Kehilangan Kendi, Teringat Tikar Pandan

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

Saya kehilangan wedang, minuman tradisional. Makin lama kian sulit mencari legen, air tebu, wedang cara, wedang blung, wedang rondhe, wedang alang-alang, wedang jahe, wedang kopi, wedang teh, dan sebagainya. Kalaupun bisa menemukan dengan gampang, toh telah dikemas oleh pabrik secara instan. “Gampang, tak perlu kesulitan,” ujar Kluprut.

Wedang menghilang sedikit demi sedikit berbarengan dari mancanegara berdatangan soft-drink, minuman ringan. Lalu, masuk pula minuman penambah daya kekuatan tubuh. Ada pula merek lokal, yang konon bisa menambah greng, menambah jos. Entah apa yang greng, apa yang jos.

Rasa kehilangan itu rada terhibur ketika ada yang membikin teh botol. Teh botol (lalu teh kotak) adalah wujud nyata daya penciptaan yang tak gampang tergilas kapitalisme global.

Kehilangan wedang, saya lantas teringat air kendi. Namun rasa kehilangan menjadi-jadi. Kini, kendi juga langka, tersingkir, tersungkur. Lantaran, kini siapa saja dan di mana saja orang membuat sumur bor agar gampang membuat air mineral dan air isi ulang. Bukan cuma orang kota, orang-orang di pedesaan juga sudah bak Pak Turut minum air mineral atau air isi ulang. Sendang, belik, sumber air makin kering. Tak terawat.

Kita bakal kehilangan kendi, bakal kehilangan air kendi. Karena itulah, terus terang, saya bikin medan peperangan: melawan swastanisasi air. Dan, itu saya wujudkan dengan tindakan nyata: tidak membeli dan minum air mineral dalam kemasan. Saya memilih minum air kendi.

Di mana pun dan kapan pun, saat disuguhi air mineral tak bakal saya minum, tak bakal saya pedulikan. Bahkan sang penyuguh saya ejek: tak kuatkah membeli kendi? Atau, merasa kehilangan derajat lantaran minum air kendi? Kerap kali ketika kongko saya pergunakan sebagai sarana mempromosikan kendi dan air kendi.

Halah! Ya, pilih beli dan minum air mineral. Murah, gampang, praktis, dan sehat. Hari gini, zaman modern, kok memilih bersulit-sulit,” ucap Kluprut seraya nyengir.

Air mineral memang murah. Minum air mineral memang gampang, tak perlu bersulit-sulit. Apakah kelak itu yang bakal terjadi?

Dulu, saat kecil, kewajiban saya mengisi kendi yang tersedia di luar pagar di depan rumah. Siapa saja pejalan kaki yang lewat bila bisa minum air kendi itu. Dan, keluarga yang menyediakan kendi seperti itu bukan cuma keluarga saya. Hampir setiap rumah di tepian jalan menyediakan air kendi.

Kini, siapa masih mau mempersulit diri menyediakan air kendi? Siapa masih mau bersulit-sulit minum air kendi?

Padahal, siapa saja yang secara sadar minum air kendi setiap hari, pastilah memilih: memihak kaum jelata, asah-asih-asuh kepada Ibu Pertiwi. Air kendi adalah wujud nyata kepaduan tanah dan air, tanah-air. Kendi simbol usaha ekonomi kerakyatan.

Karena itulah, siapa bersedia minum air kendi semestinya juga bersedia merawat sumber air, sumber kehidupan: sendang, sungai, sumur, belik, dan sebagainya. Selanjutnya, juga bakal peduli terhadap pepohonan, tanaman, pertanian, dan peduli terhadap kelestarian alam. Mempunyai kesadaran ekologis, mempunyai kesadaran tentang penumbuhkembangan ekonomi kerakyatan.

Apalagi bila ingat: air sebagai kekayaan negara seyogianya diolah dan dipergunakan bagi kesempurnaan hidup sesama. Tidak seharusnya dikuasai pribadi. Namun toh jelas pemerintah sudah menjual air kepada pribadi pemilik modal besar, kapitalis. Itulah pihak yang sibuk mencari dan mengumpulkan keuntungan sebesar mungkin, untuk memperkaya diri sendiri, ketimbang merawat sumber air, merawat pepohonan, merawat alam.

Halah, tak usah sok pahlawan!” gumam Kluprut sambil merengut. “Toh para pejabat, para sarjana, tak pernah berpikir untuk mewariskan alam yang indah kepada anak-cucu. Bukankah apa saja sudah mereka jual, siapa saja sudah berjualan?”

Tanpa memedulikan Kluprut, saya membaca pelan-pelan agar merasuk ke dalam hati, menancap dalam benak “Sajak Tikar Plastik Tikar Pandan”. Puisi itu diciptakan April 1988 oleh Widji Thukul, kawan lama yang sampai saat ini tak keruan juntrungannya – setelah diculik sebelum tahun 1998.

tikar plastik tikar pandan
kita duduk berhadapan
tikar plastik tikar pandan
lambang dua kekuatan

plastik bikinan pabrik
tikar pandan dianyam tangan
plastik makin mendesak
tikar pandan bertahan

kalian duduk di mana?

Kawan-kawan, mari duduk di atas tikar pandan, mengobrol sambil menikmati suguhan air kendi dan bulir-bulir jagung rebus, kaerut, atau pisang goreng sebagai cemilan. Ya, setelah kehilangan wedang, saya tak ingin kehilangan air kendi, tak ingin kehilangan tikar pandan.

Gambar Ilustrasi: Dongeng Geologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.