Membaca “Dendam” Tiga Generasi

Spread the love

Oleh Bagas Yusuf Kausan

Sudah 54 tahun peristiwa huru-hara politik tahun 1965 berlalu. Pun sudah banyak sekali karya sastra yang mengangkat peristiwa tersebut dari berbagai macam sisi. Namun dari sekian penulis cerita tentang peristiwa 1965, Gunawan Budi Susanto termasuk yang paling familiar. Sebab, selain karena kenal secara personal dengan sang penulis, saya pun membaca dua buku lain Gunawan Budi Susanto berlatar peristiwa 1965, yakni  Nyanyian Penggali Kubur (2011, 2016) dan Penjagal Itu Telah Mati (2015). Buku kedua saya baca sembari menanti kereta di Stasiun Purwosari. Buku pertama saya baca di kontrakan Kalamkopi. Dan pada 2019 ini, pengarang kelahiran Bojonegoro itu merilis buku terbaru: Dendam (2019).

Masih serupa dengan dua buku sebelumnya, Dendam juga berangkat dari peristiwa politik tahun 1965. Bedanya, kini Gunawan Budi Susanto memberikan porsi cukup besar bagi generasi ketiga korban politik tahun 1965, yaitu Tinuk, anak Rini dan Murdani. Hal itulah yang, menurut saya, menjadi nilai jual paling menarik yang disodorkan Dendam. Sebab, sependek pengetahuan saya, cerita tentang bagaimana generasi ketiga menyikapi sejarah yang menimpa leluhurnya masih amat jarang ditemukan. Bahkan dalam konteks lebih luas, belum banyak karya tulis yang mampu membawa dan atau menautkan Tragedi 1965 dengan beberapa persoalan yang eksis hari ini. Maka meskipun Dendam merupakan karya fiksi, saya tetap meletakkannya dalam daftar buku tentang peristiwa 1965 yang layak baca.

Setidaknya ada tiga poin menarik yang saya tangkap dari buku Gunawan Budi Susanto kali ini. Pertama, buku ini menyodorkan banyak sekali kosakata baru yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Maka agar tak lesap begitu saja, saya pun mencatat beberapa kosakata baru, seperti bersirobok, bersipongang, gupuh, gedabikan, menjublak, getas, kepundan, kewasisan, menggubal, lajak, mendenyar, mendusin, memberual, mencekau, sebat, bidal. Keputusan Gunawan Budi Susanto untuk memasukkan kosakata bahasa Indonesia yang jarang digunakan, ataupun yang merupakan penyerapan dari bahasa Jawa tersebut, tentu saja tidak lahir dari ruang kosong. Namun lahir dari kesadaran Gunawan Budi Susanto bahwa sebagai penulis dan penyunting, dia memiliki tanggung jawab literer untuk menyegarkan perbendaharaan kata. Bahkan dengan keputusan semacam itu, bisa jadi Gunawan Budi Susanto sedang menunjukkan sikap politik terhadap politik bahasa penguasa yang diwariskan rezim militer Soeharto.

Kedua, melalui Dendam, Gunawan Budi Susanto dengan baik mampu melesapkan pandangan politiknya tentang berbagai persoalan riil yang eksis hari ini. Suntikan pandangan politik itulah yang, menurut saya, menjadi bukti komitmen si pengarang terhadap keberlangsungan hidup yang lebih baik bagi setiap orang, tanpa terkecuali. Ada tiga sikap politik Gunawan Budi Susanto yang dengan sengaja dimasukkan menjadi bagian dari cerita, yakni kelestarian Pegunungan Kendeng Utara, tanggung jawab moral politik penulis, dan relasi antara laki-laki dan perempuan. Maka di tengah tren best-seller-Gramedia-effect, konten Dendam yang padat dengan konstruk cerita yang mampu menggugah kesadaran, terlebih mampu merangsang geliat transformasi sosial, menjadi makin menemukan relevansinya.

Ketiga, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, buku ini menarik karena menyediakan ruang bagi generasi ketiga dari keluarga korban kejahatan kemanusiaan untuk berbicara. Dalam perkembangan kajian ilmu humaniora, kecenderungan itu sejalan dengan kajian yang dikembangkan Marianne Hirsch pada 1992, yaitu post-memory. Namun alih-alih hendak membeberkan tentang kajian itu, saya justru hendak bercerita tentang kamar mandi.

“Suami-istri itu merasa nelangsa melihat anak dan cucunya berangkulan di dalam kamar mandi sambil menangis. Mereka terpaku, mematung. Namun beberapa saat kemudian perempuan sepuh itu menubruk anak dan cucunya, lalu menggerung” (halaman 358).

Cukup sulit bagi saya untuk melupakan bagian itu. Adegan ketika Ibu, Rini, dan Tinuk berangkulan di kamar mandi, seolah menjadi titik kulminasi novel Dendam. Pada awalnya hanya Rini yang berada di kamar mandi, menangis, dan larut dalam kebimbangan antara menyesali diri, menyalahkan diri, ataupun terus-menerus menilai dan memperlakukan sang suami, Murdani, sebagai pria menjijikkan. Rini berpikir keras. Jangan-jangan, keretakan hubungan dengan Murdani tidak terlepas dari kesalahannya juga. Kesalahan yang berawal dari keengganan Rini disentuh Murdani, terutama setelah secara tidak sengaja Rini mendengar pembicaraan orang tuanya tentang perasaan dendam dan penyesalan sang ibu, ketika mengingat pemerkosaan yang menimpanya pertengahan 1960-an.

Masa lalu sang ibu itulah yang memenuhi ingatan Rini dan memicu perasaan traumatik Rini terhadap sosok pria. Namun di dalam kamar mandi, Rini tidak sepenuhnya menyadari bahwa sang anak, Tinuk, berada di belakangnya dengan pipi telah dibanjiri air mata. Tak tahan melihat sang ibu sedang berjongkok, menangis, mengeram perasaan yang diwarisi dari masa lalu, Tinuk pun melangkah dan memeluk sang ibu. Mereka berdua pun menangis, larut dalam kehangatan relasi ibu dan anak.

Seperti sang ibu, Tinuk pun menyimpan perasaan dendam. Terutama kepada sang bapak, Murdani, yang memberikan pengalaman menjijikkan bagi Tinuk: melihat sang bapak bermain api, menduakan sang ibu yang sedang menjadi buruh migran. Dan, “Bajingan!” Itulah umpatan Tinuk ketika memergoki sang bapak, sebelum akhirnya berlari ke kamar mandi (halaman 13). Ya! Tinuk mandi, bersiap-siap pergi dari rumah, dan menghantarkannya pada pertemuan dengan Dodik, kekasihnya kelak. Namun meskipun pertemuan, percakapan, dan kebersamaan itu membuat hati Tinuk berbunga-bunga, hal itu tidak dapat menutup perasaan traumatik yang mendera Tinuk.

…. Ketika ingatannya kembali ke asal mula pertemuan dengan Dodik, rasa geram, marah, kecewa, kembali menggerumuti perasaan Tinuk. Ah, mana ada lelaki baik, lelaki yang bisa dipercaya? Bukankah Bapak, lelaki paling dihormati, lelaki paling dia kenal sekalipun, menyimpan kebusukan yang menjijikkan?” (halaman 31).

Momen getir antara Ibu, Tinuk, dan Rini di dalam kamar mandi pun ditutup dengan dialog yang keluar dari mulut sang ibu. “Maafkan ibumu ya, Ndhuk. Maafkan Mbah Putri ya, Nuk.”

Namun kegetiran serupa sebenarnya dirasakan pula oleh sang bapak, kakek Tinuk. Terutama ketika melihat tiga perempuan dari generasi berbeda itu sedang menangis di dalam kamar mandi. Lelaki yang merasakan kepahitan pembuangan ke Pulau Buru itu pun hilang kendali: duduk membatu, menangis, dan meratapi kepedihan masa lalu. Hingga akhirnya, sang bapak pun mengikuti jejak tiga orang perempuan yang dia sayangi; masuk ke kamar mandi dan berusaha berdamai dengan masa lalu. Di dalam kamar mandi, sang bapak mencuci kaki, tangan, dan membasahi wajah.

“Berulang-ulang dia membasuh wajah dengan air, bahkan menyiramkan segayung air ke kepala…. Dia merasakan dingin air mendinginkan pula kecamuk pikiran dan perasaan….” (halaman 360).

Setelah dari kamar mandi, sang bapak masuk ke kamar, berbincang dengan sang istri, lalu melapangkan segala hal yang sebelumnya menyita perasaan dan pikiran.

Kembali ke awal poin ketiga. Secara sederhana, pendekatan post-memory berupaya menjelaskan proses transmisi memori yang (sebagian besar) terjadi dalam kehidupan keluarga dari orang tua ke anak, juga dari kakek atau nenek ke cucu. Memori yang ditransmisikan biasanya adalah pengalaman yang bersifat traumatik. Sebab, kesan traumatik memang lebih dominan dan mudah terekam di dalam benak setiap individu (Andri Fernanda, 2017). Kesan itulah yang kemudian ditransmisikan ke generasi selanjutnya.

Dalam konteks novel Dendam, Ibu dan Bapak merupakan generasi pertama keluarga dan sekaligus lapisan paling utama dalam mentransmisikan memori. Adapun Rini tidak lain merupakan generasi kedua sebagai anak dari tahanan politik (yang tidak pernah tahu kesalahannya). Oleh karena itu, Rini pun memiliki peran ganda: sebagai saksi sejarah sekaligus penyambung rantai post-memory dengan anaknya. Sementara Tinuk merupakan generasi ketiga yang memiliki hubungan dengan pengalaman yang dirasakan sang kakek (bapak Rini) sebagai tahanan politik rezim militeristik Soeharto. Begitu pula hubungannya dengan sang nenek yang juga merupakan tahanan politik pascahuru-hara 1965. Proses transmisi memori dari nenek dan ibu itulah yang membuat Tinuk, sebagai generasi ketiga, mengalami proses keberkelindanan antara kontestasi nilai dan rekonsiliasi trauma masa lalu (Dhianita, 2018).

Menarik, contoh unik bagaimana proses transmisi memori itu terjadi dalam satu tarikan nafas berlangsung di “kamar mandi”. Lebih spesifik, adegan Ibu, Rini, dan Tinuk menjadi bentuk riil rekonsiliasi trauma bagi ketiga perempuan beda generasi yang sama-sama memiliki “dendam”. Begitu pula dengan rekonsiliasi terhadap sifat traumatik yang mendera mereka bertiga. Sebab, setelah keluar dari kamar mandi, Ibu merasa lega karena telah bercerita panjang-lebar kepada anak-cucunya sehingga tidak lagi menanggung beban kelam sejarah; Rini mencoba berdamai dengan keluarga Watulandep; dan Tinuk, sebagai generasi ketiga, makin memantapkan diri dengan pilihan hatinya, Dodik.

Meskipun, akhirnya, Tinuk pun kembali terbakar amarah. Kepedihannya menguar kembali. Memuncak, tepat di lingkungan hotel prodeo. Andai Tinuk menemukan kamar mandi, apakah Dendam itu akan berakhir?

*Tulisan ini semula untuk diskusi dan bedah novel Dendam karya Gunawan Budi Susanto di Nir Café & Workingspace, Selasa, 26 Maret 2019, yang diselenggarakan Nir Café & Sindikat Anak Mami. Bagas Yusuf Kausan tidak suka disebut pegiat literasi dan (lebih senang disebut) penyanyi metal (slug).

Sumber Gambar: Orde Desain & Studio

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.