KalamKopi: Sejarah, Latar Belakang, dan Filosofi

Spread the love

Secara sekilas, memang wagu nama “Kalamkopi” ini, akan tetapi nama inilah, yang dengan alamiahnya mewakili dari sejarah berdirinya komunitas ini. Mungkin banyak orang yang mengira komunitas ini hanyalah sekelompok orang yang hobi ngopi dan nongkrong di kedai. Dan memang itulah faktanya, walaupun tidak semuanya suka ngopi dan nongkrong. Setidaknya ada tiga hal, yang sekiranya membuat komunitas ini berbeda dengan kumpulan orang ngopi di kedai atau kafe, sehingga mewakili semua orang, dan pada akhirnya melahirkan Komunitas Kalamkopi ini seperti sekarang.

Pertama adalah kekecewaan pada sistem perkulihan, yang kian hari kian jauh dari tujuan pendidikan itu sendiri. Sedangkan, jika kampus dimaknai dengan rumah ilmu, yang menjadi tempat menuntut ilmu bagi mahasiswa, maka sangatlah bertolak belakang dengan maqolah yang mengatakan bahwa ilmu adalah sebagai alat pembebasan. Karena dengan adanya sistem perkuliahan yang semakin berorientasi pada nilai dan ijazah, dengan ditambah para dosen dan birokrat kampus yang konservatif dalam hal pemikiran, membuat mahasiswa semakin acuh dengan realitas sosial masyarakat yang kian rumit, dan cenderung terkungkung pada sistem. Dan hal inilah yang menciderai makna pembebasan tersebut. Bahkan dengan semakin jelasnya liberalisasi dan kapitalisasi pendidikan, justru mengarahkan mahasiswa menjadi pribadi yang individualistik dengan iming-iming makna kesuksesan ala barat, yang justru jauh dari makna pembebasan dan agent of  change.

Kedua, adalah kekecewaan terhadap organisasi kampus, yang semula menjadi harapan untuk keluar dari kejumudan kampus. Bukan berarti kami adalah segerombolan orang yang anti organisasi kampus. Alasan yang mewakili rasa kekecewaan kami adalah semakin rancunya orientasi para aktivis yang berkecimbung di organisasi intra kampus maupun ekstra kampus. Dimulai dari ekstra kampus yang semakin terjebak dalam politik praktis kampus, yang hanya berebut kuasa untuk menguasai organ intra kampus—sehingga kehilangan idealisme para pendiri organisasi mereka sendiri, seperti PMII yang tak mengenal pemikiran Mahbub Djunaidi, atau HMI yang jauh dari pemikiran Cak Nur, atau KAMMI yang kian sibuk mencari kader untuk kepentingan elit partai politik, dan kesemua ekstra yang kian jauh dari sumbernya. Hal yang seperti inilah, yang menjadi poin penting untuk komunitas Kalamkopi ini, untuk tidak terjebak politik praktis, dan selalu mencari jalur alternatif.

Kemudian ditambah intra kampus yang menjadi korban dan objek pertarungan politik, dengan segala kerancuan orientasi, yang celakanya lagi justru mendidik para aktivis yang berkecimbung didalamnya untuk menjadi elit kampus (walaupun tidak semua). Dengan ditambah godaan kooptasi dari birokrat kampus yang menggiurkan serta strukturalisasi yang menghambat kebebasan dalam bersuara—menjadi salah satu alasan penting dalam terbentuknya komunitas ini.

Ketiga adalah semangat berliterasi dan berdiskusi. Poin inilah yang menjadi kekuatan utama dalam proses lahirnya komunitas ini. Dengan adanya kekecewaan terhadap sistem perkuliahan, oraganisasi kampus dan semangat berliterasi dan berdiskusi, membuat orang-orang yang sekarang menjadi pengiat komunitas Kalamkopi ini, setahun yang lalu, atau ketika semester tiga, sering ngopi di Kedai ABG Patemon, yang merupakan asuhan dari Kang Putu, Mas Achiar dan Babahe. Dari seringnya ngopi di kedai ABG dan selalu mengungkapkan keresahan dan kekecewaan, dengan ditemani kopi, maka timbulah nama “Kalamkopi”. Jika diartikan secara bahasa, “kalam” mempunyai arti ucapan, sedangkan “kopi” adalah sebuah benda pahit yang selalu menami diskusi-diskusi untuk kelahiran komunitas ini, di Kedai ABG. Jadi secara singkat nama “Kalamkopi” ini diambil dari sejarahnya yang selalu berdiskusi di Kedai ABG, untuk mengungkapkan keresahan atas sistem kuliah dan organisasi mahasiswa, dengan ditambah semangat literasi dan diskusi.

Kemudian pada pemaknaan filosofis, Kalamkopi tersusun dari dua kata, “kalam” dan “kopi”. Menurut KBBI sendiri, “kalam” mempunyai arti ungkapan. Akan tetapi kata “kalam” merupakan kata serapan dari Bahasa Arab. Sehingga jika dimaknai dari asal katanya yaitu Bahasa Arab, “Kalam” menurut Kitab Al-Jurumiyah merupakan kata yang tersusun, berfaedah serta disengaja atau dalam keadaan sadar. Sehingga jika ingin benar-benar dikatakan kalam, maka haruslah memenuhi keempat syarat tersebut, yaitu kata, tersusun, berfaedah dan dengan keadaan sadar. Syarat keempatlah yang merupakan letak filosofis dari kata kalam, yaitu diucapkan dengan keadaan sadar, karena dalam pembahasan arti kalam dalam kitab yang lebih tinggi, seperti kitab Al-‘Imrity ataupun Alfiyah ibn Malik, hanya memiliki perbedaan pada syarat keempat, yaitu Bil Wad’i (dengan keadaan sadar). Sehingga dari pemaknaan filosofis inilah, yang kemudian menjadi harapan kami, untuk terus membaca dan berdiskusi, yang kemudian akan menumbuhkan kesadaran-kesadaran yang haqiqi.

Kemudian kata “kalam” disandingkan dengan kata “kopi”. Makna “kopi” sendiri, secara bahasa berarti buah kopi, serbuk kopi ataupun minuman yang berbahan dari buah kopi. Akan tetapi, sesuai dengan sejarah komunitas ini, yang lahir dari kedai kopi, pemaknaan filosofis kami adalah minuman kopi hitam pekat dan pahit, yang menyadarkan bahwa kenyataan hidup ini memanglah pahit, seperti penindasan atas pembangunan yang merajalela, keadilan yang hanya memihak kaum kaya  atau pun keserakahan dunia yang bisa menimpa siapa saja—membuat kami harus terus bersembunyi dalam pahitnya kopi, agar tidak terlena akan godaan dunia yang bisa menimpa siapa saja, sebari mempersiapkan percikan perlawanan, yang perlu terus berlipat ganda.

Dari  penjelasan diatas, tentang sejarah, makna filosofis dan harapan dari komunitas ini, mungkin panjenengan semua sudah mempunyai kesimpulan atas komunitas ini, dan kami merasa berdosa jika harus memberi kesimpulan, karena setiap manusia sudah diberi anugerah akal masing-masing dari Tuhan. Kami kira sekian penjelasan singkat sejarah dan perihal nama Kalamkopi ini, semoga langkah kecil  ini, merupakan ridho-Nya.

Wallahu a’lam bis showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.