Kooperasi dan Pentingnya Notulensi

Spread the love

Oleh Bagas Yusuf Kausan

Belum lama ini, seorang kawan berinisial NRA, mengirim sebuah notulensi di grup WhatsApp Kooperasi. Notulensi itu berisi tentang cerita pengalaman mengikuti kegiatan sebuah Kooperasi di Yogyakarta. Ada dua orang anggota Kooperasi yang berangkat ke sana. Dan NRA bukan salah satunya. Jadi, NRA mengambil posisi sebagai juru tulis; mendengarkan cerita DM dan WPU, lalu mewartakannya kepada anggota lain dalam bentuk tulisan.

Apa yang dilakukan NRA menarik. Sebab, dari kerja-kerja tak-terlihatnya, anggota lain dapat mendapatkan pasokan informasi terkait perkembangan terbaru Kooperasi dan hal ihwal apa saja yang bisa didiskusikan. Meskipun, tentu saja, tidak semua anggota (dalam grup WA) membaca notulensi NRA. Barangkali ada yang tidak sengaja mengunduh karena fitur unduh otomatis, mengunduh namun tidak membacanya, atau memang sengaja mengabaikan.

Penyebab seseorang mengabaikan notulensi pun beragam. Bisa karena sibuk, malas membaca, tidak menilai itu sesuatu yang penting, atau benar-benar tidak peduli sama sekali. Meski itu buruk, dalam sebuah grup WA organisasi, pengabaian semacam itu semakin lumrah terjadi. Alhasil, apa yang diharapkan dari kehadiran notulensi itu pun menghilang, tenggelam, dan tertutup topik lain yang, kerap kali, justru tidak penting.

Padahal, selain memiliki fungsi sebagai perekam dinamika internal organisasi, notulensi jelas memiliki fungsi teknis. Semisal, sebagai acuan untuk bergerak dan bahan merefleksikan tindakan sebelumnya. Poin ini akan saya sorot kembali di bagian selanjutnya.

Bahkan, jangankan menganggap notulensi itu penting, sosok sang notulis pun kerap terlupakan. Setidaknya kenyataan itulah yang saya lihat di lingkungan terdekat saya, apapun bentuk perkumpulannya. Seperti di dunia ‘aktivisme’ kampus misalnya. Kerja notulis sering tidak dianggap penting dan jauh dari kata progresif. Singkatnya, seorang notulis kalah gahar dan keren dari seorang orator demonstrasi. Meskipun kedua peran itu sama pentingnya.

Kerja notulis rapat atau diskusi, bahkan termasuk dalam kerja-kerja administratif, memang jauh dari sorotan kamera. Jenis peran itu sering kali diposisikan nomor dua. Tidak jarang, jika dalam perkumpulan itu terdapat seorang perempuan, maka peran itu akan langsung diamanatkan kepada perempuan tersebut. Tidak berlaku universal memang. Di luar sana banyak juga laki-laki yang mengemban tugas sebagai notulis, atau bahkan sekretaris. Seperti pada kasus NRA misalnya.

Namun sependek pengalaman saya, pola ajeg menjadikan perempuan sebagai sekretaris masih sering terjadi. Seperti pada pengalaman saya belum lama ini misalnya. Secara tidak sengaja saya nimbrung dalam agenda evaluasi aksi. Seorang kawan berinisial GCP (laki-laki) memimpin rapat, sementara sang pacar bertugas mencatat. Pola seperti ini berulang dan sialnya, terserap ke dunia digital. Tidak heran, ketika memasukan kata ‘sekretaris’ ke dalam mesin pencarian (google), deretan paling atas (dalam bentuk gambar) memunculkan sosok perempuan. Apakah ini kebetulan belaka?

Dengan demikian, kerja notulis—yang sering dianggap merupakan salah satu tugas seorang sekretaris—berkelindan dengan persoalan gender. Di tengah masyarakat yang masih patriarkis, pola ini semakin memperuncing dua hal sekaligus. Pertama, bias gender. Kedua, semakin menyepelekan kerja seorang notulis. Dalam skala yang lebih luas, pola tersebut jelas preseden buruk bagi organisasi. Apalagi jika organisasi tersebut memiliki visi soal ‘kehidupan yang lebih baik, adil, bagi semua makhluk’.

Kembali ke soal Kooperasi. Sudah disebutkan sebelumnya bahwa notulensi memiliki fungsi teknis. Saya akan menyorot ini dengan menyeberang ke Amerika Latin. Lebih spesifik, ke konteks bagaimana Che Guevara turut membangun (ekonomi) Kuba. Meskipun, sebenarnya, sudah banyak sekali tulisan dalam bentuk artikel atau buku yang membahas Che Guevara atau Kuba. Jumlahnya sangat banyak, berserak di media-media daring. Bahkan potret wajah Che pun sudah tersebar di mana-mana; di tembok, kaos, poster, bahkan di stadion. Namun ada satu potong cerita tentang Che dan Kuba yang kerap luput tersorot yakni: peran penting notulensi[i].

Tanpa bermaksud mengesampingkan peran tokoh-tokoh lain, Che memang memiliki andil besar dalam proses pembangunan ekonomi di Kuba. Hal itu terjadi pada masa revolusi, setelah pasukan bersenjata berhasil menggulingkan rezim Presiden Batista. Setelah itu, Fidel Castro menjadi pemimpin dan Che Guevara mengemban tugas di beberapa pos penting. Saat itu Kuba sedang dalam tahap membangun tata ekonomi-politik-sosial-budaya yang berlainan. Singkatnya, sedang bergelut pada fase transisi menuju sosialisme. Tidak heran, banyak sekali terjadi perombakan besar-besaran.

Dalam mengurai keruwetan persoalan teknis untuk membangun ekonomi Kuba, Che menghindari betul solusi-solusi baku. Sekalipun itu dari Uni Soviet. Solusi untuk pemasalahan teknis justru dihasilkan dari proses diskusi panjang. Sering kali baru berlangsung sejak malam hingga pagi hari. Proses diskusi tercatat rapi, sehingga keesokan hari bisa langsung disebarkan sebagai acuan. Jika menemui kendala baru, notulensi diskusi dibaca kembali, didiskusikan lagi, dan menghasilkan notulensi baru. Begitu seterusnya.

Pada saat itu, pembiasaan tersebut berlaku pula di sektor industri. Buruh-buruh industri Kuba yang telah dinasionalisasi, terbiasa menggelar rapat dengan sangat tertib; tidak dapat dimulai buruh yang datang kurang dari 70% dan wajib membuat notulensi rapat. Catatan rapat itu kemudian disebarkan agar seluruh buruh mendapat informasi dan dapat menentukan analisa lebih lanjut. Selain itu, notulensi pun diberikan kepada para administrator sehingga hasil rapat dapat segera ditindaklanjuti. Hasilnya sangat dinamis: persoalan teratasi dengan cepat dan perubahan terus menerus terjadi.

Dalam konteks Kuba, notulensi tidak semata sebagai elemen pelengkap keberlangsungan rapat atau diskusi. Namun benar-benar digunakan sebagai acuan melangkah. Proses itu berlangsung terus menerus dan menciptakan iklim ‘selalu belajar’. Maka, rentang waktu antara persoalan harian dengan penyelesaiannya pun sangat tipis.  Tidak heran jika Kuba, melalui peran Che, mampu merumuskan sendiri model transisi ekonomi (sosialisnya) atau mencari pola terbaik sendiri untuk meningkatkan produksi industrinya. Dan barangkali, pola itu pula yang banyak berperan dalam membentuk Kuba seperti sekarang ini.

Kembali ke konteks kooperasi. Jika memang Kooperasi, wabil khusus Moeda Kerdja, memiliki semangat sebagai alternatif model ekonomi kapitalisme, maka belajar dari Kuba menjadi keharusan. Minimal, untuk mendapat gambaran sistem macam apa pascakapitalisme tumbang; bagaimana menata ekonominya, mekanisme kerjanya, dan lain sebagainya.

Langkah sederhananya adalah dengan benar-benar meletakan notulensi sebagai acuan. Sejauh ini, sependek penangkapan saya soal dinamika internal di Kooperasi Moeda Kerdja, meski notulensi cukup sering muncul atau dibuat, tindaklanjut setelah itu masih sangat minim. Seperti pada kasus notulensi yang dibuat NRA misalnya: sepi, tanpa diskusi, tanpa respon, sama sekali.

Jika perkara meletakan notulensi sebagai kerangka pergerakan saja masih jauh, maka, sebenarnya, sejauh itu pula angan-angan tentang menciptakan sistem ekonomi alternatif dari kapitalisme. Sebab, seperti pepatah klise yang semakin mendapat tempat di kenyataan ini bahwa: “segala hal besar, dimulai dari langkah-langkah kecil”.

Catatan Akhir

[i]Poin ini saya dapatkan dari buku Helen Yaffe, Ekonomi Revolusi Che Guevara, (Tanggerang Selatan, Marjin Kiri: 2015).

 

Gambar: api.himmahonline.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.