Mbah Dul Belajar Mengaji

Spread the love

Cerpen Gunawan Budi Susanto

Mbah Dul duduk sendirian di teras rumah. Matanya menerawang jauh saat suara takbir mengebor kuping, merujit-rujit perasaan. Dia tertunduk. Bibirnya yang mengering mendesahkan entah apa berkali-ulang.

Belum lama benar sang istri meninggal dunia. Saat itu, semua anak dan cucu berdatangan: menghantarkan jenazah Mbah Putri ke peristirahatan terakhir. Usai pemakaman, mereka berembuk. Semua sudah berumah tangga dan hidup terpisah. Tak seorang pun berkemungkinan pindah, menemani Mbah Dul di rumah masa bocah. Mereka pun bersepakat: Mbah Dul mesti memilih tinggal bersama siapa. Atau bisa saja Mbah Dul tinggal ganti-berganti di rumah mereka.

Namun Mbah Dul memilih bertahan. “Aku tetap tinggal di rumah ini. Ini rumahku. Rumah yang kubangun bersama ibu kalian. Di rumah ini ibu kalian melahirkan kalian. Di rumah ini ibu kalian meninggal. Di rumah ini pula aku ingin kelak meninggal,” ujar Mbah Dul.

Tak ada tawar-menawar. Siapa pun tak bisa membujuk Mbah Dul mengubah keputusan. Mungkin lantaran belum lama benar mereka pulang atau jengkel karena Mbah Dul bersikukuh hidup sendirian, lebaran kali ini tak seorang pulang ke kampung halaman.

Mbah Dul tak mempermasalahkan. Apa artinya semua anak-cucu berlebaran di kampung halaman dan rumah diriuhi gelak tawa dan canda mereka bila tanpa sang istri di sampingnya? Apa arti kegembiraan itu jika sang istri tak lagi menemani?

Namun sendirian tanpa kehadiran sang istri juga membuat perasaan Mbah Dul kosong, bolong, complong.

***

Setelah sang istri meninggal, Mbah Dul rajin ikut pengajian. Dia memang merasa terlambat. Ya, kenapa baru sekarang, setelah berusia lebih dari 60 tahun, dan setelah ditinggal mati sang istri, dia mengaji: menapaki jalan untuk mendekatkan diri pada Gusti Allah? Namun Mbah Dul memupus kebimbangan itu. “Mending terlambat ketimbang tidak sama sekali.”

Sejak saat itu, hampir setiap hari Mbah Dul ijlig, hilir-mudik, ke pesantren Kiai Budi. Usai belajar membaca Alquran atau mendengarkan tausiah Kiai Budi, dia menyapu, mengepel lantai masjid, membersihkan karpet, menjaga kendaraan para tamu, menegur para santri yang berisik atau bercanda.

Mbah Dul pun jadi lebih sering berada di pesantren ketimbang di rumah. Dia selalu salat lima waktu di pesantren. Dia selalu ada dan terlibat setiap kegiatan di pesantren, terutama Sabtu Pahing malam, saat Kiai Budi mengadakan pengajian rutin selapanan.

Apa peran lelaki renta itu? “Menjaga ketertiban!” tegas dia.

Wow! Saat mengucapkan kalimat itu, dia tersenyum bangga dan penuh rasa percaya diri.

Sikap itu pula yang muncul ketika Sabtu malam lalu muncul mobil ambulans di ujung jalan depan pesantren. Sebat dia menyeruak di tengah para santri, mengadang ambulans dengan bunyi sirine memekakkan kuping itu.

“Matikan sirine! Balik kanan, jangan lewat sini. Ada pengajian,” ujar Mbah Dul pada sang sopir.

Di dalam ambulans seorang perempuan mendremimilkan doa. Tak keras memang, tetapi masih terdengar kuping Mbah Dul. “Ya, Bapa kami di surga, mulialah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Ampunilah kami, seperti kami mengampuni orang-orang yang bersalah pada kami. Bebaskanlah kami dari yang jahat,” gumam perempuan itu sembari memegangi tangan seorang lelaki yang terbaring di ambulans. Lelaki itu tersengal-sengal, wajahnya pias.

“Hei! Putar balik. Tak boleh lewat, ada pengajian,” ujar Mbah Dul.

“Maaf, Pak, pasien ini harus segera ditolong. Jembatan putus. Kami harus mencari jalan lain. Paling cepat lewat sini,” sahut sang sopir.

“Apa kau tak lihat, ada pengajian! Putar balik kataku, putar balik!” sergah Mbah Dul.

“Mbah, maaf, ini keadaan darurat. Biarkan mereka lewat. Toh tak akan lama,” ujar seorang polisi yang seperti tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Mbah Dul.

“Sampean polisi, seharusnya menjaga agar tak ada yang mengganggu pengajian. Piye sih!” sahut Mbah Dul ngotot.

“Mbah, tak ada yang hendak mengganggu pengajian,” timpal Kang Aris, santri senior. “Kalau Mbah Dul menolak ambulans ini lewat, justru mengganggu. Saudara kita ini butuh bantuan segera dan hanya lewat jalan di depan pesantren inilah mereka bisa sampai ke rumah sakit lebih cepat.”

“Buat apa juga memberi jalan pada orang kafir! Putar balik! Ayo, putar balik!”

“Mbah! Nyuwun pangapunten, kita tak berhak menyebut siapa pun kafir. Kita juga tak sepatutnya menghalangi siapa pun memperoleh bantuan segera. Ini urusan nyawa. Kalau kita menunda saudara kita ini memperoleh pertolongan, bukankah justru kita telah bersikap aniaya pada sesama makhluk ciptaan Gusti Allah,” ujar sang polisi.

Halah! Sampean sok tahu. Sampean ini polisi atau kiai?”

“Mbah, benar kata Pak Polisi. Apa sampean lupa nasihat Kiai Budi? Kita tak berhak memperlakukan siapa pun secara semena-mena. Berlaku aniaya pada sesama berarti durhaka pada Gusti Allah,” sergah Kang Aris.

Mbah Dul terdiam. Pak Polisi menggunakan kesempatan itu untuk membuka jalan, mempersilakan ambulans meneruskan perjalanan. “Tolong, sirene sampean matikan dulu. Setelah lepas dari pesantren ini, silakan sampean nyalakan kembali,” ujar Pak Polisi.

“Baik, Ndan. Terima kasih. Matur nuwun, Mas. Matur nuwun, Mbah,” ujar sang sopir sembari menjalankan ambulans pelan-pelan menyibak kerumunan jamaah yang sedang mendengarkan tausiah Kiai Budi.

Orang-orang menepi, memberi jalan bagi ambulans itu membelah keramaian. Mbah Dul tertunduk. Tiba-tiba dia disergap rasa malu. Dia jadi teringat, Kiai Budi acap mengulang-ulang ucapan, “Jangan memperlakukan orang lain seolah-olah kehadiran mereka mengganggu kenyamanan kita. Kita justru harus selalu merasa: jiniwit katut. Mereka sakit, kita bersedih. Mereka senang, kita gembira. Jangan sebaliknya, menuntut orang lain mengikuti perasaan kita,” tutur Kiai Budi saat Mbah Dul meminta izin belajar di pesantren.

***

Kini, Mbah Dul merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam batin. Menuruti kata hati, dia bangkit, mengunci pintu rumah, dan bersegera menuju ke pesantren: menemui Kiai Budi. Dia tahu, pada malam lebaran Kiai Budi tidak akan bepergian ke mana pun.

Assalamu’alaikum, Yi. Maaf, saya hendak mengganggu sebentar,” ujar Mbah Dul sambil mendekati Kiai Budi yang duduk di undakan masjid di kompleks Pesantren Al-Ishlah.

Wa’alaikumsalam! Wah, Mbah Dul! Mari, mari, Mbah. Lama juga nggak ap-apa, wong saya tak ke mana-mana. Lagi menikmati kumandang takbir ini lo. Subhanallah!” sahut Kiai Budi sambil tersenyum lebar. “Mriki, pinarak mriki, Mbah.”

Mbah Dul menyalami dan hendak mencium tangan Kiai Budi. Namun Kiai Budi sebat menarik tangannya sebelum tercium. Mbah Dul tersenyum jengah, lalu duduk di undakan lebih rendah.

“Naik, Mbah,” ujar Kiai Budi.

Namun Mbah Dul bergeming. Kiai Budi menggeser pantat, turun satu undakan, di samping Mbah Dul. Lagi-lagi Mbah tersenyum jengah.

Nuwun sewu, mohon maaf, Yi. Saya mau minta tolong,” kata Mbah Dul.

“Ada apa, Mbah? Pertolongan macam apa yang bisa saya berikan?”

Mbah Dul pun menceritakan peristiwa yang belum lama berselang ketika dia mencegat ambulans yang hendak lewat di depan pesantren. “Saya malu, Yi. Sampai saat ini ada yang mengganjal dalam batin saya. Saya rasa ganjalan itu akan hilang jika saya sudah minta maaf pada mereka. Namun bagaimana caranya? Saya tak tahu siapa mereka. Saya tak tahu di mana rumah mereka. Tolonglah, Yi….”

“Kang Aris! Kang!” seru Kiai Budi.

Sejenak kemudian muncul santri senior itu dari dalam masjid.

“Kang, tolong cari tahu siapa dan mana rumah orang yang dulu dibawa ambulans lewat pesantren kita ini. Segera ya,” ujar Kiai Budi.

Kang Aris mengangguk, lalu berpamitan.

“Dan sampean, Mbah Dul, silakan pulang. Atau kalau mau takbiran di sini, ya mangga. Besok setelah salad id, insya Allah, saya temani sampean ke rumah mereka. Ya?”

Mbah Dul mengangguk. Matanya membasah. Kiai Budi mahfum. Dia biarkan Mbah Dul duduk di undakan, sementara dia masuk ke dalam masjid, menemani para santri mengumandangkan takbir, menyambut lebaran.

Mbah Dul bertahan duduk di undakan masjid. Mulutnya berkemak-kemik. Pelan-pelan dia melafalkan takbir. Berulang-ulang, terus-menerus, sehingga tanpa sepenuhnya menyadari tubuhnya sudah terbaring miring. Mbah Dul tertidur di undakan masjid.

***

Usai salat id, Kang Aris menggandeng Mbah Dul untuk menemui Kiai Budi.

“Mbah Dul, ayo, kita jalan,” sambut Kiai Budi begitu melihat mereka.

Melihat Kiai Budi sudah berada di dalam mobil, Mbah Dul pun segera masuk.

“Kang Aris, tolong temui para tamu lebih dulu. Kami tak akan lama,” ujar Kiai Budi.

Mobil pun meneleser, menuju ke sebuah kampung tak jauh dari pesantren. Mobil memasuki pekarangan rumah yang luas. Mereka turun. Kiai Budi menggandeng Mbah Dul menyeberangi pekarangan. Tuan rumah ternyata sudah menyambut di teras bahkan sebelum mereka keluar dari mobil. Mbah Dul menekan rasa malu. Dia berjalan sambil menunduk.

Kula nuwun!” ujar Kiai Budi seraya melepaskan tangan yang menggandeng Mbah Dul. Dia merengkuh tubuh tuan rumah, lalu memeluk dan mencium pipi kanan-kiri. “Sehat, Bli?”

“Sehat, Yi, saya sudah sehat,” sahut lelaki itu. “Mari, silakan masuk.”

Kiai Budi masuk mengiringi tuan rumah. Mbah Dul merandek. Dia ragu-ragu. Kiai Budi tahu. “Oh, aku lupa. Ini Mbah Dul, kenalkan. Mbah, ini saudaraku, Bli Putu.”

Mbah Dul menyalami tuan rumah. Dia merasakan genggaman yang hangat dan kuat. Mbah Dul makin gelisah. Saat Kiai Budi mengobrol dengan tuan rumah, Mbah Dul terus menunduk.

Tiba-tiba Kiai Budi menepuk paha Mbah Dul sambil berkata, “Mbah Dul? Katanya sampean punya perlu dengan Bli Putu? Kok malah melamun?”

Mbah Dul tergeragap. Dengan wajah memucat Mbah Dul menatap Kiai Budi, lalu beralih kepada tuan rumah. Sejenak kemudian Mbah Dul bangkit, kemudian menubruk dengkul Bli Putu.

“Mas, maafkan saya. Maafkan saya yang telah menghalangi perjalanan sampean ke rumah sakit tempo hari. Saya salah, saya khilaf,” ujar Mbah Dul terbata-bata sambil mencium dengkul Bli Putu.

Tuan rumah terkaget-kaget. Dia merengkuh bahu Mbah Dul seraya rada menekan untuk mengangkat bangkit. Dia lalu berdiri dan memeluk Mbah Dul yang nyaris oleng. Ragu-ragu Mbah Dul balas memeluk.

Beberapa saat kemudian Bli Putu melonggarkan pelukan dan membimbing Mbah Dul duduk di samping kirinya. Saat itulah, Mbak Ellen, istrinya, keluar membawa nampan. Setelah meletakkan cangkir-cangkir kopi yang masih mengepul, Mbak Ellen duduk di samping kanan sang suami.

Mbah Dul menunduk. Matanya membasah.

“Mbah Dul, Bli Putu dan Mbak Ellen inilah yang telah membantuku. Mereka menyumbangkan sepertiga luas tanah yang kini jadi kompleks pesantren. Mereka kawan-kawanku sejak kuliah dulu. Bli Putu dari Bali, Mbak Ellen dari Gang Pinggir Semarang. Merekalah dulu yang menganjurkan aku membeli sedikit tanah, asal bisa untuk bikin gubuk di atas pohon. Ya, awal pendirian pesantren itu ya dari gubuk kayu di atas pohon itu, Mbah Dul. Rumah pohon,” tutur Kiai Budi seraya tersenyum.

Mbah Dul makin tertunduk. Kelu.

“Nah, sedikit demi sedikit aku bisa memperluas lahan itu, ditambah pemberian Bli Putu dan Mbak Ellen. Jadilah pesantren itu seperti sekarang,” sambung Kiai Budi.

Mbah Dul mengisak. Bli Putu merengkuh bahunya. Isak Mbah Dul mengeras.

“Menangislah, Mbah Dul, menangislah. Tak apa-apa. Biar lega, biar plong!” ujar Kiai Budi.

Oalah, Gusti, nyuwun pangapunten!” seru Mbah Dul sambil mengabrukkan tubuh pada Bli Putu, yang dengan sigap memeluk. Mbak Ellen mengusap punggung sang suami seraya mengerjapkan mata.

Di kursi seberang meja, Kiai Budi tersenyum. Setitik-dua titik air tergulir dari kelopak matanya. Dia mendengar lamat-lamat suara takbir dari kejauhan. Bibirnya berkecumik, mengucap syukur ke hadirat Sang Mahacinta.

  • Kiai Budi dan Anto Galon, cerpen ini adalah respons teks terhadap film Kau adalah Aku yang Lain yang sampean mainkan dan bikin.

Gebyog, 19 Februari 2019: 18.45

 

Gambar: https://mqitt.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.