Kesadaran Semu Menghadapi Relasi Kuasa

Spread the love

“…ketika perubahan dalam kesadaran kemudian menjadi perubahan dalam tindakan dan perilaku, maka revolusi telah dimulai.”(Kornegger, 2019:38).

Beberapa hari yang lalu, aku dan dua orang teman membicarakan tentang relasi kuasa dalam kehidupan aktivisme. Poinnya adalah tentang “power” seorang laki-laki. Bagi perempuan feminis, alam pikirannya tentu soal semangat perlawanan terhadap dominasi atau kekerasan terhadap individu lain. Selain itu, ada juga soal dekonstruksi budaya, sebuah keinginan mewujudkan dunia yang lebih baik melalui, misalnya, revolusi: penghilangan ketidakadilan, kehidupan egaliter, dan lain sebagainya. Karena itu, ketika melihat lelaki memiliki kemampuan melakukan salah satu dan/atau beberapa dari hal itu, tentu saja perempuan akan merasa tertarik, terpaut. 

Sejak malam itu, aku menyadari bahwa “power” yang dimiliki lelaki sangat berbahaya. Karena dengan itu, ia bisa memanfaatkan relasi kuasa yang timpang. Bukan hanya bagi kami (baca: perempuan) semata, tetapi juga bagi laki-laki itu sendiri. Dan power itu memiliki risiko tinggi untuk disalahgunakan. Bukankah memang banyak kejadian yang terjadi akibat relasi kuasa semacam itu? Dan fakta ini terus terjadi sampai hari ini. Oleh sebab itu, aku tidak bisa memungkirinya. Lebih sialnya, penggunaan relasi kuasa dilakukan tidak hanya oleh seseorang yang tak mengenal feminisme, tapi bahkan oleh seorang aktivis feminis itu sendiri.  

Lalu apa penyebabnya? Barangkali semua ini adalah buah dari budaya yang terus beranak-pinak selama bertahun-tahun. Sehingga ia mampu tertancap dalam alam bawah sadar banyak perempuan. Bahkan mungkin sebagian dari kami menganggap ini kewajaran dan bukan soal yang patut dirisaukan. Sebagian orang lainnya, bahkan menganggap itu adalah suatu hal yang patut dibanggakan: “mengagumi/memiliki hubungan spesial dengan laki-laki aktivis.”

Perempuan semacam ini sering terjebak pada sebuah kesadaran semu. Aku pun mengalaminya. Karena itu tulisan ini hadir. Minimal, sebagai representasi bahwa aku, perempuan, juga merasakan hal yang sama. Sehingga aku perlu membaginya kepada semua gender, khususnya perempuan.

Mencintai siapapun bukan suatu kekeliruan. Mencintai seseorang pun bukan hal yang perlu seorang perempuan hindari. Akan tetapi, perlu disadari, di sana ada banyak hal membahayakan, mencelakakan, dan melukai–baik secara fisik maupun psikologi. Apalagi jika perempuan tersebut berangkat dari alasan cinta. Terlebih jika mencintai seseorang dengan power dan kuasa yang besar.

Persoalan ini mungkin akan dipandang tak lebih genting dari kasus perkosaan atau KDRT yang jumlahnya kian meningkat setiap hari. Tapi bagiku, kesadaran semu merupakan hal yang sangat berbahaya. Sekali lagi aku tekankan, kegentingan yang aku maksud sesuai dengan konteks kalimat seorang editor majalah feminis Amerika The Second Wave, Peggy Kornegger, dalam Feminisme dan Anarkisme (2019:26) yakni “hubungan pribadi dapat, dan memang menindas kita sebagai sebuah kelas politis.”

Dalam konteks itu, maka aku akan menjelaskan secara singkat makna kesadaran semu tersebut. Bagiku, kesadaran semu adalah ketika seseorang merasa sadar bahwa dia memiliki otoritas atas pilihannya, padahal yang terjadi sesungguhnya justru ia tidak menyadari ada hal besar yang sedang mengarahkan pilihannya; budaya patriarki, kapitalisme, agama, atau yang lainnya.

Sesungguhnya, (khususnya) perempuan tidak pernah betul-betul sadar atas pilihannya. Barangkali ini juga dialami oleh gender lain. Dia bukan sedang mabuk atau halusinasi. Bukan! Ini adalah efek dari cengkraman besar yang menguasai masyarakat, bahkan sampai titik kesadarannya.

Dampak buruk dari pilihan seseorang dengan kesadaran semu bukan hanya soal putus cinta. Lebih dari itu, seseorang yang termakan pesona “power” bisa mengakibatkan banyak persoalan. Bahkan, bisa jadi di kemudian hari, persoalan personal (antara perempuan dan laki-laki) bisa melebar menjadi persoalan antar organisasi, antar ideologi. Dan itu jelas dapat merugikan banyak orang. Pasalnya kita tidak dapat melepaskan pakaian kebesaran seseorang atau latar belakang keorganisasian seseorang begitu saja. Setiap orang selalu terikat dengan sebuah nama yang lebih besar darinya. Contohnya, dia anaknya A, dia sekolah di A, dia aktif di tempat A, dan lain sebagainya.

Selain itu, terdapat satu dampak buruk lain yang juga bisa muncul. Dan ini masih jarang dibicarakan. Akibat dirundung masalah tersebut, seseorang bisa mengalami kemacetan ekonomi karena mendapat pengasingan. Baik dari kelompok masyarakat atau dari jejaring pertemanannya sendiri.  

Jadi, sudah siapkah menjadi sadar seutuhnya?

Aku rasa kita harus mulai meningkatkan kesadaran dari kekejaman dominasi, manipulasi, dan permen kapas manis lainnya mulai detik ini. (BYK) 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.