Manipulasi Sejarah SI dan“Pembunuhan” Sosok Tirto Adhisuryo

Spread the love

Oleh Saiful Anwar

Sarekat Islam (SI) adalah organisasi politik besar dalam sejarah Indonesia. SI tertulis sebagai organisasi politik besar dengan 2 juta anggota pada masa kolonial Belanda, jumlah yang sangat besar kala itu. Pada mulanya organisasi ini bernama Sarekat Dagang Islam (SDI).  Menurut sejarah ‘resmi’ SDI didirikan oleh Haji Samahoedi, seorang juragan batik dari Solo, pada 16 Oktober 1905. Pada kongres pertamanya di Solo pada 1906 nama Sarekat Dagang Islam diganti menjadi Sarekat Islam. SI mencapai puncak kejayaan dibawah kepemimpinan HOS Cokroaminoto. Pada masa kepemimpinan Cokro markas SI dipindah ke Surabaya. Di sinilah Cokro memiliki kos dan beberapa anak yang indekos ditempatnya adalah Musso, Kartosuwiryo, dan Sukarno.

Kenyataan bahwa SI adalah organisasi politik radikal pertama di Hindia Belanda sudah tidak diragukan lagi. SI adalah organisasi politik yang pertama-tama mengkritik sistem ekonomi pemerintah kolonial yang korup dan menghisap. Kedasyatan SI itu menarik minat Henk Snevliet, seorang komunis Belanda, yang gagal mendirikan organisasi kiri radikal di Hindia Belanda untuk masuk dan mempengaruhi organisasi tersebut. Henk Snevliet yang berkali-kali gagal mendirikan organisasi kiri radikal memasukkan kadernya yang bernama Semaoen ke dalam tubuh SI. Semaoen adalah Ketua Serikat Buruh kerta api Semarang. Ia menjabat sebagai ketua saat usianya 17 tahun. Masuknya Semaoen dan orang-orang komunis lain ke dalam tubuh SI membuat wacana yang berkembang di organisasi tersebut semakin condong ke kiri. Hal itu menyebabkan SI terpecah menjadi dua kubu, kubu pertama berisi orang-orang yang sudah terpapar paham Marxisme, sedangkan kubu kedua berisi orang-orang yang mempertahankan ideologi Islam. Perpecahan itu akhirnya menimbulkan polemik dalam tubuh SI. Akhirnya SI pecah menjadi SI merah dan SI putih. SI merah kemudian bertransformasi menjadi Partai Komunis Hindia Belanda dan kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia sedangkan SI putih tetap menjadi Sarekat Islam.

Berbicara tentang Sarekat Islam nampaknya historiografi kita sengaja menghilang peran seorang Tirto Adhisuryo. Apa hubungan antara Tirto Adhisuryo dengan Sarekat Islam? Barangkali itu yang ada dalam benak kita. Nama Tirto tidak banyak disinggung dalam sejarah SI secara khusus, maupun sejarah pergerakan nasional secara umum. Tirto hanya dikenal sebagai Bapak Pers Indonesia, orang pribumi pertama yang menggunakan pers sebagai media perlawanan. Tanpa mengurangi rasa hormat dan mencampakkan jasa-jasanya di bidang itu, penokohan Tirto yang ‘hanya’ sebagai Bapak Pers dalam sejarah Indonesia adalah satu kejahatan historiografi. Tirto adalah sosok penting di balik pendirian Sarekat Dagang Islam (SDI). Dalam perkembangannya Sarekat Dagang Islam bertransformasi menjadi Sarekat Islam dengan menghilangkan kata “dagang” di dalamnya. Hilangnya nama Tirto dalam sejarah organisasi tersebut adalah bagian dari politik kolonial.

Tirto Adhi Suryo adalah sang pemula. Tirto adalah tokoh  pendiri organisasi modern pertama di Hindia Belanda bernama Sarekat Priyayi, sekalipun organisasi itu gagal dan bubar pada tahun 1906. Sarekat Priyayi adalah percobaan sejarah, walau gagal ia memberi Tirto pelajaran bagaimana membangun sebuah organisasi modern. Setelah Sarekat Priyayi muncul organisasi bernama Budi Utomo. Kemunculan organisasi itu disambut baik oleh Tirto, ia pun bergabung dengan organisasi tersebut. Ia kembali melakukan percobaan sejarah. Walau Budi Utomo lebih bersifat etnosentris dibanding Sarekat Priyayi namun Tirto tetap mempropagandakan organisasi tersebut setiap ia melakukan perjalanan ke luar kota. Namun Tirto memilih keluar setelah organisasi itu ‘jatuh’ ke golongan priyayi tua. Baginya sebuah organisasi sudah mati jika dipegang oleh golongan tua. Mungkin karena golongan tua cenderung tidak menyukai cara-cara radikal. Meskipun keduanya gagal Tirto mengambil pelajaran penting. Ia kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam yang yang berpusat di Bogor.

Sarekat Dagang Islam adalah organisasi ekonomi dan politik yang didirikan dengan semboyan “kebebasan ekonomi”. Sarekat Islam beranggotakan “orang-orang yang diperintah” oleh pemerintah kolonial Belanda. Hal ini menggambarkan cara perpikir Tirto yang egaliter dan tidak rasis. Ia menganggap bahwa semua bangsa di Hindia Belanda adalah sama yakni sama-sama diperintah oleh pemerintah kolonial Belanda.

Selain aktif di berbagai organisasi, Tirto juga aktif di dunia penerbitan. Ia mendirikan surat kabar berbahasa Melayu Pasar bernama Medan Priyayi. Melalui surat kabar itu Tirto membongkar kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial terhadap orang-orang yang diperintahnya. Selain itu ia juga membongkar praktik korupsi yang ada dalam tubuh pemerintah kolonial dan memberi bantuan hukum kepada siapapun yang diberlakukan tidak adil oleh pemerintah kolonial. Bahasa Melayu Pasar yang digunakan oleh Medan Priyayi adalah embrio bahasa Indonesia dan Tirto adalah salahseorang yang mempopulerkan penggunaan bahasa itu dalam surat kabar dan karya tulis. Medan Priyayi bukan sekadar surat kabar, ia adalah media perlawanan Tirto, anak Tirto yang sudah menolong banyak orang. Tirto melawan dengan tulisan, sebuah cara yang pada waktu itu masih asing di Hindia Belanda namun canggih.

Sampai disini kita sudah bisa melihat bahwa Tirto tidak hanya tokoh pers Indonesia, Ia adalah sang pemula seorang organisatoris, seorang perintis gerakan modern Indonesia, dan  pembuka jalan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Bagaimana historiografi Indonesia ‘membunuh’ Tirto

Bahan penulisan sejarah itu seperti kertas, mudah rusak, tipis, dan bisa dibentuk sesuka hati layaknya origami. Sejarah disusun bukan tanpa campur tangan politik. Sudah sejak dahulu sejarah ditulis untuk tujuan tertentu, sejak dulu, sejak Thucydides pertama kali menuliskan kisah Perang Peloponnesos hingga sekarang kepentingan selalu lesap dalam setiap penulisan sejarah.

Dalam historiografi Indonesia Tirto dikenal sebagai Bapak Pers Indonesia, orang pribumi pertama yang menerbitkan surat kabar. Gelar Bapak Pers Indonesia nampak gagah dan mempesona, namun dibalik konstruk berpikir itu ada kepentingan untuk menghilangkan peran Tirto di bidang organisasi pergerakan. Sosok Tirto sebagai organisatoris pendiri Sarekat Priyayi dan Sarekat Dagang Islam seakan dilenyapkan dalam sejarah Indonesia.

Upaya menghilangkan Tirto dari jejak sejarah Indonesia sudah dimulai sejak jaman kolonial. Sarekat Islam yang berdiri di Solo mula-mula adalah cabang dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang berpusat di Bogor pimpinan Tirto Adhi Suryo. Perkembangan SDI Solo membuat pemerintah kolonial kagum. Pemerintah kolonial merasa perlu menyingkirkan Tirto dengan memanfaatkan kondisi SDI Solo yang sedang bagus-bagusnya itu. Melalui seorang Islamolog bernama Rinkes pemerintah kolonial berusaha menyingkirkan Tirto dari panggung politik. Sambil menyelam minum air.

 Rinkes adalah murid Snock Horgonje. Ia paham betul bagaimana kondisi sosial orang-orang Islam di pedalaman maupun di pesisir. Ia berasumsi bahwa Tirto tidak begitu akrab dengan Islam, hal itu dibuktikan dari karya-karya Tirto antara tahun 1902-1912 yang di dalamnya tidak ada satupun yang menggunakan ayat dari kitab. Hipotesa tersebut membuat Rinkes menganggap bahwa Tirto telah “bermain mata” dengan para pedagang Islam untuk kepentingannya sendiri. Rinkes kemudian merancang strategi jahat untuk menjatuhkan Tirto. Perkembangan SDI cabang Solo yang kemudian bertransformasi menjadi Sarekat Islam mengundang perhatian pemerintah kolonial untuk ikut campur dalam urusan organisasi tersebut guna mencapai tujuan-tujuannya. Campur tangan pemerintah kolonial dibuktikan dengan sebuah fakta bahwa ada hubungan yang cukup erat antara Rinkes dan Haji Samanhudi, pemimpin SDI Solo. Rinkes merasa perlu menyingkirkan Tirto dari panggung karena ia telah melampaui batas-batas yang sudah ditentukan oleh politik etis.

Ada benang merah antara penyingkiran Tirto, Hubungan Samanhudi-Rinkes, dan gerakan golongan muda Tiongkok di Hindia Belanda. Golongan muda Tiongkok di Hindia Belanda pada tahun 1912 semakin radikal, mereka semakin terbakar oleh revolusi Tiongkok yang bercita-cita menggulingkan kekaisaran dan menggantinya dengan republik. Gerakan golongan muda Tiongkok itu sangat merepotkan pemerintah kolonial. di Surabaya sekitar tahun-tahun itu terjadi aksi boikot pekerja Tionghoa terhadap perusahaan-perusahaan Belanda. Pemerintah juga semakin khawatir dengan perkembangan Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) (organisasi Tionghoa di Hindia yang memiliki banyak sekolah di kota besar) yang memiliki banyak murid. Mereka khawatir karena THHK dapat mengikis kekawulaan orang-orang Tionghoa terhadap pemerintah kolonial. jika sudah demikian pemerintah kolonial akan semakin sulit karena mereka harus menghadapi gerakan Pribumi dan gerakan Tionghoa sekaligus. Maka dari itu cara paling efektif bagi pemerintah kolonial adalah membenturkan kedua kelompok tersebut. Sekali rengkuh dayung dua-tiga pulau terlampaui.

Jejak campur tangan pemerintah kolonial dapat dilihat dari tulisan-tulisan Rinkes. Dalam suatu dokumen dia menulis:

“Tidak ada yang ingat lagi tentang adanya perhimpunan dagang itu (SDI), tetapi dengan berkembang lancar di Solo tuan Tirto merasa sudah datang saatnya untuk mengedepankan kembali kongsinya (SDI) yang gagal, dan menempatkannya sebagai organisasi induk cabang Solo, dengan berbagai pemutar-balikan, seakan pemimpin pusat di Buitenzorg (Bogor) dengan jiwa besar menyerahkan pimpinannya kepada orang-orang Solo, karena titiik berat perhimpunan kemudian dipindahkan ke sana sedang selanjutnya perkumpulan di Solo itu selalu dinamai Sarekat Dagang Islam, yang karena kesamaan namanya oleh banyak orang, pada pers serta Residen meninggalkan kesan satu organisasi.”

Melalui tulisan itu Rinkes ingin membangun sebuah konstruk bahwa SDI Solo yang bertransformasi menjadi SI bukanlah cabang dari SDI pimpinan Tirto yang berpusat di Bogor. Rinkes mencoba meyakinkan orang-orang bahwa pendirian SI di Solo adalah hal yang berbeda dan tidak ada hubungannya dengan Tirto.

Beberapa orang yang hidup pada masa itu menyangkal propaganda Rinkes tersebut. M.Hatta misalnya, menulis:

“Maka R.M. Tirto Adhisuryo berkelilinglah seluruh jawa tapi yang dikunjunginya hanya kkota-kota besar saja. Di kota-kota besar itu masing-masing dianjurkan mendirikan Sarekat Dagang Islam. Akhirnya dia sampai di Solo dan di sana dicobanya pula mendirikan SI dengan semboyan “kebebasan ekonomi” rakyat tujuannya, Islam jiwanya, guna kekuatan dan persatuan. Itulah tujuannya! Jadi sendi Sarekat Dagang Islam dikatakan “kebebasan ekonomi” rakyat menjadi tujuan dan islam jiwanya, guna kekuatan dan persatuan. Perkumpulan yang didirikan di Solo itu ketuanya ialah Haji Samanhudi. Jadi Haji Samanhudi dijadikan Ketua Sarekat Dagang Islam di Solo, tapi cabang daripada Sarekat Dagang Islam di Bogor.”

Namun dari dua versi tersebut yang lebih akrab di telinga kita adalah versi Rinkes. Dalam membangun narasinya pemerintah kolonial membenturkan kelompok Islam dengan Tionghoa. Hingga sekarang sejarah ‘resmi’ Indonesia menulis bahwa pendiri Sarekat Islam adalah Haji Samanhudi, bukan Tirto Adhisuryo. Kalaupun ada nama Tirto perannya hanya sebagai figuran. Selain itu dalam sejarah Sarekat Islam kita disuguhi cerita bahwa: latar belakang berdirinya Sarekat Islam adalah karena adanya persaingan dagang antara pedagang batik di Solo dengan pedagang batik Tionghoa. Logika ini berdampak terhadap kesadaran berbangsa orang-orang Indonesia bahwa dengan mempercayai narasi Rinkes tersebut secara tidak langsung kita percaya bahwa nasionalisme Indonesia itu dibangun diatas sentimen anti-Tionghoa. Dalam hal praktis narasi sejarah itu bisa digunakan kelompok-kelompok tertentu untuk legitimasi  tindakan diskriminatif terhadap etnis Tionghoa. Padahal adu domba dan rasis adalah watak kolonial.

Historiografi Indonesia yang “katanya” dirancang sebagai anti tesis dari historiografi kolonial rupanya belum benar-benar anti kolonial. Banyak narasi sejarah kolonial yang masih dilestarikan dalam sejarah Indonesia, salahsatunya penyingkiran sosok Tirto Adhisuryo dalam sejarah SI. Pemerintah kolonial merasa perlu menyingkirkan Tirto karena ia berbahaya bagi kepentingan kolonial. ialah orang pertama yang melawan kejahatan kolonial dengan tulisan, langkah yang kemudian hari ditiru oleh tokoh-tokoh pendiri Indonesia. Sebagai ganjaran atas dedikasinya itu Tirto dibuang ke Maluku, diasingkan. Orang-orang dibuat lupa oleh sosok Tirto. Ia diluapakn oleh semua orang, tidak ada yang datang di pemakamannya, bahkan Haji Samahudi sekalipun. Pramoedya Ananta Toer yang menulis biografi Tirto menulis: “Pada hari suram tanggal 7 Desember 1918 sebuah iring-iringan kecil, sangat kecil, mengantarkan jenasahnya ke peristirahatannya yang terakhir di Manggadua, Jakarta. Tak ada pidato-pidato sambutan . tak ada yang memberitakan jasa-jasa dan amalnya dalam hidupnya yang tidak begitu panjang. Kemudia orang meninggalkannya seperti terlepas dari beban yang tak diharapkan. Itu hari terakhir R.M. Tirto Adhi Soerjo.”

Menghapus Tirto dari jejak sejarah adalah cita-cita pemrintah kolonial. Hingga setelah Indonesia merdeka puluhan tahun ternyata narasi sejarah itu masih hidup dan dilestarikan. Dengan melestarikan narasi sejarah kolonial tentang Tirto Adhisuryo itu, historiografi Indonesia sebenarnya telah melakukan kejahatan besar.

Gambar: http://www.timur-angin.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.