Kita Terdidik Jadi Pembisu

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

Kala itu, sehabis lulus SD YPPK Antonius Abaimaida Mapia, entah apa, aku tidak pikir pusing dan memutuskan masuk  SMP Negeri 2 Nabire. Nabire merupakan jantung dari beberapa kabupaten. Nabire juga sering jadi tempat sentral perdagangan barang dan memiliki penduduk beraneka ragam.

Hari pertama aku masuk sekolah, sesampai di sekolah, beberapa menit kemudian salah seorang guru piket melakukan apel pagi. Semua siswa dan siswi berbaris di depan kantor. Menunggu untuk mendengar pengarahan dari guru piket. Barangkali ada perihal penting yang guru piket ingin sampaikan.

“Selamat pagi, Anak-anak. Selamat datang dan selamat belajar.”

Setelah mendengar arahan, jam pertama mata pelajaran sejarah. Salah seorang guru, Ibu Elis, membuka kegiatan belajar-mengajar di ruangan kami. Selama kegiatan belajar-mengajar berlangsung, aku bersama teman-teman memilih diam. Walaupun dalam perasaan kami ingin menyodorkan pertanyaan perihal kekeliruan kami kepada sang guru.

Hampir setiap hari kami diam. Dan itu mengakar dalam ruang hidupku. Kadang  membuatku bertanya, kenapa aku sulit menyampaikan pertanyaan, meski banyak akal?

***

Itulah kisah yang Felix tulis untuk Kelas Menulis Cerpen yang saya ampu, Minggu siang, di Kedai Kopi Kang Putu. Minggu lalu, Felik membaca kisah pendek yang dia beri judul “Aku Siswa Bisu”.

Kebisuan macam itu pula yang saya hadapi ketika memberikan kuliah sejak 2008 sampai sekarang. Itulah potret umum mahasiswa yang saya temui. Mereka membisu ketika saya tanya, mereka membisu pula ketika saya minta bertanya.

Saya tidak tahu apakah kebisuan atau pembisuan mereka berpangkal dari atmosfer di persekolahan sebagaimana Felix gambarkan. Dalam beberapa kali obrolan dengan beberapa mahasiswa, saya memperoleh beberapa perkara yang membuat mereka enggan bicara di kelas, baik bertanya maupun menjawab pertanyaan.

Pertama, khawatir dianggap sok pintar. Kedua, khawatir dianggap bodoh. Ketiga, khawatir dimusuhi kawan-kawan lantaran dianggap memperlama kuliah. Keempat, khawatir dianggap mencari muka di hadapan dosen. Kelima, khawatir dipermalukan dosen di depan kawan-kawan sekelas. Kelima, khawatir….

Lantaran kekhawatiran itulah, kebanyakan mahasiswa memilih diam: membisu. Lantaran membisu, pembisuan, kebisuan itu berlangsung bertahun-tahun, secara “konsisten” dan “disiplin”, mereka pun menjadi generasi bisu, generasi (pen)diam. Jika di kelas, di kampus, terbiasa membisu, bagaimana mungkin mengharapkan mereka bicara di kelas atau kampus lebih lapang dan nyata:  kehidupan sehari-hari?

“Hei, jangan gampang menyimpulkan mereka membisu pula dalam kehidupan nyata. Boleh kausaksikan, mereka bisa amat-sangat cerewet, nyinyir, di media sosial bukan? Mereka menyinyiri apa saja sesuka-suka bukan?” sergah Kluprut.

“Bukankah pernyataanmu itu simpulan tergesa-gesa pula?” timpal saya.

“Iya! Ha-ha-ha! Kita memang bagian dari generasi yang gampang bicara tanpa data,” sahut Kluprut. “Nyinyir is the best, nyinyir is a part of human being. Ha-ha-ha….”

Saya merasa tertohok. Jujur, acap kali saya bicara atau menulis tanpa data, lalu secara gampangan dan serampangan menyimpulkan berdasar asumsi, anggapan, belaka. Menghadapi tulisan Felix, saya merasa memperoleh data. Setidaknya itulah data mengenai apa yang Felix alami, yang Felix rasakan, yang mungkin juga banyak mahasiswa alami dan rasakan: menjadi mahasiswa bisu.

“Jika benar itulah yang terjadi, bukankah tugasmu sebagai dosen mencari pemecahan? Misalnya, menciptakan atmosfer perkuliahan yang tak menjemukan, perkuliahan yang dialogis, tidak kaku, tidak searah. Adalah tugasmu bukan untuk menyampaikan materi perkuliahan – yang sulit menjadi mudah, yang kompleks menjadi terurai dan terpahami? Jadi kalau mahasiswa tak paham, bukan lantaran mereka bodoh, melainkan kaulah itu, dosen mereka, yang tak becus mengajar!” ujar Kluprut lagi.

Sialan, omongan Kluprut benar pula. Saya tak punya bekal ilmu mengajar, saya tak pandai mengajar. Saya cuma bisa menakut-nakuti mahasiswa bahwa cuma mahasiswa yang pandailah yang bakal berhasil menjalani kehidupan. Dan, celaka pula, kepandaian itu maujud dalam dan berupa angka: nilai! Itulah indeks prestasi. Sekarang, seseorang disebut pandai jika memiliki indeks prestasi di atas 3,5 sampai 4. Absolut!

“Nah, padahal kau pun dulu menempuh kuliah selama 27 semester dan indeks prestasi yang kauperoleh pun cuma 2,51 kan? Jadi, apa pula yang bisa kaugunakan untuk meyakinkan diri bahwa kau mampu dan pantas jadi dosen dan sebagai dosen mampu dan pantas pula menilai kemampuan mahasiswa?” tetak Kluprut.

“Kau tahu, aku cuma dosen luar biasa, dosen yang mengajar berdasar kemampuan profesionalku sebagai jurnalis. Sebagai jurnalis pun aku tidak punya prestasi membanggakan. Jadi, terus terang, aku memberikan kuliah berdasar pengalaman, yang tak selalu bisa kusampaikan secara sistematis, konsepsional, ilmiah. Maka, ketika mengajar, aku pun selalu berimprovisasi berdasar karakter kelas yang berbeda-beda setiap kali berganti semester dan berganti mahasiswa.”

“Maksudmu, kau tak pernah punya cara dan metode yang mapan, yang bisa kaupertanggungjawabkan bakal berdaya guna dan berhasil guna?”

“Ya. Sejujurnya, aku lebih menekankan bukan pada penguasaan pengetahuan, melainkan penguasaan kemampuan. Dan, jauh lebih penting, mengintroduksikan basis penguasaan kemampuan berdasar kejujuran. Tanpa kejujuran, omong kosong segala penguasaan kemampuan itu.”

“Apa hubungan antara penguasaan kemampuan kejurnalistikan dan pembisuan atau kebisuan?”

“Ya, setidaknya, kalaupun benar asumsimu mereka bisu di kelas tetapi nyaring bersuara di media sosial – jejaring yang berbasis perangkat teknologi informasi yang tak tertolak, yang memungkinkan siapa pun sekarang bisa bersuara, berpendapat, secara terbuka di ruang publik nyaris tanpa sensor – bisalah saya berharap kelak mereka tidak memproduksi kabar bohong, hoaks. Mereka juga mampu membedakan dan menilai mana kabar bohong mana tidak. Itu sudah mencukupi.”

“Kalau cuma itu target keluaran kuliah yang kaupatok, bagaimana tanggung jawabmu agar mereka tidak menjadi pembisu? Bukankah kau tak hendak membuat mereka tetap jadi pendiam kelak ketika sudah lulus?”

Pertanyaan yang tak mudah saya jawab. Namun, sebenarnya, dalam kehidupan nyata, di kampung saya, orang-orang pun membisu saat semestinya butuh atau diperlukan bicara,misalnya saat rapat atau pertemuan warga tingkat rukun tetangga (RT). Namun toh sama-saja, mereka nyaris tak mau atau tak pernah bicara. Mereka bicara justru ketika pertemuan usai. Mayoritas diam, silent majority, itulah senyatanya.

Jadi, bukan cuma siswa yang membisu, bukan cuma mahasiswa yang membisu, masyarakat pun membisu – justru ketika seharusnya bicara. Dan, mereka bicara justru ketika seharusnya bekerja. Ya, kita terdidik menjadi pembisu saat dibutuhkan bicara dan terdidik bicara saat seharusnya bekerja.

“Benarkah? Jangan-jangan itu cuma simpulan serampangan!” tetak Kluprut. “Dan kau, kau tak merasa perlu untuk mengubah keadaan?”

Sungguh, lagi-lagi ini pertanyaan yang tak mudah saya jawab, apalagi mewujudkan: mengubah pembisuan.

Patemon, 8 Januari 2020: 16.24

 

Gambar: kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.