Membaca Tanpa Tulisan

Spread the love

Cerpen Hendro Basuki

Langit Jogja kidul temaram ketika aku sampai di Pantai Depok. Bintang-bintang bertebaran. Gugusan Bimasakti yang indah menggeliat. Lintang Panjer Sore tampak mencorong, seolah-olah sedang menyoroti dunia seisinya.

Lintang itu disebut bintang sore hari sesuai dengan namanya. Bintang itu bersorot tajam, tidak berkelip, dengan warna kekuningan.

Dulu, Pak Gono, guruku geografi sewaktu SMA, menerangkan bintang itu berjarak sekitar 107 juta kilometer dari bumi. Tak terlalu jauh. Ia memiliki sorot kuning keunguan dan berada di belahan barat. Disebut Lintang Panjer Sore karena tampak menyorot tajam waktu sore. Saat malam, sorotnya kalah oleh sinar rembulan.

Pak Gono Sumaryo, nama lengkapnya, menjelaskan itu bintang terbesar ketiga setelah matahari dan rembulan. Bukan hanya dilihat dari besarnya, melainkan juga sorotnya. Orang modern, katanya, menyatakan itu Venus. Dalam mitologi Yunani, Venus digambarkan identik dengan cinta, kecantikan, dan kenikmatan. Digambarkan sebagai afrodit yang melambangkan kenikmatan. Dewi itu tercipta dari alat kelamin Uranus yang dipotong oleh Titan Kronos dan dilemparkan ke laut. Sesuai dengan asal-mulanya, Venuslah yang mampu memberikan kenikmatan cinta, kenikmatan dunia tiada tara.

Sorot kuning Venus mengandung frekuensi energi yang mencerahkan, merangsang sistem saraf, dan memberikan energi kebahagiaan. Seperti matahari, Venus memberikan energi pertumbuhan dan secara alami haus kebahagiaan. Sesekali muncul warna keunguan yang memberikan energi hasrat yang kuat. Mungkin lebih tepatnya nafsu.

Venus tidak berkedip, seperti beberapa bintang lain. Tajam, seolah-olah bergeming saat memeloti kita di bumi. Bergeming. Kukuh, berkesan kuat. Orang Jawa melihat Lintang Panjer Sore biasanya berkidung tentang imbauan agar kita tidak tidur terlalu sore.

 

Aja turu sore kaki
ana dewa nglanglang jagad
Nyangking bokor kencanane
Isine donga tetulak
Sandhang kelawan pangan
Yaiku bageyanipun

wong kang melek, sabar, lan narima….

Candik ala,” kata Ibu yang kuingat-ingat kenapa tidak boleh tidur sekitaran magrib. Ibu menasihati, begitu magrib tiba, makhluk-makhluk gaib bangun dari tidur. Maka semua orang harus eling lawan waspada, ingat dan waspada. Ingat mengenai keberadaan dan waspada terhadap keadaan. Maksud Ibu, manusia berada di dunia karena ada yang mengadakan. Siapa? “Gusti Allah, Nak!”

Waspada terhadap keadaan Ibu artikan sebagai keadaan lingkungan sekitar yang penuh tantangan. Karena itu, ketika magrib tiba, Ibu melarang anak-anak berada di luar rumah. Sebaliknya, kami harus berdiam diri di rumah dan berdoa.

Candik ala bisa berupa apa saja. Ada orang mengirim teluh, santet, hal buruk lain memilih waktu sekitar magrib. Juga mengirim doa untuk memelet orang. Magrib adalah saat para makhluk halus bangun dari tidur. Begitu membuka mata, kata Ibu saya, seluruh tubuh para makhluk itu segar. Jadi jika manusia yang penuh nafsu menyuruh, mereka segera berangkat. Makin lama, energi mereka terkuras, sehingga pukul 03.00 sudah mengerut.

Pasar makhluk halus juga buka saat magrib, menjelang isya. Sebagian besar pasar itu menghadap ke timur. Jadi, pintu pasar yang membuka itu membelakangi arah surut matahari. Waktu pergantian adalah masa berlangsungnya pasar; kenduri, bermain-main dengan segala keriuhan.

Eling-eling, magrib kuwi kudu ning omah,” kata Ibu.

Ya, Ibu menyatakan anak-anak saat magrib harus sudah berada di rumah.

***

Namun, saat ini, kami justru sedang berada di luar rumah. Di tepian pantai Laut Selatan.

Mangga, Mas Tony, kita mulai,” ajak Rama untuk memulai ritual. “Namun sebentar nggih, Mas Tony tunggu dulu di sini.”

Aku pun menurut. Rama bergegas ke pinggir pantai, sementara deburan ombak masih terus menggelegar. Dia berada tak terlalu dari bibir pantai. Mungkin sekitar 10 meter. Aku amati dari jauh, Rama duduk bersila. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Duduk saja, seperti orang lesehan.

Sementara aku duduk menunggu bersama Mas Modjo, Mas Mur, dan seorang asisten Rama. Namun posisi kami berjauhan. Mas Mur cukup berpengalaman, karena sudah terbiasa melakukan ritual. Mas Modjo masih ingusan. Nggak pernah puasa, nggak pernah salat.

“Aku abangan… baaaaaang!” katanya, suatu ketika, sambil terkekeh penuh kebanggaan.

Aku ter-sirep dalam lamunan, karena selain memperhatikan deburan ombak, aku juga sedang menikmati keindahan langit. Deburan ombak Laut Selatan nggegirisi. Meski pandangan agak tertutup gundukan bukit di pinggir pantai, suara deburan ombak seperti berdengung. Glegeeer, glegeeeer, berulang-ulang tanpa henti. Jeda hanya beberapa detik.

Rama mempersiapkan uba rampe. Tiga bungkus rokok cap Tuton dia bawa sejak dari Semarang. Dia beli di sebuah warung langganan. Hanya warung itu yang menyediakan rokok merek legendaris tersebut. Di toko-toko modern tak ada. Hanya di warung warung tertentu. Di bungkus rokok merek itu ada gambar orang nutu berwarna merah muda.

Kemudian selembar kain kacu warna putih. Kain kacu atau sapu tangan milik Rama Itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ke mana pun pergi, selalu dia bawa. Tidak ada yang istimewa, seperti juga kain lain. Warna putih, bergaris-garis kuning muda. “Ya, saya harus menyelipkan kacu ini di saku. Soalnya kadang ada teman tiba-tiba minta ritual,” kata Rama pelan.

Tak seberapa lama, Rama sudah balik ke tempat kami menunggu. Bergegas dia berjalan di atas pasir pantai. Tubuhnya yang kurus dengan rambut memanjang putih disorot rembulan pinggiran pantai sekilas terlihat angker.

Rama jarang makan nasi. Sehari-hari hanya rokok dan kopi. Tak lebih. Pagi hari dan malam, singkong rebus kesukaannya. Dengan ketiga bahan makanan itulah Rama hidup dan sehat. Tak tampak gurat lelah, meski sudah berusia 70-an tahun.

“Saatnya kita makan dulu, Mas Tony,” kata Rama sambil membuka bungkusan kacu.

Aku senteri apa yang dia bawa. “Ya, Allah!” Aku agak kaget.

“Tenang, Ton,” kata Mas Mur.

“Gurih kok. Renyah,” timpal Mas Modjo.
“Ayo, Mas Tony. Enak. Mumpung masih hangat!”

Aku perhatikan dengan serius. Mereka bertiga mengambil sepotong demi sepotong ikan hangat. Terlihat baru saja dientas dari wajan. Aku senteri ikan goreng itu masih berasap, beraroma sedap. Tak kalah dari gorengan di Warung Lamongan.

Mereka bertiga antusias melahap. Aku? Mikir seribu kali untuk menyentuh.

Nggak apa-apa. Ini asli ikan!”

“Asli ikan!”
Aku bergeming. Sambil menatap mereka melahap ikan hangat itu, pikiranku

berkelana ke mana mana. Dari mana ikan panas itu? Bukankah tadi Rama bersila di pinggir pantai? Di sini, di pinggir laut ini tak ada warung. Sulapan? Nggak juga! Wong dalam perjalanan Semarang-Jogja tiga jam, nggak bawa apa-apa. Rama hanya membawa sebotol minuman kesukaan. Air putih! Sesekali menenggak, selebihnya tidur selama perjalanan.

Rama mendorong-dorong, hingga akhirnya aku luluh. Kucuwil sedikit daging ikan yang gendut. “Eh, ikan beneran!” batinku.

Ya, ternyata ikan beneran. Rasanya. Tekstur dagingnya. Ada durinya juga. Tak ada yang mencurigakan. Pikiranku menerawang jauh. Jangan-jangan…? Apakah makan ini berarti…?

Aku tertegun, tetapi berusaha tetap tenang. Kembali kusenteri ikan yang masih hangat itu. Sejenis ikan kakap putih. Mereka tetap berselera, melahap tanpa curiga. Adapun aku masih bergulat dengan pikiranku sendiri.

“Inikah awal kontrak?” Aku ketakutan. Aku berpikir keras. Tidak, tidak mungkin! Aku tak mungkin terikat. Jika ini kontrak, berarti sejak makan ikan aku akan berada dalam genggamannya. Duh! Kenapa aku sampai di sini malam ini? Kenapa aku tertarik mereka? Kenapa tadi aku tidak berusaha menghindar? Atau setidaknya hanya mengantar. Setelah itu pulang atau menunggu di Jogja!

Aku tak tenang. Kuperhatikan wajah mereka. Sorot rembulan membantuku melihat jelas wajah semringah mereka. Mereka makan ikan sambil ngekek-ngekek, tanpa sesuatu yang mencurigakan. Seperti orang makan umumnya; begitu lezat, tandas tanpa sisa. Aku melongo, tak berani menyentuh ikan itu lagi. Mas Mur menyisakan bagian tubuh ikan yang kering itu.

Iki kanggo awakmu, Ton,” katanya.

Aku terdiam. Tak menjawab. Hanya memperhatikan mulutnya yang masih njebres. Aku diam, tak berani menolak. Ungkapan menerima makan atau menolak sama-sama tak keluar dari bibirku. Aku terdiam, bingung.

Aku perhatikan Rama menghabiskan sebatang rokok. Oh, masih juga rokok Tuton tadi. Melihat Rama menyedot-nyedot rokok begitu, rasa di dada ini deg-degan. Bukan soal rokoknya, melainkan: kenapa aku terlibat dalam pergulatan malam ini? Aku belum mengenal Rama terlalu jauh. Malam ini, kali pertama bertemu. Itu karena ajakan Mas Mur. Itu pun tidak sengaja. Siang bertemu, Rama bilang, ”Mur, mengko aku ngidul. Melu ora?”

Mas Mur antuasias. “Inggih, Rama. Ikut.”

Melu yuk,” kata Mas Mur kepadaku.

Aku mengiyakan, tanpa menyelidik terlalu jauh.

Dalam perjalanan menuju ke Jogja, kami semua anteng di dalam kabin. Tak banyak bicara. Sepi dari tawa. Karena saat menyetir aku tak suka ada lagu, tiprekorder pun terdiam. Sampai di Magelang, Rama minta kaca mobil dibuka. Oh, tampaknya dia tidak kuat tanpa merokok.

Kula wingking mawon,” katanya sambil meminta aku meminggirkan mobil karena dia minta pindah ke belakang.

Aku pun menurut. Dia membuka kaca bagian belakang. Dan, mulailah merokok. Sampai di batas masuk Jogja, Mas Mur memberi isyarat. “Nanti lewat Ring Road, kemudian ambil jurusan Bantul,” katanya.

Kami pun kembali diam. Tanpa satu kata pun keluar dari kami. Lalu-lintas di pingggiran Jogja cukup padat. Aku menyetir tanpa beban. Lancar-lancar saja sampai Depok, tanpa sekali pun klakson menyalak.

Mangga kita mulai,” Rama memberi isyarat. “Nanti Mas Tony tengah, di depan saya. Mur sebelah kanan jauh dan Modjo kiri jauh,” katanya memberi perintah.

Kami berempat menuju ke pinggir pantai. Deburan ombak Laut Selatan yang garang membuat nyaliku surut. Malam-malam begini aku di sini, jauh dari mana-mana. Bagaimana kalau disapu gelombang ombak setinggi puluhan meter itu?

Halah, rak sah mbokpikir,” bisik Mas Modjo sambil njawil.

Keteganganku memuncak. Ingat sesuatu dan pikiran menerawang ke mana-mana. Ingat Lukisan Basoeki Abdullah tentang sosok yang tak berani aku sebut namanya. Berkereta kencana, ditarik kuda, dan tiupan angin menyibak rambutnya. Ya, berkebaya hijau dengan mahkota berkelap-kelip. Wajahnya sangat ayu. Melebihi pesona Monalisa. Tangannya melambai seolah memberi salam. Anganku menerawang jauh. Lalu, pikiranku juga menerawang ke sebuah cerita tentang sebuah hotel di Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Kata sahibul hikayat, di hotel itu ada sesosok makhluk yang sangat ditakuti dan sering tidur di sebuah kamar di Inna Samudra Beach. Perempuan cantik, dijuluki Ratu, mengenakan kebaya hijau dengan jarit bermotif parang. Cerita-cerita itu benar-benar seperti adegan cerita bersambung dalam benakku. Satu cerita dan gambar seolah antre masuk ke dalam pikiranku tanpa mampu kucegah.

Kuperhatikan lautan lepas pada malam hari di bawah sorot rembulan purnama. Tak ada yang bisa mencegah cahaya menghunjam lautan dan pantai. Kakiku gemetaran. Telapak tanganku mendingin. Tengkukku merinding. Mataku menerawang jauh ke tengah lautan. Mana mungkin kapal bisa sandar ke pantai jika ombak seperti ini?

Kalau tiba-tiba ombak besar datang bergulung-gulung, tambatan apa yang harus kupegang? Bukankah Rama, Mas Mur, dan Mas Modjo juga bersamaku?

Sejak kecil aku takut air. Aku trauma karena pernah tercebur di kedung Kali  Lusi.

“Loncat! Loncat, Ton!” teriak teman-teman memprovokasi aku untuk meloncat ke dalam air.

Mereka bilang akan menolongku. Nanti. Namun ternyata mereka membiarkan aku megap-megap hampir mati. Malah mereka menertawakan. Sejak saat itu aku takut dan tidak bisa berenang. Sampai hari ini.

Rama memasang hio. Ada 12 batang hio dia bagi secara merata untuk kami.

“Nanti berdoa sebisanya ya,” pinta Rama kepada kami.

Inggih, Rama,” sahutku. Begitu juga yang lain.

Lalu, aku melubangi hamparan pasir tempatku duduk bersila. Ya, harus membuat gowakan untuk pantat.

Hio membara diterpa angin pantai. Ketakutanku memuncak waktu demi waktu. Kakiku benar-benar dingin. Aku raba. Duh, dingin sekali. Jika pun ada kaca pengilon, mungkin wajahku juga terlihat pucat. Mana ada orang tidak takut karena sebentar lagi bertemu sosok yang mendengar namanya saja takut? Berbagai legenda, cerita dari mulut ke mulut, dan mitos muncul malam itu.

Jangan pernah memakai pakaian hijau di selatan! Itu bukan hanya petuah, melainkan sudah berupa hardikan. Bagi orang Jawa, pergi ke pantai itu harus berbekal wejangan. Tidak sembarangan.

Namun, kini, aku berada di sini. Ya, di pinggir pantai. Aku duduk bersila. Posisiku sangat berjauhan dari Mas Mur dan Mas Modjo. Namun relatif dekat dengan Rama.

Nyicil ayem! Karena berjauhan, teman-temanku tak terlihat begitu jelas. Hanya siluet hitam, tampak kecil dari kejauhan.

Tiba-tiba langit menggelap. Cahaya bulan meredup karena gumpalan mega menghalangi cahayanya. Deburan gelombang menyurut. Tidak seganas setengah jam lalu.

“Nanti, perhatikan ke arah tengah laut ya. Jangan sekali-kali mata terpejam!” Petuah Rama itu selalu aku ingat.

Dari jauh tampak ada sosok di atas gelombang. Naik-turun mengikuti irama gelombang. Naik, turun, naik, turun. Seperti mobil berjalan di atas jalan bergelombang. Kadang terlihat seperti mengawang. Kadang seperti menempel di permukaan air. Begitu seterusnya. Makin lama sosok itu kian jelas. Makin dekat. Tubuhku terguncang. Tak bisa kukendalikan. Apa aku akan mati? Bagaimana kalau aku dibawa? Apakah Rama bisa mencegah? Ah, tidaklah! Bukankah mereka juga sudah berulang-ulang ke sini? Toh, mereka masih hidup!

Tenteram sejenak. Namun kan mereka sudah akrab! Aku?

Seperti diiringi sekoci, kerlip-kerlip lampu itu merapat ke tepi pantai. Rambutnya terurai. Diterpa angin laut yang kencang, rambut itu bergelombang indah. Angin makin kencang, juga membawa serta pakaian putih yang tersapu.

Aku ingat Gabriela Sabatini, petenis legendaris yang berjaya pada 1990-an. Tinggi semampai dengan rambut hitam legam terurai. Panjang rambut sampai ke mata kaki. Dia berjalan tenang menyusuri pantai sambil memandang ke tepian tempat kami berempat bersila.

Berjalan terus di bibir pantai ke arah barat. Berjalan pelan-pelan dengan tongkat. Dengan suara ketukan tongkat sangat jelas. “Mana mungkin di pantai, ketukan tongkat ke pasir bisa bersuara sekeras ini?” pikirku.

Namun aku tak sempat berpikir berkepanjangan, karena setelah berjalan ke arah barat, dia balik kanan menuju tempat Mas Mur bersila. Aku perhatikan terus karena tak boleh memejamkan mata. Sosok itu lalu berdiri di depan Mas Mur. Tangannya menadah ke langit. Lalu berjalan, dan akhirnya berada di belakang Mas Mur. Kembali tangannya menadah ke langit. Sejenak.

Tak berapa lama, lalu berjalan terus. Ternyata bukan menuju ke arahku yang berada di tengah, melainkan menuju tempat Mas Modjo bersila. Jauh dariku. Langkahnya tidak gemulai. Langkah lebar. Terlihat kukuh, tetapi berwibawa. Cahaya rembulan terbuka sedikit. Tampaklah sekilas rona wajahnya lebih jelas. Aku melihat lamat-lamat. Kepala Mas Modjo dipegang. Dengan bantuan cahaya rembulan, tampak jelas sosok itu memegang kepala Mas Modjo cukup lama. Lalu berjalan kembali ke depan. Aku makin gemetar. Aku yakin pasti menuju ke tempatku. Inikah saatnya?

Aku ingat dosa-dosa yang pernah kulakukan. Aku pernah menulis: perkawinan sosok ini dengan Danang Sutowijoyo hanyalah akal-akalan kekuasaan. Sutowijoyo menjadikan seks merapat ke kekuasaan. Aku pernah menulis, itulah cara Sutowijoyo memanipulasi dan menakut-nakuti rakyat. Bisa dibayangkan jika seorang raja berhasil mengawini dia, berarti dialah raja sakti mandraguna. Bukan manusia biasa.

Hadeh! Gemetar membuatku pipis di celana. Ketakutanku menjadi-jadi. Pecah. Aku menangis. Sesenggukan dan makin keras. Aku makin takut. Tak pernah aku mengalami episode sakit seperti ini.

“Ssssssttttt…, ora usah nangis!” Terdengar bisikan halus sekali masuk ke telinga kiriku. “Wis meneng!“

Tiba-tiba tangisku mereda. Dia mengelus-elus kepalaku. Mengusap pipiku. Lembut. Tangan itu rasanya seperti kapas. Bukan sentuhan tangan biasa. Sepertinya dia tersenyum. Namun aku tak berani menatap. Aku merunduk. Kuperhatikan bagian kakinya.

“Ya, Allah, memakai terompah!“

Baunya sangat wangi. Wangi yang lembut. Tak menyogok hidung sama sekali. Oh, tadi ketika di pantai, baunya menusuk hidung. Namun sampai di dekatku, kok baunya lembut sekali.

Dia sudah berada di depanku. Jika dengan Mas Modjo dan Mas Mur, dia berdoa di belakang, kenapa dia berdoa di depanku? Kenapa beda? Apa salahku?

Dia mengeluarkan sesuatu dari saku gaun putih. Dia lempar ke depanku.

“Nanti, kalau beliau memberi sesuatu, jangan langsung ambil ya. Tunggu isyarat dari saya.” Itulah nasihat Rama yang masih bersarang di telingaku.

Dia lalu berjalan menjauh. Menjauh, menjauh, dan akhirnya hilang ditelan ombak laut yang kembali mengganas. Meninggalkan sepasang bendera kecil  berwarna merah dan hijau di bibir pantai. Bendera merah robek-robek, bendera hijau utuh.

Beberapa saat kami terdiam. Hening.

“Nanti yang menang Pak SBY!” kata Rama pendek.

Pantai Depok, Juli 2004

 

Catatan

Kidul: selatan.

Aja turu sore kaki/Ana dewa nglanglang jagad/Nyangking bokor kencanane/Isine donga tetulak/Sandhang kelawan pangan/Yaiku bageyanipun/wong kang melek, sabar, lan narima: jangan tidur sore hari/ana dewa mengelilingi jagat/membawa bokor kencana/berisi doa penolak/sandang dan pangan/itulah bagian/bagi orang-orang yang mau berjaga, sabar, dan pasrah.

Candik ala: peralihan dari senja ke malam.

Eling lawan waspada: ingat dan waspada.

Eling-eling, magrib kuwi kudu ning omah: ingat-ingat, saat magrib harus berada di dalam rumah.

Mangga: silakan.

Nggih: iya.

Sirep: terlarut, terbawa, tenggelama dalam.

Nggegirisi: menakutkan, mencekam.

Uba rampe: peralatan, peranti, perlengkapan.

Kacu: sapu tangan.

Wong: (harfiah) manusia, orang; dalam konteks kalimat di atas sebagai awalan kalimat yang tak bermakna khusus.

Beneran: benar-benar, sesungguhnya.

Ngekek-ngekek: terkekeh-kekeh.

Iki kanggo awakmu, Ton: Ini buatmu, Ton.

Njebres: belepotan.

Mur, mengko aku ngidul. Melu ora?: Mur, nanti aku ke selatan. Ikut?

Melu yuk: ikut yo.

Anteng: tenang, berdiam diri.

Kula wingking mawon: saya di belakang saja.

Halah, rak sah mbokpikir: Ah, tak usah kaupikir.

Njawil: mencolek.

Gowakan: lubang.

Kaca pengilon: cermin.

Nyicil ayem: bikin tenang.

Hadeh: aduh.

Ora usah nangis: tak usah menangis.

Wis meneng: sudah, diam.

Hendro Basuki, jurnalis senior, menulis puisi dan cerita, tinggal di Semarang

 

Gambar: catking.in

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.