Kontestasi Pemakaian Jilbab di Semarang Tahun 1980an (Bagian 3)

Spread the love

Oleh Tri Bagus Suryahadi

A. Bangkitnya Simbol-Simbol Keislaman dan Orang Kaya Baru

Taufik Abdullah pernah menganalisis secara historis perihal bagaimana gerakan Islam pada tahun 1980-an, yang disebutnya sebagai “gelombang kelima” dalam sejarah pergolakan Islam. Ia memiliki beberapa patokan umum sebagai pisau analisisnya. Pertama, pentingnya konteks komunitas Islam. Menurutnya, meskipun renungan keagamaan bisa saja bermula dari renungan perseorangan, tetapi sebagai gejala “sejarah intelektual”. Kesemuanya baru berarti dalam konteks komunitas Islam. Kedua, pemikiran Islam harus didasarkan pada kesadaran tauhid, pengakuan keesaan Allah. Ketiga, pemahaman bahwa proses Islamisasi sebagai sesuatu yang menyejarah dan mangalami kondisi yang terus bergerak. Keempat, pentingnya kesadaran geografis, dengan ini kondisi di daerah satu bisa saja berbeda dengan daerah lainnya.

Dengan keempat landasan ini, Taufik Abdullah mengamati situasi masyarakat muslim di Indonesia telah memasuki “gelombang kelima” yang bercirikan antara lain oleh sifatnya yang kosmopoltan dan Internasional, serta melibatkan golongan terpelajar (sekuler) dan generasi muda. Periode ini juga ditandai dengan berbagai “revolusi” komunikasi dan informasi, yang membuat masyarakat pembaca makin meluas dan mereka terjembatani soal pengetahuan, lewat karya-karya terjemahan. Di samping itu, peran sentral media elektronik mempunyai kemungkinan untuk mengurangi monopoli ulama sebagai “perumus realitas”[1].

Alwi Alatas mengamati fenomena bangkitnya Islam di Indonesia pada tahun 80-an, sebagai perpanjangan tangan dari apa yang terjadi pada umat Islam dalam konteks global. Ia menulis:

Tahun 1970-an merupakan tahun yang penuh pergolakan di dunia Islam. Berbagai peristiwa penting seolah menandai geliat baru umat Islam di berbagai negara. Mulai dari Perang Ramadhan (1973), embargo minyak Arab yang dipimpin oleh Raja Faisal (1973), berkuasanya Zia Ul-Haq di Pakistan berikut program Islamisasinya (1977), dimulainya jihad Afghanistan (1979), hingga berkuasanya Khomeini lewat Revolusi Iran (1979). Mungkin dalam kaitan ini pula abad XV Hijriah, yang dimulai pada tahun 1400 H, ditetapkan sebagai abad kebangkitan Islam. Gagasan kebangkitan Islam ini terus bergulir selama tahun-tahun berikutnya[2].

Berbagai momentum besar pada tahun 1970-an di Timur Tengah ini, menjadi fakor eksternal ketika melihat makin masifnya gairah keberislaman masyarakat Indonesia pada tahun 1980-an. Menjamurnya jilbab tidak lepas dari pengaruh Revolusi Iran yang berimbas pada banyaknya perempuan Iran yang berjilbab. Dan ini tersebar luas sampai Indonesia, lewat pemberitaan pada media massa. Meski begitu, nampaknya faktor ini lebih bersifat emosional ketimbang ideologis, mengingat Syiah di Iran tidak banyak berkembang di Indonesia.

Faktor lain nampaknya muncul lewat gagasan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang masuk ke Indonesia lewat buku-buku tokohnya yang banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia[3]. Sebagaimana disinggung di atas, mereka juga melakukan penyebaran gagasan lewat beragam training pemuda (khususnya mahasiswa), lewat dakwah-dakwah Islam di masjid-masjid kampus.

Berbeda dengan Alwi, Ihsan Ali Fauzi justru menyebut perkembangan Islam pada tahun 1980-an sudah seharusnya dilacak dalam konteks dinamika internalnya sendiri dan lepas dari perbandingannya dalam konteks global. Sebab, umat Islam Indonesia sudah merupakan bagian penting dalam konsep keindonesiaan, dan Indonesia memiliki konteks historis dan persoalan sendiri, yang tidak sepenuhnya sama dengan konteks historis dan persoalan-persoalan yang dihadapi kaum muslimin di kawasan lain, bahkan kaum muslimin pendahulunya[4].

Kuntowijoyo nampaknya juga sepakat, ketika melihat situasi muslim Indonesia yang di matanya selalu menjadi objek, dan bukan subjek, yang memiliki kemandirian cara berfikir. Tulis Kunto:

Masa depan Indonesia adalah masa depan umat Islam. Kita harus memerankan diri sebagai agen dari pelbagai perubahan, ketika kita berkepentingan dalam perubahan-perubahan itu. [….] Cendekiwan muslim harus bisa memadukan kepentingan nasional dengan kepentingan Islam. Ini akan menjadi langkah strategis agar umat Islam tidak selalu dijadikan obyek atau bulan-bulanan dari perjalanan sejarah. Umat Islam harus kembali memegang posisinya sebagai suatu golongan yang “menggerakkan sejarah” dan bukan sebagai “beban sejarah”[5].

Dengan kesadaran berfikir semacam ini, maka Islamisasi yang terjadi pada tahun 1980-an merupakan sebuah fenomena yang perlu dinarasikan lewat analisis historis dengan subjek dan objek kaum muslim Indonesia sendiri. Maka, pendidikan di Indonesia pada tahun 1970-an, penting untuk dianalisis sebagai tonggak pengembangan para intelektual Islam. Mengapa? Nurcholis Madjid mengungkapkan bahwa umat Islam di Indonesia baru dapat secara bebas memasuki dunia perguruan tinggi sejak dekade 60-an.

Sebelumnya, geliat untuk mengenyam pendidikan tinggi belumlah besar, entah karena politik pendidikan penjajah Belanda yang diskriminatif, maupun karena sikap kalangan Islam yang antikompromi. Sedangkan, pada tahun 1970-an adalah periode ketika untuk pertama kalinya bangsa Indoesia “kebanjiran” lulusan perguruan tinggi dalam negeri, dan mayoritas mereka adalah santri. Maka pada periode 1980-an, bangsa Indonesia dikaruniai banyaknya intelektual-intelektual besar ketimbang periode sebelumnya. Membludaknya sarjana-sarjana yang mayoritas adalah seorang muslim ini, juga telah mengangkat semangat kritis di antara mereka, untuk kian peduli pada persoalan-persoalan sosial dan politik[6].

Seiring makin banyaknya para intelektual muslim, jumlah bacaan mengenai Islam juga kian berkembang. Penerbitan buku-buku Islam juga terbilang sangat pesat. Majalah Tempo bahkan pernah menyimpulkan bahwa tren bacaan tahun 1980-an adalah buku-buku bertema Islam. Buku-buku terjemahan juga kian banyak diterbitkan, seiring hausnya sarjana Indonesia untuk memperoleh informasi dari luar. Berbagai majalah Islam juga banyak terbit, juga beragam jurnal-jurnal berkala mengenai pemikiran Islam[7].

Periode tahun 1980-an hingga 1990-an juga ditandai dengan meningkatnya perekonomian nasional, yang mana sedikit banyak memiliki berbagai pengaruh sosial seiring makin bermunculannya orang kaya baru di perkotaan. Kota-kota di Indonesia menjadi ramai dan mecet penuh dengan tanda-tanda industrialisasi seperti masifnya: blok perkantoran, perumahan, mobil, sepeda motor, kemacetan lalu lintas, polusi, telepon seluler, perancang busana, pusat perbelanjaan, toko, dan iklan, semakin bermunculan.

Pada dekade 90-an, sepeda motor meningkat dari 2,3 per 100 rumah tangga menjadi 7,7 dan telepon seluler meningkat dari 1,3 ke 10. Selama peiode yang sama, belanja konsumen meningkat dengan faktor 7,6 (dari 117.120 milyar rupiah menjadi 888.631 milyar rupiah). Media massa juga bertumbuh pesat, yang memfasilitasi peredaran lebih banyak gambar, informasi dan iklan[8].

Meningkatnya media massa, terutama kaset dan televisi juga telah banyak mempengaruhi bentuk-bentuk kebudayaan di dalam masyarakat. Analisis yang cukup kritis disampaikan Ariel Heryanto mengenai budaya konsumsi:

Gaya hidup dan budaya konsumen tidak hanya menempati bagian besar dari belanja kuantitatif dan wacana publik bangsa. Mereka telah berpartisipasi, paling tidak, dalam dinamika perubahan hirarki sosial bangsa, yang memberikan profil baru untuk orang kaya baru, dan memodifikasi atau menurunkan profil orang lain. Gaya hidup telah menjadi sebuah faktor penting untuk konstruksi, negosiasi, dan kotestasi identitas di Indonesia[9].

Dengan ini, maka ketika budaya konsumsi menjadi satu kondisi yang menjangkiti masyarakat kelas menengah perkotaan, perluasan akan beragam budaya yang kehadirnya bersandingan dengan budaya konsumsi, kian meluas di Indonesia. Program kebudayaan pemerintah juga turut berkontestasi dengan banjirnya kebudayaan baru ini.

Kemudian, jika kita tarik persoalan mengenai makin meluasnya kebudayaan konsumsi yang diawali lewat meningkatnya perekonomian kelas menengah dengan perkembangan Islam, maka beragam peningkatan dalam pengekspresian Islam sebagaimana yang telah disinggung di atas, tidak bisa lepas dari situasi sosial ekonomi masyarakat. Maka, membanjirnya pemakaian jilbab oleh perempuan Islam tidak cukup dilihat dalam kaca mata gerakan Islam semata.

Namun melihat fenomena ini bisa dari berbagai sudut pandang, sebagaimana yang tertuang dalam kumpulan puisi Emha Ainun Nadjib, Lautan Jilbab[10]. Hal ini tercermin lewat hadinya jilbab di “karpet merah”. Adalah peragaan busana muslim, yang untuk pertama kalinya muncul pada tahun 1989 di Yogyakarta, dengan peserta se-Jawa Tengah dan DIY. Kegiatan ini diselenggarakan Papmi Yogyakarta yang menyelenggarakan acara ini atas dasar amatan mereka atas banyaknya geliat siswa sekolah dan mahasiwa yang gemar mengenakan jilbab[11].

Peristiwa ini jelas menjadi kabar yang menunjukkan makin meningkatnya nilai perempuan yang mengenakan jilbab. Ketika orang memakai jilbab, mereka tidak berlokasi di ruang peribadatan seperti masjid, namun justru di peragaan busana! Dari sini sebagaimana disinggung di atas pula, gaya hidup telah menjadikan jilbab tidak hanya sebatas penutup aurat sesuai hukum Islam (meskipun hal ini jelas menjadi tonggak awal semangat berjilbab di masyarakat), namun seorang perempuan yang memilih memakai jilbab, bisa hadir atas dorongan yang berbeda-beda.

Catatan Akhir:

[1] Taufik Abdullah, “Pemikiran Islam di Nusantara dalam Perspektif Sejarah: Sebuah Sketsa”, dalam Prisma, Generasi Baru Pemikiran Islam edisi Maret 1991, hlm. 17-24

[2] Alwi Alatas, op.cit., hlm. 5.

[3]Ibid., hlm 6.

[4] Ihsan Ali Fauzi, “Pemikiran Islam Indoesia Dekade 1980-an”, dalam Prisma, op.cit., hlm. 36.

[5] Kuntowijoyo, Dinamika Sejarah Umat Islam, dalam ibid.

[6] Nurcholis Madjid, Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan,2008), hlm. 81-84.

[7] Ihsan Ali Fauzi, op.cit., hlm. 39-41.

[8]Tod Jones, op.cit., hlm. 167.

[9] Ariel Heryanto, dalam Tod Jones, ibid.

[10] Lautan Jilbab adalah buku berisi kumpulan puisi yang terbit pada tahun 1989. Pada salah satu puisi berjudul Di Awang-Uwung, Emha menggambarkan bagaimana semangat berjilbab bisa hadir dari mana saja. Berikut beberapa baitnya: “[…] Lihatlah jilbab-jilbab itu. Ada yang nekad hendak menguak kabut sejarah. Ada yang hanya sibuk berdoa saja. Ada yang tiap hari berunding bagaimana membelah tembok di hadapannya. Ada yang berjam-jam merenungkan warna dan model jilbab mana yang paling tampak ceria dan trendy. Ada yang berduyun-duyun menyerbu wilayah-wilayah gelap yang disembunyikan oleh generasi tua mereka. Ada yang sekedar bergaya. Ada yang mengepalkan tangan dan seperti hendak memberontak. Ada yang menghabiskan waktu untuk bersenda gurau. Ada yang tak menoleh ke kiri ke kanan karena terlalu erat mendekap pinggang kekasih-nya di dalam kendaraan. Lihatlah, apakah kau tahu mereka ini generasi jilbab dari jaman apa?” Lihat Emha Ainun Nadjib, dalam Dwi Royanto, Analisis Kumpulan Puisi Lautan Jilbab Karya Emha Ainun Nadjib Dalam Perspektif Psikologi Islami, Skripsi, (Semarang: IAIN Walisongo, 2011)

[11] Suara Merdeka, 4 Januari 1989.

Gambar: Alif.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.