“Kiat Sukses Hancur Lebur”: Hoax?

Spread the love

 Oleh Peran Sabeth Hendianto

Membaca Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya berarti mengajak diri sendiri datang ke sebuah persidangan tanpa undangan sebagai “pesakitan”. Dan, datang dengan segenap keyakinan diri tidak memiliki kesalahan, lalu jaksa penuntut umum bertanya, “Seberapa yakinkah Anda bahwa apa yang Anda yakini dan kerjakan adalah benar? Absolutkah atau masih ada celah untuk keliru?”

Maka ketika jaksa penuntut umum membeberkan bukti-bukti bahwa apa yang kita yakini tidaklah benar, dengan penuh keyakinan diri itu juga kita serta-merta akan berkata, “Itu tidak benar. Bukti-bukti itu hanya hoax 1) yang dibuat-buat seolah-olah menjadi kebenaran.”

Memang permasalahan tampak rumit di permukaan dan makin mungkrek di pedalaman, apalagi bila kita tidak tahu-menahu duduk perkara. Namun bukan itu yang menjadi titik fokus Martin Suryajaya dalam menampilkan cerita yang berangkat dari kebenaran umum dan global, yang kemudian dia “hancurleburkan” kebenaran itu menjadi bentuk baru, rupa baru, dan semangat baru, barangkali juga keyakinan baru. Sebab, ketika kita membaca sastra, kita membaca kebenaran hilir, hasil olahan pengarang atas kenyataan faktual yang diyakini umum dan global: kebenaran hulu. Pengolahan pengarang atas kenyataan itu lahir sebagai akibat otomatis dari fakta bahwa sastrawan — sebagaimana kata Pramoedya Ananta Toer — “Hikayat adalah hikayat dan kenyataan adalah kenyataan. Kenyataan adalah kebenaran hulu. Dalam tanggapan pengarang ia menjadi kenyataan atau kebenaran hilir yang terolah dengan sejumlah kekayaan dan kemampuan batin si pengarang bersangkutan, dan tentu saja tak dapat dilupakan, daya imajinasinya. Membaca sastra tak lain dari membaca kebenaran hilir, kemampuan batin dan daya imajinasi pengarangnya.” 2)

Jika mengingat hal itu, maka faktor luar — antara lain peristiwa pribadi pengarang dan keadaan sosiopolitik di luarnya, pengetahuan-pengetahuan, dan faktor batin, yakni tanggapan pengarang terhadap kejadian luar itu, pikiran, dan renungannya, dan khususnya imajinasinya, dalam konteks ini, Martin Suryajaya sebagai pengarang hendak menawarkan the possible imagined world sebagai dunia imajiner yang tidak mustahil ada, sebagai alternatif dari kenyataan faktual yang penuh kontradiksi. Sistem berpikir atau ide yang diyakini dan dipilih pengarang itulah yang disebut “gagasan sosial” atau — dalam istilah Goldmann — pandangan dunia pengarang.

Mengenai bentuk dan model komunikasi dalam Kiat Sukses Hancur Lebur yang berbeda dari kaidah novel umumnya, sebelum telanjur menghakimi bahwa apa yang ditulis Martin bukan novel karena perbedaan itu, alangkah baik kita menengok kembali sekilas tentang sejarah sastra, terutama sastra Indonesia. Dalam dunia sastra dan tulis-menulis amatlah biasa dan lumrah pada setiap generasi muncul satu atau beberapa orang yang tidak ingin membebek atau mengekor generasi yang telah lampau, meski dengan jalan berkelahi. Semangat memunculkan kreasi baru, baik bentuk maupun segi pemikiran, adalah jalan yang ditempuh untuk menggantikan yang telah usang, baik sebagian maupun keseluruhan karena menganggap yang usang sudah tidak relevan lagi dengan semangat zaman. Dan, yang paling akhir itu, mengganti secara keseluruhan biasa disebut gerakan revolusioner.

Tentu ada yang mengamini, ada pula yang mengontradiksikan. Pengontradiksi sudah jelas adalah orang yang menganggap kaidah tentang novel itu telah usang. Pengamin adalah orang yang sepaham. Sisanya adalah orang-orang yang senang hanya menjadi penonton. Atau, malah ada juga yang tidak tahu?

Lebih dari 400 tahun lalu, sastra bidal dan pantun — sastra yang muncul dari budaya kaum petani — mempertahankan eksistensi selama kurun waktu 300 tahun. Selama kurun waktu itu, bidal dan pantun telah mewakili pedalaman pikiran dan perasaan masyarakat dengan petatah-petitih dan kebajikan untuk menjalani hidup selaras dengan alam dan makhluk hidup yang tinggal di alam ini. Muncul kemudian Chairil Anwar dengan karya revolusioner yang menggantikan gaya dan bentuk bidal dan pantun selama-lamanya, karena merasa itu tidak lagi relevan dengan zaman.

Para pemenang yang tergabung dalam gerakan sastra revolusioner tentu memiliki hak dan kuasa untuk melintangkan garis pembeda. Maka untuk membedakan dari yang telah usang, mereka membutuhkan pengategorian dan penggolongan. Dan, yang tak selaras dengan sastra revolusioner disebut kaum pujangga lama. Adapun yang selaras, sudah dapat ditebak, dinamakan kaum pujangga baru.

Baik yang lama maupun baru memiliki kekhasan dan perbedaan. Bila menciptakan hal berbeda atau baru dan itu lebih baik daripada ciptaan lama, tak jadi soal didukung atau diikuti. Yang jadi masalah, bila yang baru tidak lebih baik daripada yang lama, kenapa mesti mengubah? Bukankah itu akan memunculkan kesia-siaan belaka?

Agar dianggap berbeda atau malah tampil beda dengan gaya baru, Sutardji Calzoum Bachri, seseorang yang sampai sekarang masih digadang-gadang sebagai presiden penyair Indonesia, menciptakan puisi model baru, baik bentuk, corak, maupun teknik penulisan baru. Salah satu puisi baru yang dia tulis dan bukukan dalam kumpulan puisi O Amuk Kapak (Jakarta: Sinar Harapaan, cetakan pertama, 1981) adalah contohnya. Namun benarkah Sutardji telah menciptakan puisi model baru sebagai upaya keluar dari belenggu sang revolusioner Chairil Anwar? Sebab, konteks baru itu pun bercabang dua: baru di Indonesia atau di dunia?

Bila ternyata puisi model baru yang diciptakan Sutardji adalah baru ada di Indonesia, tentu di belahan dunia lain sudah ada yang memelopori. Itu berarti masih ada peluang bahwa Sutardji mengikuti sifat sang pendahulu, Chairil Anwar: mengikuti mazhab dan bukan menciptakan mazhab atau barang baru.

Ada yang beranggapan puisi-puisi dalam kumpulan O Amuk Kapak hanyalah permainan kata-kata Sutardji. Hanya eksperimen mengutak-atik dan menyusun kata dengan bentuk sedemikian rupa, tetapi dalamnya kosong, tak bermakna. Orang boleh beranggapan begitu, tetapi toh itu tetap disebut puisi, meski tak bermakna.

Mengenai “pelabelan” dan “pengategorian”, sebenarnya itu urusan si penulis. Pembaca dan kritikus atau yang menjabat kedua-duanya tidak memiliki hak menentukan pelabelan dan pengategorian, kecuali, ya kecuali karya tulis itu “belum dilabeli”. Namun toh itu tidak hanya hak kritikus, siapa saja yang boleh menentukan masuk dalam jenis apakah karya itu sebatas seseorang mampu menjelaskan dengan bukti-bukti dan perbandingan-perbandingan.

Berarti, apa pun teks itu, sejauh belum menempati media tertentu atau wahana tertentu, masih disebut sebuah teks dan belum masuk ke suatu jenis. Misalnya, Undang-Undang Dasar 1945 dialihwahanakan ke dalam novel dengan cara “menghancurleburkan” kontekstasinya, sebagaimana cara Martin menulis Kiat Sukses Hancur Lebur, kita sebagai pembaca tidak bisa serta-merta membaca teks novel Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana kita mendekati teks itu dengan sikap sewaktu teks itu belum teralihwahanakan ke dalam novel.

Kita bisa bereksperimen dalam hal ini. Coba, kutiplah salah satu penggalan berita dari koran apa pun, lalu susun kutipan itu sebagaimana bentuk puisi yang kita kenal dan tahu. Kemudian, kita labeli dengan kategori puisi. Maka kita tidak bisa lagi memberlakukan kutipan teks berita itu sebagai kutipan berita dan harus memahami dan membacanya sebagai teks puisi.

Eksperimen-eksperimen itu bukan tidak pernah dilakukan. Sapardi Djoko Damono pernah berdebat panjang dengan para kritikus sastra perihal puisi ciptaannya, “Akuarium”, yang sangat berbeda dari bentuk puisi umumnya. Ia lebih mirip prosa. Namun Sapardi tetap pada pendirian: itu puisi dan harus dipahami dan dibaca sebagai puisi.

Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya, sebagaimana sudah kita ulas di atas, harus dipahami dan dibaca sebagai novel, meski pada dasarnya ia kita anggap sebagai kumpulan teks yang berangkat dari fakta. Mengenai bentuk dan teknik menampilkan cerita yang Martin Suryajaya usung dalam Kiat Sukses Hancur Lebur merupakan hal baru (mazhab baru) ataukah lama tetapi di Indonesia belum ada, membutuhkan studi pustaka lebih lanjut lagi tentang ada atau tidak bentuk karya sejenis sebelum karya Martin ini. Kemudian, sebagaimana yang digadang-gadang sebuah novel dengan bentuk baru, apakah bila yang baru itu lebih baik dari yang lama? Perlu juga studi resepsi untuk mengetahui tanggapan pembaca, sebab persentase peminatan pembaca lebih banyak menentukan daripada perkataan kritikus.

Triyanto Triwikromo pada pertengahan 2016 menerbitkan sebuah buku kumpulan cerita flash fiction atau baru-baru ini dinamai fiksi mikro berjudul Bersepeda ke Neraka. Banyak pembaca dan bahkan kritikus berpengetahuan klasikisme menyebutnya “barang baru”. Benarkah? Dan, Triyanto Triwikromo sebagai pembaru khazanah kesusastraan Indonesia dengan menghadirkan dan menulis kumpulan fiksi mikro? Oh ya? Ataukah, Triyanto Triwikromo juga sama dengan para pendahulu: membawa barang lama dan menghadirkan barang lama itu ke Indonesia dan menjadi barang baru?

Sedikit mundur ke belakang, beberapa tahun lalu, tepatnya 2012, saya dan beberapa admin Fiksiana Community menyelenggarakan acara menulis flash fiction yang diikuti 187 penulis. Karya tulis mereka diunggah secara serentak di kolom fiksi, kompasiana.com, melalui akun masing-masing. Belum puas dengan acara itu, kami dengan para member mengadakan acara bertajuk sama tetapi berbeda dari segi aturan. Kalau acara pertama aturan jumlah kata maksimal 150 kata, pada acara kedua berjumlah 50 kata, berlanjut pada acara ke tiga: 20 kata.

Berarti buku kumpulan flash fiction Bersepeda ke Neraka bukanlah barang baru. Sebab, bila mundur jauh kebelakang lagi, kita akan bertemu Ernest Hemingway. Dialah yang kali pertama mengenalkan flash fiction, dengan mazhab menulis ice berg atau fenomena gunung es yang dia ciptakan. Contoh karyanya yang paling terkenal adalah flash fiction enam kata: Dijual, sepatu bayi belum pernah dipakai….

Bila kita kembali ke Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya, dari segi isi, ia seperti cermin yang memantulkan bayangan diri kita. Namun ia tidak lumrah sebagaimana bayangan dalam cermin, sebab ia hidup dan memiliki pikiran tersendiri. Dengan kata lain, ketika si bayangan bertingkah aneh, yang mengundang gelak tawa atau senyum serta-merta kita juga tertawa dan tersenyum melihat tingkah-polahnya. Jadi bukanlah kebetulan bila kita lalu menyebut ia hoax, sebab kita yakin itu bukanlah diri kita dan ia hanyalah sesosok makhluk yang menjelma menyerupai kita dengan tujuan mengakali atau sebuah kepalsuan.

Kemudian muncul pertanyaan menggelitik: jika demikian, sebenarnya yang palsu atau hoax itu sosok di dalam cermin ataukah di luar cermin? Sebenarnya dua-duanya tidak memiliki wewenang menyalahkan dan membenarkan karena mereka menempati wahana, ruang, dan konteks kebenaran berbeda.

Yang terjadi kemudian, bila jiwa dan perasaan kita tetap terusik oleh narasi-narasi fiksi yang ditampilkan Martin Suryajaya dalam Kiat Sukses Hancur Lebur, berarti bukan tidak mungkin ada yang tidak beres dengan jiwa kita. Dan, kata “terusik” di sini dalam arti banyak: bisa ekspresi kemarahan, tertawa, tersenyum, ketidakyakinan, dan lain-lain. Atau, bisa jadi, sesuatu hal mengenai pengetahuan-pengetahuan yang kita dapatkan dan kita yakini justru sumber dari ketidakberesan.

Beberapa contoh model penulisan dalam Kiat Sukses Hancur Lebur saya kutipkan di bawah ini beserta sedikit penjelasan dari perspektif saya.

WC Rendra, si burung pemakan bangkai kesusastraan Indonesia modern, suatu kali pernah berkata zebra cross di perempatan jalan: “O, Wiratmo Sukito! Bip-bop-bip-bob. O, kebebasan! Bip-bop-bib-bob. O, perempuan! Bip-bop-bip-bob. O, pecel Madiun 1948!!! Bip-bop-bip-bob. O, enak sekali! Bip-bop-bip-bob. Nak-enak-enak-enak-enak-enak-enak, nak-enak-enak-enak-enak-enak-enak.” (Suryajaya, 2016: 150, dalam subjudul “Pecel Lele: Antara Kuliner dan Mitos”).

Model-model narasi seperti itu muncul sejak awal novel sampai akhir (tamat?). Sebagaimana contoh penggalan cerita di atas, logika penalaran dan ingatan pengetahuan referen kita akan berbenturan. Semisal nama WC Rendra, secara samar-samar dan ragu, dalam benak kita akan hadir sebuah pertanyaan: apakah yang dimaksud WS Rendra? Ataukah itu salah ketik? Bila itu salah ketik, benarkah WS Rendra berkata demikian? Jika salah ketik, kenapa penulis dengan panjang menulis: WC Rendra, si burung pemakan bangkai kesusastraan Indonesia…? Bukankah itu tidak sekadar salah ketik? Sebuah kesengajaankah? Bila sengaja, apa tujuan penulis?

Contoh kutipan lain dalam cerita.

Contoh-contoh soal di muka adalah bagian dari KTP yang berkenaan dengan kecakapan seorang bawahan dalam menggali lubang pembuangan majikan untuk ngalap berkah, atau mungkin lebih tepat nguntal berkah….” (Suryajaya, 2016: 117, subjudul “Kisi-kisi Ujian Masuk Calon Pegawai Negeri Sipil”).

Nabi Khidir Nutrisari, seorang pebasket Jawa peranakan Lebanon yang tewas sebelum bisa main basket, pernah mengutarakan gagasan pentingnya dalam kitab Nguri-uri Budaya Jawi: “Lepaskan sandalmu sebelum mempelajari etika, etika bisa mengubahmu jadi oncom yang dipamerkan di etalase toko semboyan.” (Suryajaya, 2016: 117, subjudul “Etika Selayang Pandang”).

Pada hari kiamat, toserba akan buka lebih siang. Orang-orang akan tidur-tiduran di dalam kepala mereka sendiri. Mereka bermalas-malasan, tidak menyadari bahwa di pengunjung hari itu, semuanya akan menjadi oncom. Mereka akan mengalami fermentasi sembari berimajinasi tentang kredit motor, usaha tukar-tambah otak udang atau rencana piknik ke jidat orang lain. Mereka akan menjadi kisut, kemudian mulai ditumbuhi jamur dan berubah menjadi onggokan oranye dengan bau tak sedap. Untuk lebih mengilustrasikan apa yang terjadi pada hari itu, ada baiknya penulis sajikan rundown acara kiamat agar supaya menjadi periksa bagi Bapak-Ibu sekalian.” (Suryajaya, 2016: 150, dalam subjudul “Potret Pemikir di Hari Kiamat”).

Setidak-tidaknya ada banyak hal muncul dalam benak kita sebagai pembaca, salah satunya adalah rasa ketidakpercayaan, disusul ledakan tawa, atau tersenyum melecehkan sebab apa yang ditulis dan diceritakan Martin merupakan ketidakbenaran karena bertentangan dengan pengetahuan dan informasi yang selama ini kita yakini kebenarannya. Namun, sekali lagi, tergantung pada sikap seperti apakah yang kita bawa untuk mendekati teks Kiat Sukses Hancur Lebur. Bila kita masih terpancang pada kebenaran hulu, kebenaran hilir yang hadir dalam novel hanya akan menjadi pengaburan makna. Dan, model atau bentuk penceritaan yang Martin usung dalam novelnya itu seperti parodi, yakni: suatu hasil karya yang digunakan untuk memelesetkan, mengomentari karya asli, pengetahuan-pengetahuan yang diyakini umum, judulnya ataupun tentang pengarangnya secara lucu atau dengan bahasa satire.

Jadi, dapatkah kita menyebut Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya sebagai novel parodi?

 

Gadoh, 28 Desember 2016

Catatan:

1) Secara kasar, definisi dan maksud dari kata “hoax” adalah sebuah pemberitaan palsu, usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengar untuk memercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita itu palsu.

2) Perkataan Pramoedya Ananta Toer itu saya kutip dari esai panjang A. Teeuw dalam majalah Kalam edisi 6 tahun 1995 (halaman 7) dengan judul “Revolusi Indonesia dalam Imajinasi Pramoedya Ananta Toer”. Dalam catatan si penulis, dia mengutip perkataan itu dari catatan Pramoedaya dalam pengantar buku Hikayat Siti Mariah yang untuk kali pertama diterbitkan Tirto Adhi Soerjo dalam Medan Prijaji sebagai cerita bersambung antara 7 November 1910 dan 6 Januari 1912. Kemudian diterbitkan kembali sebagai cerita bersambung lagi dalam “Lentera Dipantara” bagian kebudayaan Harian Bintang Timur antara 1962 dan 1965. Untuk detail pembaca dirujuk pada Haji Mukti, Hikayat Siti Mariah, editor Pramoedya Ananta Toer (Jakarta: Hasta Mitra, 1987), halaman vii-xii.

  • Semula prasaran untuk Diskusi Buku Akhir Tahun “Kiat Sukses Hancur Lebur” bersama Martin Surjaya di KEDAI KOPI ABG Semarang, Sabtu, 31 Desember 2016. Peran Sabeth Hendianto adalah alumnus Magister Susastra Universitas Diponegoro Semarang.

 

Gambar: http://www.bisikanbusuk.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.