Kesaksian Prosaik Seorang Pembaca Sejarah

Spread the love

Ulasan “Renjana”, oleh Habibi Hidayat

Jauh sebelum menerbitkan novelnya yang berjudul “Darah Muda” pada awal tahun 2018, Dwi Cipta lebih dikenal sebagai seorang penulis cerita pendek. Sejauh ingatan saya yang dahulu rutin membaca cerita pendek di sebuah warung di Pogung Lor Yogyakarta yang menyediakan koran untuk dibaca oleh mahasiswa pelanggannya, tahun-tahun antara 2005 hingga 2008 cerpen-cerpen Dwi Cipta banyak termuat di berbagai media cetak. Bisa dikatakan, Dwi Cipta cukup produktif, bahkan jumlah cerpennya sudah cukup untuk dijadikan sebuah buku pada saat itu.

Entah kenapa perlu bertahun-tahun bagi Dwi Cipta sampai akhirnya memutuskan menerbitkan kumpulan cerpennya yang kini dibukukan dan diberi judul “Renjana”. Teka-teki ini pada akhirnya terjawab ketika pada suatu sore di Kedai Kopi Merdiko Cirebon, Dwi Cipta yang tengah mempromosikan “Renjana” menjelaskan nadzar-nya untuk terlebih dahulu menerbitkan novel ketimbang kumpulan cerpennya.

Lantas, setelah menerbitkan novel “Darah Muda”, apa yang hendak ditawarkan Dwi Cipta dalam “Renjana”?

“Renjana” berisi empat belas cerita. Sembilan di antaranya adalah cerita dengan latar sejarah. Lima sisanya menawarkan cerita umum dengan beragam tema. Saya tak tahu apakah pengkategorian ini bisa diterima, tapi jika dibaca secara keseluruhan, mungkin pengkategorian yang serampangan ini bisa dipahami.

Dominasi cerita berlatar sejarah sebetulnya membuat saya bertanya-tanya, kenapa tidak salah satu dari cerpen berlatar sejarah itu saja yang dijadikan judul buku kumpulan cerpennya? Toh, dominannya cerpen sejarah ini menunjukkan kalau Dwi Cipta piawai menggarap cerita-cerita semacam itu? Tentu saja Dwi Cipta punya alasan sendiri terkait hal ini dan “Renjana” sebagai sebuah cerita pun mempunyai kekhasan tersendiri. Terkait hal ini, Dwi Cipta lantas menjelaskan kalau ia tidak mempunyai alasan tertentu, semua cerpen ia pandang dengan posisi yang sama sebagai (meminjam kata-kata Pramoedya Ananta Toer) “anak-anak rohaninya”. Lantas ia lebih memilih menganggap semua ceritanya sebagai rekaman dari pembelajaran menulisnya secara otodidak.

Justru karena itulah, sesaat setelah saya menyelesaikan pembacaan saya terhadap buku “Renjana”, saya lantas berpikir kalau cerita berjudul “Ilat Sedep Waduk Karep” adalah cerita yang paling menarik bagi saya. Cerpen itu menunjukkan “kepiawaian” Dwi Cipta mengolah berbagai unsur hingga menjadi fiksi pendek yang menarik.

Bila dilihat dari penanggalan kapan cerpen itu diselesaikan, cerpen itu terbilang yang paling muda ketimbang lainnya. Tercatat cerpen itu selesai pada akhir September 2017, sementara cerpen-cerpen lainnya selesai pada tahun-tahun antara 2005 hingga 2011. Ada rentang waktu enam tahun sampai akhirnya dia menulis cerpen lagi. Kita boleh menebak kalau rentang waktu itu (mungkin saja) digunakannya untuk fokus menyelesaikan novelnya.

Sebagai cerpen termuda, “Ilat Sedep Waduk Karep” justru menunjukkan kematangan Dwi Cipta sebagai seorang penulis fiksi. Dalam cerpen itu, ia mengisahkan seorang mahasiswa jurusan sejarah yang tengah mengkaji sebuah naskah berjudul “Ilat Sedep Waduk Karep”. Naskah itu tidak seperti naskah-naskah lama lain yang dibuat oleh orang-orang di lingkungan kerajaan, tapi dibuat oleh seseorang yang lebih suka berkeliaran tak tentu arah. Praktisnya ia dibuat bukan oleh pujangga-pujangga kerajaan, melainkan oleh rakyat biasa yang suka bertualang.

Meski dibuat oleh rakyat biasa, ternyata penulis kitab memasak “Ilat Sedep Waduk Karep” itu mampu membaca situasi yang tengah berlangsung di Tanah Jawa. Saat itu orang-orang tengah disibukkan oleh persiapan Kerajaan Mataram pimpinan Sultan Agung untuk menyerang Batavia. Penulis kitab itu bisa saja bersikap acuh-tak-acuh dengan segala kesibukan yang dihiasi dengan kebesaran masa lalu itu, tapi ia bisa menangkap bahwa bayangan akan kebesaran masa lalu itu hanya suatu bayangan gelap dari masa depan Tanah Jawa. Penulis kitab ini rupanya tak bisa berhenti memikirkan semua ini, bahkan ketika ia tengah memasak sekali pun. Alhasil, ia memasukkan bumbu-bumbu yang melebihi porsi pada umumnya. Tapi kesalahan ini malah membuat masakannya semakin dinikmati orang-orang.

Saat saya selesai membaca “Ilat Sedep Waduk Karep”, saya langsung bertanya kepada Dwi Cipta yang tengah tekun membaca cersil Khoo Ping Ho dan kebetulan ada di samping saya. Pertanyaan saya bisa dibilang terlalu polos (mungkin karena pengetahuan sejarah saya yang dangkal), tapi jawaban dari pertanyaan itu semakin meyakinkan saya kalau Dwi Cipta adalah penulis fiksi yang mantap. Saat itu saya bertanya apakah kitab “Ilat Sedep Waduk Karep” ini benar-benar ada? Dwi Cipta hanya senyam-senyum dan geleng-geleng kepala.

“Ilat Sedep Waduk Karep” bisa jadi yang paling menarik bagi saya. Tapi, cerpen-cerpen lainnya pun tidak bisa dilewatkan begitu saja. Lewat obrolan tentang peran sejarah dalam proses kreatif sang penulis, saya merasa semua cerita-ceritanya yang berlatar sejarah, lebih merupakan sebuah kesaksian prosaik seorang pembaca sejarah. Ada cerita “Pao An Tui” yang berlatarkan masa-masa revolusi fisik Indonesia. Ada “Pengukir Nisan” yang bercerita tentang seorang Tionghoa yang bekerja sebagai pengukir nisan dan berusaha jujur dalam pembuatan nisannya, meski harus dibayar nyawanya sendiri. Ada pula “Senja di Karang Turi” yang belum pernah dipublikasikan di media mana pun dan bercerita tentang perdagangan candu sekaligus kilasan hidup seorang pecandu yang hidupnya kacau karena kecanduan madat. Pada bagian-bagian akhir, terutama dua cerpen terakhir, ada “Renjana” dan “Kehidupan Baru” yang bisa dikatakan sebagai dua cerpen yang bersambung antara dua fase yang dilalui seorang pemuda yang “belum move-on” dan “mulai-bisa-move-on”.

Dengan dominannya cerita berlatar sejarah yang ditulis Dwi Cipta, saya berani “menambahkan” kalau ada yang mengatakan Iksaka Banu sebagai satu-satunya penulis yang piawai merekonstruksi sejarah untuk karya-karya fiksinya sembari mengikuti jejak maestro-maestro lama seperti Pramoedya Ananta Toer atau Y.B. Mangunwijaya. Sejak tahun 2005, Dwi Cipta pun sudah menuliskan cerita-cerita semacam itu.

Identitas Buku            

Judul                    : Renjana

Penulis                  : Dwi Cipta

Penerbit                : Penerbit Gading

Tebal                    : xii +39 halaman

Edisi                     : Pertama, Januari 2020

 

Gambar: www.berdikaribook.red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.