Mendudukan Hari Ibu Sesuai Dengan Akarnya

Spread the love

Oleh Bagas Yusuf Kausan

Setiap tanggal 22 Desember, dengan sesegera mungkin khayalak-ramai akan berebut tempat untuk mengunggah Peringatan Hari Ibu dengan berbagai cara dan ekspresi. Dari yang memberi sebuah bingkisan hadiah, ucapan puja-puji, hingga yang tiba-tiba berbaik hati kepada Ibunya. Tak lupa, hampir dipastikan media sosial akan dibanjiri foto-foto bersama Ibu nya masing-masing, lengkap dengan ucapan terimaksih dan sederet ucapan manis lainya. Sekilas, hal ini nampak bukan merupakan sebuah masalah. Penghormatan kepada Ibu; sebagai sosok yang dengan jerih-payah, hidup-mati, dan tanpa pamrih melahirkan, membesarkan, hingga membersamai anaknya hingga saat ini, patut dan sangat layak untuk kita junjung dan hormati. Namun sayangnya, konteks dan latarbelakang dari Peringatan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember, agaknya berlainan dengan maksud diatas.

Dari tahun ke tahun, jika ditelisik secara lebih cermat, Peringatan Hari Ibu telah bergeser sedemikian rupa hingga mengecilkan maksud dari kata ‘Ibu’ itu sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘Ibu’ diartikan sebagai; perempuan yang telah melahirkan anak, sebutan untuk perempuan yang telah bersuami, dan panggilan bagi perempuan yang lebih tua. Sementara dalam kehidupan kita sehari-hari, kita pun akan menemukan fakta bahwa kata ‘Ibu’ tidak hanya berlaku bagi perempuan yang melahirkan kita semata, namun berlaku pula bagi semua perempuan yang dianggap lebih tua—yang dengan itu, harus kita hormati dan patuhi. Dengan begitu, sebenarnya kata ‘Ibu’ dalam frase Peringatan Hari Ibu tidak berlaku bagi Ibu kita sendiri saja—yang telah melahirkan, membesarkan, dan merawat kita—namun berlaku pula bagi perempuan yang lebih tua lainya. Artinya, Peringatan Hari Ibu tidaklah bersifat personal semata. Untuk arti kata ‘Ibu’ yang berdimensi personal, kiranya, kita tidak membutuhkan sebuah hari khusus untuk memperingatinya. Toh, bukankah seharusnya setiap hari kita menjunjung, menaati, dan menghormati Ibu yang melahirkan kita?

Pergeseran pemaknaan Hari Ibu—dengan mengeleminasi sisi-sisi perjuangan, pergerakan dan pemberdayaan perempuan—dimulai dari kegagalan dan kemalasan untuk membaca latarbekalang diperingatinya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Disamping itu, Peringatan Hari Ibu kerap dicampur-adukan dengan peringatan Mother’s day yang dihelat setiap tanggal 9 Mei di Amerika Serikat. Mother’s Day sendiri merupakan bentuk penghormatan bagi Ann Jarvis, seorang perempuan yang menjadi pelopor gerakan untuk mempersatukan kembali keluarga-keluarga yang tercerai-berai akibat perang saudara di Amerika Serikat. Oleh anaknya, Anna Jarvis, tanggal ketika Ibunda nya meninggal akhirnya ditetapkan sebagai Mother’s Day—yang akhir-akhir ini, menjadi ladang bisnis yang cukup menjanjikan di Amerika Serikat (kartu ucapan, surat, dll).  

Sementara dalam konteks Peringatan Hari Ibu yang dirayakan masyarakat Indonesia, bersumber pada peringatan keberlangsungan Kongres Perempuan Indonesia Pertama, yang berlangsung dari tanggal 22-25 Desember 1928, bertempat di Pendopo Dalem Jayadipuran. Kongres tersebut diselenggarakan oleh berbagai organisasi perempuan pada masa itu, diantaranya; Wanita Utomo, Putri Indonesia, Wanita Katolik, Perempuan-Perempuan Serekat Islam, Perempuan-Perempuan Jong Java, dll. Acara ini turut menghadirkan pula berbagai organisasi pergerakan lainya seperti; PNI, PSI, Boedi Oetomo, Muhammadiyah, Jong Islaminten Bond, Jong Madura, Jong Java, dll. Dalam kongres tersebut, tersiar berbagai macam persoalan yang disampaikan oleh masing-masing perkumpulan maupun tiap-tiap tokoh yang hadir. Pembahasan seperti adab perempuan, perceraian, perkawinan, pemaduan (poligami), derajat dan harga diri perempuan, dan beberapa topik lainnya, turut mewarnai kongres yang kelak memfusikan diri menjadi Perserikatan Perempuan Indonesia—yang satu tahun kemudian, berganti nama menjadi Perserikatan Perhimpunan Istri Indonesia.

Dalam konteks masa itu, ketika kolonialisme Belanda sedang kuat-kuatnya, terselenggaranya Kongres Perempuan Pertama merupakan sebuah terobosan besar. Mengingat, pada masa itu, yang berserakan dimana-mana tidak hanya kolonialisme Belanda. Namun menyertakan pula nilai-nilai patriarki yang terbingkai sisa-sisa zaman feodalisme, yang terlanjur menjalar di segala sendi-sendi kehidupan. Ketika dibawah kekuasaan Belanda, hanya laki-laki yang diperkenankan untuk mengenyam pendidikan. Dibawah kaki feodalisme-patriarkis, perempuan tidak lebih hanya diperuntukan bagi urusan-urusan dapur dan rumah tangga dan perempuan pun semata-mata hanya manusia nomor dua setelah para laki-laki. Kondisi-situasi demikian yang coba dikikis dengan mula-mula menyelenggarakan Kongres Perempuan—guna menghimpun perserikatan, perkumpulan, dan paguyuban perempuan yang terpisah-pisah—untuk kemudian menjalin koalisi lebih besar dengan kaum pria guna membangun persatuan nasional—yang terilhami geliat Sumpah Pemuda 1928—untuk mencapai apa yang dinamakan dengan kemerdekaan.

Pasca berlangsungnya Kongres Perempuan tersebut, terjadi perubahan yang cukup signifikan dalam dunia perempuan. Mereka tidak lagi hanya berdiam-mengutuk diri, terbelakang, dan menerima begitu saja nasib yang menimpa mereka. Terinjeksi oleh keberlangsungan kongres tersebut, perempuan pun mulai masuk ke dalam ruang-ruang publik, berpolitik praktis, dan secara aktif memperjuangkan hak-hak mereka. Sebelum Kongres Perempuan Pertama itu berlangsung, perempuan hampir nyaris tidak pernah menyentuh hal-hal demikian, sebagai akibat dari nilai-nilai yang terkonstruksi secara sosial dan berkepanjangan di masyarakat (patriarki), yang menabukan hal-hal tersebut bagi kaum perempuan. Aktifnya perempuan di gelanggang perpolitikan dan pergerakan nasional sebelum kemerdekaan, mendorong Presiden Soekarno untuk menerbitkan Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959, sebagai puncak penetapan dan pengesahan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu Nasional.

Maka dengan melihat kecenderungan hari ini, dimana Peringatan Hari Ibu Nasional telah kehilangan semangat dan nilai-nilai perjuangan, pergerakan, dan pemberdayaan perempuan, tampaknya, hal ini secara tidak langsung disebabkan oleh terbajaknya Peringatan Hari Ibu Nasional oleh keberadaan Mother’s Day di Amerika Serikat. Dampak terparah dari terbajaknya hal tersebut ialah pemaknaan hari Ibu yang bersifat individual, dan hanya terfokus pada Ibu-Ibu perseorangan semata. Selain itu, terbajaknya makna Hari Ibu memuluskan pula pikiran-pikiran yang melupakan konteks sejarah, bahwa Hari Ibu merupakan peringatan persatuan perempuan secara kolektif di lingkungan organisasi, serta menghilangkan kandungan dan pesan bagi perempuan untuk ikut berjuang, bergerak, dan menentukan sikap dan pilihan bagi terciptanya kehidupan yang lebih layak bagi perempuan secara khusus, maupun bagi keseluruhan umat manusia secara umum. Maka dari itu, agar tidak terus-menerus keblinger dan tersesat oleh maksud-maksud ditetapkannya Hari Ibu Nasional, maka sudah semestinya kita perlu untuk kembali mendudukan Peringatan Hari Ibu sesuai dengan pesan-pesannya yang terdahulu. Dan bukan justru dengan mengharu-biru serta berpuja-puji atas peran domestik seorang Ibu. Karena sejatinya, hal tersebut justru mendistorsi makna Hari Ibu, lengkap dengan wujud kemunduran peran serta perempuan dalam ruang-ruang publik—yang pernah coba dikikis pada tahun 1928.

img_0427

Untuk itu, dalam konteks masa kini, Peringatan Hari Ibu nampaknya akan lebih menarik, dan tentu lebih cocok, jika mulai diperuntukan bagi Ibu-Ibu yang gigih berjuang, bergerak, dan berserikat untuk menuntut hak-haknya, mengupayakan pemberdayaan bagi perempuan, memperjuangkan bangsanya, memperjuangkan tegaknya keadilan dan kemanusiaan, dan bentuk-bentuk perjuangan lainya. Ibu-Ibu di Kendeng, Surokonto, Urutsewu, Sukamulya, Jatigede, Telukjambe, Kulonprogo, Parangksumo, dan berbagai tempat lainya yang sedang direcoki nafsu pembangunan pemerintah cum pengusaha adalah senyata-nyatanya Ibu-Ibu yang telah memanifestasikan pesan-pesan Peringatan Hari Ibu. Juga Ibu-ibu yang gigih berjuang dalam barisan buruh untuk menuntut haknya, Ibu-ibu yang setia berpayung hitam di depan istana, Ibu-ibu yang secara sukarela memberikan pendidikan, Ibu-ibu yang tulus mengusahakan perubahan, Ibu-ibu yang mengusahakan tegaknya keadilan dan kemanusiaan, Ibu-ibu yang istiqomah berada di jalur perjuangan adalah sebenar-benarnya ibu-ibu yang pantas merayakan Peringatan Hari Ibu.  

Kemudian, akan menarik pula jika kata ‘Ibu’ dalam frase Peringatan Hari Ibu, dapat diubah pula ke dalam subjek lain yang bukan manusia, namun alam kehidupan itu sendiri. Ketika alam semesta kehidupan diposisikan sebagai Ibu, maka akan terlihat begitu keji jika manusia memperkosa Ibunya dalam bentuk pengerusakan alam, keserakahan pembangunan, kebebalan pertambangan, serta praktik penghancuran lingkungan lainya. Konsep inilah yang digunakan oleh beragam agama kepercayaan ada di Indonesia, sehingga—meski mereka kerap distempel terbelakang dan tertinggal—mereka justru menjadi pionir bagi pelestarian alam, keseimbangan kehidupan, dan keharmonisan hidup berdampingan antara alam dan makhluk-makhluk yang hidup di dalamnya.

Sementara untuk Ibu yang melahirkan, menyusui, dan membesarkan kita hingga detik ini, rasanya, penghormatan kita atas jasa-jasanya tak akan mampu terbayar hanya dengan menyisihkan satu hari sekali dalam satu tahun—untuk kemudian kita rayakan dengan mengunggahnya di media sosial—dan bahkan jika harus setiap hari, setiap saat, dan setiap detik pun, sebenarnya tidak dan tak akan pernah cukup. ***

Gambar: kalamkopi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.