Mencari Ruang Diskusi

Spread the love

Dalam sebuah diskusi tentang “Setengah Abad Supersemar: Sampai Manakah Keadilan?” yang diselenggarakan di FIB, Universitas Diponegoro, terlontar perkataan menarik dari pembicara acara tersebut. Ia berkata bahwa “Saya senang malam ini, melihat masih banyak mahasiswa yang rela hingga larut malam duduk lesehan hanya untuk sekedar diskusi”. Perkataan pembicara tersebut, mengandung dua arti, rasa bangga dan rasa sedih. Mungkin, ia merasa bangga bahwa minat terhadap diskusi, masih hadir di dalam jiwa mahasiswa-mahasiswa saat ini. Dan mungkin juga ia merasa sedih, karena momen-momen seperti ini, ketika acara-acara diskusi diminati banyak kalangan mahasiswa, kian sedikit dan terus tergerus acara-acara yang bersifat hiburan semata. Pengalaman semacam itu, mendorong saya mulai bertanya-tanya, tentang pentingnya diskusi, dan mengapa budaya diskusi dalam lingkungan kampus, perlu sekali dilestarikan?

Dunia kampus merupakan ranah para akademisi, sekaligus lingkungan para pemikir masa depan. Didalamnya, terdapat ribuan mahasiswa dengan berbagai latar belakang dan bermacam program studi yang ditempuh. Hidup dan berproses dalam lingkungan akademik, membuat mahasiswa kerap disebut sebagai kaum intelektual. Rentetan gelar ilusi yang menyertainya, turut mempertegas sosok  mahasiswa sebagai intelektual, sekaligus sebagai representasi dari golongan terdidik, bahkan sebagai jembatan antara birokrat pemerintah dan rakyatnya.

Menjadi menarik, ketika sosok mahasiswa yang begitu agung dalam ilmu pengetahuan, mulai memunculkan gejala-gejala kehilangan sifat-sifat intelektual-akademik nya. Kesucian Tri Dharma Perguruan Tinggi, berangsung-angsur memudar akibat disorientasi dari mahasiswa dan perguruan tinggi itu sendiri. Dan gejala kehilangan sifat akademik yang paling tampak ialah mulai terasing nya budaya diskusi dan merebaknya budaya populer yang banyak mengadopsi gaya hidup orang luar, sebagai akibat dari globalisasi yang kebablasan.

Melalui buku Bangsa Mahasiswa, Eko Prasetyo telah menampar keras mahasiswa saat ini. Dimulai dari komersialisasi kampus, salah arah nya organisasi mahasiswa, hingga berujung lenyap nya diskusi-diskusi yang mencerdaskan. Menurut Eko Prasetyo, tak ada lagi mahasiswa yang berlomba-lomba untuk membaca buku dan bersaing literasi dalam diskusi. Namun, disamping faktor mahasiswa, kampus pun menjadi faktor yang cukup berpengaruh atas lenyap nya budaya diskusi. Produk kebijakan kampus saat ini, yang cenderung menggiring mahasiswa untuk kuliah guna mencari pekerjaan dan bukan mencari ilmu, menjadikan event-event keilmuan menjadi sepi peminat. Hal ini cukup berdampak signifikan. Mindset yang terlanjur tertanam, menjadikan diskusi merupakan kegiatan basi, gak zaman, tak berpengaruh dalam nilai akhir, dan tak berdampak untuk kemajuan di masa yang akan datang.

Disamping faktor mahasiswa dan kampus sebagai penyebab hilang nya minat diskusi, masih ada pelbagai faktor yang turut mendorong hal tersebut terjadi. Selain faktor dosen atau pengajar yang tak banyak memberi ruang bagi terciptanya diskusi kelas yang benar-benar bersilang pendapat. Faktor zaman yang kian canggih dan merajalela nya teknologi pun turut menjadi penyebab keasingan mahasiswa terhadap diskusi. Faktor-faktor tersebut, hanya segelintir penyebab hilang nya minat diskusi. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada nya faktor-faktor lain yang menjadi penyebab. Akan tetapi, faktor-faktor tersebut pun bukan sebuah kemutlakan penyebab. Terbuka pertentangan akan faktor-faktor tersebut untuk digugat, dikritik, dan tentu untuk didiskusikan.

Diskusi : Sebuah Tempat Belajar
Perguruan tinggi sebagai wadah sekaligus cerminan intelektual, tempat dimana para remaja dari sekolah tingkat atas dapat melanjutkan jenjang pendidikan nya, merupakan rumah tempat orang-orang belajar dan mengajar. Status tersebut, membawa perguruan tinggi  menjadi primadona dan sandaran para orang tua yang berharap anak nya dicerdaskan, dan berharap perguruan tinggi merupakan jalan pintas menuai pekerjaan bagi anak nya. Kondisi semacam itu, sangat lumrah terjadi saat ini. Bahkan, kuliah untuk kemudahan dalam mencari pekerjaan, memang menjadi alasan  paling umum yang akan kita jumpai ketika mengkonfirmasi pertanyaan tentang tujuan dari kuliah.

Kenyataan semacam itu,  benar-benar menjangkit sebagian besar mahasiswa; dari tingkat pertama, hingga tingkat akhir sebagai mahasiswa. Peran kampus sebagai tempat belajar dan mencari ilmu dalam arti yang sebenar-benarnya, kian menyusut dan perlahan-lahan menampakan wajah asli nya yang borok. Hal ini bertambah buruk dengan marak nya dosen-dosen dengan kadar intelektualitas dan dedikasi ala kadarnya, yang kerap berstatus pegawai negeri dengan cara-cara pintu belakang, maupun dengan modus uang, dan kedekatan personal dengan pemegang otoritas terkait.

Di tengah kenyataan-kenyataan kampus yang menjengkelkan tersebut, menjadi pas ketika pengharapan kepada kampus sebagai rumah untuk belajar secara murni, ruangan untuk mencari ilmu yang mampu di implementasikan dalam menjawab persoalan-persoalan rakyat kecil, hanyalah ilusi dan mimpi belaka. Dengan meninggi nya hasrat kampus-kampus untuk berdiri secara mandiri melalui mekanisme PTN-BH, yang  di dorong dan di sponsori pemerintah melalui penerbitan produk hukum, seyogyanya itu merupakan sebuah usaha pihak-pihak tertentu untuk mengkomersialisasikan dan mengliberalisasikan kampus, yang katanya merupakan ruang akademik untuk belajar dan belajar. Bukan untuk pencarian profit demi profit, yang justru akan menjauhkan kampus dari status nya sebagai tuan rumah bagi orang-orang yang mau belajar.

Maka tak heran, banyak dari kalangan-kalangan mahasiswa yang mengatakan dirinya aktivis, justru lebih merasa mendapat banyak pelajaran dari organisasi nya ketimbang mendapatkan nya dari dalam kelas kuliah. Hal tersebut menjadi tamparan besar bagi kampus. Kenyataannya, dunia di luar kampus mampu mewadahi pengembangan diri, melalui kaderisasi maupun diskusi-diskusi, yang absen untuk diambil peran nya oleh kampus. Wacana semacam “belajar tak harus di ruang kuliah” semakin santer terdengar, dan semakin menjadi-jadi dari waktu ke waktu.

Dalam sebuah diskusi, baik itu sebuah diskusi formal yang di selenggarakan di sebuah gedung  megah dengan menampilkan seorang pemantik diskusi yang di undang pihak pantia, maupun sebuah diskusi yang terlaksana tanpa panitia di kedai kopi maupun di tempat lainya, merupakan sebuah model-model ruang diskusi untuk belajar yang cukup mencerdaskan. Dialektika yang terjalin selama diskusi, pertukaran informasi, hingga berbagi literasi merupakan wadah belajar yang tak diberikan oleh kampus, dan justru hadir dan terselenggara sebagai media pembelajaran melalui diskusi.

Mewacanakan kembali diskusi sebagai cara dan metode pembelajaran memang sudah banyak dilakukan beberapa pihak. Namun yang muncul kemudian ialah  model diskusi yang seperti apa yang benar-benar mampu menjaring ilmu, dan mampu mewadahi hasrat untuk belajar. Meski telah disinggung sedikit di uraian diatas, diskusi yang diselenggarakan oleh kampus, maupun oleh organisasi mahasiswa, nyatanya hanya berupa sebuah formalitas diskusi yang terkadang berujung pada sebuah kesimpulan. Padahal dalam sebuah diskusi, kesimpulan merupakan hal  pertama yang harus dibuang. Sekali lagi, baik kampus maupun organisasi mahasiswa nampaknya tak mampu mewadahi ruang-ruang diskusi yang benar-benar menyajikan silang pendapat, dan benar-benar menampakan wajah dialektika dalam sebuah diskusi. Dan sekali lagi, itu semua bukan merupakan upaya menggeneralisasi kenyataan yang ada. Namun, memang adanya seperti demikian, meskipun tak menutup kemungkinan masih adanya kampus-kampus, maupun organisasi mahasiswa yang mampu mengambil sekaligus mewadahi  model diskusi yang benar-benar mencerdaskan, dan benar-benar menjadikan diskusi sebuah payung untuk belajar dan mencari pengetahuan.

Ruang Diskusi Alternatif
Dalam sebuah diskusi rutin yang diselenggarakan oleh Rumah Buku simpul Semarang (RBSS), muncul sebuah nama yaitu Jacques Ranciere dan Zakoto. Mereka mengajukan model menarik dalam pendidikan. Yaitu bagaimana pendidikan mampu bermuatan kesetaraan intelektual antara yang mengajar dan yang diajar. Model semacam itu, belum banyak digunakan dalam dunia pendidikan kita saat ini. Dalam dunia pendidikan, kita masih kerap melihat dosen maupun guru yang mengajar seolah-olah dirinya memiliki tingkat intelektual yang lebih tinggi dibanding murid dan mahasiswa nya. Biasanya guru atau dosen tersebut mengajar dengan menjelaskan apa yang hendak disampaikan nya kepada murid dan mahasiswa nya. Metode dengan menjelaskan tersebut, merupakan titik pangkal utama kritik Ranciere dan Zakoto yang menganggap dengan model semacam itu, kesetaraan intelektual tidaklah terbentuk.

Ketika menerapkan model yang diajukan oleh Ranciere dan Zakoto dalam pencarian model diskusi yang baik, maka yang terjadi adalah sebuah iklim diskusi yang mekar dengan semangat egaliter dalam setiap peserta diskusi. Kesetaraan intelektual yang terbangun dalam ruang diskusi, mampu menjadikan diskusi tersebut benar-benar menjadi tempat untuk belajar secara bersama-sama, tanpa memandang lebih peserta lainya. Dengan semangat kesetaraan tersebut, diskusi akan menjadi lebih hidup dan berwarna karena tidak adanya kecanggungan dan ketakutan untuk berpendapat, yang biasanya diakibakan oleh kesilauan ketika memandang status sang pemantik yang biasanya selalu dianggap memiliki intelektual yang lebih tinggi. Model diskusi semacam ini lah yang bisa dan harus menjadi sebuah model diskusi alternatif yang mampu menjangkau ranah-ranah yang biasanya tak tersentuh dengan model diskusi umum, dan model diskusi semacam ini lah yang diharapkan mampu menjadi tempat untuk belajar bersama, dan bukan sebuah model diskusi untuk belajar dan menghamba pada orang lain. Penekanan nya tetap terhadap semangat egaliter untuk bersama-sama belajar tanpa memandang lebih kepintaran peserta diskusi lain, dan itu semua merupakan sebuah cerminan kesetaraan intelektual dalam belajar.

Ketika menengok model diskusi yang umum digunakan dengan menentukan seorang pemantik diskusi, maka sejatinya model tersebut tidak lah mencerminkan kesetaraan intelektual yang semestinya hadir dan bersemayam di tengah peserta diskusi. Model semacam itu hanya menyumbang sedikit sekali pengaruh dalam kecerdasan, yang secara bersamaan justru melanggengkan  kebodohan yang akut. Kebiasaan semacam itu terus dipelihara, bahkan tetap dijadikan model diskusi dan pembelajaran terbaik oleh pihak-pihak yang paling terkait. Dengan begitu, guru, dosen, maupun pemantik diskusi tak lain ialah pemberi pengajaran belaka dan bukan merupakan mitra dalam belajar bagi murid, mahasiswa dan peserta diskusi nya. Semangat kesetaraan intelektual yang absen dalam model diskusi dan pembelajaran tersebut, memang sulit untuk dihindarkan, sekaligus sulit untuk dirubah secara radikal.

Dengan dua kacamata model diskusi tersebut, mencari ruang diskusi alternatif merupakan sebuah pengharapan yang paling rasional dibanding merubah model diskusi lama yang terlanjur mendarah daging. Selanjutnya, ruang diskusi alternatif macam apa yang layak di cari dan di pilih? Menengok model diskusi yang bernafas semangat egaliter, nampaknya itu merupakan jawaban sekaligus pilihan dalam pencarian ruang diskusi alternatif. Diskusi dengan model dan semangat kesetaraan, mampu menjadi wadah yang benar-benar manjur untuk bersama-sama  belajar, dengan memposisikan seluruh peserta diskusi adalah mitra dalam belajar, sekaligus memandang seluruh peserta diskusi setara secara intelektual.

Membangun dan menemukan ruangan diskusi semacam itu, memang memiliki kadar kesulitan yang cukup tinggi. Jarang sekali ada ruang diskusi semacam itu, terlebih di dalam kampus yang hanya berisi seremonial dan formalitas belaka. Meski demikian, ruang diskusi yang bermodel sangat umum tersebut, tidak layak pula untuk di tinggalkan begitu saja, dan hal tersebut perlu dibarengi dengan usaha untuk mewujudkan dan menemukan model diskusi alternatif.  Maka membangun dan mendirikan ruang diskusi alternatif, yang senantiasa bernafas kesetaraan intelektual merupakan sebuah praksis yang cukup menguras tenaga. Akan tetapi, atas dasar pengharapan dan mimpi besar dikemudian hari, kesukaran dan kesulitan tersebut perlu ditenggelamkan. Dan yang sangat perlu di munculkan ke tengah permukaan ialah semangat  untuk belajar, bekerja, dan merangkai mimpi bersama untuk kehidupan yang lebih nyaman bagi semua orang, yang mula-mula diretas melalui ruang diskusi alternatif yang gelap, namun menyehatkan jiwa dan isi pikiran.

-Bagas Yusuf Kausan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.