Mempertanyakan Kembali Peran Intelektual Kampus

Spread the love

Oleh: Asep Syaeful Bachri

Apakah kaum intelektual hanya terbatas pada orang-orang seperti profesor, dosen atau mahasiswa yang duduk di perguruan tinggi ? Atau mereka yang sering muncul di media massa sebagai penyiar, wartawan, para analisis politik, pengacara, ahli kebijakan, penasehat pemerintah, ahli pasar dan seluruh yang berkaitan dengan ahli dalam bidang tertentu yang lebih spesifik dengan keprofesionalan mereka ? Dalam mengurai kepada siapa predikat intelektual itu diberikan, izinkan saya untuk mengutip dua deskripsi paling populer di abad ke-20 tentang intelektual. Antonio Gramsci dalam bukunya The Prison Notebooks mengatakan bahwa “orang dapat mengatakan: semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua orang dalam masyarakat memiliki fungsi intelektual”. Maka dalam menjalankan fungsi intelektual, Gramsci membaginya menjadi dua jenis: pertama, intelektual tradisional semacam guru, ulama dan para administrator yang secara terus menerus melakukan hal yang sama dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi. Kedua adalah intelektual organik, Gramsci memandang intelektual organik merupakan kalangan yang berhubungan langsung dengan kelas, penguasa dan perusahaan yang memanfaatkan mereka untuk berbagai kepentingan, serta untuk memperbesar kekuasaan dan kontrol. Gramsci yakin bahwa intelektual organik aktif dalam masyarakat, yakni senantiasa berupaya mengubah pikiran dan memperluas pasar.

Menurut Gramsci pula, kaum intelektual bukanlah kelas sosial, akan tetapi sebagai kelompok penting dalam terselenggaranya sistem masyarakat modern, dan cenderung telah terbagi dalam bidang-bidang tertentu, karena telah banyak kaum profesional dalam satu bidang yang muncul.

Dalam satu sisi yang berbeda, definisi terkenal Julien Benda tentang intelektual adalah segelintir manusia sangat berbakat dan yang diberkahi moral filsuf-raja. Mereka ini yang membangun kesadaran umat manusia. Benda dalam mencontohkan intelektual sejati, hanya menyebutkan segelintir nama seperti Socrates, Voltaire dan Yesus. Menurut definisi Benda ini, intelektual sejati merupakan mereka yang kegiatannya bukanlah berdasarkan tujuan praktis, tetapi mereka yang menemukan kepuasan dalam mempratekkan seni atau ilmu pengetahuan, atau spekulasi metafisik. Dan menurutnya juga, intelektual sejati dengan jati dirinya yang digerakkan oleh dorongan metafisis dan prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran. Dan seorang intelektual sejati, dengan keberaniannya dalam menyuarakan keadilan dan keberanian berisiko dibakar di tiang, dikeluarkan dari komunitas, atau disalib. Karena pada intinya mereka semua adalah mereka yang bisa berbicara tentang kebenaran kepada penguasa, yang tanpa tendeng aling-aling, fasih, sangat berani, dan individu pemberani.

Dari kedua definisi ini memang sulit untuk mengambil definisi mana yang lebih relevan untuk saat ini. Akan tetapi Edward Said dalam bukunya yang berjudul “Peran Intelektual” lebih condong pada definisi Antonio Gramsci, karena lebih dekat kepada realitas dari pada konsepsi Julien Benda. Terutama pada akhir abad ke-20 yang muncul banyak profesi baru seperti penyiar, akademisi, profesional, analisis komputer, ahli keijakan, penasehat pemerintah, dan seluruh profesi yang ahli dalam bidangnya masing-masing. Kemudian Said menyebutnya kesemua itu dengan istilah “Intelektual Profesional”. Akan tetapi Edward Said juga menegaskan bahwa intelektual merupakan individu dengan peran publik tertentu dalam masyarakat, yang tidak dapat direduksi begitu saja dengan batasan hanya karena menjadi kaum profesional, yang hanya berkompeten dalam satu bidang saja. Dan ia juga menganggap intelektual merupakan individu yang dikaruniai bakat untuk merepresentasikan, mengekspresikan dan mengartikulasikan pesan, pandangan, sikap, filosofi dan pendapatnya kepada publik. Seorang intelektual adalah orang yang menjadi seorang yang tak mudah untuk dikooptasi oleh pemerintah atau korporasi. Peran intelektualnya adalah untuk mewakili semua orang yang lemah yang tak terwakili, serta mengawal isu yang secara rutin dilupakan atau disembunyikan. Dengan berprinsipkan: semua manusia berhak mengharap standard perilaku yang layak sehubungan dengan kebebasan dan keadilan dari penguasa dunia, negara-negara dan korporasi. Oleh karena itu penyelewangan keadilan, perampasan hak-hak masyarakat dan kekerasan yang disengaja perlu diuji dan ditentang dengan berani.

Dari semua definisi itu, ketika kita hubungkan dengan para akademisi perguruan tinggi, sebagai “Intelektual Profesional”, yang mempunyai otoritas dalam menciptakan ilmu pengtahuan, apakah sudah pantas, predikat intelektual melekat pada diri akademisi, dan apakah sudah menjalankan perannya sebagai intelektual dengan benar. Memang jika secara definisi Edward Said, sudah termasuk dalam katagori “Intelektual Profesional”, akan tetapi sudahkah mejalankan perannya dalam mewakili kaum lemah, mengatakan benar kepada penguasa, ketika ada penyelewengan keadilan? Suatu korupsi tingkat tinggi ketika kaum akademisi mengetahui kebenaran sesuatu, akan tetapi ia putuskan untuk tidak memilihnya, karena khawatir tampak kontroversial. Atau membutuhkan restu dari para petinggi birokrasi perguruan tinggi selaku bos dan figur otoritas. Atau ingin terlihat seimbang, objektif, moderat dan tetap dalam dan bersama arus utama. Sialnya lagi jika bungkamnya mereka pada kebenaran karena telah terkooptasi oleh penguasa dan korporasi, bahkan dengan “iming-iming” material, ia tidak hanya bungkam, tapi berani berfatwa dengan otoritasnya sebagai kaum intelektual dengan cara membenarkan penyelewengan keadilan oleh penguasa tersebut.

Atas dasar inilah kita bisa menelisik kembali kepada para intelektual perguruan tinggi, entah itu mahasiswa, dosen, hingga pejabat birokrasi kampus, yang sebagai intelektual profesional. Apakah suara mereka dengan lantang dan berani berbicara kebenaran kepada penguasa dan korporasi ? Ataukah suara mereka telah terkooptasi dengan penguasa dan korporasi dalam pembenaran dari penyelewengan dan penindasan atas hak asasi dan keadilan?

Jika kita kaitkan dengan isu yang terbaru, tentang “Kartini Kendeng” yang memprotes perusakan alam oleh PT. Semen Indonesia, dengan cara mengecor kaki mereka sendiri disebrang Istana pada tanggal 12 April 2016 yang lalu. Maka kita akan dapat melihat, intelektual perguruan tinggi mana yang mewakili kaum yang tak terwakili dan haknya yang dirampas. Dan kita akan juga melihat para Intelektual profesional yang bungkam, dan bahkan mencaci para “Kartini Kendeng”, dan menganggap hal itu adalah tindakan yang bodoh. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Edward Said sebagai kaum intelektual profesional “pemohon dana”, yang perannya bukan lagi sebagai pewakil dari kaum lemah yang tak terwakili, bersuara tentang keadilan dan kebebasan yang berprinsipkan pada kebenaran atas dasar intelektualnya, akan tetapi mereka justru melegitimasi penindasan oleh penguasa dan pengusaha/korporasi, karena suaranya telah dikooptasi oleh penguasa dan korporasi. Maka dari itu, mari kita “menggrayahi” diri kita masing-masing, apalagi yang telah mendaku intelektual kampus, sudahkah kita membela yang lemah ? Atau bahkan sebaliknya? Wallohu a’lam bishowab.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.