Membangkitkan Gairah Ekonomi Kerakyatan pada Era Investasi

Spread the love

Oleh Dicki Arief

Akhir-akhir ini media dihebohkan dengan berita ketegangan antara beberapa negara di dunia. Antara Amerika dan Iran, juga antara Indonesia dan Tiongkok. Atas ketegangan beberapa negara itulah yang memicu perubahan ekonomi global. Ketegangan antara Indonesia dan Tiongkok bahkan disinyalir berpengaruh terhadap perekonomian kedua bangsa tersebut, yang mana investasi Tiongkok saat ini sangat masif di Indonesia.

Tentu kita sadar bahwa akhir-akhir ini pemerintah membuka lebar keran investasi bagi para investor asing. Sebagian dari kita mungkin ada yang setuju dengan investasi, dan sebagian lagi mungkin tidak setuju. Namun bila kita telisik lebih dalam lagi apakah investasi menjamin kemandirian suatu negara? Tentu saja tidak.

Ketergantungan yang terlalu tinggi terhadap perekonomian bangsa lain menurut Soekarno tidak akan menjamin kesejahteraan rakyat, bahkan cenderung berpotensi menimbulkan resesi ekonomi nasional yang berkepanjangan. Kekhawatiran Soekarno akhirnya terbukti, ketika Indonesia pada era Orde Baru mulai berafiliasi dengan lembaga keuangan internasional seperti IMF. Maka Indonesia tidak dapat menghindar dari krisis ekonomi yang dampaknya terasa hingga kini.

Akhir-akhir ini kebijakan perekonomian Indonesia tidak bisa lepas dari investasi modal asing. Inilah penyebab bangsa ini ketergantungan terhadap investor asing yang berpotensi melanggengkan kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme dalam bentuk baru yang bersifat eksploitatif.

Maka dari itu, untuk menghadapi tantangan terhadap masuknya investasi asing, perlu adanya gagasan mengenai ekonomi kerakyatan yang diprakarsai oleh Moh. Hatta. Hatta memberikan gagasan untuk mewujudkan reformasi sosial melalui organisasi yang dinamakan kooperasi dalam konstelasi ekonomi atas nama rakyat demi mewujudkan sistem ekonomi yang berdaulat.

Melalui konsep kooperasi Hatta yang berlandaskan asas persatuan, kekeluargaan, dan gotong royong—sesuai dengan nilai luhur Bangsa Indonesia—saya rasa kooperasi dapat menjadi alat perjuangan rakyat dalam sistem ekonomi untuk melawan masifnya gelombang investasi asing yang merasuki sendi-sendi perekonomian.

Sebagai solusi untuk mewujudkan kemandirian ekonomi Bangsa Indonesia di tengah arus investasi yang masif dewasa ini, saya rasa konsep kooperasi yang ditawarkan Hatta sangatlah tepat untuk kita terapkan, demi terwujudnya ekonomi berdikari.

Dicki Arief, alumnus Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.

Gambar: nytimes.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.