Jeans Belel dengan Segala Kemelutnya

Spread the love

Oleh Akbar Kurniawan

Sekitar dua minggu yang lalu saya, ditegur oleh dosen karena memakai model celana jeans yang robek di dengkul. Lembaga kampus terlebih di fakultas saya memang tidak memperbolehkan para mahasiswanya untuk memakai jeans robek semacam itu, alasannya adalah karena dianggap kurang sopan. Namun, apakah betul celana jeans robek ini ada dan tercipta untuk menampilkan citra yang kurang sopan pada diri seseorang?

Mari kita ingat kembali sebelum dunia fesyen di Indonesia memopulerkan jeans robek atau ripped jeans. Pada masa Pak Lik Suharto pemerintah sangat anti dengan berbagai macam hal yang berbau premanisme. Saking anti dan parnonya pemerintah, akhirnya mereka pun memakai metode “judge by its cover” untuk memberantas premanisme di Indonesia. Menurut pemerintah Pak Lik Suharto waktu itu, laki-laki yang kekar, berambut gondrong, dan bertato adalah citra dari seorang preman sejati. Wadidaw! Nah biasanya juga preman-preman ini punya gaya fesyennya sendiri, yaitu celana jeans robek beserta rompi jeans robek. Dari situ lah citra jeans robek di Indonesia ini agaknya dinilai kurang etis oleh para generasi tua kita. “Ih celana udah robek kaya gitu sih masih dipakai.” Begitu hal yang selalu diucapkan oleh ibu saya tiap kali melihat anaknya luntang-lantung di rumah memakai jeans robek. Tetap saja, saya cuek dan enjoy, but I love you to the moon and back mom.

Oke, lanjut. Jadi sebenarnya bagaimana sih sejarah dari jeans robek ini?

Sekitar tahun 1970an, celana jeans banyak dipakai oleh para kelas pekerja di Amerika. Bahkan pada saat pertama kali ditemukan, celana jeans ini sudah sangat identik dengan para pekerja tambang di sana.

Pada masa itu, celana jeans sangatlah mahal, sehingga kebanyakan dari kelas pekerja yang hanya mampu membeli satu jeans untuk seumur hidupnya. Orang-orang yang memakai jeans sampai robek pun akhirnya  dicirikan sebagai kelas pekerja bawah yang miskin karena dianggap tidak mampu membeli celana jeans baru.

Bagaimana hal-hal yang berkaian dengan cara berpakaian ini dapat menjadi representasi kelas sosial seseorang?

Kalau menurut Marx, Masyarakat yang dikuasai proses-proses kehidupannya oleh sistem kapitalis akan mengalihkan ciri hidupnya dari yang ditandai oleh kebudayaan yang humanis menjadi semata-mata materialis dan pada tahap selanjutnya akan memunculkan kelas-kelas yang sangat kontras di masyarakat (Sutrisno & Hendar, 2005) . Hal yang berkaitan dengan ciri kehidupan materialis pada masyarakat kapitalis salah satunya adalah gaya berpakaian. Pakaian bukan sekadar menjadi kebutuhan pokok manusia saja, melainkan menjadi sebuah simbol tertentu, yang juga mampu merepresentasikan kelas seseorang. Menurut teori masyarakat konsumeris milik Jean Baudrilard, orang-orang mengonsumsi barang atau jasa bukan sekadar guna memenuhi kebutuhan pokoknya melainkan untuk memperoleh nilai-nilai simbolis atau tanda dari barang yang dikonsumsi (Pawanti, 2013).

Sejak zaman nenek moyang kita, masyarakat pun dapat dengan mudah membedakan mana orang yang memiliki kedudukan yang tinggi dan mana yang tidak dengan hanya dengan melihat pakaian yang dikenakannya. Raja identik dengan pakaian yang mewah, bling-bling dan glamor. Pakaian yang dibuat dengan bahan-bahan luxury seperti kain sutra menandakan posisi kelas seseorang berada ditingkat yang tinggi.

Kembali ke perkembangan jeans robek. Jadi, pada akhir 1970an muncullah kultur punk yang juga ikut mempengaruhi perkembangan jeans robek ini. Subkultur tersebut mempopulerkan celana jeans robek bukan karena selera musiknya yang amburadul, berisik, dan tak keruan. Melainkan sebagai bentuk protes terhadap sistem pemerintahan.  Kultur punk yang pada masa itu dikomandani oleh salah satu grup musik legendaris Inggris, Sex Pistols membuat sebuah gerakan untuk melawan sistem pemerintahan yang konservatif. Pemerintah selalu menganggap seseorang yang berpakaian rapih dan necis merupakan gambaran warga sipil yang taat akan aturan. Sehingga perlawanan yang dilakukan oleh kelompok kultur punk dilakukan melalui sebuah tindakan simbolik yaitu dengan merobek celana jeans.

Tujuan mereka adalah untuk memperoleh hak atas kebebasan berekspresi. Agar pemerintah dan masyarakat tidak lagi menilai cara berpakaian seseorang. Dampaknya terhadap kelas pekerja pun, mereka tidak lagi dicap atau dilabeli sebagai seorang yang rendah dengan memakai celana jeans robek ini. Penandaan kelas terhadap seseorang yang memakai celana jeans robek pun perlahan hilang di kehidupan masyarakat barat.

Hingga era 90an tren celana sobek atau ripped jeans semakin berkembang terutama di kancah musik pop rock Amerika. Banyak dari para musisi juga yang akhirnya memakai tren ripped jeans ini. Salah satunya adalah Kurt Cobain yang kemudian menciptakan tren fesyen grunge.

Pada masa sekarang, tren ini seolah dimunculkan kembali. Banyak dari para remaja yang sebetulnya  tidak menyukai musik pop rock juga memakai model jeans robek. Pasar fesyen menjadi seperti era 90’an karena banyak dari para selebritis dan musisi yang memakainya kembali.

Dan hal yang menarik adalah bahwa kemunculan celana jeans robek dipasaran saat ini dibanderol dengan harga yang cukup mahal. Merk dagang ternama seperti Levi’s menghargai sebuah celana jeans robek dengan harga 3 juta rupiah.

Lantas apakah seseorang yang memakai pakaian yang memiliki nilai jual semahal itu masih dapat dikategorikan sebagai kelas bawah dan mencirikan citra seseorang yang amburadul dan kurang sopan? Pada zaman yang dipenuhi oleh simbol-simbol seperti saat ini, hal demikian menjadi sangatlah ambigu. aw syit.

 

Daftar Pustaka

Sutrisno, Mudji & Hendar Putranto. 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Pawanti, Mutia Hastiti. 2013. “Masyarakat Konsueris Menurut Konsep Pemikiran Jean Baudrillard”. Jurnal FIB Universitas Indonesia. Depok.

 

Gambar: pleasekillme.com

 

Akbar Kurniawan, Mahasiswa Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Universitas Negeri Semarang 2018

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.