Laut

Spread the love

Cerpen Lana Savira

 

Aku Jane, perempuan penyuka warna biru. Aku juga sangat suka laut. Mungkin karena rumahku jauh dari laut. Laut menjadi sangat spesial bagiku. Tidak setiap tahun aku dapat pergi mengunjungi laut. Oleh karena itu, aku sangat berharap kelak jika bisa membangun rumah, aku akan membangun rumah di dekat laut. Jadi aku bisa memandangi ombak deras yang menabrak karang tanpa henti dan mendengarkan suara air laut yang membuatku selalu merasa tenang.

***

Tak kusangka, impianku terwujud, bisa tinggal di rumah yang berada di tebing dan dikelilingi laut. Ini deretan rumah. Beruntung, aku mendapatkan rumah hasil lelang. Dan, di sinilah aku bersama anak semata wayangku.

Aku tidak menikah. Aku tidak memiliki pasangan. Aku sendiri. Seorang diri merawat anak lelakiku.

Menjadi perempuan yang merawat anak sendirian tidak mudah. Namun aku harus kuat. Tegar. Demi anakku. Demi kebahagiaan anakku. Demi masa depan anakku. Walau sulit, aku harus berlaku sebagai ibu sekaligus bapak bagi dia.

El saat ini berumur tujuh tahun. Aku dekat dengannya. Ia kerap kali menunjukkan apa saja perasaannya. Ia anak yang manis. Ia pun sangat penyayang, termasuk pada binatang. Binatang yang ia suka kucing. Ia sering membawa makanan kucing dan memberikan makanan itu pada kucing liar.

Meskipun dekat denganku, ada satu hal yang dia rahasiakan. Namun bagiku, itu bukan lagi rahasia. Cuma, saat ini aku belum mampu menceritakan.

Ia kerap menanyakan alasan mengapa harus pindah ke sini. Lantaran ia harus beradaptasi dengan teman-teman baru. Begitu pun aku. Walupun sejatinya aku tak memiliki seorang teman dekat. Bukan hanya itu. Ia juga kerap kali menanyakan siapa dan di mana sang bapak. Dan, aku selalu menghindari pertanyaan itu. Atau lebih tepat menghentikan percakapan saat itu juga.

***

Sore itu, aku berada di bar. Bar di pinggir pantai dengan hiburan live music. Aku sendirian. Aku memang terbiasa sendirian. Ke mana-mana selalu sendirian. Entah mengapa, saat pergi sendirian, aku cepat sekali mengumpulkan energi. Itu membuat suasana hatiku sepanjang hari menjadi baik.

Aku duduk di seberang tempat kerja bartender. Meskipun ada tempat di bantal-bantal duduk yang sudah disediakan bar, aku lebih merasa nyaman duduk di sini. Aku menikmati suasana sembari berbincang sedikit dengan Jason, bartender yang aku kenal.

Sore itu matahari sangat cantik. Awan tak menutupi matahari. Ia menghiasi langit. Pancaran sinar matahari berpadu dengan kumpulan awan sangat cantik. Putih, pink, kekuningan, perpaduan warna yang indah. Tak kusangka, hari yang indah itu membuat hidupku berubah.

Seorang lelaki datang. Ia duduk di kursi sebelah. Memesan minuman, lalu diam. Ia sibuk dengan gawai. Tak begitu memedulikan keindahan suasana sore seperti aku. Ia juga tidak terlihat peduli terhadap keramaian orang di sekitarnya. Padahal, sore itu sangat ramai. Banyak yang bersenda-gurau.

Setelah matahari terbenam, banyak pengunjung pindah ke gazebo dekat pantai. Gazebo itu sangat luas. Hari itu, di gazebo akan ada acara dansa. Karena ingin menikmati alunan musik, aku pun bergabung dalam kerumunan. Aku masih membawa segelas minuman dan menikmati alunan musik. Tanpa peduli siapa pun di sekitarku. Beberapa orang berjalan ke tengah panggung dansa bersama pasangan masing-masing.

Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang. Saat aku menengok, orang itu tidak ada. Rupanya orang yang menepuk bahuku sudah berada di depanku. Ia menyodorkan tangan kanan kepadaku. Telapak tangannya menghadap ke atas. Memintaku menerima ajakan berdansa. Aku melongo. Orang-orang di sekitarku memandangiku. Mereka tersenyum. Beberapa memberikan aba-aba sebagai tanda agar aku mau menerima ajakan itu.

Karena tak mau mengecewakan dan mempermalukan bila menolak, aku pun menerima ajakan lelaki itu. Padahal, aku tak kenal dia. Aku hanya bertemu dia saat tadi duduk di sebelahku. Itu pun tak begitu kuperhatikan. Sepengetahuanku, ia juga sibuk dengan gawai. Mengapa kini tiba-tiba ia mengajakku berdansa?

“Terima kasih,” suara paraunya terdengar di telingaku.

Aku bergidik. Kaget.

“Bukankah indah seorang perempuan yang sendirian dan lelaki kesepian ini bersama?” ucap dia seraya tersenyum manis.

Aku terpatung, memandangi dia. Tanpa sadar, aku sudah berada di tengah-tengah ruang. Menikmati alunan musik. Dan, dengan sadar aku mengikuti gerakan lelaki di depanku ini.

Usai dansa, ia tak melepaskan tangan. Ia tetap menggandengku. Aku hanya mengikuti ke mana ia akan membawaku. Ia mengambilkan segelas minuman untukku. Dan, segelas minuman untuk dia. Dengan minuman di tangan masing-masing, ia segera mengajakku ke kamar hotel. Aku berprasangka, ia akan melakukan hal-hal manis dan romantis.

***

Tiba di kamar, ia melepas gandengan. Aku berjalan mengelilingi kamar. Kudengar, ia mengunci pintu. Aku berhenti di satu jendela. Dari sini aku masih bisa melihat pantai, pasir, orang-orang yang beraktivitas. Ada yang sedang bergurau, bermain air, bermain pasir. Aku tersenyum, menyadari hari ini indah sekali, sembari menikmati minuman di gelas yang kupegang.

Tiba-tiba lelaki itu merengkuhku dari belakang. Geraian rambutku dia pindah ke depan. Dia menciumi leherku. Saat aku sedang menikmati ciuman di leher, tiba-tiba ia menggenggam lenganku dan dengan amat keras melempar aku ke ranjang. Sangat keras. Ya, aku yakin telah dia lempar sangat keras. Biasanya aku menyukai adegan persetubuhan yang sedikit kasar. Namun, kini, alih-alih menikmati, aku kesakitan.

Ia langsung mengangkat gaunku hingga menutupi wajahku. Tanpa pembukaan, ia langsung memasukkan penis ke vaginaku. Tak ada ritme, tak ada irama. Dia hanya menusuk, menusuk, menusuk.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lenganku terus dia genggam. Aku berusaha mendorong, tetapi tenaganya lebih kuat. Selama bersetubuh, dia terus memegangi lenganku. Aku merasakan vaginaku seperti terbakar. Panas. Menyakitkan. Dia memerkosaku. Bukan bercinta. Tak ada cinta.

Aku menangis. Aku meneteskan air mata. Tak ada nikmat. Hanya sakit yang kurasakan.

Tak lama, ia berhenti menusuk. Dia membalik badanku. Aku tak berdaya. Aku hanya menangis. Tanpa sadar aku tertidur saat menangis. Sebelum benar-benar tidur, aku sempat memperhatikan bayangannya berpakaian. Setelah itu, aku tidak tahu apa yang ia lakukan.

***

Aku membuka mata; masih setengah telanjang. Ranjang yang kutiduri masih berantakan. Aku duduk, lalu mengenakan pakaian dalam. Seketika aku tersadar, ke mana lelaki itu? Ke mana lelaki yang meniduriku semalam?

Aku berdiri, berjalan mengelilingi kamar. Susah. Vaginaku sakit. Aku berjalan seperti wayang.

Kupaksakan berlari. Keluar dari kamar. Tak kupedulikan rasa sakit. Aku harus menemukan lelaki itu.

Aku terus berlari. Mengikuti alur pantai. Terus berlari. Membayangkan rupa lelaki itu. Terus berlari, hingga aku menyadari: lelaki itu telah pergi. Lelaki itu sudah pergi. Aku berlari. Menangis. Hingga aku tak kuat lagi. Aku jatuh di bibir pantai. Menyadari, lelaki itu pergi.

Aku berdiri. Berjalan. Berjalan mendekati ombak. Berjalan melawan ombak. Menjadi satu dengan ombak. Begitulah aku.

Aku tidak mati. Aku tetap hidup dan menjalani; menjadi perempuan kuat. Demi anakku. Demi masa depan anakku.

 

Semarang, 30 September 2019

Lana Savira, mahasiswa Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Gambar: gatra.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.