Jas Lusuh

Spread the love

Cerpen Much Taufiqillah Al Mufti

Ketika mengepak pakaian dalam kardus yang hendak kusumbangkan ke Pulau Majeti yang tempo hari mengalami gempa dahsyat, aku menemukan sebuah jas biru di tumpukan paling bawah. Aku nyaris tidak mengenali lagi jas itu karena penuh debu. Aku kebat-kebutkan dan terbatuk karena debu masuk ke liang hidungku. Ada logo perisai dan sembilan bintang. Beberapa saat kemudian, ingatanku terbang ke masa kuliah.

Jas itu pemberian seorang senior, Kang Cipta, setelah aku melewati proses tempaan yang panjang. Aku harus membaca karya-karya pemikir Barat dan Timur serta mampu menjelaskan secara terperinci. Kemudian, aku harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari senior-senior yang mengetes. Tidak selesai di situ, Kang Cipta menyuruhku mengawal masyarakat yang tertindas. Dia menyuruh aku memilih.

“Aku ngawal Kampung Tanjung, Kang.”

“Kau yakin?” tanyanya sambil mengisap rokok.

“Beri waktu aku sebulan.”

“Apa isu di sana?”

“Banyak, antara lain perampasan tanah. Tapi saya akan mengawal anak-anak putus sekolah supaya mendapat hak pendidikan seperti amanat konstitusi.”

Keesokan hari, setelah waktu kuliah pungkas, aku kembali ke kos. Menaruh tas, salat, dan berganti pakaian menyerupai orang pinggiran. Pakaian-pakaian modis yang kupakai saat kuliah, kuganti kaus dengan sablonan sudah merekah dan warna memudar. Ada tiga tempat jadi rujukanku: warung kopi, pangkalan ojek, dan masjid.

Di tempat-tempat itulah aku bisa mendengar keluhan nyata dari masyarakat. Salah satunya Pak Dirman. Pada pertemuan kali pertama di sebuah warung kopi, kuajak ia berkenalan, basa-basi. Akhirnya ia bercerita tentang anaknya dan anak-anak lain yang terpaksa putus sekolah karena tidak kuat bayar SPP. Orang seperti Pak Dirman tidak tahu atau mungkin tahu tetapi tak berdaya bahwa negara menjamin pendidikan setiap anak.

Sejak bercakap sore itu dengan Pak Dirman, aku sering main ke rumahnya, baik untuk membicarakan hal penting maupun sebatas mengobrol santai. Pak Dirman sehari-hari bekerja sebagai pengayuh becak. Ia menjalin pertemanan dengan beragam orang, baik sesama pengayuh becak maupun para penumpang setia.

Suatu hari, aku bertanya, apakah ada ikatan antara sesama pengayuh becak? Di bilang ada. Pak Dirman mengajak aku berkumpul dengan sesama pengayuh becak. Ujar dia, supaya tidak hanya ia yang memiliki kesadaran. Pak Dirman mengaku tidak bisa menjelaskan bila sendirian.

“Orang-orang sudah tahu siapa saya, Mas. Kalau saya jelaskan mengenai jaminan hak semacam itu, mana mungkin mereka percaya? Saya cuma sekolah sampai SD, tidak seperti Mas, kuliah. Pasti omonganku dianggap nggedabrus,” ujar dia sambil tertawa.

Malam itu, purnama sempurna. Cerah. Bintang-bintang gemerlap. Beberapa laki-laki paruh baya duduk melingkar di emperan rumah Pak Dirman. Saat itu memang jatah dia menyediakan tempat untuk pertemuan.

Seorang laki-laki berbadan besar, berperut buncit, kepala bagian depan botak, dengan suara berat membuka percakapan. Selepas pertemuan baru kuketahui, ialah ketua perkumpulan pengayuh becak.

Tiba sesi tanya jawab, Pak Dirman memperkenalkan aku sebagai keponakannya kepada teman-teman senasib. Barulah aku angkat bicara. Namun tidak langsung ke persoalan inti. Aku menuturkan, aku perantauan dari Pulau Majeti. Jauh. Aku datang untuk mencari saudara. Ketika kutanya apakah bapak-bapak bersedia menjadi saudaraku, mereka semua mengangguk dan tersenyum. Kecuali, si ketua perkumpulan. Dia mengernyitkan dahi sejak tadi.

Mula-mula aku menjelaskan obrolanku dengan Pak Dirman tentang anaknya yang putus sekolah. Rata-rata pengayuh becak yang hadir bernasib serupa. Mereka tidak tahu tentang hak pendidikan, termasuk terobosan pemerintah untuk menanggulangi putus sekolah. Ketua perkumpulan itu dengan suara berat bertanya, “Lalu apa solusinya?”

“Solusinya tidak dari kita,” sahutku. “Yang bisa mengatasi ini ya negara, karena pendidikan itu alat negara untuk mencerdaskan warga.”

“Konkretnya bagaimana?” tanya salah seorang penganyuh becak yang masih muda.

“Kalau Bapak-bapak bersedia,” kataku hati-hati, “Ketika ada waktu senggang, kita bersama-sama menuju ke kantor pemerintah. Kita mengajukan tuntutan.”

“Mas ikut kan?” tanya seseorang di sebelah Pak Dirman yang seketika menghunjam batinku. Saat itulah sumpahku kepada Kang Cipta teruji. Sumpah bersedia mencurahkan pikiran, tenaga, dan nyawa bahkan, untuk masyarakat paling bawah.

“Iya, Pak, tentu aku ikut.”

Selepas unjuk rasa bersama para pengayuh becak di kantor pemerintah, ketua perkumpulan diminta menghadap Wali Kota. Dia mengajak aku turut serta. Kami memasuki ruang kantor Wali Kota yang dingin ber-AC. Wali Kota menyuguhkan segelas air mineral. Dia mempersilakan kami minum. Kemudian, dia membuka percakapan. Ketua perkumpulan menanggapi, lalu aku. Terjadi perdebatan. Sengit. Akhirnya Wali Kota meminta kelegaan hati kami. Kami menolak. Lobi pun menghadapi jalan buntu.

Setelah itu, banyak telepon dan pesan lewat Whatsapp bernada ancaman masuk ke teleponku. Bahkan ada ancaman hendak dibunuh. Aku merasa selalu terawasi oleh seseorang yang tak kuketahui. Pengirim pesan tidak menampilkan foto. Pesan masuk kubacai satu per satu. Tampaknya si pengirim pesan tahu siapa aku, dari mana asalku, tempatku kuliah. Namun ia tidak tahu kosku.

Syukurlah, ia tidak tahu tempat aku menetap sekarang. Berhari-hari aku tidak keluar dari kos. Jika ingin makan, aku menelepon teman kampus, meminta dibelikan dan kuganti ongkos sewaktu sampai. Sesekali aku meminta teman-teman memantau di sekitar kos, angkringan, musala, dan gardu apakah ada orang mencurigakan.

Teman-teman kampus mencemaskan aku, terutama ketua kelas mata kuliah hukum pidana. Tinggal aku yang belum presentasi. Dosen pengampu selalu menanyakan aku, karena empat kali mangkir dari perkuliahan. Namun aku tahu dari teman yang sering menyambangi dan mengirim makanan, sebagian teman di kelas senang aku tidak masuk. Pasalnya, setiap berlangsung presentasi dan diskusi, aku yang paling sering melempar pertanyaan kritis.

Aku masih bisa bersikap tenang, kendati terancam tidak lulus mata kuliah itu. Namun ketika Ibu menanyakan kabarku, aku cemas. Ibu menanyakan kapan aku pulang, sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa kukatakan pada Ibu, kabarku baik dan sekarang masih banyak tugas. Aku tidak kuasa membayangkan keadaan Ibu yang sudah renta. Ibu menanti-nanti aku segera lulus dan menemani dia pada usia senja. Hal-hal sederhana yang ia harapkan padaku, tidak muluk-muluk, misalnya menjadi pejabat papan atas. Ibu menginginkan aku menemani masak, mengantar ke pasar, dan mendengarkan ketika dia bercerita.

Tak pelak, masalah kuliah yang semula kuanggap enteng, kini menjadi beban. Menyusul tangis Ibu yang pecah ketika meneleponku.

Dasar jas sialan! Kalau tidak gara-gara jas dari Kang Cipta ini, aku tidak akan bernasib malang seperi sekarang. Ibu pun tidak akan cemas. Mungkin, sesekali aku harus berpikir logis. Apa manfaatnya jas itu bagiku? Apa untungku? Kalau sekadar jas, sebenarnya aku bisa memiliki. Tinggal beli bahan dan menyewa penjahit untuk membuatkan.

Lagipula, di mana Kang Cipta sekarang? Ternyata Kang Cipta tak ubahnya senior umumnya. Mereka senang menyuruh, tetapi tidak bertanggung jawab dan tidak mempertimbangkan keselamatan kader. Semua petuah dan kesimpulan diskusi di warung kopi dengan Kang Cipta yang mengendap dalam pikiranku hanya tinggal sampah. Percum, tak bergun.

Di tengah keputusasaanku, satu perkataan Kang Cipta menyusup dalam ingatan. “Kelak, kala kau berjuang, ujian terberatmu tidak ketika menghadapi lawan, tetapi bagaimana mempertahankan keyakinan di tengah kebimbangan dan ketidakpastian.”

Sementara, saat ini, perkataan Kang Cipta sedang terjadi dan sedang kujalani. Namun aku tidak tega melihat Ibu menangis. Aku tetap harus pulang, meupakan semua sejenak.

Ketika baju-baju sudah kukemasi dan aku siap menyelinap keluar dari kos, kudengar dari luar pintu sayup-sayup derap langkah kaki yang tak asing. Kang Cipta? Ah, tak mungkin!

“Hei, kau mau kabur ke mana, Pejuang?” katanya sambil berdiri tepat di depan pintu.

“Kang Cipta?”

“Iya.”

Kreek! Pintu terbuka pelan-pelan. Ia masuk, mengenakan kaus, celana sobek di bagian dengkul, sembari menenteng sebuah buku tebal. Ia berjalan ke arahku dan menyodorkan buku itu.

“Bacalah,” katanya.

Aku menerima dan kulihat. Judul buku itu Rumah Kaca.

“Katamkan di sini, aku tunggu,” katanya.

Kemudian aku buka lembaran terakhir novel itu. Tertulis di bagian bawah: 484.

“Tenanglah. Nanti jelaskan apa isinya,” katanya menutup percakapan.

Sementara aku membaca, sampai di halaman 222, Kang Cipta menelepon seseorang. Aku tidak tahu siapa yang dia telepon. Kelihatannya mereka akrab sekali. Namun gurauan dan tawa Kang Cipta yang terbahak-bahak cukup mengganggu konsentrasi. Mungkin itu sengaja dia lakukan.

Sudah dua hari, sejak memintaku membaca buku itu, Kang Cipta masih bergeming di tempatnya. Tidak ke mana-mana. Kulirik sesekali dia membaca buku, membalas chat, membuat story, dan menelepon. Prasangka burukku, yang menyamakan dia dengan senior bermental pesuruh, meluruh. Ia setia menemaniku. Bahkan sampai detik ini, ia tidak makan.

“Sudah?”

“Baru halaman 400, Kang.”

Kemudian ia mengambil HP dan mengetik sebuah nama di pencarian kontak.

“Halo, Pak Kapolres.”

Aku menghentikan membaca. Serius? Ia menelepon Kapolres. Buat apa? Namun aku pura-pura melanjutkan membaca. Namun diam-diam aku menguping.

“Halo juga, Ketua.”

“Bisa minta tolong, Pak?”

“Apa, Ketua?”

“Tolong kondisikan anak buah njenengan. Jihad tidak perlu diuber-uber lagi. Dia aman bersamaku sekarang.”

“Siap, Ketua!”

Telepon mati. Dia menoleh kepadaku. Aku terkesiap, lalu kembali membaca lagi.

“Kau sudah dengar?”

“Apa, Kang?”

“Kau aman. Kau tidak perlu lagi berhubungan dengan Dirman. Dia yang mengintaimu.”

Semudah itukah mengatakan aman? Semudah itukah mengondisikan seorang kepala polisi untuk menghentikan perburuan? Apakah semua ini skenarionya?

Aku tidak bisa membayangkan betapa sakti seniorku ini. Namun bagaimana dia bisa tahu Pak Dirman? Apakah ternyata ia memantau pergerakanku selama ini? Ternyata aku salah duga.

Kang Cipta membuka tas, lalu menyodorkan sebuah jas biru. “Kau berhasil,” katanya.
Itulah ceritaku soal jas ini. Entah, bagaimana dengan kader-kader sekarang? Bagaimana mereka memperoleh jas? Kulihat di media sosial bisnis pembuatan atribut menjamur. Apakah si penjual tahu sang pembeli sudah merampungkan tahap pengaderan? Apakah penjual itu paham pengaderan? Ataukah hanya mampu menjual dengan target keuntungan sebanyak-banyaknya?

Jika iya, itu tanda tidak lagi sakral. Atribut telah berubah menjadi sekadar aksesori, sebab diperoleh secara instan, tidak ada perjuangan, tidak ada sejarahnya. Menjadi aktivis tak ubahnya seperti selebritas.

Much Taufiqillah Al Mufti, alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, kini menjadi guru, tinggal di Semarang

Gambar ilustrasi: VoxNtt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.