Kosong atau Terisi?

Spread the love

(Hasil pembacaan atas novel Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma) 

Oleh Fahmi Abdillah

Selesai membaca buku yang berdongeng tentang sebuah negeri yang hanya memiliki senja, tanpa pagi, siang, ataupun malam ini, saya merasa aneh. Saya merasakan pertentangan. Ya, mungkin kata ini bisa mewakili perasaan saya atas pembacaan kali ini. Buku ini mengirim begitu banyak hal, namun saya tak menerima apa-apa. Buku ini memberi perenungan sangat dalam, namun saya merasa dangkal. Buku ini membuat saya merasa penuh, namun tetap kosong.

Buku yang berisi 5 bab selain prolog dan epilog ini, memberikan pengalaman layaknya mengupas bawang merah. Semakin baca semakin banyak lapisan yang saya kupas, buku ini menghipnotis saya untuk terus mengupas sampai pada halaman terakhir. Saat kita selesai, yang tersisa hanya kekosongan. Sungguh buku ini bukan tentang kenikmatan apa yang bisa kita dapatkan dari sesuatu, tapi tentang bagaimana kita menikmati proses mendapatkan sesuatu.

Buku ini dimulai dari Seno menggambarkan keadaan negeri senja yang menurut sang pengembara, adalah negeri yang begitu indah. Menurut saya, si pengembara merupakan wadah perenungan-perenungan Seno atas makna kebenaran yang tak pernah bertemu dengan titik. Bab pertama juga membuktikan bahwa sastra harus menggambar dan mengabarkan kebenaran. Bagaimana warna pasir bila bertemu dengan warna matahari senja? Bagaimana menggambarkan cahaya yang menerangi bertemu dengan wujud dan menghasilkan bayang? Bagaimana rasanya pasir yang begitu tebal hingga harus memakai penutup kepala?

Hal yang menarik adalah bagaimana berkali ulang Seno menegaskan bahwa sang pengembara tidak melibatkan perasaan dalam keberadaannya di negeri senja. Dia hanya menceritakan berbagai fenomena dalam negeri senja, tanpa melibatkan emosi terlalu jauh. Saya menganggap bahwa ini adalah kelengkapan sifat yang sesuai dengan karakter pengembara yang tak pernah memiliki tempat tinggal sejak dia memutuskan untuk berjalan. Ada kagum yang tak terlalu, ada jengah yang tak terlalu, ada rindu yang tak terlalu, ada heran yang tak terlalu, semua serba tak terlalu. Walaupun banyak hal ajaib yang membingungkan, tak membuat sang pengembara serta merta menganggap bahwa negeri senja adalah tempatnya menetap. Pengembara tetaplah pengembara sebagaimana layaknya pengembara.

Selanjutnya menceritakan kekelaman negeri senja. Bagian-bagian aneh yang mengoyak logika saya. Tentang penduduk negeri senja yang sangat jarang bersuara, tentang keahlian komplotan pisau belati, tentang pengawal kembar yang berjumlah ratusan, tentang penguasa kejam luar biasa yang mampu memenjarakan pikiran dan roh, tentang cahaya dan kegelapan sebagai sarana komunikasi. Banyak hal tak masuk akal yang terceritakan pada bagian ini, Hal-hal aneh dan mengherankan yang bahkan hal-hal aneh heran.

Namun apa yang paling aneh? Hal-hal aneh tersebut terasa begitu wajar dan biasa karena si pengembara benar-benar mampu membuat saya percaya bahwa hal itu, biasa dan wajar saja di negeri senja. Terlepas ini merupakan cerita fiksi atau tidak, saya merasa bahwa bilamana Tuhan sengaja menciptakan negeri senja di dunia kita saat ini, kondisinya tak akan berbeda dengan apa yang diceritakan si pengembara dalam cerita ini.

 

Tak terduga

Cerita buku ini berhasil menggagalkan saya untuk menebak bagaimana akhir cerita dari negeri senja. Memang terceritakan betapa memilukan kehidupan penduduk negeri senja dan begitu kuat Tirani, penguasa buta mencengkeram kebebasan mereka. Namun dengan membangun kesan ‘kuat’ pada kelompok-kelompok yang telah merencanakan pemberontakan pada sang penguasa selama beratus tahun, memberikan saya harapan bahwa cerita ini seyogyanya berakhir dengan kekalahan Tirana. Namun tidak, Seno Gumira Ajidarma memilih untuk mengakhiri cerita ini dengan kemenangan Tirana, penguasa yang bagaikan Tuhan jahat. Bahkan jutaan penduduk negeri senja terbunuh, semua kota habis terbakar, benar-benar tak menyisakan perlawanan barang secuil. Walapun masih meninggalkan kemungkinan karena ada orang-orang yang selamat hingga akhirnya menetap dan hidup dalam menara matahari. Namun sekali lagi cerita ini hanya membiarkan saya untuk menebak, karena cerita ini belum benar-benar berakhir.

Merenung

Saya merasa saat Si Pengembara menceritakan negeri senja, sebenarnya bukan itu yang ingin dia ceritakan. Cerita ini mengingatkan, dan menyadarkan saya bahwa segala hal di dunia ini terbangun dari dua hal yang berbeda. Kedua hal itu ada untuk menjaga dan dijaga keabadian dunia.

Saya merasakan emosi yang bertolak belakang selama membaca cerita ini. Kalimat-kalimat yang Seno tata seakan menegaskan pada saya bahwa hidup itu akan semakin dangkal bila kau mau menyelam makin dalam. Membuat saya memahami dan membingungi sesuatu, menjelaskan dan mempertanyakan sesuatu, memberi dan mengambil sesuatu dari saya. Menggambarkan kebebasan lahir dari penindasan, kesetian lahir dari perselingkuhan, takut lahir dari keberanian, cahaya lahir dari kegelapan, genap lahir dari ganjil. Begitu pun sebaliknya. Ya, begitu banyak pertentangan yang sengaja Seno berikan pada saya, namun saya juga yakin bahwa Seno tak sengaja melakukannya.

Gambar: bukuonlinestore.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.