Mari Bersepakat Bahwa Attack On Titan Adalah Anime Terbaik

Spread the love

Attack on Titan. Anime yang diadaptasi dari manga karya Hajime Isayama itu kini menjadi buah bibir. Bagi saya Attack on Titan adalah mahakarya, setara dengan anime lainnya seperti Naruto dan One Piece. Tetapi jika harus memilih di antara ketiganya saya akan memilih Attack on Titan. Saya punya penjelasan logis tentang itu.

Saya kali pertama menonton Attack on Titan pada medio 2017. Saat menonton episode pertama, hati saya langsung deg-degan dan tercabik-cabik. Bagaimana tidak, wong saya disuguhi adegan raksasa memakan manusia. Ngeri-ngeri sedap kan? Walaupun di episode-episode berikutnya cerita berfokus pada petualangan Eren, Armin, dan Mikasa di militer, tapi adegan raksasa memakan manusia nyaris tak pernah absen.

Sejak pertama kali menonton, saya sudah memprediksi bahwa anime ini akan sederajat dengan One Piece maupun Naruto. Ada beberapa alasan yang mendasari prediksi itu. Pertama, soal alur cerita yang tidak mudah ditebak, penuh misteri dan plot twist yang tentunya dibarengi dengan aksi yang memukau. WIT sebagai studio penggarap season I sampai III berhasil mengadaptasi manga karya Hajime Isayama ini dengan sempurna.

Awalnya saya berpikir alur cerita Attack on Titan hanya akan berkutat pada perjuangan Eren, Armin, dan Mikasa membasmi raksasa. Namun setelah menonton sampai part III, dugaan saya keliru. Cerita Attack on Titan tak hanya berkutat pada perjuangan manusia melawan raksasa. Namun juga soal perjuangan menguak konspirasi, manipulasi, dan mendobrak kepalsuan sejarah dunia. Pada season IV (on going) saya dikejutkan oleh fakta bahwa manusia di Paradis (tempat Eren dan teman-temannya tinggal) adalah musuh dunia. Eren Yeager sang pewaris kekuatan Titan Penyerang, yang menyadari bahwa dunia berusaha menghancurkan tempat tinggalnya, merasa terpanggil untuk melawan. Setelah berhasil mengalahkan titan di Paradis, ia kemudian menyusup ke Negara Marley (musuh utama Paradis) dan memata-matainya sebelum akhirnya mengobarkan perang.

Lalu, apa yang membuat Attack on Titan lebih “wow” dibanding anime lainnya? Pertama karakter yang manusiawi. Tak ada tokoh suci dalam anime Attack on Titan. Itu yang membuat saya suka. Biasanya dalam sebuah anime, tokoh utama selalu digambarkan sempurna tanpa cela. Anime Naruto misalnya, kita tak pernah mendapati Uzumaki Naruto berbuat salah. Ia digambarkan baik hati, selalu menolong kawan dan membela kebenaran. Anime Dragon Ball pun demikian. Goku nyaris sempurna tanpa cela. Selain karakter yang kuat, ia juga baik hati, murah senyum dan selalu membela kebenaran. 

Namun Attack on Titan beda. Eren sebagai tokoh utama adalah pahlawan di Paradis, tapi di dunia luar, ia adalah kriminal nomor satu. Sebagaimana season IV episode 5 dan 6, Eren justru membunuh puluhan manusia di distrik Liberio, Negara Marley. Bukankah itu kejahatan? Sedangkan Rainer, Annie, dan Bertold yang sedari season I sampai III digambarkan jahat nyatanya di season IV justru digambarkan sebaliknya; anak baik-baik yang lahir ke dunia yang kejam. Mereka adalah anak polos yang bercita-cita menjadi pahlawan Negara Marley dan menganggap manusia di pulau Paradis biadab dan harus dibasmi. Jika sudah demikian sebagai penonton saya tak bisa memihak salah satu tokoh.

Kedua, tokoh yang tak berumur panjang. Ini yang menyebalkan sekaligus mendebarkan. Di anime Attack on Titan saya disuguhi adegan kematian yang gore seperti; kepala terpisah dari badan, tangan dan kaki putus, tulang patah, dan kengerian lainnya. Yang lebih mengerikan lagi, karakter favorit saya, mati. Huh. 

Saya dulu mengidolakan Erwin Smith sang komandan Survey Corps. Ia berani, cerdas, dan kuat. Namun hati saya harus hancur ketika melihat karakter idola saya itu mati di tangan Titan Buas. Ia mati setelah tubuhnya remuk dihantam batu yang dilemparkan raksasa itu (lihat di season III). Mungkin saya bukan satu-satunya orang yang hatinya hancur. Saya mengira ada ratusan bahkan ribuan hingga jutaan penonton Attack on Titan mempunyai emosi yang sama. 

Hajime Isayama memang dikenal sebagai mangaka psikopat bar-bar. Ia sering “mematikan tokoh” tanpa permisi. Kita dibuat suka pada satu tokoh tapi kemudian tokoh itu “dimatikan”. Almarhumah Ibu Eren, Erwin Smith, dan Sasha contohnya. Mereka “dibunuh” dan kematian mereka mengundang derai air mata. Di satu sisi tindakannya itu sering mengundang reaksi keras para penggemar, tapi disisi lain juga semakin menaikan reputasi Attack on Titan. Mungkin Hajime berpikir tidak asyik jika tak ada karakter yang tak mati. Tapi ini kelewat batas anjir!

Ketiga, ide cerita yang terinspirasi dari sejarah. Sebagai penyuka sejarah, saya sangat menikmati Attack on Titan. Banyak cerita di anime ini yang mirip dengan sejarah dunia. Misalnya cerita perpindahan bangsa Eldia di bawah pimpinan Raja Karl Firzt ke Pulau Paradis. Adegan itu mirip dengan perpindahan pasukan Kuomintang pimpinan Chiang Kai Shek ke pulau Formosa (Taiwan) pada 1947. Itu terjadi setelah Kuomintang kalah dalam perang saudara melawan Partai Komunis Tiongkok pimpinan Mao Zedong. Contoh lain; kehidupan orang-orang Eldia di Negara Marley. Orang-orang Eldia di situ sangat didiskriminasi. Ini mengingatkan saya pada nasib orang-orang Yahudi di bawah kekuasaan Nazi-nya Adolf Hitler pada masa Perang Dunia II (1941-1945). Mereka, orang-orang Yahudi itu, diskriminasi dan dibantai. Contoh lainnya lagi adalah pasukan aliansi Timur Tengah (lihat episode I season IV). Wajah mereka mirip dengan pasukan Kesultanan Ottoman pada masa Perang Dunia I (1914-1917). Hal-hal di atas meyakinkan saya bahwa Hajime Isyama adalah pembaca buku. Saya yakin, selain membaca mitologi Nordik, dalam membangun cerita Attack on Titan, Hajime juga membaca sejarah dunia. Suatu karya tidak lahir dari ruang hampa dan itulah yang terjadi.

Well, kita mungkin bisa berdebat tentang siapa pesepakbola terbaik dunia, tentang siapa penyanyi tercantik di Indonesia, juga mungkin tentang bentuk bumi, apakah bulat atau datar. Tapi untuk anime, rasanya kita sepakat, atau setidaknya harus bersepakat, bahwa Attack on Titan-lah yang terbaik saat ini. (asep)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.