Kooperasi pada Era Milenial

Spread the love

Oleh Dicki Arief

Sudah menjadi keniscayaan bahwa setiap zaman memiliki perannya masing-masing. Tak bisa dipungkiri roda waktu berputar sangat kencang, dan barangsiapa tidak bisa mengikuti perputaran roda waktu tersebut akan tergilas.

Pada era milenial sekarang ini, kita dituntut untuk terus mengikuti setiap perkembangan. Jika terlewat barang sedetik pun, kita akan tertinggal. Ini merupakan suatu keniscayaan bagi generasi milenial yang hidup di tengah disrupsi digital yang kian masif ini.

Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan jumlah populasi penduduk kategori generasi milenial di Indonesia mencapai 90 juta orang[1]. Jumlah tersebut lebih dari sepertiga dari jumlah penduduk Indonesia. Generasi milenial sendiri identik dengan teknologi yang melekat dalam kehidupannya hanya dalam genggaman ponsel. Tak heran jika generasi milenial selalu disandingkan dengan teknologi digital.

Kooperasi yang diperkenalkan di Indonesia pada awal abad ke-20 mau tidak mau harus segera berbenah dan mengikuti perkembangan yang berlangsung pada abad ke-21 agar tidak usang dan tertelan zaman.

Ada beberapa kooperasi yang bertransformasi menjadi kooperasi digital sejak beberapa tahun terakhir, salah satunya adalah Digicoop yang mengusung tagline ”Ownership for Everyone”. Digicoop sendiri hadir sebagai salah satu kooperasi digital dengan menyediakan ponsel yang dirancang sebagai platform untuk mendukung mobilitas para anggotanya.

Digicoop sendiri menyebutkan bahwa nilai tambah yang dihasilkan dari industri digital sangat besar. Platform digital menawarkan ekonomi inklusif yang memberikan manfaat serta peluang-peluang bagi setiap pelaku dalam rantai nilai. Adapun kooperasi digital yang disebut Digicoop merupakan wadah yang paling ideal dalam membangun ekonomi digital secara gotong royong.

Tentu Digicoop bukanlah satu-satunya kooperasi berbasis digital. Itu hanya salah satu contoh dari beberapa kooperasi yang mulai mengembangkan dirinya dan mengikuti perkembangan zaman. Bukan tidak mungkin, ke depan akan muncul wajah-wajah baru kooperasi, yang berkembang sesuai zamannya.

Mereposisi wajah baru kooperasi saat ini merupakan suatu keniscayaan, supaya kooperasi tidak terkurung dalam stigma yang melekat selama ini: usang, tertinggal, timbul tenggelam, mati suri. Tentu ini bukan persoalan yang mudah dan dapat terselesaikan begitu saja, bak membalik telapak tangan.

Diky Arief, alumnus Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Unnes.

[1] Diakses dari situs https://www.moneysmart.id/asuransi-incar-generasi-milenial-sebagai-konsumen/

Gambar: miro.medium.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.