Manuk Emprit dan Perjuangan Ibu-Ibu Kendeng

Spread the love

Oleh Asep Syaeful Bachri

Dari pada memperdebatan tentang simbol agama ataupun tentang membuat Negara Islam—yang diproduksi secara terus menerus—ada sesuatu yang menarik dalam kitab ‘ushfuriyah, dimana hadist pertama dalam kitab ini justru tentang kasih sayang. Dari Abdullah ibn Umar radliallahu ta’ala ‘anhuma berkata, Rasulullah SAW bersabda;

“orang-orang yang penyayang akan dikasihi Sang Maha Penyayang, maka sanyangilah apa-apa yang di bumi, maka kamu sekalian akan disayangi oleh apa-apa yang dilangit”(Arrahimuna yarhahum Arrahmanu,irhamuu man fi al-ardhi yarhamkum man fi as-sam ^).

Kemudian Syaikh Muhammad ibn Abi Bakar menjelaskan hadist tersebut dengan sebuah cerita tentang Umar bin Khattab RA. Dimana suatu saat, Umar bin Khattab berjalan di gang-gang sebuah kampung, kemudian ia melihat anak kecil yang sedang memainkan seekor “manuk emprit”. Melihat kejadian itu, Umar bin Khattab merasa kasihan dengan manuk emprit tersebut, yang akhirnya ia memutuskan untuk membelinya dari anak itu dan kemudian melepaskannya.

Ketika Umar bin Khattab wafat, para sahabat melihatnya dalam sebuah mimpi dan bertanya tentang apa yang Allah SWT perbuat di alam barzakh kepadanya. Umar bin Khattab pun menjawab bahwa Allah SWT telah mengampuninya. Kemudian para sahabat bertanya lagi perihal dengan hal apa Allah SWT mengampuninya; apakah dengan amal ibadahnya, keadilannya saat memimpin, atau dengan kezuhudannya. Umar bin Khattab pun menjawab bahwa; setelah orang-orang menguburnya di dalam liang lahat dan menutupinya dengan tanah serta meninggalkannya sendirian, maka datanglah dua malaikat yang menakutkan sehingga hilanglah akal Umar bin Khattab dan seluruh persendiaanya bergetar hebat dihadapan kedua malaikat itu. Kedua malaikat itu memegangnya dan mendudukkannya, yang kemudian akan ditanyai pertanyaan-pertanyaan di alam kubur. Akan tetapi, tiba-tiba terdengarlah suaro tanpo rupo ( Al-Hatif), “tinggalkanlah hamba-Ku, dan jangan kau menakut-nakutinya, sesungguhnya Aku menyayanginya dan mengampuninya karena dia telah menyayangi seekor “manuk emprit” di dunia, maka Aku menyayanginya di Akhirat[i].

Jika kita umat Islam mau mereflksikan hadist dan cerita di atas dengan apa yang dilakukan oleh Ibu-ibu Kendeng dalam memperjuangkan kelestarian pegunungan Kendeng, maka kita akan iri dan malu melihat apa yang mereka lakukan. Jujur saya pribadi akan sangat iri melihat keiklasannya dalam memperjuangkan kelestarian pegunungan Kendeng, setidaknya mereka telah mengantongi kasih sayang Allah SWT di akhirat sana, atas kasih sayang warga kendeng terhadap alam “Ibu Bumi” dan menjaganya dari kerusakan yang akan disebabkan oleh PT. Semen Indonesia dengan pertambangan karstnya. Seperti halnya kasih sayang Allah SWT terhadap Umar bin Khattab yang berwujud pengampunan, atas sifat welasnya terhadap manuk emprit ketika di dunia.

Jika ingin lebih jauh merefleksikannya, kita umat Islam akan semakin malu dengan segala perpecahan yang terjadi atas semua perbedaan. Segala perbedaan yang seharusnya menjadi rahmat dalam berbangsa dan bernegara di Negeri yang beragam ini, harus menjadi sebuah malapetaka dengan minimnya rasa toleransi antar umat beragama. Perilaku seperti ini, membuat umat Islam  semakin tertinggal jauh dengan Ibu-Ibu Kendeng dengan perjuangannya melawan  kuasa modal dan kuasa para elit birokrasi yang tak merakyat. Sedangkan umat Islam masih terjebak dengan ketidakdewasaannya dalam menghadapi perbedaan.

Bahkan perjuangan Ibu-Ibu Kendeng dalam mengawal keadilan atas kemenangan hukum di tingkat Mahkamah Agung dengan long march pada tanggal 5 sampai 9 Desember, justru dihadiahi oleh Gubernur Jawa Tengah dengan izin baru penambangan untuk PT. SI di Rembang. Hingga akhirnya mereka melakukan aksi lanjutan pada tanggal 19 Desember dengan mendirikan tenda di depan kantor Gubernur. Mereka berkomitmen tidak akan pulang ke Rembang sebelum Gubernur mamatuhi putusan MA yang memenangkan petani Rembang.

Secara tidak langsung, perbuatan yang dilakukan oleh Ibu-Ibu Kendeng dalam perlawanannya merupakan perbuatan yang sarat akan nilai spiritual. Dalam fiqh dikemukakan keharusan seorang pemimpin agar mementingkan kesejahteraan rakyat yang dipimpin, sebagai tugas yang harus dilaksanakan:

“kebikjasanaan dan tindakan Imam ( pemimpin ) harus terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat yang dipimpin ( tasharraf al-imam ‘ala ar ra’iyah manutun bi al-maslahah)”.

Sangat jelas tujuan berkuasa bukanlah kekuasaan itu sendiri, melainkan sesuatu yang dirumuskan dengan kata kemaslahatan (al maslahah). Prinsip kemaslahatan itu sendiri seringkali diterjemahkan dengan kata “kesejahteraan rakyat”. Dalam bahasa pembukaan Undang-Undang Dasar ( UUD ) 1945, kata keejahteraan tersebut dirumuskan dengan ungkapan lain, yaitu dengan istilah “masyarakat adil dan makmur”. Itulah tujuan dari berdirinya sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)[ii]. Secara jelas bahwa dibentuknya NKRI dengan UUD 1945 sebagai dasar negara menempatkan kesejahteraan/keadilan-kemakmuran sebagai suatu hal yang esensial bagi kehidupan berbangsa.

Sehingga sangat relevan sekali jika aksi susulan pada tanggal 19 desember hingga sekarang (29/12/2016), dengan tuntutan agar Gubernur mencabut Izin Linkungan terkait pendirian PT.SI sesuai Putusan MA, berdasarkan dalih fiqh yang jelas. Dan secara tidak langsung aksi mereka, mendorong Gubernur untuk berlaku adil dengan mematuhi putusan MA. Serta kebijakannya berdasarkan kesejahteraan rakyat, dan bukanlah berdasarkan kesejahteraan para pemodal asing.

Maka dari itulah, semoga umat Islam mulai belajar meninggalkan perkelahiannya dalam menanggapi setiap perbedaan. Dengan belajar sifat welas asih, seperti yang dicontohkan Umar bin Khattab terhadap seekor manuk emprit dan Ibu-ibu Kendeng terhadap alam “Ibu Bumi”. Serta terus belajar mendorong pemimpin untuk mendahulukan “kesejahteraan rakyat” dari pada kesejahteraan para pemodal. Sehingga dengan wasilah amal tersebut, justru mendapat pengampunan dari Sang Maha Penyayang. Wallahu a’lam bi as showab.

[i] Hadist dan hikayah pertama dalam kitab Ushfuriyah karya Syaikh Muhammad ibn Abi Bakar. Berdasarkan cerita pertama itulah kitab itu dinamai Ushfuriyah yang berarti manuk emprit.

[ii] [ii] Islam dan Kesejahteraan Rakyat, artikel karya KH. Abdurrahman Wahid, yang telah terhimpun dalam buku “Islamku Islam Anda Islam Kita” terbitan The Wahid Institute.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.