Kooperasi sebagai Landasan Sistem Ekonomi (Bagian 3)

Spread the love

Oleh Muhammad Sholekan

Sudah lumayan lama, ketika saya mendengar dan mulai mempelajari teks-teks yang dibaca oleh tokoh kiri yang mempromosikan nilai-nilai sosialisme. Saya mulai memikirkan, sistem ekonomi apa yang tepat dan ideal dalam sebuah Negara dalam sistem sosialisme itu? Sistem ekonomi yang mempunyai utopia menuju keadilan sosial dan ekonomi yang tepat agar semua warga negara mendapatkan kesejahteraan dan mempunyai nilai kesetaraan.

Awalnya saya hanya bertanya-tanya dan belum menemukan sistem apa yang tepat dan ideal. Setelah menjadi anggota kooperasi Moeda Kerdja dan mengikuti beberapa diskusi mingguan dengan mengacu pada buku “Menindjau Masalah Kooperasi”-nya Hatta, saya menemu jawaban. Saya mulai berpikir, membayangkan, dan merenung bahwa sistem kooperasi adalah satu-satunya sistem ekonomi yang tepat dan ideal di tengah gempuran kapitalisme yang semakin canggih hari ini.

Kenapa kooperasi? Kooperasi sebagai sistem ekonomi menjadi tawaran atau aturan main yang memberikan kesetaraan kepada setiap anggotanya. Kooperasi memandang orang berdasarkan peran apa yang dilakukan anggota. Bahkan, tiap-tiap anggota bisa mengritik terhadap semua anggota, jika melakukan hal melenceng dari kesepakatan dalam kooperasi.

Di dalam kooperasi, yang saya pahami, tidak dimungkinkan adanya hubungan patron-klien. Tidak ada orang yang punya kuasa memerintah orang lain berdasarkan besaran Sisa Hasil Usaha (SHU) atau berdasarkan iuran sukarela paling banyak. Semua anggota bisa mengajukan ide tanpa memandang jabatan yang sedang ia sandang dalam Rapat Akhir Tahun (RAT). Jika dilihat dalam struktur misalnya, koordinator atau ketua bahkan dalam urusan mengelola organisasi, dia hanya bertugas mengoordinasikan keseluruhan kepengurusan, atau jika diperlukan koordinator memberikan “intervensi” kepada lini-lini usaha yang bermasalah. Tentu hal ini berdasarkan musyawarah dengan anggota lain.

Berbeda dari kapitalisme dengan segala ketidaksetaraan yang dibuat dalam aturan mainnya. Maka, pengembangan koperasi berbeda dari usaha kapitalis. Dalam Kapitalisme, yang menjadi penentu adalah kapital/modal/investasi, sedangkan manusia pekerja diposisikan sebagai faktor produksi pendukung yang bekerja melayani modal agar bisa semakin terakumulasi.[1] Sementara dalam koperasi, berkaca pada pengalaman Mondragon Cooperativa, manusia pekerjalah yang menjadi penentu. Mereka yang bekerja menjadi anggota dan menentukan keputusan mengenai pengembangan usaha, baik pada tingkat unit, federasi koperasi ataupun tingkat kongres. Sementara uang adalah sarana agar mereka bisa menjadi anggota, bekerja, dan memperoleh keuntungan dari kerja yang dilakukan.[2]

Maka, pertanyaan mengenai kenapa kooperasi? Mondragon sudah menjadi bukti sukses keberhasilan kooperasi sebagai sistem ekonomi. Sebenarnya jika dalam konteks Indonesia, kooperasi sebagai sebuah sistem sudah tertulis dalam konstitusi, Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Satu langkah maju dalam aspek kepastian hukum di negara ini. Namun, hal itu sangat berbeda dari segi apapun jika kita melihat aturan turunannya (Undang-Undang No. 17 Tahun 2012). Undang-Undang itu hanya menjadi sebuah norma yang ditulis tanpa menghadirkan semangat kooperasi yang sudah diperdebatkan sejak era kemerdekaan, baik Hatta maupun Aidit.

Jika melihat dan mencermati secara detail dan mendalam, mulai dari konsideran-penjelasan, Undang-Undang itu tak lebih hanya mengatur dan memberikan semangat heroisme negara dalam memberikan jaminan kepada rakyatnya bahwa kooperasi adalah ini-itu dan sebagainya. Nyatanya, kooperasi yang kita tahu hari ini adalah kooperasi primer dan kooperasi sekunder. Di dalamnya, salah satunya adalah model yang, mungkin tenar, adalah kooperasi simpan pinjam. Maka, perlu perubahan secara substansial untuk membenahi hukum kita yang mengatur mengenai kooperasi, serta yang lebih penting juga merombak secara radikal sistem ekonomi kita.

[1] Lihat lebih lengkap dalam ulasan Yance Arizona mengenai pengalamannya berkunjung ke Kooperasi Mondragon di Spanyol, https://yancearizona.net/2015/11/13/mondragon-cooperativa-apakah-ada-relasi-antara-koperasi-dan-agama/. Diakses pada 06 November 2019. 12.51 WIB.

[2] Ibid,..

Muhammad Sholekan, alumnus Fakultas Hukum Unversitas Negeri Semarang.

Gambar Ilustrasi: Bernas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.