Kontestasi Pemakaian Jilbab di Semarang Tahun 1980an (Bagian 1)

Spread the love

Oleh Tri Bagus Suryahadi

 

Islam di Indonesia: Sebuah Prakondisi

Di Indonesia, Islam merupakan agama mayoritas. Meskipun begitu, negara ini turut pula mengakui beberapa agama lain di luar Islam. Terlepas dari kondisi yang mengamini dominasi Islam tersebut sebagai satu identitas keagamaan, masyarakat Islam Indonesia sendiri memiliki keberagaman dalam mengekspresikan keberagamaan di antara mereka.

Hal ini memunculkan identitas-identitas yang berbeda di antara masyarakat Islam sendiri. Ini menjadi hal yang wajar, mengingat pengaruh dari praktik-praktik kultural yang menyejarah dalam perkembangan masyarakat di Indonesia, tercermin lewat pengaruh agama-agama awal. Maka dari itu pemahaman akan Islam di Indonesia menjadi bervariasi.

M.C. Ricklefs juga berpandangan demikian. Ia menulis bahwa:

Islam Indonesia memang menonjol karena keanekaragamannya. Semua kaum muslim Indonesia pada dasarnya adalah kaum Sunni (Ortodoks, dibedakan dari kaum Syiah) dan merupakan penganut mazhab Syafi’i yang didirikan di Timur Tengah pada akhir abad VIII dan awal abad XI masehi. Banyak pula orang Indonesia yang saleh terlibat dalam mistik sufi; tarekat-tarekat Syattariyah, Qadiriyah, dan Naqsyabandiyah sangat kuat. Akan tetapi, di balik keseragaman yang tampak ini terdapat banyak perbadaan, kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam dan ketidaktahuan. Seperti halnya di semua tempat di mana terdapat salah satu agama besar dunia, Islam di Indonesia banyak dipengaruhi oleh banyak adat dan ide lokal[i].

Clifford Geertz pernah mengklasifikasi masyarakat Jawa ke dalam kategori Priyayi, Santri dan Abangan[ii]. Sedangkan komunitas muslim di Jawa dibagun dengan beragam perbedaan dalam memaknai ketaatan dalam Islam. Hal ini ditunjukkan secara gamblang dalam perbadaan cara beribadah dan bagaimana cara mereka berpakaian. Santri dianggap memiliki nilai-nilai ketakwaan yang lebih tinggi, ketimbang kaum Abangan.

Penggunaan penutup kepala oleh perempuan muslim menyimbolkan kesalehan/kealiman dan kesopanan yang didorong pula oleh tradisi masyarakat Islam dunia secara umum. Maka, perempuan akan dianggap memiliki nilai kesalehan lebih jika berkerudung, dan hal yang sama terjadi pada laki-laki yang berkopyah[iii].

Keberagaman yang ada dalam Islam di Indonesia juga termanifestasikan ke dalam organisasi-organisasi kemasyarakatan berbasis Islam. Dalam sejarah pembentukan organisasi Islam di Indonesia, Muhammadiyah menjadi organisasi yang pertama lahir[iv]. Sejak kelahirannya, Muhammadiyah menjadi bagian dari organisasi pembaharu (reformist organization) Islam di Jawa.

Gerakan-gerakan pembaharu Islam diawali dengan adanya gerakan yang disebut Modernisme atau Islam Modern di Timur Tengah yang diprakarsai beberapa tokoh di antranya: Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha, dan Muhammad ‘Abduh. Islam Modern berpandangan bahwa Islam, harus terlibat dalam kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan Barat, untuk mengangkat peradaban Islam keluar dari zaman kebodohan, ketakhayulan, dan kemunduran[v].

Muhammadiyah menjadi organisasi Islam Modern paling penting di Jawa. Misi awal Muhammadiyah adalah mencurahkan kegiatannya pada usaha-usaha pendidikan serta kesejahteraan yang selalu dibalut dengan misi dakwah Islamiyah. Sejak kelahiran Muhammadiyah pula, kebiasaan cara hidup Islami terus disosialisasikan, sebagai misi Muhammadiyah sendiri untuk mendidik masyarakat Jawa dengan “cara Islam”.

Pemakaian kerudung menjadi satu hal yang terus disosialisasikan oleh KH. Ahmad Dahlan dan dibantu oleh sang istri Siti Walidah di Kauman, Yogyakarta. Aisyiyah[vi] bersama Nasyiatul Aisyiyah[vii] sebagai organisasi perempuan yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, kala itu juga secara aktif, terus menganjurkan perempuan Islam di Indonesia—Jawa khususnya—untuk memakai kerudung.

Deny Hamdani mencatat, kaum perempuan Muhammadiyah pada awalnya memakai penutup kepala gaya Minang, dan memadukan kerudung yang longgar dan ketat. Pada tahun 1950-an, belum ada kewajiban memakai kerudung. Pada tahun 1970-an, di UGM (Universitas Gajah Mada), pemakai kerudung tetap menjadi minoritas. Namun, pemakaiannya mulai dikampanyekan utamanya oleh aktivis Islam (Nasyiatul Aisyiyah menjadi bagian di dalamnya) pada institusi pendidikan sekuler[viii].

 Kedua, adalah Nahdlatul Ulama (NU), yang menjadi satu organisasi kemasyarakatan dengan basis massa terbesar di Indonesia. NU lahir pada tahun 1926, bersamaan dengan periode bangkitnya semangat nasionalisme di Hindia-Belanda. NU menjadi satu perkumpulan yang diinisiasi kalangan pesantren, dengan para Kyai/Ulama yang menjadi bagian dari elit masyarakat Jawa sebagai figur pendiri organisasi.

Gagasan besar NU adalah meneguhkan Islam yang berlandaskan ideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja)[ix]. NU biasanya dikenal sebagai organisasi yang berhaluan “tradisional” yang dilawankan dengan “modernis”. Meskipun begitu, dalam perjalanannya, banyak tokoh-tokoh NU yang berpandangan jauh lebih liberal ketimbang Muhammadiyah yang dikenal modernis, seperti Ulil Abshar Abdala, Abdurrahman Wahid, Said Aqil Siradj, dan Husein Muhammad[x].

NU sempat berkecimpung dalam perpolitikan nasional, dan menjadi salah satu partai politik yang cukup terpandang di parlemen sepanjang pemerintahan Suharto. Meskipun dalam perjalanannya, tak sekalipun mampu mengalahkan dominasi Golongan Karya (Golkar) dan ABRI di parlemen. Ketika PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dipimpin KH. Abdurrahman Wahid, NU memutuskan kembali ke khittah, dengan kembali bergerak pada ranah sosial kemasyarakatan, bukan politik praktis.

Simbol-simbol sebagai identitas “orang NU” biasanya terwujud lewat budaya tradisional pesantren. Beragam budaya seperti tahlil, sholawatan, ataupun ziarah kubur menjadi contoh tradisi yang telah dikenal sebagai “milik” orang NU. Dalam cara berpakaian, juga terdapat simbol-simbol yang tak hanya sebagai penutup tubuh, namun juga membawa identitas ke-NU-an. Pemakaian sarung dan peci khas pesantren bagi laki-laki adalah simbol-simbol yang menyiratkan latar belakang ke-NU-an seseorang.

Perempuan, secara struktur organisasi NU bukan menjadi bagian di dalamnya, meskipun secara emosional dan budaya berafiliasi dengannya. Meski begitu, NU tetap memiliki organisasi sayap (biasanya disebut badan otonom) yang anggotanya kaum perempuan, yakni Muslimat[xi], Fatayat[xii], dan IPPNU[xiii]. Cara perempuan NU mengekspresikan ritual keagaman maupun akhlak, mengadopsi dari gagasan besar NU soal Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Berbeda dengan apa yang terjadi di Timur Tengah yang membatasi ruang gerak perempuan terbatas pada ranah privat,  penggunaan kerudung bagi perempuan NU tidak menghalangi mereka dari aktivitas publik, sebagai contoh dalam politik. Perempuan NU biasanya memakai kerudung pada aktivitas di luar rumah. Mereka juga biasanya tetap memakai kebaya sebagai identitas Jawa, ataupun memakai baju dengan bahan kain.

Namun, sejak lama telah berkembang stereotip yang mengatakan kerudung hanya dipakai kalangan santri. Ini dikatakan sebagai sesuatu yang tidak fashionable pada beberapa puluh tahun lalu. Farida Sholahuddin Wahid mengungkapkan bahwa pemakai kerudung masih menjadi kaum minoritas pada tahun 1970-an hingga 1980-an. Perempuan (khususnya remaja putri) yang memakainya akan diejek dan dihina dengan julukan sebagai anak kyai (pemimpin tradisional Islam di Jawa)[xiv].

Jenis kerudung yang biasanya dipakai perempuan NU berbeda dengan yang biasa dipakai perempuan Arab. Mereka memang sengaja tidak mengadopsi kerudung yang menutup dari kepala hingga pinggul terkecuali wajah. Bagi perempuan NU, cara mereka berkerudung biasanya meniru dengan apa yang dicontohkan Ibu Nyai (istri dari seorang kyai). Mereka biasanya mengenakan penutup kepala secara sederhana, hanya dengan selembar kain yang dibalutkan di kepala secara longgar. Hal ini dikarenakan iklim dan budaya yang berbeda dengan apa yang terjadi di Arab.

Di luar dua organisasi besar di atas, dalam gerakan Islam, telah tumbuh apa yang kemudian sangat dikenal sebagai aliran fundamentalis. Aliran ini lahir bukan dari rahim golongan NU tradisionalis, melainkan justru dari kalangan modernis. Dalam momenklatur gerakan Islam, aliran ini disebut sebagai Salafiyah yang berorientasi pada pandangan para pendahulu yang masih dekat dengan generasi Nabi. Mereka beranggapan bahwa Islam yang hidup pada waktu itulah yang merupakan Islam yang paling otentik. Mereka berpegang pada ajaran yang paling otentik, asli, dan murni[xv]. Maka gagasan-gagasan yang sering dilontarkan adalah “kembali ke Islam” ataupun “kembali ke Al-Qur’an”.

Pada masa pemerintahan Suharto, penyebaran gagasan Islam fundamentalis sangat dipengaruhi gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Mereka bergerak secara “bawah tanah”, mengingat rezim otoriter Suharto yang akan menindak tegas tiap-tiap organisasi kemasyarakatan yang berbau politis. Dalam ranah pelajar, gerakan  ini tercermin lewat dua organisasi yakni HMI-MPO[xvi] yang bergerak pada lini kampus dan PII (Pelajar Islam Indonesia) pada level pelajar SMA.

Di tengah berlangsungnya tindakan represif pemerintahan Suharto, gerakan inilah yang paling getol melakukan training dan pembinaan-pembinaan bagi pemuda Islam. Kuatnya kader-kader muda yang militan membuat gerakan ini terus mengalami perkembangan pesat, dan makin ideologis. Gerakan jilbab pada sekolah-sekolah sekuler pada tahun 1980-an, tidak lepas dari gerakan kalangan fundamentalis yang terus mengkampanyekan pemakaian jilbab lewat dakwah-dakwah kampus dan sekolah[xvii].

Identitas kaum fundamental, bagi masyarakat awam, biasanya tercermin lewat bagaimana mereka berpakaian. Bagi perempuan, biasanya memakai jilbab besar yang menutupi kepala hingga dada, bahkan sampai bawah hingga paha. Kesadaran untuk berpakaian demikian, biasanya dilandasi berbagai dalil yang dipercaya sebagai cara hidup (way of life) umat Islam.

Landasan kuat mereka adalah dalam mengartikan Al-Qur’an surat An-Nuur (24):31 dan Al-Ahzab (33):59 yang menerangkan bahwa perempuan hendaklah menutup aurat mereka, dan memakai jilbab yang tertutup hingga dada[xviii]. Pemakaian cadar oleh beberapa diantara mereka juga diklaim sebagai bagian dari gerakan fundamentalis bahkan ekstremis. Namun, anggapan dengan cara menggeneralisir semacam ini dinilai sangat lemah, mengingat bagaimana cara seorang individu berpakaian juga menjadi hak masing-masing individu tersebut  untuk memilih.

Beragamnya identitas keislaman di Indonesia (sebagaimana yang telah disebutkan di atas), pada masa pemerintahan Suharto sempat direduksi secara politik. Beragam partai Islam yang sebetulnya berbeda secara kultur tradisi, paradigma, bahkan ideologi, dipaksa bersatu ke dalam satu partai yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dengan hanya diperbolehkan berasas tunggal yakni Pancasila. Tidak berhenti sampai di sana. Simbol-simbol keislaman juga mengalami beragam pencekalan di ruang-ruang publik, baik itu berupa ekspresi keagamaan, kesenian, hingga pada hal seremeh pakaian, tak lepas dari campur tangan negara di dalamnya.

Catatan Akhir

[i]M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: UGM Press, 2007), hlm. 255.

[ii]Selengkapnya lihat Clifford Geertz, Agama Jawa: Abangan Santri Priyayi dalam Kebudayaan Jawa. (Jakarta: Komunitas Bambu, 2014).

[iii]Clifford Geertz, dalam Deny Hamdani, The Quest for Indonesian Islam: Contestation and Consensus Concerning Veiling. (Canberra: ANU, 2007), hlm. 25.

[iv]Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912, di Kauman, Yogyakarta.

[v]M.C. Ricklefs, op.cit., hlm. 256-261.

[vi]Aisyiyah berdiri pada tahun 1914, dengan nama awal Sapa Tresna. Merupakan organisasi perempuan yang berafiliasi dengan Muhammadiyah. Secara umum anggota Aisyiah adalah para wanita dengan latar belakang kemuhammadiyahan dengan mengajarkan kaum wanita untuk memahami secara utuh mengenai Islam sebagai way of life.

[vii]Nasyiatul Aisyiyah berdiri lima tahun setelah Aisyiyah yakni pada tahun 1919, nama sebelumnya dari organisasi ini adalah Siswa Praja Wanita. Merupakan organisasi perempuan yang anggotanya berusia lebih muda dari Aisyiah.

[viii]Deny Hamdani, The Quest for Indonesian Islam: Contestation and Consensus Concerning Veiling. (Canberra: ANU, 2007) hlm. 26-29.

[ix]Aswaja (dalam bentuk sederhananya) berarti pengikut tradisi Nabi dan para pengikutnya, lihat Deny Hamdani, op.cit., hlm. 36.

[x]M Dawam Raharjo, “Nahdlatul Ulama dan Politik”, dalam Asep Saeful Muhtadi, Komunikasi Politik Nahdlatul Ulama Pergulatan Pemikiran Politik Radikal dan Akomodatif, (Jakarta: LP3ES, 2004), hlm. Xxiv.

[xi]Muslimat adalah organisasi perempuan yang menjadi banom NU. Kader Muslimat biasanya berusia di atas 40 tahun. Tujuan organisasi adalah meningkatkan kesejahteraan dan martabat perempuan muslim. Muslimat mengakomodir koneksi dari ribuan desa dan jutaan perempuan, dengan jenjang tingkatan nasional, provinsi, distrik, sub-distrik, hingga tingkat lokal.

[xii]Fatayat merupakan organisasi yang di peruntukkan bagi perempuan muda NU (berusia diantara 20 – 40 tahun). Fokus utama organisasi ini adalah soal pelatihan kepemimpinan, dasar-dasar keislaman dari managemen organisasi, dan dasar-dasar ke-NU-an. Didirikan pada tahun 1950. Secara struktur ogranisasi Fatayat juga mengikuti Muslimat.

[xiii]IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama), adalah organisasi perempuan NU pada level pelajar. IPPNU bersama IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) merupakan jenjang pengkaderan NU paling dasar.

[xiv]Deny Hamdani, op.cit., hlm. 36-44.

[xv]M Dawam Rahardjo, op.cit., hlm. Xxv.

[xvi]HMI-MPO (Himpunan Mahasiswa Islam – Majelis Penyelamat Organisasi) adalah pecahan dari HMI sendiri.

[xvii]Alwi Alatas, Kasus Jilbab di Sekolah-Sekolah Negeri di Indonesia Tahun 1982-1991, (Jakarta:2007) hlm. 5-6.

[xviii]Untuk terjemahan yang biasa dipakai adalah Al-Qur’an Terjemahan yang dikeluarkan Kementerian Agama.

Editor: Bagas Yusuf

Sumber Gambar: Alif.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.