Kami Tetap di Patemon

Spread the love

Oleh Nanang Rendi Ahmad

Saya tak bisa berkomentar apa-apa usai menonton video di grup Whatsapp (WA) Kooperasi Moeda Kerdja kiriman salah seorang kawan. Ia mengirim dua video sekaligus, berdurasi 41 detik dan 14 detik, pada Senin (3/8/2020) siang. Keduanya memperlihatkan tumpukan barang dan pakaian. “Lur. Iki aku resik resik.. nek ono barang sing dirumati tlng do mrene yo.. ben ora ketut kebakar,” tulis kawan pengirim video itu, di grup WA yang sama. Maksudnya kurang lebih begini: “Lur, saya sedang bersih-bersih (rumah kontrakan). Kalau ada barang (kalian) yang masih terpakai, tolong ke sini. Biar (barang-barang yang masih akan kalian pakai) tidak ikut kami bakar”. Ya, kami akan pindahan.

            “Kami” yang saya maksud adalah Kooperasi Moeda Kerdja dan Komunitas Kalamkopi. Moeda Kerdja adalah sebuah kooperasi yang kami bentuk dan dirikan pada 2018: tanggal 5 September 2020 nanti, usianya tepat dua tahun. Sementara Kalamkopi adalah nama kelompok belajar mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes) angkatan 2014 yang lahir pada sekitar Oktober 2015, lalu resmi menjadi komunitas pada September 2016: mengaku sebagai komunitas yang bergerak di bidang literasi karena publik kadung mengenalnya demikian. Baik di Kooperasi Moeda Kerdja maupun Kalamkopi, saya ada di dalamnya—ini dapat dibuktikan dengan hitam di atas putih.

            Merupakan fakta yang tak bisa dibantah bahwa Moeda Kerdja lahir dari rahim Kalamkopi. Sebab, awalnya Moeda Kerdja memang didirikan sebagai eksperimen Kalamkopi mengamalkan hasil pembacaan buku-buku ekonomi-politik, atau singkatnya sebagai ajang belajar berkooperasi. Karena itu, otomatis semua anggota Kalamkopi merupakan anggota Moeda Kerdja—meski kemudian ada anggota yang keluar dari dua-duanya. Sebaliknya, tidak semua anggota Moeda Kerdja merupakan anggota Kalamkopi. Rasanya ini memang perlu saya sampaikan. Bukan apa-apa, ini demi menghindari klaim sepihak Kalamkopi: bahwa anggota Moeda Kerdja adalah anggota Kalamkopi. Sebab saya ingat ini pernah menjadi diskusi panjang saat awal berdirinya Moeda Kerdja, terutama ketika mulai menambah anggota dari luar Kalamkopi. Itu saja.

            Kembali ke grup WA Moeda Kerdja. Beberapa kawan merespons video itu. Respons mereka bermacam-macam, misalnya: “Sorindak bisa bantu resik-resik” , “Maaf slur, masih di sekolah”. Saya memilih menyimak: tepatnya bingung mau merespons bagaimana. Kawan lain kemudian mengirim foto bergambar salah satu anggota Moeda Kerdja dan Kalamkopi sedang (mungkin) menaruh sprei ke kardus. “Ono seng meh nitip diamankan gak kue? Ditunggu 10 detik setelah pesan ini, bar kui meh dibakar,” tulis kawan pengirim foto itu.

            Tak banyak yang berkomentar meski pesan kiriman kawan itu bernada ultimatum. Satu kawan muncul menanyakan keberadaan novel karya Knut Hamsun miliknya. Kawan lain meyakinkan: semua buku sudah diamankan.

            Kami memang memiliki perpustakaan dengan ribuan koleksi buku. Perpustakaan itu Kalamkopi beri nama Ruang Pustaka Kalamkopi (RPKK). RPKK berdiri bersamaan dengan berdirinya Kalamkopi, tahun 2016. Koleksi buku RPKK sebagian besar berasal dari milik pribadi anggota Kalamkopi dan lungsuran Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS). Juga ada puluhan buku baru yang dikelola Orde Buku, salah satu lini usaha Moeda Kerdja. Beberapa waktu lalu—ketika ada kerja bakti dadakan—semua buku-buku itu sudah diamankan, ditata dan dibungkus dengan kardus. Saya tidak ikut membungkusi ribuan buku-buku itu. Untuk membayarnya, saya bersama salah seorang kawan membersihkan toilet.

            Kembali lagi ke grup WA Moeda Kerdja. Giliran seorang kawan (yang ada dalam foto ber-caption ultimatum itu) mengirim foto bakar-bakar barang yang tak terpakai. “Eksekusi sek lur,” tulis dia. Aksi bakar-bakar itu mereka lakukan di kebon sebelah sekretariat Kooperasi Moeda Kerdja, Gang Rajawali, RT 03, RW 04, Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang (saya tulis sesuai kata MbahGoogle Maps). Ya, kami akan pindahan.

            Sejak berdiri, Kalamkopi telah menempati empat rumah kontrakan sebagai sekretariat. Sebagai catatan, sebenarnya kami nyaris tak pernah menyebut sekretariat, kami menyebut “kontrakan”. Dari empat kontrakan yang pernah kami tempati, hanya satu yang bukan di Patemon. Kalamkopi, sekaligus RPKK, pertama bermarkas di Gang Citra RT 03, RW 01, Patemon. Dua tahun (paruh kedua 2016- paruh pertama 2018) kami tinggal di sana, mengelola RPKK, mengadakan sejumlah diskusi,  hingga pernah bersama warga setempat menggelar lomba mewarnai, menggambar, dan menulis puisi, khusus anak-anak.

            Kemudian—paruh kedua 2018—kami pindah ke Gang Kasuari RT 03, RW 04, Patemon. Di gang ini, kami juga dekat dengan warga, meski tidak terlau aktif seperti di Gang Citra. Malah, kami masih menjalin komunikasi dengan beberapa warga Gang Citra. Hanya setahun kami tinggal di Gang Kasuari. Namun, di kontrakan Gang Kasuari inilah kami mendirikan Kooperasi Moeda Kerdja.

            Memasuki tahun 2019, kami mulai memikirkan tempat untuk “kantor” Moeda Kerdja. Apalagi setelah kami mulai memiliki inventaris alat-alat sablon yang dikelola Orde Baju, butuh tempat representatif untuk meletakkan komputer Orde Desain, dan dapur luas untuk tempat produksi Orde Snack.

            Kami sepakat pindah dari Gang Kasuari. Demi kepentingan efisiensi tempat, kami memisahkan RPKK dan “kantor” Moeda Kerdja. Akhirnya, RPKK kami letakkan di Kalisegoro, dekat Rusunawa Putri Unnes. Beberapa anggota Kalamkopi-Moeda Kerdja mengontrak rumah di sana. Sementara itu, untuk  “kantor” Moeda Kerdja kami mengontrak rumah di Gang Rajawali.

            RPKK tak genap setahun di Kalisegoro. Beberapa bulan menjelang habis masa kontrak rumah di Kalisegoro, RPKK kami pindah ke “kantor” Moeda Kerdja. Ya, kembali ke Patemon. Jadi, dari empat kontrakan yang pernah kami tempati, hanya satu yang tidak berlokasi di Patemon. Itupun tak genap setahun.

            Bulan Agustus ini, kami harus pindah lagi. Masa kontrak rumah “kantor” Moeda Kerdja habis dan tak bisa kami perpanjang. Alih-alih bosan tinggal di Patemon, kami tetap mencari kontrakan di kelurahan yang konon menjadi tempat Simbah Kyai Cagak Luas (Kyai Abdullah) menyebarkan agama islam ini.

            Saya mendengar nama Kyai Cagak Luas dari Pak D (bukan nama sebenarnya), bapak kontrakan kami di Gang Citra. Kata Pak D, Kyai Cagak Luas adalah murid Kyai Sholeh Darat (Semarang). Perjuangan Kyai Cagak Luas di Patemon dilanjutkan Kyai Asror (cucunya), yang kemudian mendirikan Masjid Al Asror, Patemon.

            Ya, kami pindahan, namun tetap di Patemon. Beberapa hari lalu, kami sudah menempati kontrakan baru di Gang Kutilang Nomor 11, Patemon. Tulisan ini sekaligus menjadi pengumuman dan ajakan bagi para pembaca untuk mampir ke kontrakan baru kami. Biasanya di sana ada kopi. Jangan lupa, bawa buku RPKK yang masih kalian bawa. Matur nuwun.

Selasa, 4 Agustus 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.