Kuliah Sejarah Mau Jadi Apa?

Spread the love

Pada tahun 2014, ketika hendak mendaftar ke perguruan tinggi, salah satu guru SMA-ku bertanya:

“Saiful mau kuliah jurusan apa?”

Kujawab, “sejarah, Pak.”

“Duh, kenapa milih sejarah? Kamu mau jadi apa?”

Saat itu, aku bingung. Dalam memilih jurusan kuliah, aku tidak mempertimbangkan peluang kerjanya setelah lulus. Itu urusan nanti, pikirku. Aku memilih jurusan ya karena aku mencintai kajian ilmu yang ada di dalamnya. Sesederhana itu. Cinta tak butuh alasan, bukan?

Agustus 2014, aku mulai berkuliah di jurusan sejarah. Selama periode awal menjadi mahasiswa, pertanyaan “kuliah sejarah mau jadi apa?” selalu membayangiku. Aku sempat goyah. Jangan-jangan kuliah sejarah memang tak guna. Jangan-jangan mahasiswa sejarah memang ditakdirkan madesu alias masa depan suram. Perusahaan mana yang mau menerima lulusan sejarah? Tapi jika kuliah sejarah tak ada gunanya mengapa jurusan ini tetap ada? Mahasiswanya banyak pula. Aku bimbang tapi mencoba tetap tenang. Kukatakan pada diri sendiri, “Tuhan sudah menjamin rezeki setiap makhluk di bumi, jadi tidak usah takut”. Kata Sujiwo Tejo, “takut besok nggak bisa makan saja sudah menghina Tuhan”. Aku tidak berani menghina Tuhan.

Kuliah di jurusan sejarah tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Di sekolah aku “dicekoki” sejarah yang membosankan, yang hanya menghafal angka tahun dan nama tokoh. Kapan Perang Diponegoro berakhir, siapa proklamator kemerdekan Indonesia, kapan agresi militer Belanda I dan II, dan pertanyaan-pertanyaan lain sejenis. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, dalam metode pembuatan soal ujian masuk kategori C1, kategori yang paling dasar.

Di perguruan tinggi aku merasa ilmu sejarah lebih hidup. Selain mempelajari fakta-fakta di masa lalu aku juga mempelajari ilmu lain. Aku belajar metode penelitian sejarah, bahasa Belanda, ilmu politik, permuseuman, pariwisata, dan lain sebagainya. Dan yang lebih penting aku belajar hidup bersama orang-orang dari berbagai latar belakang. Perihal ini tak perlu kuceritakan semua, nanti terlalu panjang.

Dunia mahasiswa adalah tentang buku, pesta, dan cinta, begitu kata Soe Hok Gie.  Agaknya kalimat itu benar. Pada masa kuliah aku menjadi bagian dari komunitas literasi bernama Kalamkopi. Komunitas itu didirikan oleh teman-teman rombelku. Keikutsertaanku di komunitas itu kuanggap sebagai “lompatan pemikiran” karena di komunitas itu aku belajar banyak hal. Pengetahuan-pengetahuan yang tidak kudapat di kampus kudapatkan di komunitas itu. Pernah suatu kali kami mengadakan Diskusi Rabu Bundar. Seorang kawanku, Nanang namanya, memantik diskusi bertema Sukarno dan Gerakan Kiri Indonesia. Si Nanang ini memang ahli di kajian sejarah Sukarno. Aku mengikuti dengan khidmat, kawan yang lain pun demikian. Pada diskusi itu aku memperoleh pengetahuan baru, salah satunya ini: Sukarno adalah seorang sosialis. Pemikiran-pemikiran kiri berperan dalam gerakan kemerdekaan Indonesia, begitu kata Nanang, seingatku. Mendapat pengetahuan baru aku sangat senang.

Setelah itu, Kalamkopi membuat serial diskusi lain. Aku mengikuti dengan antusias. Kami berpesta dan bercinta dengan buku. Mungkin ini agak lebay, tapi harus kuungkapkan di sini: bersama kawan-kawan Kalamkopi aku merasa hidup. Terima kasih, Kawan-Kawan!

Sampai pada tahap ini aku sangat bahagia. Tapi ada satu hal yang masih mengganjal yakni “kuliah sejarah mau jadi apa?” Bingung dan cemas masih bersarang di kepalaku. Mau kerja apa aku setelah lulus? Entahlah. Aku hanya merasa makin cinta pada sejarah. Urusan cari duit belum kupikir.

Pada semester tujuh, selama 45 hari, aku berkesempatan menjadi bagian dari Depo Arsip Suara Merdeka (DASM) Semarang. Di tempat itu aku belajar cukup banyak, terutama tentang pengelolaan arsip digital. Sesekali aku “mengintip” koleksi arsip digital milik DASM dengan harapan arsip-arsip itu bisa membawaku pada gelar sarjana pada tahun berikutnya..

Tuhan memang mahamendengar. Percayalah. Di DASM Semarang, aku menemu berita-berita Perang Irian Barat  tahun 1961-1962. Kumpulkan berita-berita itu dan kujadikan proposal skripsi. Tak kuduga, proposal itu diterima! Dengan ilmu yang sudah kuperoleh dari semester 1 hingga 7, kuolah sumber-sumber itu menjadi skripsi.

Singkat cerita pada Januari 2019 aku dinyatakan lulus. Air mata Ibu menetes ketika menemaniku wisuda. Mungkin karena aku sarjana pertama di keluarga. Aku berkata padanya, “Bu, aku akan membahagiakanmu. Pasti!”

Status mahasiswa telah tanggal. Kini aku siap terjun ke dunia kerja. Kata orang, dunia kerja itu kejam. Saling sikut demi nasi adalah hal biasa. Urusan perut tak mengenal toleransi.

Sebelum lulus aku selalu berdoa agar kelak memperoleh pekerjaan yang mengedepankan kerja otak. Bukan bermaksud merendahkan pekerjaan yang mengandalkan okol, aku hanya tertarik pada pekerjaan yang mengandalkan otak.

Sekali lagi, Tuhan mahamendengar. Ada lowongan guru sejarah di salah satu sekolah swasta. Aku coba mendaftar. Awalnya aku ragu. Aku bukan dari jurusan pendidikan, mungkinkah aku diterima? Dengan bekal doa Ibu aku nekat mendaftar.

“Coba jelaskan apa itu sejarah,” kata kepala sekolah saat mewawancaraiku.

“Sejarah adalah rekonstruksi fakta-fakta masa lalu yang disusun oleh sejarawan,” kataku.

“Mengapa sejarah selalu lekat dengan hafalan angka tahun dan nama tokoh?” tanyanya lagi.

Kujawab, “itu karena gurunya tidak mampu menemukan api yang terkandung dalam sejarah. Memang benar bahwa mengetahui tahun peristiwa secara presisi itu penting. Tapi yang jauh lebih penting adalah menemukan makna dan dampak peristiwa itu terhadap kehidupan kita hari ini.”

Sang kepala sekolah tak berkomentar. Dia hanya senyum sambil bertepuk tangan. Dua orang di sampingnya pun ikut merekahkan senyum. Seketika itu juga aku dinyatakan diterima. Bunga-bunga kebahagiaan bermekaran di hatiku.

Sekolah itu berada di bawah Yayasan Kristen dan mayoritas muridnya Tionghoa. Di situ aku, mengajar mata pelajaran sejarah Indonesia kelas X dan sejarah peminatan kelas XII. Aku sering dilema dalam menyampaikan materi. Misalnya ketika mengajar sejarah Reformasi 1998. Aku tahu bahwa dalam peristiwa 1998 banyak toko-toko milik orang Tionghoa dijarah dan dihancurkan. Juga banyak wanita-wanita Tionghoa diperkosa. Buku pelajaran tidak mencantumkan hal-hal itu secara gamblang. Aku bingung. Tiba-tiba bayangan Bagas, temanku dari Bandung, muncul, mengingatkanku pada buku “Peran Intelektual” karya Edward Said yang dahulu pernah kami diskusikan. Mengapa bayangan Bagas yang muncul? Entahlah, aku juga bingung. Melalui bayangan Bagas itu, aku jadi ingat kata-kata Edward Said: “seorang intelektual wajib menyampaikan kebenaran, apapun resikonya,” begitu kurang lebih. Dengan dasar itu kemudian aku berkata pada murid-muridku: “Pada peristiwa Reformasi 1998 toko-toko milik orang Tionghoa dijarah, perempuan-perempuannya diperkosa. Orang-orang Tionghoa benar-benar didiskriminasi. Kejadian seperti itu tidak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di Solo. Semoga hal seperti itu tidak terjadi lagi. Kita harus menjaga persatuan dan kesatuan.”

Pada titik itu aku sadar, perjumpaanku dengan kawan-kawan Kalamkopi sangatlah berarti. Pengalaman bersama mereka, selain memberi banyak pengetahuan, juga membuatku berani mengatasi situasi sulit. Ah, kawan-kawan Kalamkopi kapan kiranya kita bisa bersama lagi?

Murid-muridku diam. Bukan karena bingung, tapi karena tercengang. Kuperhatikan wajah mereka satu per satu. Aku berharap mereka tidak mewarisi luka dan dendam yang mungkin diderita oleh orang tuanya. Jika pun luka dan dendam itu ada, aku – sebagai sejarawan – berkewajiban menyembuhkan luka dan dendam itu. Apapun resikonya.

Sebagai orang yang menyukai dan -insyaallah- paham sejarah aku merasa memiliki tanggung jawab akademik untuk meluruskan sejarah yang bengkok atau dibengkokkan. Terserah jika ada yang menganggapku sok yes. Aku tidak merasa sok pintar, aku hanya berusaha mengatakan kebenaran.  Kata Wiji Thukul “percuma baca banyak buku kalau mulut kau bungkam melulu.” Begitu, kan?

Ternyata lulus kuliah tidak membuatku pintar. Aku justru merasa bodoh. Aku jadi haus pengetahuan. Jadi ngidam buku. Aku buka kembali buku-buku kuliahku dulu. Pengantar Ilmu Sejarah-nya Kuntowijoyo, Apa Itu Sejarah-nya E. H. Carr, dan buku lainnya kubaca ulang. Aku juga mulai membaca sastra (bodohnya aku yang baru sadar bahwa sastra itu penting!) Tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya Ananta Toer selesai “kulahap” pada akhir 2019. Setelah itu berturut-turut kubaca novel Maxim Gorky, George Orwell, Soe Tjen Marching, dan Mochtar Lubis. Cerpen-cerpen Iksaka Banu juga tak luput dari sergapanku. Membaca novel dan cerpen ternyata membuatku tertarik pada puisi. Puisi-puisi W.S. Rendra, Widji Thukul dan, Kuntowijoyo kubaca pada waktu yang berdekatan. Aku juga mengikuti kelas menulis esai dan kelas menulis cerpen di kedai Kopi Kang Putu.

Semua itu kulakukan dengan kesadaran: aku tidak tahu apa-apa! Kuliah ternyata tidak membuatku pintar. Aku justru merasa bodoh. Semakin membaca semakin merasa goblok.

Aha! Akhirnya aku tahu tujuanku kuliah di jurusan sejarah. Tujuanku kuliah di jurusan sejarah adalah untuk menyadari kebodohanku. Dengan menyadari kebodohanku aku akan terus belajar, dan ketika aku terus belajar aku akan bisa menghargai manusia lain.

Semarang, 20 Mei 2021

Saiful Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.