Mbak, Jangan Berlaku Korup

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

Kinan, anak sulung saya, mengabarkan hendak membeli buku, tetapi duitnya kurang. Oleh karena itu, dia berencana membeli buku bajakan. “Toh isinya sama saja, Pak,” kata dia.

“Mbak, jangan beli dan baca buku bajakan. Jika itu Mbak lakukan, sama saja dengan jadi pencuri, pencoleng, bahkan perampok,” sergah saya.

“Kok begitu, Pak?”

“Coba, Mbak bayangkan…. Pram, misalnya, menulis tetralogi Bumi Manusia di pembuangan, Pulau Buru, bertahun-tahun. Lalu, kini, buku-buku itu dibajak. Memang isinya sama dan harganya murah, jauh lebih murah dibandingkan dengan harga buku asli. Lalu, dengan alasan tak mampu membeli buku asli, orang membeli buku bajakan itu. Siapa yang untung? Ya, sang pembajak! Pram, yang bekerja semata-mata sebagai penulis dan menulis dengan memeras segala daya upaya, perasaan dan pikiran, tak memperoleh apa-apa. Bukankah itu perampokan?”

“Iya, ya, Pak. Tak adil.”

“Tidak adil dan tidak bisa kita benarkan berdasarkan pertimbangan apa pun. Oleh karena itulah, Bapak melarang Mbak membeli dan membaca buku bajakan.”

“Soalnya, duit Mbak tidak cukup, Pak, untuk membeli beberapa buku itu.”

“Beberapa judul buku itu Bapak punya. Bapak akan kirim kepada Mbak. Judul yang Bapak belum temukan, akan Bapak susulkan jika sudah ketemu. Atau, kelak Bapak belikan.”

“Terima kasih, Pak. Mbak akan menjaga buku-buku itu dengan baik.”

“Jangan hanya menjaga dengan baik, Mbak. Jauh lebih penting, baca buku-buku itu dengan baik.”

Begitulah percakapan saya dengan Kinan, yang kini bersekolah di Bogor, melalui telepon. Dia menyebutkan beberapa buku yang hendak dia beli dan baca. Buku-buku, yang dia peroleh melalui mesin pencarian dengan mengetik “karya sastra terkemuka Indonesia”, itu antara lain novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja, kumpulan cerpen Rumah Bambu Romo Mangunwijaya, kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami A.A. Navis, kumpulan cerpen Semua untuk Hindia Iksaka Banu, serta novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan, Larasati, dan Percikan Revolusi Subuh Pramoedya Ananta Toer.

Tidak semua buku itu bisa saya temukan di ruang buku saya. Entah siapa meminjam dan belum atau tidak mengembalikan. Kemarin sore, saya kirim beberapa judul: Atheis, Larasati, Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Saya sertakan pula beberapa judul yang tidak dia sebut, tetapi saya rasa patut dan tepat dia baca, antara lain Gadis Pantai serta dua novel karya Umar Kayam: Para Priyayi dan Jalan Menikung. Semalam, saya kirimkan file cerpen “Robohnya Surau Kami” melalui kotak pesan akun Facebook. Terpikir pula, kelak, menyusulkan Keluarga Gerilya dan Korupsi Pramoedya Ananta Toer serta Ibunda karya Maxim Gorky, terjemahan Pram pula – yang entah siapa pula telah meminjam dan belum mengembalikan?

***

Sungguh, ketika tahu buku-buku yang Kinan sebut hendak dia baca, saya merasa iri. Betapa tidak? Dulu, tahun 1976, ketika seusia dia sekarang, 15 tahun, saya hanya bisa membaca majalah berbahasa Jawa, Djajabaja dan Panjebar Semangat, komik-komik Djair, Teguh Santosa, Hans Djaladara, Man, serta cerita silat S.H. Mintardja, Kho Ping Hoo, Gan K.L., Khu Lung. Lalu, berbilang tahun saya membaca novel-novel V. Lestari, Maria A. Sardjono, Titie Said, Ike Soepomo, Motinggo Busye, dan lain-lain, dan sebagainya. Oh ya, saya membaca pula Fredy S., Nick Carter, dan Enny Arrow.

Buku-buku yang sekarang Kinan inginkan untuk dia baca, baru bisa saya baca ketika menjadi mahasiswa fakultas sastra, tahun 1980-an. Bahkan buku-buku Pram baru bisa saya (peroleh, baik pinjam maupun membeli untuk saya) baca setelah paruh kedua 1980-an. Itu pun mesti saya baca secara sembunyi-sembunyi. Sampean tahu bukan bahwa membaca buku-buku karya Pram, pada masa itu, sudah masuk kategori subversif? Jangan lupa, Bonar Tigor Naipospos dan kawan-kawan, jika tidak salah ingat, dihukum delanapn tahun penjara karena mendiskusikan buku Pram.

Namun, kini, buku-buku itu bisa kita beli, bisa kita baca, tanpa waswas. Sungguh, saya iri lantaran Kinan kini bisa membaca buku-buku yang hanya bisa saya baca setelah bertahun-tahun menjadi mahasiswa sastra!

“Kenapa iri? Bukankah justru lantaran bacaan itulah yang membuat kau berkeinginan jadi penulis? Sekarang, jelek-jelek, kau pun bisa dan berani mengaku sebagai penulis bukan?” sergah Kluprut.

“Ya. Namun, terbersit dalam benakku, kenapa begitu terlambat membaca buku-buku yang jauh lebih memungkinkan aku secara lebih dini bisa menulis lebih baik pula ketimbang sekarang.”

“Siapa bisa menjamin kemungkinan itu terwujud? Jangan terlampau sok percaya diri! Jangan-jangan, sebanyak, sebagus, seindah apa pun buku yang kaubaca pada masa lalu, kemampuan menulismu tak bakal pernah bisa melampaui pencapaianmu sekarang. Lantaran, ya cuma sebegitu itulah jatahmu!”

“Sialan!”

“Lo, apa coba argumentasi yang bisa kuterima, yang rasional, yang masuk akal, bahwa kekayaan bacaan yang bisa Kinan akses ketimbang apa yang sudah kaumamah-biak pada masa lalu itu bakal membuatmu jadi penulis bukan medioker macam sekarang? Apa! Sekolah pun kau tak berbakat, apalagi belajar! Maka, bersyukurlah anakmu memperoleh kesempatan bisa membaca apa yang tak bisa kaubaca saat seusia dia. Dan, berharaplah, kelak dia mampu berbuat jauh lebih baik ketimbang kau, bapaknya. Kalaupun dia kelak tidak memilih menjadi penulis, setidaknya kemampuan membaca bacaan – yang menurut pendapatmu lebih baik – itu memungkinkan pula dia bertumbuh menjadi pribadi yang jauh lebuh bermutu ketimbang kamu. Ha-ha-ha….”

Asem!

Eh, jujur, benar juga omongan Kluprut. Buat apa pula saya menyesali sesuatu yang tak mungkin saya ubah? Toh saya tak mungkin memutar perjalanan hidup dan mengubah masa lalu agar masa kini dan masa depan berlangsung sebagaimana harapan yang terbangun di sini, di negeri ini, saat ini?

Lagipula, kenapa pula saya melantur-lantur? Padahal, pada awal tulisan ini pokok perkara yang saya utarakan adalah harapan agar Kinan, anak saya, tidak menjadi pencoleng dengan membeli dan membaca buku bajakan.

Apalagi, bukankah merelakan mengirim koleksi buku di rumah sedikit demi sedikit kepada Kinan (dan kelak Titis, sang adik) adalah “investasi” bagi masa depan agar sejak dini dia menyadari untuk tidak bertindak korup, macam membeli dan membaca buku bajakan? Jadi, dia bisa belajar menghargai dan menempatkan penulis sebagai pemilik hak atas kekayaan intelektual. Dan, syukur kelak mampu menghargai dan menempatkan karya apa pun – yang merupakan sumbangan bagi kemanusiaan – secara bermartabat. Ya, itulah yang seyogianya bukan?

Patemon, 4 Desember 2019: 04.27

 

Gambar Ilustrasi: Amiwidya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.