Kegagalan Timnas Inggris di Turnamen Besar

Spread the love

Hampir setiap negara di dunia tidak asing dengan olahraga sepakbola. Salah satu olahraga paling populer ini memiliki banyak penggemar. Tidak heran jika di setiap negara, mulai tingkat paling kecil hingga nasional terdapat kompetisi sepakbola tersendiri. Karena hampir di setiap negara memiliki kompetisi itulah, maka seringkali timbul perdebatan. Manakah liga sepakbola yang terbaik di dunia?

Sejauh ini memang perdebatan lebih difokuskan pada kompetisi benua biru, dimana liga-liga Eropa masih menjadi kiblat sepakbola dunia.

Di Eropa sendiri ada beberapa liga-liga top seperti Premier League (Inggris), La Liga (Spanyol), Serie A (Italia), Bundesliga (Jerman) dan Ligue 1 (Prancis). Dari lima liga top Eropa tersebut, banyak yang berpendapat bahwa Premier League merupakan liga terbaik di dunia.

Ada beberapa argumen yang bisa menjadikan Premier League sebagai liga terbaik di dunia. Mulai banyaknya pemain bintang, manajer-manajer top, atmosfer kompetisi, kekuatan finansial serta kualitas siaran yang tentunya sedikit lebih baik dibanding liga-liga top Eropa lainnya. Selain faktor-faktor yang disebutkan diatas, faktor persaingan ketat juga menjadi salah satu faktor mengapa Premier League disebut sebagai liga terbaik, di mana hampir setiap musimnya memiliki juara yang berbeda-beda.

 Memang ada banyak kriteria untuk menentukan liga terbaik, akan tetapi jika melihat dari segi kompetitifnya, nilai pasar, dan juga paling banyak ditonton, Premier League boleh berbangga dibanding liga-liga di negara lain.

Lantas jika Premier League dianggap yang terbaik, terus bagaimana kiprah Timnas Inggris di ajang internasional? Banyak yang beranggapan bahwa muara dari kompetisi sepakbola di suatu negara adalah kualitas timnasnya.

Mari sejenak mundur jauh kebelakang, tahun 1966 ketika timnas Inggris berhasil menjuarai  Piala Dunia setelah mengalahkan Jerman Barat dengan skor 4-2. Geoff Hurst saat itu menjadi bintang karena hattrick yang ia cetak. Kemenangan itu akan selalu diingat masyarakat Inggris sebagai prestasi yang amat membanggakan. Namun setelah itu keadaan berbalik 180 derajat.

Maju pada tahun 1970, ketika penjaga gawang Inggris Gordon Banks menderita sakit perut sesaat sebelum pertandingan perempat final melawan Jerman Barat. Ia sebenarnya baik-baik saja pada pagi harinya, dan dipilih untuk bermain sebagai starter. Namun tak lama kemudian ia ditemukan di toilet lagi boker, karena lagi sakit ”muntaber”. Penggantinya, Peter Bonetti, membiarkan tiga gol Jerman lolos dengan mudah. Tentunya ada lebih banyak kesialan-kesialan lain lagi. 

Pada tahun yang sama, para pendukung Meksiko sengaja membuang-buang waktu ketika Inggris sedang ketinggalan skor. Caranya dengan berlama-lama membiarkan bola yang kebetulan tersasar ke barisan penonton. Kemudian gol “Tangan Tuhan” Diego Maradona adalah satu-satunya penyebab kekalahan Inggris pada tahun 1986. Sandiwara Diego Simeone pada tahun 1998 mengakibatkan David Beckham diusir keluar lapangan. Dan hal yang sama dilakukan Cristiano Ronaldo terhadap Wayne Rooney pada tahun 2006. Satu tahun kemudian gol bunuh diri konyol yang dilakukan Gary Neville menjadi salah satu penyebab gagalnya timnas Inggris untuk melaju ke putaran final Euro 2008. Belum lagi saat tidak disahkannya gol Frank Lampard saat melawan Jerman pada Piala Dunia 2010, lalu tersingkirnya Inggris pada Euro 2016 atas Islandia negara, yang sebenarnya susah untuk menjalankan kompetisi karena cuaca ekstrem.

Selain faktor ketidakberuntungan, tentunya ada alasan yang lebih masuk akal, kenapa Inggris hampir selalu gagal dalam turnamen-turnamen besar. Alasan terbesarnya tak lain tak bukan adalah “impor”. Hal ini pernah diutarakan Steven Gerrard, bahwa akan muncul banyak resiko dari terlalu banyaknya pemain asing yang merumput di Inggris. Karena pada gilirannya bakal mempengaruhi kemampuan timnas Inggris sendiri. Bagi pemain-pemain Inggris kesempatan bermain reguler akan sangat terbatas dan pasti akan berdampak pada ajang internasional.

Banyak orang menuding impor sebagai dalang dibalik ketidakmampuan Inggris. Penalarannya adalah para pekerja lokal tidak mendapat kesempatan tumbuh berkembang karena mereka tergusur oleh para pekerja asing. Persis dengan yang seringkali terdengar dalam dunia kajian ekonomi pembangunan. 

Mengapa sebagian negara tidak begitu produktif? Separuh alasannya adalah karena para penduduknya tidak memiliki keterampilan yang memadai. Tempat terbaik untuk mempelajari berbagai keterampilan adalah dengan langsung terjun ke dalam pekerjaan tersebut. Demi belajar membuat pasta gigi misalnya, anda harus sungguh-sungguh membuatnya, bukan hanya ikut kursus cara membuat pasta gigi. Jika anda terus menerus mengimpor pasta gigi, anda tidak akan pernah belajar membuatnya.

Salah satu faktor lain yang dapat menjadi kambing hitam gagalnya timnas Inggris dalam berbagai ajang internasional adalah sistem kompetisi itu sendiri. FA, selaku badan tertinggi sepakbola Inggris menerapkan 3 kompetisi domestik yaitu  Premier League, Piala FA, dan Piala Liga (Carabao Cup). Belum lagi untuk klub-klub yang tampil di ajang kompetisi Eropa. Hal tersebut mengakibatkan jadwal yang semakin padat sehingga harus disikapi setiap pelatih, agar selalu tampil prima di setiap pertandingan.

Kenyataannya, Inggris mungkin terlalu banyak mengalami kondisi itu. Premier League kini telah berubah menjadi sebuah ajang NBA sepakbola. Maka dari itu, liga ini menjadi begitu menyita segalanya. Para pemain harus mencurahkan hampir semua energi dan konsentrasi mereka pada setiap pertandingan.

Masalahnya tidak semua negara membuat para pemain timnasnya dipaksa menghadapi begitu banyak pertandingan yang keras dan padat.  Tidak ada klub di negara manapun yang harus bermain di pertandingan-pertandingan Eropa sesering klub-klub di Inggris. Danielle Tognaccini kepala pelatih atletik di “Milan Lab” menjelaskan apa yang akan terjadi bila seorang pemain harus bermain dalam 60 pertandingan keras dalam satu tahun: “Performa sang pemain tidak akan optimal. Risiko cedera menjadi sangat tinggi. Kita dapat mengatakan bahwa risiko cedera dalam satu pertandingan, setelah bermain keras dalam seminggu mencapai sepuluh persen. Jika anda bermain lagi dua hari setelahnya, risiko itu akan naik menjadi 30 persen. Jika anda bermain empat atau lima pertandingan berturut-turut tanpa mendapat kesempatan istirahat yang memadai, risiko cedera menjadi sangat tinggi. Peluang bermain buruk di dalam setidaknya satu pertandingan juga menjadi sangat tinggi.”

Jadi, ketika para pemain Inggris harus bermain di ajang internasional, mereka memulainya dalam keadaan lelah, sakit, dan tidak berkonsentrasi penuh. Seringkali mereka tidak mampu menaikkan tempo permainan mereka sendiri.

Jadi saran saya, jika Inggris ingin lebih baik di ajang internasional, maka Inggris harus lebih banyak mengekspor para pemainnya ke liga-liga lain yang lebih santai, liga Indonesia misalnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.