Kenapa orang mau menyusahkan diri sendiri dengan mencintai Arsenal?

Spread the love

Pagi sekali, perempuan yang sangat dekat dengan saya mengirim pesan singkat. Saya tidak sempat melihat–saat pesan itu terbuka–jarum jam menunjuk ke angka berapa. Namun yang jelas, saya baru saja tidur beberapa menit dan mungkin waktu itu si tukang adzan masjid sebelah belum bangun. Kecuali jika si tukang adzan juga begadang dan secara kebetulan tim yang diidolakannya menang. Sehingga membuatnya langsung pergi ke masjid untuk menunaikan sujud syukur. Tapi lupakan, itu urusan si tukang adzan. 

Kembali pada pesan perempuan yang sangat dekat dengan saya. Pagi tadi, pesan singkatnya tidak seperti biasa. Jika hari-hari biasanya, pada jam-jam itu, dia pasti mengirim pesan untuk membangunkan atau mengucapkan selamat pagi. Namun kali ini berbeda. Bahkan sangat berbeda. Begini kira-kira pesannya, “Selamat, Arsenal menang hari ini.” Sontak saya kaget bukan kepalang.

Sebenarnya, kabar Arsenal berhasil menaklukan Chelsea dengan skor 3-1 bukan hal yang membuat saya kaget. Karena saya sendiri menontonnya dini hari tadi. Saya melihat keberanian Mikel Arteta memarkirkan Willian Borges da Silva, pemain gratisan dari Chelsea yang permainannya jauh dari ekspektasi. Saya juga melihat sendiri keberanian Arteta mencadangkan Pierre Emerick Aubameyang atau Nicolas Pepe, yang musim ini bermain sangat buruk. Dan tentunya, saya melihat bagaimana Arteta mencoba keberuntungan dengan memberi waktu bermain yang cukup lama bagi pemain muda seperti Bukayo Saka, Emile Smith-Rowe, Gabriel Martinelli, dan Kieran Tierney. Pun dengan mata saya sendiri, saya jadi tahu bagaimana Arteta memercayakan ban kapten berada di lengan Hector Bellerin daripada lengannya Granit Xhaka, walau gol tendangan bebas Xhaka cukup keren. Tapi menurut saya, para pemain muda itulah yang kemudian menjadi salah satu faktor kemenangan Arsenal pada derby London pagi tadi. Terlebih permainan apik Saka dan Rowe. Namun tetap saja saya kaget dan heran kenapa perempuan yang sangat dekat dengan saya rela menyiksa dirinya dengan cara ikut menaruh pin di smartphone untuk mengetahui hasil menang-kalah Arsenal dari google?

Memang, pagi tadi permainan Arsenal berbeda dengan permainan sebelumnya. Terlebih saat pemain seperti Aubameyang atau Pepe menjadi starting line up. Mereka hanya bisa muter-muter menggiring bola dari belakang ke depan lalu mengopernya ke belakang lagi, hingga akhirnya dicolong lawan dan tercipta gol konyol. 

Tapi malam tadi berbeda. Para pemain muda Arsenal bermain lebih berani dan percaya diri. Itu bisa dilihat dari keberanian Tierney menerobos sisi kiri lini pertahanan Chelsea hingga akhirnya dilanggar di kotak penalti. Atau Saka yang juga berani menusuk lebih dalam pertahanan Chelsea. Hasilnya dia menyumbang untuk tendangan bebas yang kemudian dieksekusi Xhaka dengan sangat baik. Pun dia menjadi penyumbang gol ketiga Arsenal dengan menendang bola ke kiri mistar gawang yang membuat bola memantul ke dalam.

Namun sekali lagi, saya masih kurang habis pikir dengan perempuan yang sangat dekat dengan saya. Dia rela-relanya menaruh pin setiap pertandingan Arsenal. Sebagai fans amatir dan pemula klub Arsenal, saya tidak termasuk penggemar yang menikmati masa-masa indah. Seperti menyaksikan masa keemasan Arsenal tahun 2003-2004. Saya tidak pernah menonton Sol Campbell, Thierry Henry, Cesc Fabregas, atau Dennis Bergkamp bermain. Saat itu Arsenal dijuluki The Invincibles. Tidak, tidak pernah sama sekali.

Daripada keindahan, saya lebih banyak menonton Arsenal yang berujung kecewa, kesal, dan putus asa. Apalagi saat Arsenal berada di akhir kepemimpinan Arsene Wenger dan manajer-manajer gagal setelahnya. Saking seringnya menonton kekalahan daripada kemenangan, saya lebih terbiasa menerima kekalahan daripada kemenangan itu sendiri. Saya tiba-tiba lebih bisa menata hati dan kemudian lebih menjadi sufistik setelah menonton Arsenal kalah. 

Namun tetap saja yang membuat saya heran, kenapa perempuan yang sangat dekat dengan saya begitu peduli dengan kemenangan Arsenal. Jika dia hanya ingin mengabarkan kebangkitan, dari posisi 15 naik satu peringkat menjadi peringkat 14, mungkin masih bisa diterima. Dan saya setuju Arsenal akan terus bangkit jika pemain mudanya lebih diberi waktu bermain yang lebih panjang lagi.

Namun, sekali lagi saya tetap saja bingung, heran, dan tak habis pikir jika dia harus menunggu sejak bulan November lalu. Dan sialnya, harus menerima kenyataan bahwa Arsenal menuai 2 seri dan 5 kekalahan, lalu mengabari saya bahwa Arsenal menang tadi pagi. Kenapa dia mau menyusahkan dirinya sendiri dengan menunggu sebuah tim yang berada di London, kota yang bahkan belum pernah dikunjunginya dan hampir selalu bermain buruk?

Jika ada beragam seni untuk membahagiakan diri sendiri, barangkali wujud seni menyusahkan diri sendiri adalah dengan menjadi fans Arsenal dan menjadi perempuan yang sangat dekat dengan orang yang ngefans Arsenal. Padahal, mengutip syair lagu “Benih” karya Yap Saporte, “Bukankah hidup hanya menunda kekalahan?” (Bayuka)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.