Kenapa “One Piece” adalah Bacaan yang Berbahaya?

Spread the love

Oleh Rian Adhivira Prabowo

Siapa yang tak kenal Luffy sang manusia karet maupun samurai gaya tiga pedang Zoro? Haru biru, pahit getir, serta gelak tawa dari kru bajak laut topi jerami mewarnai penggemarnya lebih dari dua dekade lamanya. Tapi siapa pula yang menyangka, kalau One Piece adalah bacaan subversif yang berbahaya bagi “moral bangsa” kita? Lho, di mana bahayanya? Tentu, tidak mungkin menunjukkan seluruh aspek One Piece dalam satu tulisan pendek ini, mengingat petualangan Luffy cs yang pastinya beratus kali lipat lebih panjang dan rumit dibandingkan kisah cinta dua sobat saya: Kelvin Yanto maupun Rasyid Ridha Saragih. Untuk kepentingan itu, tulisan ini membahas sebagian kecil saja dari manga One Piece yang menurut penulis -sejauh ini- adalah bagian paling berbahaya bagi moral pembacanya di Indonesia. Bagi yang belum membacanya, saya perlu mengingatkan: spoiler alert!

Dalam Saga Dressrosa, Luffy cs bersama dengan Trafalgar membentuk koalisi yang, pada intinya, akan berhadapan dengan salah seorang Sichibukai, Donquixote Doflamingo. Doflamingo sendiri adalah keturunan dari salah seorang Tenryubito yang memilih untuk “turun ke bumi” jadi manusia biasa. Doffy, begitu panggilan Doflamingo, tidak sepakat dengan ayahnya yang memutuskan jadi ingsun kawula hingga, singkat cerita, membunuhnya untuk mendapatkan kembali tempat sebagai Tenryubito. Dengan membawa kepala sang ayah, Doffy menghadap hanya untuk kemudian mendapatkan kesia-siaan. Dia ditolak. Sembari membawa kebencian atas penolakan itu, Doffy membentuk kelompok bajak lautnya sendiri dan belakangan menguasai suatu negeri bernama Dressrosa.

Sebelumnya, Dressrosa dipimpin oleh seorang raja bernama Riku yang dikenal bersahaja dan bijaksana. Hingga suatu saat Riku kesurupan, dan dengan tanpa alasan membunuhi para penduduk. Tepat pada saat Dressrosa dalam titik nadirnya, bajak laut Doffy muncul dan secara cepat memulihkan ketertiban umum. Penduduk yang terselamatkan bersorak, Doffy dielukan sebagai pahlawan. Dengan tersingkirnya raja Riku yang lalim, Doffy menjadi penguasa baru. Dressrosa dibawah kekuasaan bajak laut Doffy adalah negeri yang penuh tawa. Penduduknya ditemani oleh para mainan yang menjadi semacam “peliharaan” yang setia menemani pemiliknya. Secara umum, penduduk Dressrosa makmur dan baik-baik saja di bawah kekuasaan Doffy.

Pada saat membaca alur cerita itu, saya kembali teringat dengan kisah cinta Rasyid dan Kelvin. Meski tentu saja, kisah cinta keduanya jauh lebih singkat dibandingkan dengan petualangan Luffy di Dressrosa. Bahwa dalam hubungan yang seolah bahagia itu -meski sekali lagi, begitu singkat- ternyata tersembunyi gegar dan retak dengan pilu duka yang dalam. Begitu pula dengan Dressrosa. Siapa nyana, duga, dan sangka, ternyata kebahagiaan di Dressrosa adalah penuh tipu muslihat.

Lalimnya raja Riku tidak lebih adalah hasil dari konspirasi jahat Doffy dan anak buahnya. Benang-benang tipu daya Doffy mengendalikan Riku beserta pasukannya untuk membunuhi penduduk hingga dia sendiri muncul dan menjadi pahlawan. Siapa pula bisa mengira bahwa para mainan yang menemani dengan begitu setia para penduduk juga memiliki ceritanya sendiri yang tak kalah ngeri. Mainan-mainan itu dulunya adalah orang-orang yang dianggap berseberangan dari rezim Doffy. Oleh anak buah Doffy yang bernama Sugar, para pemberontak diubah menjadi mainan dengan kontrak yang tak mungkin bisa mereka ingkari. Bersamaan dengan itu, berubahnya orang menjadi mainan, maka hilang pula ingatan yang bersangkut paut dengan orang yang bersangkutan. Jadi misalkan saja, bila Rasyid atau pun Kelvin kebetulan menjadi mainan, maka tidak akan ada orang yang mengingat bahwa Rasyid atau Kelvin pernah ada. Jadi tidak ada secuilpun ingatan yang tersisa terhadap Rasyid atau pun Kelvin. Sebaliknya, Rasyid dan Kelvin yang telah berubah menjadi mainan, mereka tetap membawa serta ingatan mereka. Perumpamaannya lagi, Rasyid pun Kelvin akan tetap mengingat siapa mantan mereka, namun tidak sebaliknya, mantan keduanya tidak akan mengingat siapa itu Rasyid dan Kelvin. Sedih sekali ya kelihatannya. Bayangkan saja, Kelvin dan Rasyid diubah menjadi mainan, lalu mereka mendampingi orang terkasihnya yang lupa sama sekali tentang keberadaan mereka dan hanya menganggap mereka semata sebagai mainan. Lalu, bayangkan lagi seandainya mantan dari Rasyid dan Kelvin menjalin cinta dengan orang lain, tepat di depan mata Rasyid dan Kelvin yang telah diubah menjadi mainan, namun tidak dapat merangkaikan keberadaan mereka dalam kata. Pedih? Iya. Pedas? Pasti.

Nah, itulah yang dialami oleh sebagian penduduk Dressrosa yang menolak tunduk kepada Doffy. Doffy memang sakti mandraguna, namun dia mendapatkan legitimasi kekuasaan tidak hanya melalui kekuatan semata, melainkan dengan memainkan ingatan penduduk Dressrosa. Warga Dressrosa yang mengalami amnesia massal tentu bahagia-bahagia saja, karena mereka ndak pernah tahu kalau ada perbudakan, pembunuhan, atau pula kisah orang-orang terdekat yang diubah menjadi mainan. Semuanya luruh dalam jahitan benang-benang Doffy.

Sampai di sini saja, kita bisa melihat bagaimana bahayanya One Piece bagi pembacanya di Indonesia. Bagaimana bila ada si fulan yang setelah membaca One Piece lalu mengajukan pertanyaan, “lho, apakah begitu cara kerja rezim?” Maka, bagaimana kita hendak menjawabnya? Apakah mungkin kita mengutarakan bahwa memang ada pembunuhan, kerja paksa, pembuangan, di negeri kita tercinta ini? Kalau Doffy dulu memanipulasi Raja Riku, apakah kita bisa bercerita bagaimana Bung Besar dulu tersungkur dijatuhkan dari presiden? Apa kita mau mengurai masa-masa gelap tiga dekade di bawah cengkeraman penguasa yang otoriter? Apakah kita ada waktu menjelaskan kalau Republik ini bersimbah darah karena pembunuhan terhadap sesamanya? Apa perlu juga kita sampaikan kalau ada kisah-kisah dari para penyintas yang tidak diakui oleh sejarah resmi negeri ini? Dalam bentuknya yang paling keras, kisah-kisah itu agaknya hendak dilupakan melalui kerja-kerja represif lagi otoriter. Dalam bentuknya yang halus, kisah-kisah itu juga agaknya hendak dilupakan dengan tidak pernah adanya pengungkapan kebenaran, apalagi rekonsiliasi yang hingga kini belum jelas arahnya ke mana, di mana kisah-kisah itu kini beserakan hingga pemiliknya mati satu demi satu.

Terakhir meski bukan yang paling akhir, bisa dibayangkan, betapa sia-sianya kerja para aparat dalam melarang pun menyita baik buku-buku Marx, Bakunin, Tan Malaka, maupun buku-buku sejarah/pemikiran yang dianggap “berbeda” dengan versi penguasa. Selain bertele-tele, rumit, dan membosankan, buku-buku itu tidak ada gambarnya! Siapa yang punya waktu luang untuk baca buku macam itu? Dengan banyaknya peminat One Piece, mulai dari die hardfansala wibu sampai pembaca konvensional yang sekadar tertarik baca demi melihat kecantikan Nami dan Robin, bisa jadi One Piece ini jauh lebih berbahaya bagi rezim. Dia berpotensi memantik pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu, dan merepotkan untuk menjawabnya. Persis kata Rasyid dan Kelvin ketika dicampakkan oleh kekasihnya: toh bukankah melupakan memang lebih mudah dan murah daripada mengingat-ingat luka? Jadi tunggu apa lagi, kalau tidak mau repot mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, jangan baca One Piece!

 

Rian Adhivira Prabowo, Komunitas Payung.

 

-Ilustrasi: images-wixmp-ed30a86b8c4ca887773594c2.wixmp.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.