Manusia, Mitos, dan Kerja-Kerja Kolektif

Spread the love

Oleh Saiful Anwar

Jutaan orang bahkan tidak menyadari bahwa sejarah umat manusia dipenuhi oleh mitos-mitos. Mulai dari kisah dewa-dewi Olimpus, perang Mahabarata, pertempuran Ragnarok, hingga cerita Nyi Roro Kidul. Ilmu yang mempelajari mitos disebut mitologi. Mitologi juga bisa diartikan seperangkat pengetahuan mengenai mitos tertentu. Mitologi bukanlah bualan kosong atau hasil kerja pujangga belaka. Sebab dalam sebuah mitologi terdapat nilai dan norma yang mengatur pola hidup manusia. Mitologi adalah bagian dari kebudayaan.

Mitologi bisa dimaknai sebagai realitas yang dibayangkan. Orang-orang Yunani membayangkan bahwa dunia diatur oleh sekelompok dewa-dewi yang bertahta di Gunung Olimpus yang dipimpin oleh  Dewa Zeus. Orang-orang India mempercayai Brahma, Wisnu, dan Syiwa sebagai dewa tertinggi yang menguasai dunia. Mana yang benar? Tak ada yang tahu. Kebudayaan selalu benar di mata para penganutnya.

Jutaan tahun yang lalu ketika manusia belum mengenal mitologi, mereka tidak bisa “menaklukan” bumi. Mereka hanya hidup seperti hewan lainnya. Mereka mencari makan, berkembangbiak, dan mengeluarkan zat sisa. Hanya itu. Pada masa itu manusia belum mengenal agama, belajar membaca dan menulis, atau mendirikan perusahaan. Semua berubah ketika mitos lahir dan dikembangkan. Melalui mitos, sekelompok manusia menaklukan manusia lain, saling bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Mereka mulai mendomestifikasi hewan (beternak), mendomenstifikasi tumbuhan (bertani), hingga mendirikan perusahaan yang memiliki sistem kerja yang kompleks. Mitos membuat sekelompok manusia bekerjasama untuk melakukan kerja-kerja kolektif, meskipun mereka tidak saling mengenal.

Ketika manusia berhasil menaklukan alam dan mendirikan kelompok sosial, mitologi berkembang menjadi kepercayaan lengkap dengan ritualnya, hal itu disebut agama. Walau berbeda makna dan substansi, mitologi dan agama memiliki kekuatan yang sama: mampu menggerakkan banyak orang yang tidak saling mengenal untuk saling bekerjasama. Contoh, ada orang Islam di suatu belahan bumi diperlakukan tidak adil atau didiskriminasi, informasi itu menyebar ke seluruh dunia. Maka manusia di tempat lain yang mengidentifikasi diri sebagai orang Islam akan membela atau minimal mengecam tindakan diskriminasi tersebut. Dalam Islam, sesama muslim adalah saudara. Sama halnya dengan mitos, agama mampu menumbuhkan semangat kolektif.

Waktu terus berjalan dan manusia tidak pernah lepas dari mitos. Evolusi demi evolusi dilalui manusia. Evolusi yang menyebabkan perubahan radikal dalam waktu yang singkat disebut Revolusi. Revolusi Pertanian dan Revolusi Industri adalah dua contoh revolusi yang mengubah kehidupan manusia. Dari berbagai tahap revolusi itu, manusia mengembangkan sistem sosial yang lebih kompleks. Manusia mulai membuat sistem pembagian kerja, lengkap dengan tugas dan tanggungjawab masing-masing. Dari situ lahirlah kerajaan, imperium, dan negara. Seiring semakin kompleksnya tatanan sosial manusia, mitos-mitos baru pun lahir. Nasionalisme, komunisme, dan kapitalisme adalah beberapa contohnya.

Masing-masing mitos memiliki ritual dan surga masing-masing. Nasionalisme menawarkan kesejahteraan dengan jalan setia pada negara. Komunisme menawarkan kesetaraan ekonomi dengan mempercayai sistem diktator proletariat. Kapitalisme menawarkan kesejahteraan dengan cara menyerahkan semuanya pada mekanisme pasar bebas. Mana yang lebih baik? Sudah banyak korban jiwa akibat perdebatan itu.

Namun berdasarkan hal tersebut, kita memperoleh satu fakta bahwa bukan tidak mungkin manusia bekerjasama secara kolektif untuk mencapai tujuan bersama.

Zaman dahulu ketika manusia masih berburu dan meramu, setiap anggota bekerja dan hasilnya pun dibagi rata dan terbuka. Mereka percaya bahwa dengan bekerjasama mereka mampu mempertahankan hidup. Sistem yang berdiri di atas kerjasama antar-anggota dan terbuka ialah kooperasi. Kooperasi berasal dari kaTa “ko” yang berarti bersama-sama dan “operasi” yang berarti menjalan sesuatu.  Berbeda dari yang lain, kooperasi tidak hendak menggiring manusia menggunakan mitos-mitos tertentu. Dalam kooperasi, manusia bekerjasama berdasarkan kesepakatan dan nilai-nilai kejujuran. Kooperasi adalah kerja-kerja kolektif yang nyata, tidak seperti kapitalisme yang penuh dengan mitos.

Baiklah, mari kita ambil satu contoh. Kapitalisme menjanjikan kesejahteraan melalui mekanisme pasar. Banyak negara percaya bahwa dengan menjadi anggota WTO, menerima pinjaman dari Wolrd Bank, atau menerapkan perdagangan bebas, negara akan maju. Apakah semua negara yang melakukan itu maju dan sejahtera? Apa ukuran kemajuan dan kesejahteraan itu? Kapitalisme mengatakan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang infrastrukturnya bagus. Maka negara berkembang berbondong-bondong mencari pinjaman untuk membangun infrastruktur. Kapitalisme mengatakan, bahwa ciri negara maju adalah jumlah investasi yang melimpah. Maka negara berkembang berlomba-lomba mencari investor. Apakah ketika berhasil memenuhi syarat-syarat itu negara akan maju dan sejahtera? Tidak! Justru negara semakin miskin karena kekayaan dan sumber daya hanya dikuasai oleh segelintir orang. Itulah bukti bahwa kesejahteraan yang dijanjikan kapitalisme hanyalah mitos. Kesejahteraan dan kemajuan yang dijanjikan sesungguhnya adalah jerat dan tipu muslihat agar akumulasi modal masuk sebanyak-banyaknya.

Kooperasi berbeda dari kapitalisme yang penuh tipu muslihat atau komunisme yang sampai sekarang tidak pernah terwujud. Dalam sistem kooperasi, jika satu anggota tidak bekerja atau hanya berpangku tangan maka roda ekonomi tidak bisa berjalan maksimal. Hal ini berarti kooperasi juga membutuhkan semangat kerja yang tak kalah dengan kapitalisme (jika kapitalisme mendaku diri sebagai sistem yang mengandalkan kerja keras). Kooperasi tidak pernah menawarkan kesejahteraan, kooperasi hanya mengatakan “jika kita bekerja keras maka tujuan kita akan tercapai”. Sementara kapitalisme mengatakan “jika kamu bekerja keras, gajimu akan aku tambah dan akan aku beri bonus”.

Di zaman modern ini kooperasi adalah jalan tengah bagi permasalahan ekonomi. Untuk melegitimasi pernyataan itu, barangkali Kooperasi Mondagron di negara bagian Basque, Spanyol bisa dijadikan referensi. Pada tahun 2014 total pendapatan Mondagron mencapai 12,110 juta euro dengan total aset senilai 24,725 juta euro. Hingga tahun 2015 Mondagron punya 74,334 karyawan yang bekerja di 257 perusahaan atau lembaga. Karyawan tidak hanya bekerja tapi juga pemilik perusahaan. Sudah banyak peneliti yang melakukan riset tentang keberhasilan Mondagron. Dari banyak penelitian itu, peneliti menyimpulkan bahwa Kooperasi Mondagron mampu memecahkan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme. Kesejahteraan kooperasi bukan hanya sekadar mitos!

Bagaimana dengan Indonesia yang dalam kitab undang-undangnya mengatakan: perekonomian negara dibangun dengan sistem kekeluargaan?

Saiful Anwar, alumnus Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.

Gambar: www.tate.org.uk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.