Mahasiswa dan Aparatur Sipil Negara

Spread the love

Oleh: Saiful Anwar

Suatu sore aku duduk di sebuah Kedai Kopi. Hari itu saya sedang kacau, pekerjaan yang kujalani selama ini belum mampu memenuhi kebutuhan hidup di perantauan.Uang memang bukan segalanya tapi tanpa uang manusia modern tak mampu bertahan hidup.

“Mau pesan apa mas?” tanya pelayan Kedai Kopi.

“Kopi susu satu” ucapku padanya.

“Baik, ditunggu ya!”

“oke”

Tak lama, datang dua orang. Yang satu adalah laki-laki berumur kira-kira 30 tahun, tampilannya nampak necis, ia memakai baju bertuliskansalah satu nama dinas. Rupanya dia seorang Aparatur Sipil Negara (ASN).  Sedang yang satunya lagi berumur 23 tahun, memakai baju bergambar Wiji Thukul, rupanya dia mahasiswa semester akhir.

Setelah memesan menu di kasir, mereka duduk saling berhadapan.

“negara ini makin kacau. Mencuri duit negara hukumannya ringan” ucap mahasiswa.

“maksudmu apa?” laki-laki ASN bingung keheranan.

Diam-diam aku dengarkan obrolan mereka.

“Revisi UU KPK yang disepakati DPR memuat aturan yang meringankan hukuman bagi koruptor. Bukankah itu bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita reformasi? Hal itu diperburuk oleh keberadaan Dewan Pengawas. Jelas, DPR dan pemerintah bersekongkol ingin melemahkan KPK!”

“Tunggu dulu, sabar. Aku tak bisa menangkap maksud perkataanmu. Bukankah presiden kita sudah berjanji mau memperkuat kedudukan KPK?”

“Aih, seperti tak politik saja”

“Kemarin kulihat di televisi pemerintah menyatakan berkomitmen untuk memperkuat KPK. RUU KPK bukan untuk melemahkan tapi justru memerkuat”

“Televisi jaman sekarang tak ubahnya moncong meriam jaman Belanda. Ia memaksa orang-orang untuk percaya pada satu kebenaran, kebenaran penguasa! Matikan televisimu!”

Pesanan mereka datang. Si mahasiswa membantu pemilik Kedai menurunkan pesanan dari penampan.Setelah mengantar pesanan kedua orang itu, pelayan Kedai mendatangiku. Pesananku datang. Tak menunggu lama kopi susu itu langsung kuseruput. Amboi, nikmat sekali.

Kudengarkan lagi pembicaraan dua orang itu.

“itu hanya sebagian kecil dari masalah di negara ini” lanjut mahasiswa. “masih banyak masalah lain seperti perampasan lahan, pelanggaran HAM yang belum selesai, kasus Papua yang tak kunjung menemui titik terang dan seabrek persoalan lainnya”

“hidup memang tak selamanya mulus, kadang ada batu terjal yang menghadang. Tak ada gading yang tak retak, begitu pun pemerintahan, tak ada pemerintahan yang sempurna” lelaki ASN coba menenangkan.

“Benar, hanya saja di negara kita masalah itu dipelihara, tidak diselesaikan. Gading dibuat retak dan dibiarkan tetap retak.”

“Lalu apa solusimu?”

“Revolusi!”

“Hush! Revolusi yang bagaimana? Hati-hati kamu kalau bicara nanti ditangkap polisi”

“Kita harus mengubah tatanan negara ini menjadi lebih baik. Sistem pemerintahan yang korup dan tidak mengindahkan aspirasi rakyat tak perlu dpertahankan. Misal DPR, kita bubarkan saja!”

“membubarkan DPR? bukankah itu artinya menghapus simbol demokrasi itu sendiri?”

“Apakah itu masalah? simbol yang sudah tidak representatif tak perlu dipertanahkan lagi. Kita harus mulai berpikir bahwa DPR bukanlah simbol demokrasi”

Kuseruput lagi kopi susu di depanku. obrolan mereka semakin asyik didengarkan.

“Begini saja, kamu kan orang terpelajar cobalah kamu omongkan baik-baik masalah itu dengan anggota DPR di wilayahmu. Seorang terpelajar tidak perlu menggunakan cara-cara anrkis dalam menyampaikan aspisari”

“Cuih, tak sudi! Tak ada yang bisa diharapkan dari wakil rakyat di negara kita ini. Anjing semua”

“Hati-hati kalau bicara nanti kau ditangkap polisi”

“Biarlah, biarkan aku ditangkap agar aku bisa satu sel dengan mahasiswa-mahasiswa yang ditangkap kemarin itu!”

Kedai mulai ramai. orang-orang mulai berdatangan, ada yang sendiri, ada yang membawa pasangan. Dua orang yang sedang asyik mengobrol itu mengecilkan volume agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung lain. Aku masih tetap mendengarkan.

“Kamu kan mahasiswa, harus bisa berpikir adil. Aku ingin membuka matamu bahwa pemerintah pasti sudah melakukan yang terbaik. Mereka tak akan mengkhianati rakyatnya. Mereka setia pada Pancasila dan Undang-undang Dasar 45. Itu adalah jaminan integritas”

“Hahaha, ternyata menjadi ASN membuat orang jadi moralis dan normatif”

Laki-laki ASN itu diam. Ia mematung.

“Itulah mengapa aku tidak suka ikut organisasi kampus baik ekstra maupun intra. Mahasiswa selalu mencari panggung. Lihat saja aktivis 98 yang sekarang menjadi bagian dari pemerintahan.Mereka sama denganmu. Saat masih mahasiswa garang seperti macan, namun ketika sudah mendapatkan posisi mereka jadi penurut seperti anjing”

Perbincangan mereka semakin memanas. Sial, kopiku sudah habis. Kedai semakin ramai. lama-lama obrolan mereka tak bisa kudengar lagi. Kuhabiskan kopi susu yang masih tersisa di cangkir.

Jam menunjukkan pukul 20:47 WIB, aku harus bergegas pulang ke kos.

 

Semarang, 30 September 2019

Gambar: tempo.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.