Kooperasi sebagai Landasan Ekonomi (Bagian 2)

Spread the love

Oleh Muhammad Sholekan

Tulisan ini, merupakan lanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Di tulisan yang pertama, saya lebih menekankan ide kooperasi dari Marx, Hatta, dan Aidit. Sebenarnya, kalai tulisan sebelumnya dianggap sebagai tulisan yang akademis mungkin bisa dikatakan tidak sama sekali. Tapi memang, saya tidak ingin membatasi pembaca selain yang saya pahami mengenai teori kooperasi. Singkat kata, tulisan sebelum dan seterusnya saya akan berusaha menggunakan bahasa yang mudah dipahami  banyak orang.

Tulisan kedua ini, akan lebih fokus pada rantai produksi kapitalis. Saya akan  menguaraikan secara mudah bagaimana kapitalis memproduksi kapitalnya menjadi nilai lebih. Saya seutuhnya akan menggunakan referensi dari tulisan Marx dalam buku Kapital. Serta mungkin, akan menggunakan kutipan-kutipan tulisan  lain yang menggunakan referensi dari Marx.

Kenapa Marx? Sejauh pembacaan saya, di dunia ini Marx adalah orang yang bisa memberikan penjelasan mengenai rantai produksi kapitalis dan membeberkan bagaimana kejahatan kapitalis. Dan tentu, saya juga akan memberikan sambungan/kaitan bagaimana kooperasi menjadi antitesis dari kapitalisme.

Mari kita mulai pembahasan soal kapitalisme. Pembahasan ini, saya awali dengan pertanyaan sederhana, apa yang muncul di kepala pembaca ketika mendengar kata kapitalisme, kapitalis, dan kapital? Pemahaman saya soal ketiga istilah ini adalah sesuatu yang berbeda. Kapitalisme yang saya pahami adalah sebuah sistem ekonomi yang menekankan pada sentralisme modal dan kepemilikan aset. Kapitalis adalah subjek/orang/badan yang menganut sistem ekonomi kapitalisme. Adapun kapital adalah penghasilan yang diperoleh dari modal awal yang diputar menggunakan sistem kapitalisme sehingga menghasilkan apa yang dinamakan kapital.

Seorang kapitalis yang digambarkan oleh Marx adalah, ia hanyalah kapital yang dipersonifisikan. Jiwanya adalah jiwa kapital. Adapun kapital hanya memiliki satu desakan hidup tunggal, desakan memvalorisasi dirinya sendiri, menciptakan nilai lebih, membuat bagian konstannya, alat-alat produksi, menyerap jumlah kerja lebih yang sebanyak-banyak mungkin.[1] Kapitalis adalah modal yang berwujud sebagai manusia. Dalam ruang pikiran, tindakan, dan segala hal dalam hidup kapitalis adalah untuk mendapatkan nilai lebih.

Marx menganalogikan Kapitalis seperti Vampir, Kapital adalah kerja mati yang, bagaikan vampir pengisap darah, hanya hidup dengan mengisap kerja hidup, dan semakin hidup, dengan semakin banyak kerja yang dihisapnya.[2] Jadi, apa yang menjadi landasan berpikir seorang kapitalis adalah keuntungan, keuntungan secara terus-menerus. Dalam pandangan hidup seorang kapitalis, diibaratkan uang atau modal yang ia miliki harus terus berlipat dan mengganda. Dengan jalan, salah satunya, memperkerjakan orang dan mengisap tenaga mereka. Bagi kapitalis, tenaga kerja pekerja adalah nilai lebih atas komoditi yang ia miliki. Kapitalis melihat pekerja sebagai harta yang paling berharga bagi dirinya.

Uraian di atas merupakan penjelasan singkat dan gambaran secara sederhana mengenai kapitalisme. Lalu, jika dibandingkan dengan tulisan sebelumnya (bisa dilihat  di tautan berikut ini: https://kalamkopi.wordpress.com/2019/08/29/kooperasi-sebagai-landasan-sistem-ekonomi/), maka bisa ditarik garis batas perbedaan antara dua sistem ekonomi yang sedang dibahas dalam tulisan ini.

Garis batas antara sistem ekonomi kapitalisme dan kooperasi –jika melihat penjelasan saya di atas mengenai satu unsur, pekerja— adalah, jika Hatta, dalam tulisan sebelumnya mengatakan soal gotong-royong. Maka, di tulisan ini bisa jadi pembaca melihat hal yang berbeda atau mungkin sama.

Sejauh yang saya pahami, tenaga para pekerja dalam kooperasi tidak dieksploitasi oleh orang atau seseorang. Dalam sistem kooperasi, dengan sistem kooperatif yang dibangun, anggota bisa ditentukan  hendak berada di wilayah kerja lini usaha sesuai kemampuan, bahkan sesuai yang ia minati. Sistem kerja itu dibangun berdasarkan kesepakatan semua anggota. Maka, di sini ada satu perbedaan  mendasar antara kapitalisme dan kooperasi.

Muhammad Sholekan, alumnus Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang, anggota Dewan Pengawas Kooperasi Moeda Kerdja.

[1] Karl Marx. 1991. Kapital Buku I. Alih Bahasa Oey Hay Djoen. Hasta Mitra: Jakarta. Halaman 228.

[2] Ibid,.

 

Gambar: resolutionlawng.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.