Mendiskusikan Islam: Dari Tanggapan Menuju Tantangan

Spread the love

*Menyambung dan menanggapi tulisan Eko Santoso[i]

Oleh Bagas Yusuf Kausan

1/

Sudah sejak lama—baik umat Islam maupun umat agama dan kepercayaan lainya—memimpikan sebuah kehidupan yang layak bagi setiap orang, tanpa terkecuali. Pada tataran esensi tiap-tiap agama maupun kepercayaan, sebenarnya, terdapat satu benang merah yang sama tentang harapan dan imajinasi atas kehidupan yang damai, sejahtera, adil, dan sentosa bagi setiap umat manusia. Ajaran cinta kasih, rahmat bagi semesta raya, dan ajaran-ajaran kepercayaan dan keagamaan lainya telah menjadi semacam petuah yang perlu dilaksanakan bagi mereka yang memilih salah satu agama, maupun satu kepercayaan tertentu. Namun demikian, seiring berjalannya waktu dan seiring dengan dinamika perjalanan sejarah, maka dalam satu lintasan sejarah tertentu—baik friksi dalam tubuh agama tertentu maupun gesekan antar satu agama dengan agama lainya—pernah terjadi dan terekam oleh sejarah. Hal demikian wajar, mengingat, agama beserta para pemeluknya, tidak serta-merta terlepas dari konteks budaya, politik, ekonomi, dan geografi daerahnya. Dengan begitu, gesekan hingga peperangan yang berlabel agama, perlu dijernihkan dari kekaburan-kekaburan yang sifatnya identitas semata. Dan perlu ditegaskan pula, bahwa hal tersebut (peperarang, perselisihan, dst) bukan disebabkan oleh friksi dan pertentangan antar agama. Lebih lanjutnya, pertentangan tersebut lebih disebabkan oleh adanya gesekan pada aras budaya, politik, dan ekonomi, yang menjadikan perselisihan dan pertentangan itu terjadi.

Ketika proposisi diatas dapat diterima, maka dengan menukil judul tulisan Eko Santoso mengenai relevansi Islam untuk melawan Kapitalisme, maka sedari awal perlu ditegaskan lagi bahwa sebenar-benarnya musuh Islam, bukan friksi perbedaan antar sekte atau aliran dalam tubuh Islam, ataupun perselisihan antara Islam dengan agama-kepercayaan yang lain. Bahwa musuh Islam yang paling mendesak dan nyata ialah kapitalisme itu sendiri; yang mewujud dalam bentuk perebutan, perselisihan, dan peminggiran atas akses terhadap ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Disamping itu, konsekuensi alami dari kapitalisme yang berupa struktur ekonomi-politik yang menindas antar satu manusia dengan manusia lainya, semakin menguatkan terjadinya gesekan-gesekan tersebut.

2/

Dalam permulaan tulisannya, Eko Santoso menjabarkan sebuah penjelasan terkait konteks sejarah dari munculnya kesadaran untuk kembali kepada dimensi spiritual (agama) yang diakibatkan oleh kejenuhan pada praktik-praktik revolusi industri, lengkap beserta dinamika pertumbuhan kapitalisme di negara-negara Eropa. Dalam level tertentu, argumentasi yang diajukan oleh Eko Santoso dapat diterima. Namun jika berkaca pada fenomena Islam hari ini—baik disisi teologisnya, maupun sisi politiknya—penjabaran Eko Santoso akan menimbulkan dua interpretasi. Pertama, fenomena dan kecenderungan Islam hari ini, dengan sendirinya akan tergerus dalam keterkait-hubungannya dengan Islam pada masa-masa Nabi Muhammad SAW. Padahal, fenomena Islam hari ini, perlu ditarik mula-mula sebagai konsekuensi dari kapitalisme dan memang perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa kecenderungan Islam hari ini tidak berwajah serupa dengan Islam pada masa Kanjeng Nabi. Kedua, sebenarnya, Eko telah berusaha memberikan cerminan latarbelakang historis yang sangat material, dengan menarik awalan keseluruhan tulisannya semenjak revolusi industri. Hanya saja, alih-alih semakin menegaskan bahwa Islam hari ini merupakan konsekuensi dari kapitalisme, Eko sedikit menggesernya menjadi; fenomena kebangkitan Islam, lebih dipersepsikan sebagai pertaubatan atas segala kontradiksi-kontradiksi yang diciptakan oleh kemajuan teknologi (revolusi industri).

Selanjutnya, dalam dua sub-bab yang tertera dalam tulisan Eko tersebut, sependek penangkapan yang saya baca, Eko mengajak kita untuk menyinggung sebuah fakta yang memang benar adanya; bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia memeluk agama Islam. Itu artinya, dengan bekal potensi yang dimiliki oleh muslim Indonesia, seyogyanya, hal itu merupakan celah untuk—meminjam perkataan Eko—turut serta memberikan solusi atas krisis kemanusian dan krisis kehidupan yang terjadi dalam skala nasional, regional, maupun Global, sebagaimana yang tercantum dalam ayat bahwa “Islam datang sebagai rahmat bagi alam semesta”—yang berarti bahwa; Islam dapat memberi rahmat bagi Indonesia secara khusus, maupun bagi dunia secara keseluruhan. Agaknya, pada titik ini lah salah satu poin yang hendak diajukan sebagai bahan diskusi melalui tulisan kali ini. Dengan bekal potensi sebagai negara dengan berpenduduk muslim terbesar, yang terkadang dibarengi pula dengan aneka slogan dan harapan untuk menjadi “rahmat bagi alam semesta”—sebenarnya, cara keberislaman semacam apakah yang pantas, patut, dan jelas dalam menjawab segala macam persoalan kehidupan di sekitar kita (kemiskinan, ketidakadilan, penindasan, perampasan lahan, penggusuran, dll) yang jika dicari sebab-musabab nya, berakar dari penerapan sistem kapitalisme, yang telah disinggung sebelumnya. Tentunya, kita tidak bisa berharap lagi pada gaya Islam Liberal, yang jelas-jelas menolak antagonisme dengan kapitalisme. Kemudian, belakangan ini, muncul Islam Progresif yang terang-terangan memposisikan dirinya secara diametral dengan kapitalisme. Tentunya, kehadiran Islam Progresif[ii], seolah menjadi oase ditengah hampa nya keberislaman kita hari ini. Namun sayangnya, ide-ide segar yang dibawa Islam Progresif, akhir-akhir ini tergerus oleh potret keberislaman yang ditawarkan FPI, terutama ketika mereka semakin menemukan panggungnya melalui serangkaian isu-isu yang viral akhir-akhir ini.

Seperti yang kita ketahui bersama, FPI menemukan momentum besarnya pasca meletusnya kasus penistaan agama, yang dialamatkan kepada calon petahana Pilgub DKI Jakarta, Ahok. Sebelumnya, iklim kontra terhadap Gubernur DKI Jakarta berjalan sangat menarik. Terutama kali ketika Ahok dikritik atas praktik-praktik reklamasi dan penggusuran yang Ia lakukan kepada kelompok miskin perkotaan secara membabi buta. Seperti yang dilansir dari data LBH Jakarta, bahwa terdapat ratusan titik penggusuran yang telah dan akan dilaksanakan dibawah komando Gubernur Ahok. Islambergerak.com sebagai salah satu rumah kediaman pegiat-pegiat Islam progresif, secara aktif bergerak memutar kasus-kasus penggusuran dan bahkan, menerbitkan sebuah tulisan yang merupakan suara-suara dari mereka yang tergusur[iii].  Namun suasana petentangan politik kelas semacam itu, segera berputar terbalik ketika munculnya kasus penistaan agama, yang menggeser politik kelas menjadi sebatas politik identitas. Kritik terhadap Ahok bergeser dari yang dicitrakan sebagai gubernur penggusur dan pro-modal, menjadi gubernur cina-kafir yang tak pantas memimpin Ibukota Jakarta. Kritik terhadap Ahok yang digawangi oleh FPI beserta organisasi-organisasi lainya, akhirnya memanjang menjadi serangkaian aksi demonstrasi hingga bebersps jilid. Satu hal yang menarik, bahwa banyak pula masyarakat yang ikut ke dalam rangkaian aksi FPI, yang merupakan para korban penggusuran, yang notabene nya bukan (mungkin akan menjadi) basis massa FPI[iv]. Sebenarnya, hal tersebut semakin menguatkan proposisi yang telah diajukan diawal, dan senada dengan tulisan Eko, bahwa; Islam relevan untuk menjadi lawan dari kapitalisme. Karena Ahok, dipandang dari sisi manapun tetap lah merupakan tangan panjang dari kapitalisme. Dan FPI, meski melancarkan serangan yang berada dalam tataran identitas, tetap pula merupakan buah dari kapitalisme.

Terkait fenomena membesarnya FPI, sebenarnya ada beberapa hal yang perlu lanjut untuk didiskusikan—yang tentunya, masih tersambung dengan argumentasi Eko dalam tulisannya, terutama mengenai keislaman yang otentik, dan juga mengenai topik Islam Progresif  yang telah diajukan tulisan ini. Pertama, kita perlu memposisikan FPI terlebih dahulu sebagai sebuah gerakan politik Islam, meskipun terlahir dari rahim kapitalisme. Dengan mengikuti alur pemikiran Gramscian—yang menyiratkan perlawanan menghadapi kapitalisme di lapangan perjuangan politik—maka sebenar-benarnya, peluang perjuangan politik yang dimiliki oleh Islam Progresif, beserta peluang mengorbitnya politik kelas, telah terisi terlebih dahulu oleh FPI. Dengan basis massa yang begitu luas, terutama di kalangan kelas menengah perkotaan dan pemobilisasian massa yang sangat menjamur, hal ini tentu merupakan sebuah cerminan yang nyata bagi Islam Progresif tentang kemenangan keberislaman versi FPI. Dan sependek penglihatan pribadi penulis, cara keberislaman dan keberagamaan semacam FPI, nampaknya, bukan merupakan wajah asli dari Islam itu sendiri. Maka dari itu, “Islam Otentik” seperti yang dinyatakan oleh Eko, mula-mula perlu disimpan dalam sebuah ‘ruang wacana’ yang penuh pertentangan. Dan baik Islam progresif maupun corak keberislaman yang menggunakan perspektif teologi pembebasan[v], perlu terus masuk ke dalam ‘ruang wacana’ tersebut dan memprakarsai sebuah penjernihan keberislaman yang—meminjam perkataan Eko—hadir bukan hanya berbentuk aktivitas ritual rutinan yang dijalankan sebagai bentuk kepercayaan terhadap Tuhan. Namun lebih dari itu, agama (keberislaman) yang pada hakikatnya datang untuk menjadi penyelamat, pembela dan menghidupkan keadilan dalam bentuk yang paling konkret, dan—kembali meminjam perkataan Eko—bahwa agama Islam adalah musuh terhadap tindakan eksploitasi, penindasan, ketidakadilan, penghisapan, dan pelanggaran HAM. Kiranya, dalam poin ini lah Eko luput mengkontekstualisasikan tulisannya dengan fenomena Islam hari ini.

Kedua, jika dalam tulisannya Eko beranggapan bahwa; fundamentalisasi ajaran agama justru mempersempit ruang gerak penganut agama itu sendiri untuk bersikap dan bertindak secara lebih jauh dan kritis—jika Islam Progresif merupakan anti-thesis dari fundamentalisme agama—maka strategi semacam apa yang konkret untuk dilaksanakan, minimal, agar praktik keberislaman tidak terhegemoni kaum fundamentalis yang kian hari kian merebak dengan wajah—menukil tulisan Eko—yang berkutat dan berdebat pada masalah tata aturan beribadah dan masalah fiqih yang justru kurang disentuh oleh Nabi Muhammad kala itu dan disisi lain mengesampingkan masalah-masalah kehidupan sosio-ekonomi-politis. Diskusi terkait poin ini menjadi semakin mendesak, mengingat, perdebatan antara Islam fundamentalis dan yang kontra terhadapnya kian dalam disatu sisinya, dan kian menjauhkan Islam pada musuh yang sebenarnya (kapitalisme) pada sisi yang lainya.

3/

Dalam sub-bab terakhirnya, Eko menitikberatkan tulisannya pada gagasan inti yang coba dibangunya, yaitu bahwa; Ajaran Islam kontra terhadap kapitalisme. Menyambung topik sebelumnya, bisa jadi, gagasan inti ini merupakan bentuk keotentikan Islam yang sebenar-benarnya, ataupun merupakan sebentuk pengharapan tentang keberislaman di era saat ini. Dengan latar kehidupan yang digembosi oleh kerakusan logika sesat developmentalism, ditengah membuncahnya praktik kebijakan negara yang sarat dengan kecenderungan neoliberal, eksploitasi gila-gilaan yang dilakukan korporasi, serta terkungkungnya negara oleh ketergantungan pada negara-negara satelit beserta kreditur lembaga keuangannya—yang berakibat fatal bagi keberlangsungan sebuah ide mengenai: kedaulatan, lengkap beserta kemudharatan turunannya semacam; penindasan, ketidakadilan, penistaan kemanusiaan, kehancuran alam, dll, maka menjadi wajar bagi kita sebagai umat Islam untuk menantikan agama—meminjam perkataan Eko—Islam sebagai sebuah agama yang dalam konteks ajarannya menentang ketidakadilan dan penindasan, mengeluarkan kontribusinya. Tentunya, hal tersebut bukan serta-merta menjadi tanggungjawab Islam sebagai sebuah agama, lebih dari itu, hal tersebut merupakan tanggungjawab kita semua sebagai umat yang mendaku beragama Islam, untuk mengembalikan spirit keislaman Nabi Muhammad yang demokratis dan membebaskan.

Terakhir, tulisan ini semoga bisa dikategorikan sebagai sebuah ikhtiar awal untuk menjamah spirit kenabian tersebut, dengan mula-mula berangkat dari kegelisahan, kemudian menstimulus pendiskusian lebih jauh mengenai topik-topik diatas, hingga (semoga) pengaktualisasian secara nyata spirit tersebut di ranah yang benar-benar praksis. Semoga! ***

Catatan Akhir
[i] https://kalamkopi.wordpress.com/2017/01/22/islam-dan-relevansinya-menentang-kapitalisme/
[ii] Penjelasan mengenai Islam progresif, lihat tulisan Muhammad Al-Fayyadl di http://islambergerak.com/2016/07/mengapa-islam-progresif/ dan http://islambergerak.com/2015/07/apa-itu-islam-progresif/
[iii] Unduh tulisannya di http://islambergerak.com/publikasi/
[iv] Lihat tulisan Ian Wilson dilaman https://medium.com/@forumkampungkota/teman-dijadikan-musuh-466fb328f5db#.9hw7oyozf
[v] Tentang Teologi Pembebasan, lihat Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) dan Michael Lowy, Teologi pembebasan: Kritik Marxisme dan Marxisme Kritis, (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2013)

Gambar: indoprogress.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.