Lurah Kohar

Spread the love

Cerpen Azis Wisanggeni

Suatu pagi, bulan Apit. Sedekah bumi kali ini tidak seperti biasa. Warga desa yang sejak pagi menunggu tampak resah. Matahari sudah mendekati ubun-ubun kepala, tetapi Lurah Kohar belum juga datang. Gending talu sebagai pembukaan ritual mendayu-ndayu menerjang pucuk-pucuk pohon jati yang meranggas pada musim kemarau. Gending itu terbawa angin, mengalir dari pengeras suara yang diikat di batang pohon jati.

Ritual sedekah bumi diadakan untuk mengingatkan manusia pada alam yang telah memberikan kehidupan. Sedekah bumi juga wujud syukur pada alam yang telah memberikan kehidupan.

Warga desa datang membawa ambengan ke tempat ritual. Ambengan-ambengan itu mereka taruh di tanah berjajar menghadap ke kelir pergelaran wayang kulit.

Mereka menunggu sambil duduk-duduk sampai ritual itu usai. Bila ritual usai ditutup dengan doa, anak-anak di kampungku menyambut dengan berebutan telur rebus.

Acara tahunan itu digelar di bawah pohon jati paling besar di Desa Watugamping. Air dari mata air berdebit sangat tinggi mengalir dari sela-sela akar yang menancap ke dalam batu kapur. Karena begitu banyak air yang keluar itulah, mata air itu disebut Kali Gede.

Biasanya ritual seperti itu diadakan di pundhen. Namun karena warga Desa Watugamping sadar kehidupan tak bisa lepas dari alam dan salah satunya air yang memberikan kehidupan, ritual pun diadakan di sini. Namun kini kondisi Kali Gede sangat memprihatinkan, setelah pohon jati Pegunungan Kendeng dijarah rakyat 21 tahun silam. Keasrian hutan sampai saat ini tak bisa dikembalikan, karena setelah penjarahan Pegunungan Kendeng terjadilah alih fungsi lahan.

Pegunungan berubah jadi hamparan perkebunan jagung yang mengakibatkan bencana banjir bandang, hilangnya flora dan fauna, angin puting beliung, dan berkurangnya debit air yang bisa dilihat pada bulan Apit ini yang tinggal semata kaki, dipenuhi lumpur saat banjir. Padahal, dulu Kali Gede sangat dalam, sampai seleher orang dewasa dan berair jernih sekalipun musim kemarau melanda.

Watugamping punya pundhen desa Ronggo Boyo. Beliau utusan dari Kerajaan Mataram kala itu. Di samping pundhen juga ada mata air dengan air cukup deras dan jernih mengalir dari sela-sela batu kapur. Di atas mata air itu juga tumbuh pohon-pohon besar dan sangat rimbun. Namun debit air Kali Gede lebih besar.

Kedua  mata air itu bertemu di selatan dukuh, diapit persawahan warga desa yang sangat subur. Warga Watugamping menyebut pertemuan kedua sungai dari dua mata air itu Kali Tempur. Jika bulan Sura tiba, setiap malam Jumat Kali Tempur ramai dikunjungi orang yang melakukan ritual untuk mandi saat tengah malam tiba.

Sudah banyak sekali gending mengalun dari bibir pesinden. Mereka duduk berjajar di bawah deretan wayang Pandawa yang tertancap di batang pisang. Ki Dalang sudah duduk dan siap cabut kayon. Namun Lurah Kohar belum juga datang. Dalang wayang kulit resah. Beberapa kali Ki Dalang menoleh ke pesinden dan niyaga. Warga berbisik-bisik, bahkan menanyakan kepada para perangkat desa tentang keterlambatan Lurah Kohar.

Terlambat datang seperti ini tidak pernah terjadi pada lurah-lurah sebelumnya. Bahkan Lurah Kohar selama menjabat baru kali ini pula menjelang purnatugas datang terlambat di acara ritual yang terhitung sangat sakral bagi warga desa.

“Itu Lurah Kohar!” ucapan itu hampir serempak mencuat dari warga.

Dari pengeras suara meliuk suara pesinden nembang. Ya, nembang sebuah lagu berjudul “Ibu Pertiwi” karya Ki Narto Sabdo.

                                     

Ibu Pertiwi paring boga

Lan sandhang kang murakabi

Peparing rejeki

Manungsa kang bekti

Ibu Pertiwi, Ibu Pertiwi

Sih sutresna mring sesami

Ibu Pertiwi

Kang adil luhuring budi

Ayo sungkem mring Ibu Pertiwi….

Wajah Lurah Kohar pucat pasi. Mimik mukanya memendam keresahan. Namun dia mencoba tenang, terus melangkah, meredam kegundahan yang berkecamuk dalam hati. Ia menuju mata air Kali Gede, lalu menuruni bibir sungai dengan tangga akar pohon jati yang terbentuk secara alami.

Lurah Kohar membuka bunga tujuh rupa yang terbungkus daun pisang. Sebagian ia tabur ke mata air, sebagian lagi ia letakkan di tanah asal air itu keluar. Setelah itu ia mengambil kemenyan dari kantong plastik yang dibawa sang istri. Berkali-kali kemenyan itu ia sulut. Namun kemenyan itu tidak segera terbakar.

Kembali ia minta kemenyan dari istrinya. Lalu ia sulut kembali. Namun kemenyan itu tidak juga terbakar. Wajah Lurah Kohar pucat pasi. Sampai beberapa kali ia melihat dan meminta kemenyan pada istrinya, anak dan para perangkat desa yang turun mendampingi. Namun setiap kali menyulut, kemenyan tak juga mengepulkan asap.

“Jo, Karjo!”

Nggih, Pak Kohar,” jawab Karjo, lantas bergegas menuruni tebing sungai.

“Beli kemenyan lagi. Kemenyan ini tidak bisa hidup, mengganggu acara ritual saja,” kata Lurah Kohar.

Inggih, Pak.” Karjo susah-payah menaiki anak tangga akar jati dan baru sampai pertengahan tebing.

“Jo, Karjo!” ucap Lurah Kohar memanggil.

Karjo menghentikan langkah, kemudian turun kembali menghampiri Lurah Kohar.

Inggih, Pak Kohar. Wonten dhawuh?”

“Jo, jangan beli kemenyan di Ngadinah. Kemenyannya sangat jelek, tidak bisa dibakar. Kamu beli di toko Herno saja!”

Nggih, Pak Kohar.” Karjo bergegas menaiki tebing sungai.

Warga yang sejak tadi cemas karena menunggu ritual yang dipimpin Lurah Kohar tak kunjung usai, kini tambah penasaran setelah Karjo, Carik Watugamping, muncul dari bibir sungai. Beberapa warga menghampiri.

“Ada apa, Pak Carik? Kok tergesa-gesa? Ritual Pak Kohar kok lama sekali?” tanya seorang warga desa memberanikan diri.

“Sudah, Bapak-bapak tunggu sebentar. Tenang, tenang ya, Bapak-bapak?” Karjo bergegas meninggalkan warga desa yang hampir mengerumuni.

Tanpa ada yang mengomando, warga desa bergegas meninggalkan ambengan di hadapan mereka, menuju ke tempat Lurah Kohar melakukan ritual. Mereka berdiri di bibir sungai, berjejalan. Sampai-sampai ada yang jatuh ke sungai penuh lumpur yang terbawa banjir pada musim hujan lalu.

Lurah Kohar masih jongkok. Dia menoleh perlahan, lalu kembali merunduk. Raut mukanya makin tak keruan setelah melihat warga desa berjejalan berdiri di atasnya dengan mata melotot dan mulut bersahutan melemparkan ucapan yang tak enak didengar.

“Pak Kohar, hari sudah siang. Kapan mulai ritual?!” celetuk seseorang dengan nada agak marah.

“Pak Kohar yang terhormat, kami masih banyak pekerjaan di rumah. Bahkan nanti kami juga pergi ke sawah. Kapan ritual dimulai?” Suara itu muncul suara dari kerumunan.

Suara bernada sumbang bersahutan. Lurah Kohar yang semula jongkok perlahan menoleh ke arah mereka.

“Tenang, Dulur-dulur. Saya tadi lupa bawa kemenyan. La kemenyan baru dibelikan Pak Carik. Jadi, Dulur-dulur sabar sebentar. Ngoten nggih?” jawab Lurah Kohar dengan tubuh gemetar karena kemenyan yang ia bawa tidak menyala saat disulut.

“Awas, minggir-minggir!” suara Carik dari kerumunan warga.

Setelah berhasil memecah kerumunan yang memandangi Lurah Kohar, ia bergegas menuruni bibir sungai.

Niki, Pak Kohar, menyanipun.” Dia mengeluarkan kemenyan terbungkus plastik kresek hitam dari saku.

“Iya, iya, Jo. Matur nuwun,” ucap Lurah Kohar dengan nada gemetar.

Lurah Kohar kembali duduk berjongkok, lalu menyulut kemenyan. Bibirnya komat-kamit membaca mantra. Kembali ia nyalakan korek untuk membakar kemenyan dalam genggaman. Namun kemenyan itu tak lekas terbakar.

“Mungkin koreknya basah, Pak,” suara Karjo agak waswas.

Lurah Kohar mengusap-usapkan korek ke bajunya. Setelah itu ia sulut kembali kemenyan di genggaman. Mulutnya kembali komat-kamit mengucapkan mantra. Di atas bibir sungai, warga desa gusar melihat perilaku Lurah Kohar. Mereka menceletuk bersahutan. Bahkan ada yang berkata-kata kasar.

“Lurah Kohar, mungkin niatmu sudah tidak tulus untuk membangun desa ini. Nyatanya kemenyan itu tidak segera menyala.”

“Ah, mungkin itu juga pertanda desa ini akan terkena pagebluk.”

“Sudah, biar Mbah Modin saja yang berdoa pada leluhur,” sahut seseorang yang lain dari belakang.

“Ooo…. Tidak bisa. Itu tugas Pak Kohar, Saudara-saudara. Biar Pak Kohar yang melakukan ritual. Itu kewajiban beliau sebagai orang yang dituakan di sini.”

“Tolong bijaksana, Kang. Kalau sudah darurat seperti ini, apa salahnya digantikan Mbah Modin?”

“Tidak bisa. Begini, Saudara-saudara…. Bumi ini bumi Jawa. Leluhur kita di  desa ini juga orang Jawa. La kalau yang berdoa Mbah Modin, apa leluhur kita paham doa-doa Mbah Modin yang menggunakan bahasa Arab!” sahut salah seorang warga.

“Kalau Mbah Modin yang melakukan ritual itu, cepet, wes-wes, blekutuk, blekutuk. Rampung. Balik, njur ngarit. Njur balik ke sini lagi pas adegan wayang sampak. Manteb nggak? Kalau seperti Lurah? Macet! Kapan mencari rumput? Ini sudah siang, Kang.”

Suara itu muncul dari belakang, entah dari mulut siapa? Mungkin Lik Herno atau Mbah Ropik. Namun yang jelas Pak Lurah tidak tahu siapa yang mengucapkan. Akhirnya dia tidak tahan mendengar celoteh warga. Dia segera berdiri, lalu membanting kemenyan dalam genggaman.

Pyak! Kemenyan itu melesat ke dalam air, sampai masuk ke lumpur sungai, menimbulkan percikan lumpur yang mengenai sang istri.

“Pak!” Istri Pak Lurah kaget dan langsung menjerit karena terkena percikan lumpur. Karena berpenyakit jantung, ia pun pingsan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai yang tak begitu banyak berair.

Krosak, krosak. Byok!

Melihat sang istri jatuh, Lurah Kohar tergopoh-gopoh menuruni sungai.

Walah, Bune, Bune!” pekik Lurah Kohar.

Karena masih gemetar dan tergesa-gesa, Lurah Kohar terpeleset. Dia jatuh tersungkur ke dalam sungai penuh lumpur.

Rik, tulung, Rik!” ujar Lurah Kohar dengan keras dan gagap.

Karjo langsung melompat ke sungai.

“Pak!”

Percikan lumpur kembali menghambur, mengenai anak perempuan Lurah Kohar. Spontan ia pun menjerit sembari menutupi muka.

“Pak Carik!” Gadis belia anak Pak Lurah bersuara.

Sebagian warga desa tertawa cekikikan. Ada juga yang membantu keluarga Lurah Kohar turun ke dasar sungai. Namun kebanyakan berebut menyelamatkan Bu Lurah.

Perlahan-lahan Karjo membopong istri Lurah Kohar yang terbalut lumpur menaiki bibir sungai. Lurah Kohar pun terbalut lumpur, seperti patung bergerak, membuntuti dari belakang. Terkadang kaki Lurah Kohar terpeleset-peleset saat menaiki bibir sungai.

“Wah, Carik untung banyak!” Kembali ada suara muncul dari belakang.

Wah, seger, Rik!

Suara-suara bersahut-sahutan macam di pasar burung. Ucapan itu sangat keterlaluan karena menyinggung istri Lurah Kohar. Dulu, dia kembang Desa Watugamping. Kini, dia tidak sadarkan diri.

Sampai di atas sungai, nafas Karjo tersengal-sengal. Ia tidak memedulikan celoteh dan sorak warga. Warga menyingkir, memberi jalan pada Karjo menuju ke mobil Lurah Kohar yang diparkir tidak terlalu jauh dari acara sedekah bumi.

Berita soal istri Lurah Kohar pingsan dan tercebur ke sungai siang itu langsung menyebar ke seluruh penjuru desa. Warga yang mendengar cerita itu melayat ke rumah Lurah.

Rumah joglo Lurah Kohar dipenuhi warga. Sebagian memang sudah sejak kemarin di rumah Lurah Kohar karena memasak dan menyiapkan uba rampe acara sedekah bumi. Namun yang paling banyak memenuhi rumah Lurah Kohar setelah ada kejadian di acara sedekah bumi.

Istri Lurah Kohar tidak lekas siuman. Tubuhnya dibaringkan di atas balai-balai di ruang tamu. Tubuhnya masih dipenuhi lumpur. Keluarga dan warga kebingungan. Apakah menunggu dia siuman, baru tubuhnya dibersihkan? Atau langsung membersihkan tubuhnya saat dia belum sadarkan diri?

Warga makin berjubel memadati rumah Lurah Kohar. Ekspresi wajah mereka bermacam-macam. Ada yang sedih, ada yang tertawa cekikikan, setelah melihat tubuh istri Lurah Kohar penuh lumpur.

“Lo, lo, lo Lurah Kohar ternyata sudah mendapatkan SK dari Bupati untuk menjadi pejabat sementara,” bisik Parjan pada Sudiro setelah membuka map di atas meja yang tertumpuk di atas beberapa berkas akta kelahiran.

“Sttt…, kita foto dan nanti kita sebarkan kepada warga lain. Biar mereka tahu,” jawab Sudiro lirih.

Bisik-bisik mereka didengar warga lain di rumah Lurah Kohar. Suasana sedih berubah memanas. Mereka menggunjingkan SK pejabat sementara yang Lurah Kohar terima. SK yang diterima Lurah Kohar yang difoto Parjan dan Sudiro menyebar cepat di grup media sosial Desa Watugamping. Akan tetapi Lurah Kohar tidak menyadari foto SK-nya sudah tersebar luas.

Ya, kata-kata kasar pada Lurah Kohar saat acara ritual di Kali Gede itu bukan tidak beralasan. Sejak dulu Lurah Kohar mendukung rencana pendirian tambang batu kapur yang selalu ditolak warga.         Karena sebentar lagi ada pemilihan kepala desa dan untuk menjaga pencitraan, Lurah Kohar pun menandatangani petisi yang dibuat warga: menolak rencana penambangan batu kapur.

Menjelang pemilihan kepala desa, pejabat sementara Kepala Desa Watugamping masih kosong. Karena kekosongan pejabat sementara itulah, Lurah Kohar ingin sekali mendapat rekomendasi dari Bupati. Namun karena ia ikut menandatangani petisi menolak rencana tambang, rekomendasi tidak segera turun kepadanya.

“Mohon maaf. Kami berharap Saudara-saudara pulang. Istri saya bukan tontonan!” perintah Lurah Kohar setelah keluar dari kamar.

Warga desa berpandangan, tetapi tak segera membubarkan diri. Jumlah mereka bertambah banyak karena informasi dari grup media sosial Desa Watugamping.

“Maaf, Pak Kohar. Kami ingin minta klarifikasi berkait dengan SK yang Bapak terima tertanggal kemarin!” ujar Sukilan, salah seorang tokoh Desa Watugamping, lantang.

“Ini pasti ada yang tidak beres, Pak Kohar, ada yang tidak beres! Menyadari SK itu tak mudah turun karena Lurah Kohar, perangkat desa ikut menandatangani petisi menolak rencana pendirian tambang di desa kita,” lanjutnya.

“Maaf, Kang Kilan, saya tidak tahu-menahu soal SK yang dibuat Bapak Bupati kepadaku. Jangan asal tuduh!” bela Lurah Kohar.

“Lo mengelak? Lihat di grup media sosial desa kita, ayo Pak Lurah lihat!”

Rik, buka grup desa, Rik. Hp-ku basah.”

Nggih, Pak Lurah.”

Sontak mata Lurah Kohar terbelalak melihat foto SK pejabat sementara di mejanya mendapatkan ekspresi sedih di media sosial lebih dari 3.000. Hanya terpaut 300 orang mendekati jumlah daftar pemilih tetap yang berjumlah 3.300 orang.

“Maaf, Bapak-bapak, SK di grup media sosial desa itu memang untukku. Namun baru tadi pagi SK ini dikirim ajudan Bapak Bupati. Karena ini urusan desa, mari kita selesaikan di balai desa besok. Masa Bapak-bapak tidak kasihan pada istri saya yang belum sadarkan diri? Apalagi ini masih ada acara sedekah bumi. Maaf ya, Bapak-bapak. Saya minta Bapak-bapak pulang dulu. Soal SK yang saya terima, kita bicarakan besok pukul 09.00 tepat,” kata Lurah Kohar kepada warga yang masih memenuhi ruang tamu dan halaman rumahnya.

Mendengar penjelasan Lurah Kohar, warga berangsur kembali ke rumah masing-masing. Lurah Kohar menatap warga desa yang ramai-ramai meninggalkan rumahnya. Dia baru menyadari, belum menyimpan SK yang diterima karena terburu-buru segera datang ke acara sedekah bumi.

Dia melangkah gontai masuk ke dalam rumah. Dia duduk, tertegun, tak menyadari istrinya siuman. Wajah Lurah Kohar menampakkan kegamangan. Ada pula kecemasan di wajah. Dadanya berdegup kencang.

Keesokan hari, beberapa warga desayang berlangganan koran membaca sebuah judul dan foto yang tidak asing lagi. Warga gusar karena di media massa ada foto Lurah Kohar sedang memegangi kertas. Judul media massa itu dicetak tebal, ya sangat tebal: “Penolakan Warga atas Rencana Pendirian Tambang Dicabut”.

Wajah mereka memerah. Pengeras suara di mushala dan masjid berdenging-denging pagi itu. Warga desa yang memanggul cangkul dan menenteng sabit untuk mengambil rumput berhenti di jalan, mendengarkan pengumuman dari pengeras suara. Pengumuman seperti itu biasanya jika ada orang meninggal atau masalah kerja bakti.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak-Ibu, Sedherek sedaya, mangga sami rawuh wonten balai desa sekarang juga. Ini sangat penting dan genting! Mangga Bapak-Ibu sami kempal. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Warga berkumpul di pertigaan dan perempatan. Cangkul dan sabit mereka masih di pundak dan genggaman tangan. Hampir seluruh warga desa keluar, siap menuju balai desa sesuai dengan waktu yang dijanjikan Lurah Kohar dengan wajah memerah.

 

Azis Wisanggeni, mantan ketua Lesbumi Kabupaten Pati. Guru sebuah sekolah menengah atas ini menulis lakon teater, cerpen, dan puisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.