Literasi Jalanan dan Perdesaan

Spread the love

Kegiatan literasi tak melulu di ruang-ruang formal bertajuk perpustakaan kampus dan sekolahan. Berliterasi tak mengharuskan kita berseragam dan menyandang status tertentu. Literasi mutakhir justru tumbuh dan diberdayakan dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di jalanan dan pedesaan. Kegiatan semacam itu memberikan kebebasan pemuda untuk berkreasi, berkarya, pentas seni dan budaya, serta merasa “merdeka” untuk belajar bersama.

Di tengah riuh rendahnya kota, kita pun bisa menjumpai kegiatan literasi bernama komunitas perpustakaan jalanan. Sesuai namanya, buku-buku berjejer di jalanan dan gratis dibaca semua orang. Berpindah dari jalanan, kita pun bisa menemukan kegiatan literasi lewat taman baca yang ada di desa-desa. Keduanya membawa misi sama yakni memberikan hak pengetahuan dan hasrat untuk membaca kepada masyarakat. Khususnya untuk anak-anak dan kawula muda.

Dalam esainya yang berjudul “Pendidikan dan Literasi”, Setyaningsih (2016) mengatakan bahwa rumah dan sekolah membutuhkan aturan agar literasi jadi keteraturan. Namun perlu kita ingat. Beragam acara pelatihan atau gerakan minat baca tulis, justru lebih mirip penyuluhan. Penyelenggara adalah lembaga-lembaga prestisius. Mereka mengundang kaum-kaum bergelar dan dipastikan berbiaya mahal. Pun, mereka latah dengan memilih tempat mentereng yang jauh dari keakraban buku.

Setyaningsih menambahkan, kejengahan pada model penyuluhan itu menjadi salah satu pendorong kemunculan gerakan literasi jalanan dan pedesaan. Para pegiat literasi jalanan dan pedesaan cenderung tanpa pamrih. Mereka memberikan akses buku gratis—entah dari hasil donasi atau koleksi pribadi—dalam setiap agenda lapakan buku.

Literasi Kita

Banyak riset menyebut jika minat baca buku orang Indonesia lemah. Misalnya, studi Most Littered Nation In the World (2016). Riset tersebut membuat simpulan bahwa minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara di dunia. Dan saya yakin, kita sudah sangat familiar dengan simpulan riset seperti itu. 

Tentu saja hasil riset tersebut dapat keliru dan/atau perlu diperbarui. Cara meragukannya pun sederhana. Salah satunya, dengan melihat animo masyarakat saat mengunjungi perpustakaan jalanan, taman baca, atau rumah baca yang ada di desa. Nyaris tak pernah sepi pengunjung. Bahkan tetap beroperasi di waktu tertentu, saat model perpustakaan konvensional libur. 

Kita memang selalu berhadapan dengan riset minat baca masyarakat Indonesia yang rendah. Lalu berupaya mengetahui penyebabnya. Dan menariknya, di buku Al-Alaq Bacalah! gubahan Eko Prasetyo (2019),  muncul narasi bahwa penguasa masih khawatir rakyatnya pintar. Bersamaan dengan itu, kita pun melihat bahwa pemerintah belum sepenuhnya menghargai buku. Buku-buku kiri dilarang, dibredel, dibakar, dan dituduh subversif. Begitu pula buku lain yang kritis pada penguasa. 

Tentu saja, pernyataan Eko tak sepenuhnya benar. Tapi dari situ, kita bisa melihat kenyataan yang ada. Dan gerakan literasi jalanan pun tidak serta merta tanpa ujian dan jauh dari kekerasan. Gerakan literasi jalanan juga kerap menjadi ancaman bagi “kekuasaan”. Tuduhan komunis, anarkis, hingga ilegal, kerap menjadi konsumsi harian pegiatnya. Dan tidak jarang, buku kiri juga menjadi “alat bukti” saat terjadi penangkapan demonstran. Misalnya yang terjadi di Banten (Pikiran Rakyat, 11/10/2020). 

Duh! Malang sekali nasib buku: disita, dibakar, hingga dijadikan barang bukti. Dan Setyaningsih juga memaparkan bahwa aktivitas literasi sering tidak masuk dalam peristiwa spontan. Tak ayal, liburan ke perpustakaan sering jadi keanehan. Sudah aneh, ditangkap pula. Duh!

Buku sering dianggap bukan bentuk hadiah. Pamornya kalah dengan gawai atau barang elektronik. Bahkan, sejak anak kecil gawai sudah menjadi teman. Terutama agar si anak tidak rewel.

Dalam keseharian, kita juga sering melihat keasingan masyarakat terhadap buku. Misalnya, anak-anak dilatih untuk tidak bergairah terhadap buku. Bisa jadi karena faktor buku sekolah yang terkesan kaku atau minim imajinasi. Sehingga secara tidak langsung ikut menurunkan minat baca siswa. Barangkali kesan yang timbul di benak banyak siswa memang begitu. Buku adalah barang yang membosankan dan kaku.

Dengan latar persoalan semacam itu, maka wajar jika bermunculan komunitas literasi jalanan dan taman baca di pedesaan. Dan bagi saya, itu adalah satu solusi alternatif untuk mewujudkan literasi anak-anak dan kawula muda. Tidak jarang, aktivitas literasi juga dilakukan sembari bersenang-senang. Nilai plus kawula muda memang di sana: kecerdasan mengemas kegiatan literasi sekaligus hiburan. Seperti yang pernah saya ikuti September lalu. Kegiatan itu bertajuk “Literasi Camp Tegal Membaca”. Kegiatan diisi dengan diskusi, pentas musik, puisi, seni tradisional, workshop, live sablon, lapak buku, hingga donor darah. Kegiatan diprakarsai oleh pegiat komunitas baca di desa dan komunitas perpustakaan jalanan.

Jalanan dan Ruang Publik

Mudah ditebak. Pemerintah tidak pernah dan tidak akan menganggap buku setara atau lebih penting dari kebutuhan lainnya. Anggaran belanja untuk perlengkapan perang jelas masih lebih banyak dibanding anggaran buku. Maka kehadiran perpustakaan jalanan dapat dimaknai pula sebagai perjuangan untuk merebut ruang publik. Dan itu dikerjakan secara kolektif.

Rianne Subijanto pernah menulis satu artikel menarik di Indoprogress. Judulnya “Ruang Publik Dulu dan Sekarang”. Ia menyodorkan satu pertanyaan penting: apakah ruang publik benar-benar untuk publik? Satu ruang yang menjadi sarana edukasi atau semacam rapat umum (open vergadering). Pada masa lalu, rapat umum di ruang publik merupakan bentuk konfrontasi terhadap Belanda. Dan itu menjadi bagian dari gerakan politik anti-kolonial. 

Pada akhirnya, merebut ruang publik menjadi bagian penting dari keberadaan puluhan komunitas literasi. Mereka secara sadar memilih jalanan untuk menawarkan bahan bacaan. Dan ini menunjukkan satu fakta lain bahwa buku dan ruang publik adalah suatu keniscayaan. Apalagi di tengah ketidakseriusan negara memfasilitasi hasrat masyarakat akar rumput untuk sinau dari buku.

Keberadaan perpustakaan jalanan dan taman baca di desa adalah wujud nyata ekspresi kebebasan anak-anak dan kawula muda. Mereka melakukan kegiatan literasi, tanpa sekat, tanpa perlu di ruang megah, dan tanpa pembicara bergelar tinggi. Singkatnya, “merdeka” dalam belajar bersama.

One thought on “Literasi Jalanan dan Perdesaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.