Mahasiswa (Aktivis Pergerakan) Perlu Membaca Karya Sastra?

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

Ya, apakah mahasiswa yang terlibat dalam pergerakan perlu membaca karya sastra? Tidak afdalkah menjadi mahasiswa (aktivis pergerakan), tanpa pernah membaca atau tak akrab dengan karya sastra?

Halah, yang benar saja! Apa nalarnya mahasiswa (aktivis pergerakan) mesti membaca karya sastra? Apa perlunya? Apakah membaca karya sastra memberikan jaminan mereka bakal lebih peka, lebih melek keadaan? Karya sastra macam apa pula yang patut mereka baca? Sembarang karya sastra, misalnya macam puisi Sapardi Djoko Damono, ‘Aku Ingin’, yang acap mahasiswa ucapkan saat jatuh cinta? Aku ingin mencintaimu/Dengan sederhana/Dengan kata yang tak sempat/Diucapkan kayu kepada api/Yang menjadikannya abu//Aku ingin mencintaimu/Dengan sederhana/Dengan isyarat yang tak sempat/Disampaikan awan kepada hujan/Yang menjadikannya tiada…,” sergah Kluprut.

Oke, oke, sebelum menjawab kenyinyiran Kluprut, izinkan saya memuat ulang status saya di akun Facebook: Gunawan Susanto (Gunawan Budi Susanto), Kamis, 10 Oktober 2019 pukul 01.46. Sampai kemain, Selasa, 15 Oktober 2019 pukul 13.37, status itu diklik suka 113 orang dan super dua orang serta memuat 43 komentar, termasuk komentar saya menanggapi kawan-kawan. Saya tak tahu kenapa ke-115 orang itu mengeklik suka dan super status ini. Sebab, peneraan tanda itu tidak menjamin seseorang benar-benar menyukai bukan?

Nah, inilah unggahan itu.

numpang tanya: perlukah mahasiswa aktivis pergerakan membaca karya sastra? jika iya, karya sastra macam apa? dan, kenapa?

Top of Form

115 Danang Cahya Firmansyah, Azis Wosanggeni dan 113 lainnya

343 Komentar

Syams Muhammadan Arifin Ar Novel2 karangan Pramoedya, om.. 🙏 · 23 jam

Gunawan Susanto kenapa mereka perlu membaca novel-novel karya pramoedya ananta toer, Syams Muhammadan Arifin Ar? · 23 jam

Syams Muhammadan Arifin Ar Agar mereka paham gerak laju peradaban, tidak regresif dan agar supaya tak salah memaknai arti pergerakan, om.Gunawan Susanto 🙏 22 jam

Gunawan Susanto terima kasih, Syams Muhammadan Arifin Ar. · 21 jam

Mohamad Iskandar novel Pram
puisi Widji Tukul, Rendra, Chairil dan Leak · 14 jam

Gunawan Susanto kenapa karya pram, wiji thukul, rendra, dan leak perlu mereka baca, Mohamad Iskandar? sungguh, saya berterima kasih bila sampean bersedia memberikan alasan. nuwun. · 11 jam

Mohamad Iskandar Gunawan Susanto ada hentakan di karya mereka · 3 jam

Gunawan Susanto apakah mereka, para aktivis mahasiswa, itu butuh entakan tersebut, Mohamad Iskandar? kenapa? · 3 jamBottom of Form

Teguh Eka Saputro Sastra realisme sosialis · 11 jam

Gunawan Susanto mengapa sampean menyodorkan karya sastra realisme sosialis pada mereka, Teguh Eka Saputro? · 11 jam

Teguh Eka Saputro Sebab kesadaran sosial lahir dari keberadaan sosialnya dan sastra realisme sosialis bisa menjadi pilihan yg tepat bagi mereka · 10 jam

Gunawan Susanto terima kasih, Teguh Eka Saputro. · 10 jamBottom of Form

Wardjito Soeharso THE REBEL, karya Albert Camus. Itu kayaknya bacaan wajib mahasiswa pada jamanku dulu, mas. · 11 jam

Gunawan Susanto matur nuwun, mas Wardjito Soeharso. boleh tahu, meski sedikit, apa yang menjadikan karya camus itu menjadi “bacaan wajib” saat njenengan mahasiswa — tahun 1970-an (?).· 11 jam

Wardjito Soeharso Gunawan Susanto. Menyesuaikan jaman saja. Tuntutan jaman untuk berpikir bebas dan kritis, sebagai reaksi atas kekuasaan otoriter orde baru. The Rebelnya Camus dan Catatan Harian Seorang Demonstrannya Hok Gie, menjadi buku yang menarik kuat minat mahasiswa untuk membacanya.
Kita dulu dipaksa cari buku, dari satu lapak ke lapak lain, dari satu kota ke kota berikutnya. Sekarang dengan mudah kita cari buku dan bacaan hanya dengan bertanya pada mbah google.
Jaman berubah. Gaya berubah. Cara berpikir pun ikut berubah. 11 jam

Gunawan Susanto matur nuwun, mas Wardjito Soeharso. · 10 jam

Wardjito Soeharso Gunawan Susanto. Sama2 mas. Sampai sekarang pun, aku terkadang masih buka2 The Rebel, sampai bukunya kumal, covernya copot hilang entah ke mana. Hehehe… · 10 jam

Gunawan Susanto ibunda maxim gorky, mas Wardjito Soeharso, yang saya “perlakukan” macam itu. namun, sayang, buku itu dipinjam dan sampai sekarang tidak dikembalikan. · 10 jam

Rohman Karya sastra kategori sosial budaya, seperti perempuan berbicara kretek, novel realisme, gelandangan di kampung sendiri, cerita-cerita walisongo, novel Isinga, novel peci miring alias gusdur, cerpen SGA, cerpen Kangputu, …. 🙂 · 10 jam

Gunawan Susanto mengapa sampean memberikan pilihan karya-karya itu, Rohman? · 10 jam

Rohman Gunawan Susanto karena mempengaruhi sudut pandang seputar perempuan, kehidupan masyarakat, siasat pergerakan, landasan bergerak, dinamika persoalan keagamaan, banyaknya persoalan rumit terutama pada orang-orang “pinggiran”, dan sejenisnya. Hehehe · 10 jam

Gunawan Susanto matur nuwun, Rohman. salam. · 9 jamBottom of Form

Agung Matakita Hima Perlu. Karya sastra apa aja. Kenapa? Keseimbangan. · 5 jam

Gunawan Susanto keseimbangan dengan apa, Agung Matakita Hima? · 4 jam

Agung Matakita Hima Gunawan Susanto keseimbangan logika dan kreatifitas. Otak kiri dan kanan. Neng jane luwih penting itu memvaca kahanan kang. Membaca kasunyatan · 3 jam

Gunawan Susanto matur nuwun, Agung Matakita Hima. · 3 jamBottom of Form

Hasan Kurniawan Ibunda maxim gorki.. · 3 jam

Gunawan Susanto kenapa sampean menyodorkan ibunda, Hasan Kurniawan? 3 jam

Hasan Kurniawan Gunawan Susanto karena dalam novel itu dijelaskan bagaimana seharusnya seseorang melangkah dan keluar dari kegelapan kebodohan dirinya sendiri.. novel ini juga secara gamblang menguraikan bagaimana taktik perjuangan revolusioner dilakukan.. · 3 jam

Gunawan Susanto matur nuwun, Hasan Kurniawan.  3 jamBottom of Form

Jfx Hoery Perlu maca Cik Hwa · 3 jam

Gunawan Susanto kenapa pula cik hwa patut mereka baca, mas Jfx Hoery3 jam

Jfx Hoery Gunawan Susanto supaya mengerti toleransi. Dan itu karya dosen 2 jam

Gunawan Susanto supaya mengerti toleransi sebagai alasan njenengan menyodorkan cik hwa bisa sya aterima, mas Jfx Hoery. namun bahwa karya itu tulisan dosen tidak mempunyai signifikansi dengan pemenuhan kebutuhan akan bacaan berupa karya sastra bagi aktivis mahasiswa. karya sastra karya dosen tak berbanding lurus dengan mutu juga kan? · 2 jam

Jfx Hoery Gunawan Susanto semoga menjadi peremungan. Kapan ke Blora, dan napak tilas ke Padangan · 2 jam

Vina Hardyana Infantri Pas ikut demo2 jaman kuliah, saya hanya baca2 sebatas sedikit dari karya wiji tukul dan Rendra..

Gunawan Susanto kenapa “sebatas sedikit”, Vina Hardyana Infantri? kenapa pula karya wiji thukul dan rendra, bukan yang lain?

Vina Hardyana Infantri Mungkin saat itu saya tidak bener2 dalam pergerakan itu sendiri sehingga hanya menelan apa yg disodorkan depan mata saja, tidak menggali lagi.

Gunawan Susanto terima kasih, Vina Hardyana Infantri. semoga sampean di jogja tansah sehat dan gembira.

Vina Hardyana Infantri Aamiin… Nuwun bapak… Semoga segera bisa bersilaturahmi ke tempat bapak lagi… Bottom of Form

Rimbun Rumata Perlu, karena itu menambah wawasan jiwa.

Gunawan Susanto matur nuwun, mbak Rimbun Rumata.

Bottom of Form

***

Ada sepuluh penanggap status yang saya unggah untuk mencari masukan mengenai topik ini. Mereka adalah Syams Muhammadan Arifin Ar, Mohamad Iskandar, Teguh Eko Saputro, Wardjito Soeharso, Rohman, Agung Matakita Hima, Hasan Kurniawan, Jfx Hoery, Vina Hardyana Infantri, dan Rimbun Rumata. Dari kesepuluh orang (kawan di Facebook) itu, cuma tiga orang yang saya kenal di dunia nyata, yakni Agung Matakita Hima, Jfx Hoery, dan Vina Hardyana Infantri. Agung Hima menulis puisi, cerpen, dan esai serta pelatih teater di berbagai sekolah di Semarang. Hoery adalah penulis sastra dalam bahasa Jawa, tinggal di Bojonegoro, Jawa Timur. Vina alumnus Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan tinggal di Yogyakarta.

Mereka menyatakan mahasiswa (aktivis pergerakan) perlu membaca novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer, puisi Wiji Thukul, Rendra, Chairil Anwar, Leak Sosiawan, sastra realisme sosialis, kumpulan esai Rebel karya Albert Camus (telah tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia oleh penerbit Immortal, tahun 2018, tebal 411 halaman, ISBN 978-602-6657-90-9), sastra kategori sosial budaya — seperti perempuan berbicara soal kretek, novel realisme, gelandangan di kampung sendiri, cerita-cerita Wali Songo, novel Isinga kisah mama di Papua karya Dorothea Rosa Herliany, Peci Miring: Novel Biografi Gus Dur karya Aguk Irawan MN, cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma, cerpen-cerpen Kang Putu. Mahasiswa (aktivis pergerakan) juga perlu membaca karya sastra apa saja, novel Ibunda karya Maxim Gorky, dan Cik Hwa, kumpulan cerita pendek berbahasa Jawa dialek Blora karya Gunawan Budi Susanto.

Secara ringkas, mereka menyatakan ada beberapa alasan kenapa mahasiswa (aktivis pergerakan) perlu membaca karya sastra (sebagaimana mereka rekomendasikan). Pertama, agar paham gerak laju peradaban, tidak regresif, dan tak salah memaknai arti pergerakan. Kedua, kesadaran sosial lahir dari keberadaan sosial dan sastra realisme sosialis bisa menjadi pilihan tepat bagi mahasiswa (aktivis pergerakan). Ketiga, tuntutan zaman untuk berpikir bebas dan kritis, sebagai reaksi atas kekuasaan otoriter.

Keempat, memengaruhi sudut pandang seputar perempuan, kehidupan masyarakat, siasat pergerakan, landasan bergerak, dinamika persoalan keagamaan, serta betapa banyak persoalan rumit, terutama pada orang-orang “pinggiran”. Kelima, menjaga (atau mencapai) keseimbangan logika dan kreativitas; antara otak kiri dan kanan. Keenam, agar seseorang bisa melangkah dan keluar dari kegelapan kebodohan diri sendiri serta paham taktik perjuangan revolusioner. Ketujuh, agar mengerti (makna) toleransi.

Pilihan (atau rekomendasi) karya sastra-karya sastra yang perlu dibaca mahasiswa (aktivis pergerakan) itu rata-rata — boleh dibilang — cenderung sarat kritik sosial. Itulah karya-karya yang mengunjukkan empati mendalam terhadap korban penindasan, pengisapan, eksploitasi di bawah kekuasaan yang tiranik, represif, otoriter. Cuma seorang yang merekomendasikan mahasiswa (aktivis pergerakan) membaca karya sastra apa saja – untuk menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri, antara logika dan kreativitas. Namun srentak dengan itu, dia juga menyatakan bahwa yang jauh lebih pentingan adalah kemampuan membaca kahanan, membaca kasunyatan – membaca keadaan yang nyata.

Secara keseluruhan saya menyetujui pendapat dan rekomendasi mereka. Namun perlu kita telisik lebih jauh, apa karya sastra yang seyogianya para mahasiswa (aktivis pergerakan) baca? Sembarang karya sastra, atau sebagaimana mereka rekomendasikan: karya-karya yang terangkum dalam sebutan realisme sosialis. Macam apakah itu?

Tak cukup waktu bagi saya, saat ini, memaparkan macam apa karya sastra realisme sosialis itu. Namun, secara gampangan, bolehlah saya kembali ke rumusan awal dalam mengenai sastra bahwa karya sastra seyogianya dulce et utile. Itulah karya sastra yang tak cuma memberikan penghiburan, apalagi dengan h kecil, tetapi karya sastra yang indah dan berguna.

Namun indah dan berguna menurut pendapat siapa? Bukankah kerangka referensi (term of reference) – yang dipengaruhi oleh pengalaman pembacaan memengaruhi penerimaan dan penolakan seseorang terhadap suatu karya sastra? Dengan kata lain, indah dan berguna bergantung pada pengalaman pembacaan masing-masing bukan?

Nah, sampai di sini, kita sampai pada pengenalan diri: siapa dan untuk apakah seorang mahasiswa menjadi aktivis pergerakan? Pergerakan macam apa? Bagaimana pula mahasiswa (aktivis pergerakan) mewujudkan dalam laku kehidupan sehari-hari? Apa pula tujuan pergerakan itu?

Saya yakin kecenderungan membaca (karya sastra) mahasiswa (aktivis pergerakan) akan sangat dipengaruhi oleh kecenderungan berpihak ke mana dalam laku pergerakan di negeri ini. Untuk menguji hipotesis itu, izinkan saya menyodorkan puisi Wiji Thukul ini.

 

Sajak Tikar Plastik Tikar Pandan

 

tikar plastik tikar pandan
kita duduk berhadapan
tikar plastik tikar pandan
lambang dua kekuatan

 

tikar plastik bikinan pabrik
tikar pandan dianyam tangan
tikar plastik makin mendesak
tikar pandan bertahan

 

kalian duduk di mana?

 

solo, april 88

Bagi saya, daya “tetak” puisi ini tidak sesederhana sebagaimana yang tersurat. Puisi ini mempertanyakan tepat di jantung persoalan: pada siapa kita berpihak!

Nah, kepada siapa atau ke mana sampean berpihak? Karena, sungguh, keberpihakan sampean menentukan pula karya sastra macam apa bacaan sampean.

Salam!

Gebyog, 15 Oktober 2019: 13.50

 

Versi awal adalah prasaran untuk diskusi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Jumat, 11 Oktober 2019.

Foto: Media Kalamkopi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.