Jangan Mencari Pindang saat Menyantap Pindang Tetel

Spread the love

Saya pernah kedatangan tamu dari luar kota. Saat itu dia baru setahun lulus kuliah. Dia sudah dapat kerja sebulan setelah lulus. Namanya Joni. 

Joni ini main ke rumah karena sedang libur. Weekend. Sabtu pagi dia sampai di Pekalongan. Saya jemput dia di stasiun. Saya bawa ke rumah. Ibuku langsung tanggap: membelikan kami nasi megono. “Ini makanan khas Pekalongan?” tanya si Joni. Aku mengangguk. 

Dari cara makan, sepertinya dia kurang suka. Nasi ia habiskan. Tapi megono ia tinggalkan. Tapi lumayan, sudah habis hampir setengah.

Sedikit siang ia mulai rewel. “Panas, ya, Pekalongan ini,” ujarnya. Dia masuk kamarku. Tidur.

Dia bangun selepas azan ashar. Dia mandi. Usai salat, aku ajak dia jalan-jalan. Keliling Pekalongan. Katanya, itu bukan kali pertama ia ke Pekalongan. Sebelumnya sudah pernah. Tetapi tidak sempat jalan-jalan. Hanya singgah. 

“Pindang Tetel itu makanan apa?” tanyanya ketika kami mulai memasuki wilayah Desa Ambokembang, Kecamatan Kedungwuni. 

Saya pura-pura ndak mendengar. Saya biarkan dia nerocos dan menoleh kanan-kiri. Saya arahkan sepeda motor ke pusat kuliner Bebekan. Orang Pekalongan menyebut tempat itu Lapangan Gemek. 

Dahulu tempat itu cukup sepi. Saya akrab dengan tempat itu sejak kecil. Orang tua sering mengajak saya ke sana untuk sekadar melintas. Dahulu belum banyak pedagang. Hanya satu-dua.

Semasa saya SD, Lapangan Gemek sudah dikenal sebagai pusat keramaian. Sering ada pasar malam.  Di sekitar lapangan ada sekolah, tempat ibadah, dan kantor kecamatan. Di sebelah utara, ada stadion Widya Manggala Krida. Satu-satunya stadion kebanggaan Kabupaten Pekalongan. Pernah menjadi lokasi konser band Ungu yang sempat viral karena ada puluhan penonton meninggal akibat berdesakan. 

Tahun 2012, Gemek disulap besar-besaran. Bukan hanya pusat keramaian, sejak saat itu Gemek jadi pusat kuliner juga. Lapangan disulap sedemikian rupa. Di tengahnya dibangun taman. Banyak lampu-lampu. Kios-kios didirikan mengelilingi lapangan. Gemek pun jadi primadona warga Kabupaten Pekalongan. Menyaingi Lapangan Mataram di Kota Pekalongan.

“Mau ke mana kita?” Joni masih terus saja bertanya. Saya tetap diam, pura-pura tak mendengar.

Meski kawasan Gemek berubah sedemikian “wah“, ada satu yang sejak dahulu tak pernah saya lupakan: pindang tetel Pak Casroni.

Pindang tetel merupakan makanan khas Pekalongan. Makanan ini berkuah. Warna kuahnya hitam. Sangat pekat dan kental. Sekilas mirip rawon. Isiannya tetelan daging sapi dan kerupuk pasir. Orang Pekalongan menyebutnya “kerupuk usek”.  Karena cara menggorengnya dengan diusek-usek dalam pasir panas. Bukan menggunakan minyak goreng. 

Warna hitam kuah pindang tetel dihasilkan dari keluwek. Bumbunya puluhan jenis rempah. Bagi saya, juga menurut testimoni banyak orang, kuah pindang tetel yang enak ialah yang kental. 

Menurut saya, wajib hukumnya menyertakan kerupuk usek ke pindang tetel. Kerupuk ini diremas lalu diguyur kuah pindang tetel. Memang begitu cara menyajikannya. Kerupuk usek-lah yang membuat tampilan pindang tetel sangat khas.

Bagi saya, pindang tetel tanpa kerupuk usek seperti cinta tanpa rindu: abal-abal. 

“Pesankan aku seporsi, ya! Aku pengen nyoba,” ujar Joni usai saya memarkir motor tepat di depan gerobak Pak Casroni. 

Pindang tetel Pak Casroni ini sudah ada sebelum Gemek “dipercantik”. Kini diurus istrinya, Bu Sholati, dan anak-anaknya. Pernah saya berbincang dengan Bu Sholati. Katanya, ia dan suaminya sudah lebih dari 25 tahun berjualan. Awalnya keliling. Lalu mangkal di Gemek. Pertama berjualan, semangkuk hanya Rp 600. Kini sudah Rp 12 ribu. 

Saya masih ingat, dulu ketika saya masih SD, orang tua sering mengajak ke lapak Pak Casroni.  Saya sangat doyan pindang tetel bikinannya. Sekali duduk bisa makan sampai tiga mangkuk. Waktu itu, seingat saya, harganya masih Rp 2500 atau Rp 3 ribu.

Dahulu Pak Casroni pernah mangkal di dekat tikungan SMA Negeri 1 Kedungwuni. Di Kawasan Gemek. Tiap sore. Tanpa tenda. Pak Casroni dan istrinya hanya menyediakan tikar. Untuk gelaran pembeli. Pindang tetel Pak Casroni ini merupakan salah satu yang legendaris di Kabupaten Pekalongan. Kini pindang tetel Pak Casroni tetap ada di Kawasan Bebekan, lapaknya tak jauh dari tempat semula mangkal: lapak blok timur, paling ujung utara, menghadap timur. 

Penjual Pindang tetel juga banyak di jumpai di gang-gang kecil dan kampung-kampung. Terutama di Kecamatan Kedungwuni.

Pindang tetel disajikan tanpa nasi ataupun lontong. Tapi biasanya, penjual tetap menyediakan lontong. Itu buat pembeli yang ingin saja. Afdolnya sih, menurut saya, jangan pakai lontong. Itu mengurangi kenikmatan dan sensasi. Tapi jika memang sedang lapar, pakai lontong tak masalah. 

Bahkan, ada pindang tetel yang disajikan dengan dicampur kuluban. Biasanya ini ada di kampung-kampung. Orang Pekalongan menyebutnya kluban pindang tetel.

Kata Bu Sholati, belum diketahui secara pasti mengapa makanan ini diberi nama pindang tetel. Ia hanya tahu, makanan ini berasal dari tanah kelahirannya: Desa Ambokembang, Kecamatan Kedungwuni. Jika ditelisik, sepertinya memang demikian, karena penjual makanan ini banyak berasal dari sana. “Dari mbah-mbah kami dulu memang namanya pindang tetel. Meski sama sekali tak ada pindangnya. Kalau ‘tetel’ itu diambil karena makanan ini isinya tetelan daging sapi,” kata Bu Sholati.

Joni memilih duduk lesehan. Beralas tikar. Sambil celingukan memandangi keramaian kawasan Gemek. Sesekali menatap layar ponselnya. Tak sampai lima menit, Pindang tetel pesanan kami mendarat di depan mata. Joni kebingungan. “Lho, mana pindangnya?”

Aku tetap diam. Pura-pura tidak mendengar. Hmm….


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.