demonstrasi atau anggota dewan yang lebih banyak ngorok dan ngorok ketika bersidang?

Salam!

 

Gebyog, 2 Oktober 2019: 13.31

 

  • Foto ilustrasi dari Andhi Liansyah/Enter Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.