Kisah yang Dekat, Sederhana, dan Memantik Rasa Nggregel di Dada

Spread the love

Catatan atas Kumpulan Cerpen Kafilah Cinta Kiai Budi Harjono

Oleh Achiar M Permana

 

 

Semasa SMA, pada paruh pertama dekade 1990-an, saya diam-diam gandrung pada Arman Arroisi. Setiap kali menyambangi perpustakaan sekolah, pasti saya menenteng 30 Kisah Teladan, serial yang menurut saya, menjadi masterpiece pengarang bernama lengkap K.H. Abdurrahman Arroisi itu. Buku kecil, seukuran novel populer Mira W., Marga T., atau Fredy S., itu selalu masuk dalam daftar buku peminjaman perpustakaan.

Selain membaca 30 Kisah Teladan Arman Arroisi, tentu saja, saya seperti anak-anak muda yang besar pada era 1990-an lain. Buku serial petualangan Karl May, novel Tanah Gersang karya Mochtar Lubis, atau Grotta Azzura Sutan Takdir Alisjahbana (STA), saya baca tuntas semasa SMA. Karya Mochtar Lubis yang lebih terkenal, Harimau! Harimau!, dan karya STA yang menjadi penanda zaman, Layar Terkembang, telah lebih dulu saya khatamkan. Tentu saja, novel-novel picisan Fredy S. sudah lebih dulu saya khatamkan.

Halah, paling Nick Carter juga. Enny Arrow juga,” tiba-tiba Dawir, sedulur batin saya, nyeletuk dari balik tengkuk.

Oya, saat itu saya belum berkenalan dengan karya-karya hebat Pramoedya Ananta Toer. Hi-hi-hi…. Saya baru mengenal Pram, termasuk tetralogi Buru — Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca — setelah kuliah. Itu pun secara diam-diam karena, saat itu, buku-buku Pram tidak ada di rak perpustakaan kampus.

Oke, kembali ke Arman Arroisi dan serial 30 Kisah Teladan. Arman penulis yang cukup produktif. Dia juga multitasking: sarjana sejarah, ulama, dan penulis karya fiksi. Selain 30 Kisah Teladan, serial yang terdiri atas 12 jilid, dia juga menulis novel. Salah satu novelnya, Pertarungan Para Ksatria, terbit dalam lima jilid. Dia juga menulis serial Wali Songo, kisah para penyebar agama Islam di Tanah Jawa.

Pengarang kelahiran Pemalang, 13 Desember 1945, dan wafat di Jakarta, pada 2006, itu juga menulis buku-buku nonfiksi, antara lain Islam, Pergolakan, dan Pembangunan (1987) terbitan Samudra, Rumah Tuhan Selalu Terbuka (1988) terbitan Pustaka Kartini, dan Pengembaraan Batin Bung Karno (1993) terbitan Rosda Karya.

Dari semua karya Arman Arroisi, bagi saya, serial 30 Kisah Teladan yang paling meninggalkan kesan. 30 Kisah Teladan berbentuk kumpulan cerita pendek yang dihimpun dalam 12 jilid. Jilid pertama serial itu memuat 30 kisah, yang hampir semua dipetik dari atau berlatar belakang sejarah. Seingat saya, karya Arman dalam serial itu memiliki kekhasan: mengusung tema keimanan dan petualangan, dengan bahasa renyah. Sesekali ada juga bumbu cerita yang agak “menyerempet”, rada-rada saru, yang tentu menarik — dan menggetarkan –pembaca pada usia saya. Saat itu….

Alkisah, dalam salah satu cerpen dari 30 Kisah Teladan jilid I, Arman menulis kisah seorang nenek lanjut usia yang datang kepada Rasulullah saw.

 

Dengan sedih dan kuatir ia berkata, “Ya, Rasulullah, apakah saya dapat masuk sorga?”

Nabi mengerutkan kening, lalu dengan suara sungguh menyesal dia menjawab, “Maaf, Nek, di sorga tidak ada orang tua.”

Maka nenek-nenek itupun menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya sebagai orang tua. Tetapi Nabi cepat menyambung ucapannya, “Maksud saya bukan Nenek tidak akan masuk sorga.”

“Jadi?”

“Nenek bakal masuk sorga, tetapi di sana Nenek akan jadi muda lagi,” ucap Nabi melegakan.

Maka nenek tua itu pun tertawa gembira membayangkan nasibnya yang akan jadi perawan kembali di sorga. Begitulah cara Nabi bercanda. Sekadar menyegarkan suasana, namun tetap menjaga agar selorohnya dapat membahagiakan orang lain, bukan menyakitkan atau menyinggungnya.

 

Nah, Arman Arroisi dan 30 Kisah Teladan-nya, seketika melejing ke benak saya, saat saya mengkhatamkan kumpulan cerpen Kiai Budi Harjono, Kafilah Cinta. Kiai Budi bisa kita jumpai dengan beragam identitas di media sosial: KIAI BUDI, Kiai Budi I, Kiai Budi V, Kiai Budi VI, Kiai Budi VII, Caping Gunung, Tari Sufi. Cara Kiai Budi berkisah, dalam kumpulan cerpen terbitan Pataba (2019) ini, mengingatkan saya pada cara (Kiai) Arman menghadirkan cerita. Keduanya sama-sama menghadirkan cerita yang sepertinya benar-benar nyata.

Kesamaan lain, dalam cerpen-cerpen Kiai Budi terkandung pesan kuat: keteladanan. Keteladanan yang bisa datang dari siapa pun. Bisa dari seorang Bengong, yang ringan tangan dalam cerpen “Bengong”, Drajat, penjual asongan yang bisa membuat seorang jenderal menitikkan air mata dalam cerpen “Jenderal”, atau Mbah Semilah yang meminta didoakan agar meninggal di Tanah Suci dalam cerpen “Semilah”.

Seperti juga Arman Arroisi dalam 30 Kisah Teladan, Kiai Budi juga meracik ceritanya dengan bahasa segar. Bahasa sehari-hari yang gampang dicerna. Bukan bahasa sastra kelas tinggi. (Halah.)

Tidak perlu modal penguasaan bahasa kelas tinggi untuk bisa menikmati cerpen-cerpen Kiai Budi. Kalaulah ada persoalan, kehadiran sejumlah kosakata dalam bahasa Jawa tanpa terjemahan akan memberi beban tambahan bagi pembaca non-Jawa.

Kafilah Cinta berisi 37 cerpen, rata-rata terdiri atas 500-600 kata. Benar-benar “selesai dibaca dalam sekali duduk”, seperti definisi cerpen yang sudah muktabar.

Cerpen-cerpen itu memiliki judul menarik, agak-agak beraroma clickbait alias jebakan klik, macam berita di media online. Judul yang mengundang rasa penasaran pembaca.

Malah nggawa-nggawa clickbait harang. Fokus, Kang, fokus,” bisik Dawir menyentil.

Judul-judul seperti “Sillah”, “Semilah”, atau “Mu’an’an Tasalsul”, bagi saya, memiliki daya ungkit terhadap rasa penasaran pembaca. Paling tidak, pembaca akan berpikir: apa ta iki? Judul yang memiliki muatan filosofis atau tasawuf, macam “Hujan Cahaya”, “Wuwung Suwung”, atau “Galih Kangkung”, juga memiliki daya tarik tak kalah kuat. Pembaca “berkualitas tinggi” (!) macam saya, tentu lebih njujug pada cerpen dengan judul “menyerempet bahaya”, macam “Bercumbu” atau “Lonte”. Ha-ha-ha.

 

Kekuatan Tokoh

Bagi saya, salah satu kekuatan cerpen-cerpen Kiai Budi dalam Kafilah Cinta adalah tokoh, berikut cara pengarang membangun karakter tokoh-tokohnya. Para tokoh dalam Kafilah Cinta serasa nyata. Dari sekitar kita.

Penamaan tokoh juga sederhana, tetapi konotatif sekaligus asosiatif dengan karakter tokoh. Tokoh Mbah Semilah yang semeleh, Mbah Kabul yang giat berusaha, atau Kang Markenyek dan Kang Madani — yang rasa-rasanya berasal dari kata ngenyek (mengejek) dan madani (memberikan atribut buruk). Saya merasa tidak ada keinginan pengarang memberi nama-nama canggih, yang “keren”, tetapi lepas dari karakter tokoh.

Oya, kehadiran tokoh dengan nama-nama “biasa” itu, membuat saya merasa dekat. Saya kira, sebagai pengarang, Kiai Budi memiliki pemahaman lebih dari cukup mengenai proximity, istilah dalam jurnalistik yang merujuk pada “kedekatan”, sebagai salah satu nilai dan daya tarik bagi pembaca. Dengan kedekatan itu, pembaca — setidaknya, saya — merasa dekat atau bahkan menjadi bagian dari cerita.

Bahkan saya merasa kenal tokoh-tokoh yang digambarkan Kiai Budi. Tokoh “orang bersarung” yang memberi uang kepada Susi, lonte yang tidak kepayon, rasanya saya kenal.

 

“Apa Mas kiai, kok pakai sarung?” tanya Susi memotong pembicaraan.

“Bukan, Mbak. Aku orang Bali,” jawab orang bersarung itu menutupi jati dirinya.

“Sepertinya saya pernah melihat di TVRI Semarang menjelang buka puasa. Kalau tidak salah Kiai Syafii?” lacak Susi.

“Bukan, hanya mirip barangkali,” jawab orang bersarung. (“Lonte”, halaman 97-98).

 

Apalagi tokoh dalam cerpen “Sillah”, saya merasa benar-benar mengenalnya. Mungkin sampean juga….

Halah, gayaem, Kang. Apa sampean kenal Kiai Syafii? SKSD!” celetuk Dawir, nyampluk.

Kekuatan lain Kafilah Cinta pada “bahan” ceritanya. Sebagian besar cerpen dalam antologi ini memuat kisah yang berangkat dari kalangan pesantren, atau lebih umum lagi, kalangan santri. Cerita tentang kiai, seperti Mbah Arwani dalam cerpen “Sopir dan Kenek”, Mbah Munif dalam cerpen “Mu’an’an Tasalsul”, Kiai Rosyid dalam cerpen “Kelana”, atau Kiai Tubagus dalam cerpen “Senampan” mendedahkan kehidupan para kiai yang tidak biasa, di sisi yang mungkin belum diketahui orang kebanyakan.

Selain kisah pesantren, Kafilah Cinta juga memuat kisah-kisah santri sederhana, dari kalangan biasa. Sebut saja kisah Mbah Tuminah, yang rajin melantunkan Selawat Badar dalam cerpen “Kafilah”, Bengong yang rutin membaca Selawat Dziba’ di kuburan kampung setiap Jumat dini hari dalam cerpen “Bengong”, Mbah Saleh yang selalu mengikhlaskan tanaman singkongnya untuk orang yang membutuhkan dalam cerpen “Trubus”, atau Mbah Mat dan Mbah Ti yang bisa berangkat haji hanya bermodal jualan kangkung dalam cerpen “Galih Kangkung”.

Beberapa cerpen memuat cerita filosofis, atau bernuansa tasawuf, misalnya cerpen “Kafilah” yang mengupas percakapan – imajiner — tentang kesejatian dengan tokoh Laron dan Lampu, dialog Hati, Kaki, Kaki, Mata, dan Tangan dalam mencari kebenaran (“Wuwung Suwung”).

Menarik, Kiai Budi berhasil menghadirkan cerita yang nggrantes, menguras air mata. Menantik rasa “nggregel” di dalam dada. Pengakuan Gunawan Budi Susanto aka Kang Putu, penyunting antologi Kafilah Cinta ini, saya rasa banyak benarnya.

 

“… justru setiap kali membaca kisah dalam buku ini, air mata saya menitik. Saya memperoleh pelajaran yang amat-sangat berharga bagaimana menghadapi persoalan dalam kehidupan, tanpa harus kehilangan rasa syukur. Ya, bagi saya, sebagian kisah memang terasa memerihkan. Namun justru keperihan yang Kiai Budi hantarkan itu masuk, merasuk, dalam benak dan perasaan saya dan memberikan sepletik kesadaran: betapa kuasa dan cinta Gusti Allah terus-menerus melingkupi setiap dan semua makhluk-Nya….”

 

Dari 37 cerpen dalam Kafilah Cinta, ada sejumlah cerpen yang menarik perhatian saya. “Oallah” salah satunya. Cerpen itu berkisah tentang Kiai Mansyur, yang memelihara dua anjing. Tentu saja pilihan Kiai Mansyur memelihara anjing mendapatkan tentangan ulama lain. Kiai Slamet, yang tinggal sekampung dengan Kiai Mansyur, tidak sepaham.

Sebagai pengarang, Kiai Budi menggambarkan ketidaksepahaman itu dengan menarik. “Sama-sama kiai, sama-sama memahami ajaran, sama-sama sekampung, tetapi ‘tampak’ beda pendapat, termasuk yang jelas tampak beda pendapatan.” (“Oallah”, halaman 116).

Lewat tiga muridnya, Kiai Slamet kemudian menegur Kiai Mansyur. Bukan hanya menegur, ketiga murid itu — Kang Markenyek, Kang Madani, dan Kang Gepuk — meremehkan bahkan menghina Kiai Mansyur. Ketiganya tidak tahu, oleh sang guru mereka sengaja “dibenturkan” dengan Kiai Mansyur, demi mendapatkan pelajaran nyata.

Apa yang terjadi? Alih-alih marah, Kiai Mansyur yang seperti ngerti sakdurunge winarah justru memberikan penjelasan lembut.

“Dari sudut pandangku, aku melihat anjing-anjing ini sebagai keajaiban yang menyeret diri dalam ketakjuban ciptaan, yang aku mustahil bisa membikin. Atas pandangan ini aku bisa ingat Gusti Allah…. Sementara atas penghinaanmu ini, justru napasmu ini pertanda masih ada anjing-anjing yang menyalak dalam dirimu, di dalam hatimu.” (“Oallah”, halaman 119).

 

Tokoh Kiai Mansyur serta-merta mengingatkan saya pada Mbah Mutamakkin, K.H. Ahmad Mutamakkin, waliyullah yang makbarah-nya hanya sepelemparan batu dari kampung saya, yang juga memelihara dua ekor anjing. Konon, kedua anjing itu  — namanya keren, cuy: Abdul Kohar dan Komarudin –merupakan penjelmaan nafsu ulama, yang hidup pada masa pemerintahan Amangkurat IV sampai dengan Paku Buwono II sekitar abad XVIII.

Cerpen “Ketulusan” dengan tokoh utama bernama Jalaluddin Rahmat, bagi saya, juga menarik. Cerpen itu mengisahkan penolakan Kang Jalal, demikian panggilan sang tokoh dari jamaahnya, yang melarang “orang berdiri untuk berselawat bagi Nabi” dan juga “kegiatan mauled”. Bid’ah, katanya.

Begitu membaca nama tama tokoh itu, yang hadir sebagai kata pertama dalam cerpen, saya langsung teringat Jalaluddin Rakhmat, pakar komunikasi yang juga tokoh Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi). Mantan dosen Universitas Padjadjaran, yang menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019, itu juga memiliki nama panggilan Kang Jalal. Pada 2005, saya mendapat tugas wawancara panjang dengan Kang Jalal, yang dikenal sebagai tokoh Syiah itu.

“Coba, Kang, cari delapan persamaan Kang Jalal dalam cerpen Kiai Budi dan Kang Jalal yang sampean kenal itu,” tiba-tiba Dawir menunjukkan keisengan.

Pada pengujung kisah, dalam cerpen “Ketulusan”, Kang Jalal bertobat, setelah mendapati Mbah Darwan menjemput ajal dengan indah. Di ujung sakaratul maut, Mbah Darwan, yang merupakan jemaah Kang Jalal, memberikan wasiat, “Besok pagi, buatlah selamatan bagi Kanjeng Nabi.” Wasiat itu sebagai ekspresi kecintaan kepada Rasulullah Muhammad, yang Mbah Darwan berharap mendapatkan syafaat sehingga “cinta Allah turun kepadaku”.

 

Khatam

Sebagai orang yang berangkat dari pesantren, Kiai Budi tentu sudah khatam perihal dunia santri. Berikut lika-likunya. Dia sumber yang sahih dan reliyabel untuk persoalan santri dan kesantrian. Kiai Budi kini mengasuh Pesantren Al Ishlah di Meteseh, Tembalang, Kota Semarang. Dia pernah nyantri di Pesantren Salafiyah Al-Munawwir, Gemah, Pedurungan, Kota Semarang. Dia juga dekat dengan banyak kiai, dari K.H. Mustofa Bisri (Rembang), K.H. Munif Muhammad Zuhri (Girikusumo, Mranggen, Demak), hingga Habib Lutfi (Pekalongan).

Dalam “Pengantar”, Soesilo Toer menulis, “Semua air mata yang mengalir tumpah itu kelihatannya berkat pengalaman pribadi sang kiai dengan masyarakat; di masyarakat itulah sang kiai mengembara lahir-batin. Bahkan menduga ada kisah yang terjadi dan langsung sang kiai alami; sang kiai yang mendambakan idealisme manusia dan kemanusiaan dengan kebodohan yang tersembunyi dalam otak yang cerdas ora ergo sum — saya berdoa, maka saya ada.”

Selaras dengan itu, Kiai Budi menulis dalam “Sekapur Sirih”, “Di satu sisi, muatan cerpen-cerpen itu saya ambil dari pengalaman pribadi. Di sisi lain, juga dari pengalaman orang lain serta sesuatu yang benar-benar fiktif.”

Katanya, “Semua saya niati sebagai pengayaan peradaban karena saya meyakini pola bahwa nilai-nilai ajaran atau norma bisa dilakukan melalui mozaik cara, termasuk melalui cerpen-cerpen ini. Tindakan ini, menulis cerpen, merupakan bagian dari hasrat saya mencercap cara Tuhan menyampaikan nilai-nilai melalui berbagai kisah yang tertuang dalam kitab kauliyah (tertulis). Juga sebagai cara saya mencercap kitab kauniyah yang berwujud peristiwa-peristiwa yang bergulir pada siang-malam dan mengenai siapa saja.” Nah!

Dari Kafilah Cinta, kita bisa mendapatkan pelajaran, tentang religiositas, tentang kesalehan, juga tentang kehidupan. Dari siapa saja. Bukan hanya dari kiai pengasuh pesantren atau mubalig yang sering wara-wiri di layar televisi, melainkan juga dari Mbah Tuminah, Kang Wahib, Bengong, Mbah Saleh, Riyadi, Mbah Semilah, Kang Nyono, Mbah Saripah, Mbah Kabul, Pak Trubus, Bu Semi, Kang Bagus, Kang Putu, juga Fulan dan Fulanah.

Perihal kisah-kisah yang bertolak dari kalangan santri, lebih-lebih pesantren, Kafilah Cinta tentu bukan yang pertama. Gus Yahya, K.H. Yahya Cholil Staquf, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, telah menulis sejumlah kisah, yang termuat dalam The Terong Gosong: Ketawa secara Serius (2011), dan sekuelnya, Terong Gosong Reloaded (2016). Keduanya keluaran Mata Air Publishing. Bedanya, serial Terong Gosong mengupas seputar santri, kiai, dan canda tawa keseharian.

Novel Hati Suhita karya Khilma Anis juga berangkat dari dunia pesantren. Novel itu mengisahkan perjuangan Suhita, Rengganis, dan Gus Birru, yang membuat emosi pembaca teraduk-aduk. Novel terbitan Mazaya Media (2019) itu merupakan novel best seller, dengan angka penjualan 50.000 eksemplar dalam waktu 2,5 bulan (!).

Dari sisi cara mengemas cerita, gaya Kiai Budi dalam Kafilah Cinta justru mengingatkan saya pada kumpulan esai Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) atau Mohamad Sobary. Saya merasakan warna serupa dengan kumpulan kolom Kiai Sudrun Gugat (1994) atau Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1994), keduanya karya Cak Nun, dan Kang Sejo Melihat Tuhan (1993) karya Kang Sobary.

Kesamaan gaya tulisan yang berbeda genre itu sebenarnya tidak terlalu menjadi persoalan. Toh, beda esai dan cerpen (memang) bisa teramat tipis. Gaya penulisan dalam karya-karya Sobron Aidit: Razia Agustus, yang bergenre cerpen, dan Surat kepada Tuhan, Gajah di Pelupuk Mata, atau Penalti Tanpa Wasit –ketiganya merupakan memoir — juga serupa. Nyaris tidak ada beda. Dan, semua tetap enak dinikmati.

Kalau esensi sudah tercapai, pesan sudah sampai, buat apa ribut perihal bentuk lagi. Mau cerpen, mau esai, toh tujuannya sama: menyampaikan pesan kepada pembaca. Dalam fase ini, Kiai Budi dan Kafilah Cinta-nya jelas sudah berhasil. Lebih dari berhasil malah.

Rasanya, pernyataan Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273), penyair sufi besar dari Persia, menemukan muara. “Segalanya yang kau lihat mempunyai akarnya di dalam dunia yang tak terlihat. Bentuk akan berubah, namun intisarinya tetaplah sama.” Rak ngaten ta, Yi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.