Kami Butuh Air Bersih, Pak

Spread the love

Bau menyengat yang bersumber dari sungai di belakang rumah begitu mengganggu kami di desa ini. Limbah pabrik tekstil yang dibuang ke sungai itu telah menghantui kami selama puluhan tahun. Tak ada seorang pun atau makhluk super mampu mengatasi. Pada siapa kami mesti berharap?

Hari demi hari kami menghadapi banyak tantangan; bau limbah, kesulitan mencari air bersih, penyakit diare dan gatal-gatal, serta masih banyak lagi. Sudah ratusan kali ketua RT dan RW memprotes pada pemilik dan pengelola pabrik. Namun tak ada solusi bagi kami.

Apakah akan ada titik terang? Apakah pihak yang berwenang akan selekasnya membawa kabar baik?

***

Seperti biasa, aku membantu Ibu mempersiapkan makanan bagi kami sekeluarga. Sayur sop jadi menu yang akan kami suguhkan hari ini. Perutku makin keras bersuara ketika mendengar kata “sop” yang baru saja kuucapkan. Sayur-mayur yang sudah kupotong kecil-kecil, kukumpulkan dalam satu wadah, dan kucuci bersih.

Mungkin bagi orang-orang dari luar, air di desa kami begitu menjijikkan dan tidak cocok untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mungkin kami akan mendapat kuliah singkat perihal air kotor. Namun apalagi yang harus kami lakukan?

Sambil memikirkan soal air, aku melanjutkan mencuci bersih sayur-mayur. Air dari ember kuambil sedikit demi sedikit dengan gayung, kusiramkan ke sayur-mayur.

“Bu, ini,” ujarku sambil menyerahkan baskom berisi sayur-mayur kepada Ibu, kemudian duduk di sisinya sambil menatap khidmat pergerakan tangan Ibu yang lembut ketika memasak.

Sejak kecil, aku sangat suka menemani beliau di dapur. Menyaksikan caranya mengolah sayur, membersihkan peranti memasak, dan kegiatan lain yang menjadikan dapur sebagai pusat, begitu menyenangkan.

“Bapak ke mana, Bu?” tanyaku.

Ibu menoleh pelan, sebelum menjawab, lalu kembali fokus ke sayur-sayuran. “Katanya keluar sebentar. Mungkin rapat dengan bapak-bapak lain.”

“Rapat soal apa?”

Ibu mengangkat bahu. “Tentang limbah pabrik mungkin.”

Mataku berbinar ketika mendengar perkataan Ibu. “Alhamdulillah. Semoga betul. Menyenangkan kalau sungai kita bebas dari limbah pabrik. Membayangkan kulit gatal setelah mandi atau berenang di sungai saja sudah ngeri, apalagi air sungai sering dipakai memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak banyak orang bisa beli alat penyaring seperti kita. Iya kan, Bu?”

“Ya, begitulah.”

Aku hanyut dalam pemikiran soal air. Kuputuskan duduk di dipan di serambi depan sambil menuangkan pikiranku dalam kata-kata.

Aku gelisah sekali. Air sungai yang menghitam membuatku terus-menerus merasa sedih. Apalagi tidak ada yang peduli. Masyarakat sekitar pun tidak ambil pusing, atau bahkan telah berkawan baik dengan bahaya itu.

Pemerintah pun tidak bergerak. Bertahun-tahun kami menunggu tindakan wakil rakyat. Namun kami hanya mendapatkan omong kosong. Terlalu banyak janji mereka buat, sampai mereka pun bingung: mana janji yang harus mereka tepati lebih dulu. Televisi hanya menyiarkan berita politik, korupsi, dan nihil aksi dalam penyelamatan lingkungan.

Begitukah cara wakil rakyat bekerja? Memalukan!

Oh, Tuhan, aku selalu berharap mereka turun dari jabatan dan digantikan anak-anak muda yang memiliki lebih banyak harapan baru dan solusi untuk mengatasi berbagai masalah. Apa coba yang mereka lakukan, selain berfoto, mencari perhatian khalayak, dan menerima uang? Tidak ada!

“Ruri!” seru Ibu dari dalam.

Aku segera meninggalkan buku dan pena. Berlari kecil mendekati Ibu. “Ada apa, Bu?”

“Tolong buatkan minuman buat Bapak dan abangmu. Ibu tidak bisa meninggalkan sayur ini.”

Aku mengangguk paham, lalu mengerjakan perintah Ibu.

“Ini, Pak.”

Tangan Bapak terulur, meraih cangkir teh di atas nampan. Aku bisa melihat air muka Bapak berbeda dari biasa. Juga peluh yang memenuhi pelipis dan hampir seluruh wajahnya. Ada apa?

“Kapitalis tidak bisa berubah! Tetap saja. Sekali datang untuk uang, mereka tidak akan pergi tanpa uang. Peduli apa mereka terhadap keselamatan warga yang tinggal dan menggantungkan hidup pada sungai yang mereka cemari? Demi Tuhan, apa sulitnya mengeluarkan uang untuk mengolah limbah mereka dengan baik? Dasar orang kaya!” ujar Bapak begitu kesal.

Aku bisa merasakan hal itu dari nada bicara beliau; dahi berkerut dan hidung kembang-kempis.

“Ruri, Sultan, kalian Bapak sekolahkan untuk dapat pendidikan yang baik. Kelak, ketika kalian dewasa, bekerjalah untuk kesejahteraan orang banyak. Jangan pernah sekali pun kalian melakukan sesuatu yang merugikan orang kecil.”

Aku dan Abang mengangguk. Kami mendengarkan wejangan Bapak dan menyimpan baik-baik dalam pikiran. Benar, aku harus bekerja untuk kepentingan banyak orang, terutama orang kecil.

Aku bersyukur lahir di keluarga yang stabil secara ekonomi, sehingga sedikit-banyak mengerti persoalan krisis lingkungan, terutama yang kami dan banyak keluarga rasakan di bantaran sungai ini. Aku tidak bisa membayangkan, berapa tahun lagi masyarakat desa kami harus menghadapi ancaman limbah pabrik karena kurangnya perhatian pihak industri dan wawasan masyarakat yang kurang perihal kerusakan alam?

“Kalian tahu, dulu sungai kita sangat bersih. Memang ada beberapa orang masih sering membuat sampah di sungai atau jalanan, tapi hanya beberapa. Ada yang bilang, ketika mengotori sungai akan ada konsekuensi yang kita terima dari alam. Sebelum pendirian pabrik tekstil, semua mematuhi peraturan itu. Setelah limbah menguasai perairan sungai, orang-orang berpikir alam sudah memberi izin untuk membuang sampah sembarangan. Sekarang, bisa kalian saksikan bagaimana wajah sungai kita. Semoga Tuhan lekas memberikan jalan keluar.”

“Namun Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, jika kaum itu tidak ingin mengubah diri. Betul kan, Pak?” tanya Abang.

Bapak tersenyum dan mengusap kepala Abang.

Ah, bahkan Tuhan pun enggan menolong. Ya, kita yang harus mengubah keadaan.

“Besok, Bapak akan datangi pemimpin pabrik tekstil itu. Bapak didampingi beberapa orang dari laboratorium akan memberikan sampel hasil pengamatan kadar air dan akibatnya jika dikonsumsi manusia. Kalian ikut?”

“Ikut!” seruku dan Abang serempak.

***

Hari ini, aku begitu bersemangat. Bapak telah berjanji mengajak kami ke pabrik, melihat keadaan di dalam bangunan besar bercerobong asap yang jadi tempat limbah itu berasal.

Kami menunggu beberapa orang lain di balai RT. Setelah semua berkumpul, kami berjalan kaki menuju ke pabrik di tepi jalan raya.

“Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”

“Kemarin kami sudah bicara dengan pemimpin perusahaan ini. Beliau sudah mengizinkan kami berkeliling dan mengamati,” jawab Bapak tegas.

Aku menggandeng tangan kiri Bapak, Abang berdiri di belakang dan mengobrol dengan orang-orang dari laboratorium.

“Baik, silakan masuk.”

Penjaga pos mengantar kami masuk dan berkeliling. Banyak ruang sudah kami masuki. Kini, kami masuk ke kawasan pusat saluran pembuang limbah ke sungai. Begitu banyak pipa. Bau sangat menyengat. Dadaku menyesak. Untung, aku memakai masker.

“Sebetulnya masih ada space untuk membangun satu bak besar penampung dan pengolah limbah,” bisik Om Bayu pada Bapak.

Bapak berbisik pula menanggapi, “Mereka terlalu takut kehilangan banyak uang daripada banyak nyawa. Otak kapitalis tentu berbeda dari otak kita.”

Mereka tergelak.

Abang mengajakku berkeliling, memisah dari rombongan. Kami melihat limbah berwarna hitam itu mendekati aliran air dan tercampur. Terbayang dalam benakku tubuh anak-anak yang kerap bermain di sungai. Limbah pabrik berbau tidak sedap dan tidak baik bagi tubuh, menyebabkan gatal-gatal dan merontokkan rambut. Akibatnya lebih fatal jika air sungai yang tercemar itu digunakan untuk kegiatan sehari-hari seperti makan, minum, mencuci, dan mandi. Apalagi banyak tetanggaku tidak memiliki alat penyaring air.

Tak lama, seseorang berpakaian rapi dengan dasi melingkari leher mendekat. Dia mengajak Bapak dan dua temannya masuk dan berbincang. Dia berkata, kami harus menunggu di luar karena percakapan itu hanya di antara sesama orang dewasa.

Sambil menunggu, aku dan Abang kembali berkeliling. Seluruh sudut pabrik yang bisa dimasuki, kami telusuri. Meski belum banyak pengetahuan seperti Bapak dan kedua temannya dari laboratorium, bahkan petinggi pabrik, kami bersikeras melihat-lihat. Setidaknya kami jadi tahu apa yang ada dan terjadi di dalam gedung berasap pekat yang keluar dari cerobong tinggi itu.

“Bang, kapan sungai kita bersih?” tanyaku.

“Abang enggak tahu, tapi pasti waktu itu akan datang. Sungai kita akan bersih suatu saat. Semoga kita jadi salah satu pahlawannya ya, Dik.”

Aku mengangguk bersemangat. Semoga Tuhan mengabulkan segala doa kami bagi lingkungan di Indonesia.

***

Aku kembali duduk di serambi depan ketika semburat cahaya oranye matahari memenuhi cakrawala. Semilir angin membuatku mengantuk. Namun aku urung berbaring lantaran masih ada banyak hal hendak kutuangkan dalam lembaran kertas.

Aku teringat banyak remaja memimpin pergerakan pada masa penjajahan dan awal kemerdekaan. Aku ingin mencontoh mereka. Namun aku masih perlu banyak belajar. Meski bukan mengorganisasi massa, aku bisa mengajak orang-orang peduli melalui tulisan.

Aku ingin membuat perkumpulan pemuda peduli lingkungan. Besok, ide ini akan kuceritakan pada Abang dan teman-teman sepermainan. Kami harus mengubah pola pikir masyarakat dan lingkungan.

Pada akhir kisah ini, aku hanya ingin memberi tahu pemerintah: aku dan banyak sekali anak-anak membutuhkan air bersih untuk kelestarian alam dan kesehatan tubuh. Air, yang menjadi sumber penghidupan, seharusnya kita jaga dengan baik, bukan kita rusak atau kita jual-belikan.

“Beri kami air bersih, Pak, Bu. Beri kami air bersih.” N (GBS)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.