Kiai, Santri, dan Sebuah Pengantar Diskusi

Spread the love

Oleh Aries Wahyudin

Pasca pertempuran Diponegoro pada tahun 1830, yang kemudian membuat Pangeran Doponegoro harus diasingkan, para prajurit ataupun murid Diponegoro menyebar ke pelosok desa untuk bersembunyi dari kejaran Belanda. Mereka menyamar diantara penduduk dengan mengganti nama asli dengan sebutan yang tidak dikenal oleh Belanda. Ini dimaksudkan agar Belanda tidak dapat mendeteksi persembunyian mereka sehingga mereka dapat bersembunyi dengan aman. Tentu saja mereka menyebar tidak secara bergerombol, tetapi secara individu-individu dengan tetap menjalin komunikasi diantara para prajurit.

Mereka mengajar ngaji diperkampungan yang mereka jadikan persembunyian. Kepada penduduk sekitar, dengan menyelipkan semangat untuk melawan penjajah, mereka menciptakan semangat perlawanan Pangeran Diponegoro, hingga masih tetap berkobar diperkampungan-perkampungan. Sebagian besar mereka menyebar dipesisir, sehingga dikemudian hari mereka mendirikan Pesantren sebagai tempat menimba ilmu agama bagi penduduk sekitar dan juga sebagai tempat menanamkan benih kebencian kepada para Penjajah dengan tidak mau bekerja sama.

Hal ini dapat dilihat pada tahun 1916, ketika kalangan pesantren mendirikan organisasi pergerakan seperti Nahdlatul wathon. Kemudian tahun 1918, didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial-politik kaum santri. Selanjutnya, didirikanlah Nahdlatut Tujjar (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi, juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

Ketika Ibnu Saud menjadi Raja Arab, dan hendak menjadikan Madzhab Wahabi sebagai asas tunggal di Makkah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam yang banyak diziarahi oleh kaum muslimin, dan karena perilaku tersebut banyak dianggap bidah, maka kalangan pesantren menunjukkan sikapnya yang menolak rencana Raja Ibnu Saud tersebut. Sikap penolakan tersebut  diwujudkan dengan membentuk sebuah komite yang disebut dengan Komite Hijaz, yang menjadikan delegasi dari kalangan Pesantren untuk menolak rencana Ibnu Saud tersebut. Komite inilah yang kemudian hari menjadi embrio lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.

Dikemudian hari, organisasi NU yang merupakan organisasi Pesantren yang didalamnya ada Kiai dan santri memiliki andil dalam sejarah bangsa Indonesia, dan dimulai dari dibentuknya Hizbullah dan Sabilillah sebagai laskar yang menentang penjajah dengan melakukan pemberontakan-pemberontakan. Selain itu, NU pun  mengeluarkan fatwa haram meniru pakaian yang dipakai oleh para Penjajah, seperti memakai celana, topi dan sejenisnya.

Puncaknya setelah Kemerdekaan Indonesia, pada 29 September 1945, Sekutu datang dengan diboncengi NICA. Melihat situasi yang tidak menguntungkan bagi Indonesia, Presiden Soekarno berfikir untuk menggerakan rakyat mengusir sekutu dari bumi Indonesia. Tentu saja menggerakkan masyarakat untuk mengusir sekutu tidaklah mudah, maka Presiden Soekarno akhirnya meminta Kiai Hasyim untuk mengeluarkan fatwa tentang berjuang mempertahankan kemerdekaan dari tangan Penjajah. Maka Kiai Hasyim pun memanggil para ulama se-Jawa dan Madura untuk membahas tentang fatwa tersebut. Pada tanggal 21 Oktober 1945, para Kiai berkumpul dan merumuskan fatwa yang diminta oleh Presiden Soekarno, yang pada tanggal 2 Oktober 1945, dihasilkanlah fatwa yang sampai sekarang dikenal sebagai Resolusi Jihad NU. Resolusi Jihad ini disebar melalui surat kabar, dan pada satu kesempatan dibaca oleh Bung Tomo melalui siaran radio, sehingga membakar semangat penduduk Surabaya dan sekitarnya.

Pada tanggal 25 Oktober 1945 tentara Inggris sampai di Surabaya dibawah pimpinan Jendral Mallaby. Kedatangan Inggris ini, tentu saja mendapatkan perlawanan dari arek-arek Surabaya yang dibaluti kobaran semangat untuk melawan Inggris. Tidak hanya masyarakat yang turun melawan tentara Inggris, para santri dibawah komando para Kiai pun turut diantara barisan para arek-arek Surabaya tersebut. Pada  tanggal 31 Oktober 1945, tersiarlah kabar bahwa Jendral Mallaby telah terbunuh. Karena tidak dapat menangkap pembunuhnya, maka pada tanggal  9 November 1945 Mayor Jenderal Manserg dengan surat sebaran menyampaikan ultimatum yang berisi agar pembunuh Jendral Mallaby menyerahkan diri, selambat-lambatnya jam 06.00 pagi, pada tanggal 10 November 1945. Sampai pada waktu yang ditentukan, tidak ada juga yang menyerahkan diri, maka pada saat itu juga lah mengguntur dentuman meriam-meriam Inggris, yang memuntahkan  pelurunya di kota Surabaya. Rakyat dan pemuda Surabaya masih mencoba melawan, namun senjata ringan dan bambu runcing tak berdaya menghadapi meriam-meriam milik Inggris, sehingga pasukan bersenjata Indonesia mengundurkan diri ke daerah Mojokerto.

Perlawanan arek-arek Surabaya dan kobaran semangat para santri, kelak, akan dikenang dalam sebuah peristiwa, yang umum dikenal sebagai pertempuran 10 hari di Surabaya. Sementara tanggal dan waktu berlangsungnya pertempuran tersebut, akan dikenal dan diperingati sebagai Hari Pahlawan, yang jatuh setiap tanggal 10 November. Seperti yang telah disinggung diatas, santri dan kiai yang turut berlumuran darah guna melawan para penjajah, tak bisa kita sampingkan peran dan kontribusinya. Maka dari itu, kiai dan santri, dengan sendirinya telah membuat garis sumbangsihnya sendiri bagi kedaulatan dan keutuhan Republik Indonesia.

Gambar: sorak.in

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.