Menelisik Teka-teki Indri Yuswandari

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

Kitab puisi Indri Yuswandari, Teka-teki Catatan Kaki (Jakarta: Teras Budaya, Maret 2019), ini memuat 75 puisi; dengan 15 di antaranya merupakan puisi berseri: “Dejavu”; dari “Dejavu” sampai “Dejavu 14”. Dan, dari sekian banyak puisi itu, terus terang, cuma tiga yang saya suka. Itulah puisi “Ziarah”, “Kepada Senyap”, dan “Ajakan”. Ketiga puisi itu tergolong pendek. Ketiga puisi pendek itu bersifat diafan, polos, apa adanya. Namun justru karena pendek dan polos itulah, saya suka.

Puisi “Ziarah” (halaman 40) terpendek di antara ketiganya; satu bait berisi enam baris: Menggambar rindu/dalam doa dan mantra/dengan segenap rindu/ketika senja tenggelam/memaksa langkah/kembali pulang. Puisi “Kepada Senyap” (halaman 75) berisi lima bait; dua bait sama-sama tiga baris, dua bait sama-sama dua baris, dan satu bait (terakhir) satu baris. Simaklah: Kubungkam mulutku/aku ingin selesai/dengan kata-kata//Kututup telingaku/tak ingin mendengar/suara-suara//Dari segala gaduh/tatap mata membunuh//Kepada senyap/aku ingin lenyap//Tak ingin bicara. Adapun puisi “Ajakan” (halaman 77) berisi tiga bait; bait pertama enam baris, bait kedua empat baris, dan bait ketiga satu baris. Saya paling saya suka puisi ini. Dengarlah: pada senja/laut menggambar/wajah ayah/bayang ibu/menawarkan jalan pulang/meredam badai//Sungai belakang rumah/masih mengalir/bening airnya/tempat berserah//Diam dan basah.

Kenapa saya suka ketiga puisi itu? Ya, sekali lagi, lantaran ketiga puisi itu diafan, polos, nyaris apa adanya. Tidak neka-neka, tidak berakrobatik bahasa melalui ungkapan, majas, metafora, gaya bahasa, rima, dan segala aspek kebahasaan, termasuk musikalitas bahasa. Justru karena itulah, saya merasa ketiga puisi itu autentik, jujur, tidak manipulatif – untuk tidak menyatakan terlalu mengada-ada atau nggaya. Diafan, polos, apa adanya, sahaja. Begitulah kesan pembacaan saya. Kesan pembacaan itu tentu berdasar selera literer saya.

Namun apakah penilaian bagus atau tidak, suka atau tidak, terhadap sebuah puisi berdasar selera literer bisa dipertanggungjawabkan? Atau, lebih tepat: bisa saya pertanggungjawabkan? Apakah pertanggungjawaban – bagaimanapun wujudnya — itu tidak mengada-ada?

Ya, memang mengada-ada. Namun bukankah puisi memang kerja yang mengada-ada; dari tiada menjadi ada (mengada) dan jika tak ada puisi, kita pun merasa perlu untuk mengadakan (mengada-adakan).

(Masa hidup tanpa puisi sih? Repot lo jika penguasa negeri ini melarang penulisan puisi, melarang penerbitan puisi, melarang pengajian puisi, melarang lomba menulis dan membaca puisi, melarang pembangunan dan pengembangan teori tentang puisi. Jika itu terjadi, bukankah akan mengakibatkan, antara lain, peniadaan jurusan sastra dari berbagai perguruan tinggi kita. Jika jurusan sastra ditiadakan, berarti fakultas bahasa dan seni, fakultas ilmu budaya bisa bubar.)

Ya, bagaimana tidak mengada-ada? Bahasa, sebagai alat komunikasi, bersifat mimetik, tiruan, peniruan. Namun, ketika bahasa (yang konvensional itu) berubah dari sifat mimetis dalam komunikasi impersonal menjadi “bahasa komunikasi personal” yang bisa amat-sangat subjektif, sifat bahasa pun berubah menjadi semiotis. Bukankah dalam pemahaman macam itulah Michael Riffaterre menyatakan puisi adalah ekspresi secara tidak langsung; menyatakan suatu perkara dengan arti lain. Dan, oleh karena itulah, untuk memahami dan memaknai puisi kita seyogianya membaca secara heuristik dan hermeneutik, memakai matriks, model, dan varian, serta hipogram.

Aduh, kok jadi sulit sih? Begini deh, intinya, lantaran puisi adalah wujud dari suatu model komunikasi personal – yang, sekali lagi, bisa amat-sangat subjektif – yang tentu juga berkemungkinan mempergunakan ungkapan subjektif, membaca dan memaknai puisi bisa berkesan sebagai pemaknaan sesuka-suka, pemaknaan yang mengada-ada, bukan? Tidak sesuka-suka, tidak mengada-ada, jika pemaknaan itu berbasis, berlandaskan, atau berdasar teori.

Lo, apakah teori sudah pasti benar? Apalagi, bukankah teori atau teorisasi berlangsung setelah (gejala) sastra, antara lain berupa atau berwujud puisi, ada? Jadi (gejala) sastra mendahului teori bukan? Bagaimana bisa kita mendewakan teori – apalagi dengan menyatakan pasti teori itu benar – padahal gelaja sastra terus hidup, mengada, menjadi baru dalam rentang ketegangan terus-menerus antara yang konvensional dan yang inovatif? Dengan kata lain, teori sastra, termasuk teori tentang puisi, ada karena ada gejala sastra. Bukan sebaliknya.

Ah, cukuplah bersulit-sulit. Kita peras sajalah batasan pengertian Riffaterre mengenai puisi. Sekali lagi, dia menyatakan puisi adalah ekspresi secara tidak langsung; menyatakan suatu perkara dengan arti lain. Dengan kata lain, puisi adalah model atau pola komunikasi antarpribadi secara tidak langsung; menyatakan suatu perkara dengan atau lewat perkara lain.

Nah, model komunikasi macam itu memanfaatkan pergeseran, perubahan, penghancuran, dan penciptaan makna (baru) dari bahasa konvensional (dalam model komunikasi konvensional yang lebih bersifat impersonal). Pergeseran, perubahan, penghancuran, dan penciptaan makna itu bisa kita tempuh melalui pemakaian segenap potensi bahasa, antara lain majas atau kias — yang cuma satu dari sekian banyak potensi bahasa.

Beda paling mencolok dan substansial dari model komunikasi impersonal dan antarpribadi bisa kita tilik secara sederhana sekaligus konfrontatif, misalnya, dengan membaca puisi berbekal pengetahuan dan kemampuan bahasa jurnalistik. Kita uji “pendekatan urakan” ini melalui pembacaan dan pemaknaan terhadap puisi “Malam Lebaran” Sitor Situmorang. Anda tahu atau mungkin hafal, puisi itu cuma berisi satu baris: bulan di atas kuburan.

Nah, dari sisi penglihatan jurnalistik, tentu kita harus membuktikan – dengan atau lewat mata dan telinga terpercaya — bahwa memang pada malam lebaran, bulan berada di atas kuburan. Lewat pembuktian, tak pernah ada atau tak pernah dan tak bakal pernah ada bulan di atas kuburan pada malam lebaran! Lantaran pertanda esok lebaran atau tidak adalah keberadaan bulan di ufuk barat. Di ufuk barat, bukan di atas, apalagi tegak lurus dengan langit: di atas kuburan, di mana pun kuburan itu.

Namun bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi impersonal. Jadi bulan di atas kuburan adalah omong kosong, adalah nonsense! Padahal, dalam puisi yang merupakan bahasa antarpribadi, omong kosong atau nonsense justru menjadi salah satu, selain majas, untuk menyatakan suatu perkara dengan perkara lain. Ya, dalam bahasa antarpribadi, yang bisa amat-sangat pribadi, bisa saja ada bulan di atas kuburan lantaran bulan dan kuburan dalam puisi Sitor bukan bulan dan kuburan dalam pengertian atau makna leksikal dan gramatikal semata-mata. Namun bisa saja dalam pengertian atau makna filosofis, kontekstual, intertekstual, metatekstual, dan lain-lain.

Bisa saja, misalnya, kuburan adalah metafora bagi kematian segala nafsu duniawi selama kita berpuasa macam sekarang ini. Dan, bulan adalah wujud kegembiraan, wujud kemenangan setelah kita mampu selama sebulan mengendalikan atau mematikan segala hasrat duniawi itu. Jadi, bulan di atas kuburan pada malam lebaran adalah wujud kegembiraan, wujud kemenangan, kita setelah melewati batu ujian: sebulan penuh “mematikan” segala hasrat duniawi.

Itu, mungkin, baru satu penafsiran, satu pemaknaan, terhadap teks puisi Sitor Situmorang tersebut.

Kini, bagaimana kita mesti memaknai puisi-puisi Indri dalam Teka-teki Catatan Kaki? Bagi saya, terutama untuk ketiga puisi yang saya suka, ya nyaris seperti yang tersurat itulah pula yang tersirat. Polos, apa adanya.

Namun bagaimana pula dengan sebagian puisi lain?

Kesan pembacaan saya, hampir keseluruhan puisi Indri bicara tentang (dan nyaris pula bicara pada) diri sendiri. Atau, setidaknya, Indri bicara tentang apa yang dia alami, dia rasakan, dia pikirkan, tanpa pretensi orang lain (harus) tahu, paham, mengerti, atau tidak. Tanpa pretensi pula orang lain (harus) suka atau tidak; mau bilang baik, bagus, silakan; mau bilang jelek, buruk, silakan pula.

Jika benar sikap dan pandangan itu, ya tak masalah. Boleh-boleh saja. Namun, forum pembacaan ini diadakan tentu bukan sekadar untuk menunggu waktu berbuka bukan? Jadi, ya, izinkan saya menyoal sedikit yang saya bisa dan (merasa) tahu.

Puisi-puisi Indri, sekali lagi, bicara tentang apa yang dia dengar, alami, rasakan, pikirkan. Semua itu dia sampaikan melalui pemakaian majas persamaan – yang paling menonjol – dengan melekatkan alam dalam wujud dan karakter masing-masing sebagai alat penyangat, pembesar, apa yang dia lihat, dengar, alami, pikirkan. Itulah moda ungkap Indri yang mengemuka. Itu tampak, antara lain, lewat ungkapan macam: riak rinduku (“Dejavu”), prahara rindu (“Dejavu 3”), sungai mata (“Dejavu 8”), membintang mata, menyungai mimis (“Luka Rindu”), rindu menggaram (“Menepi”), awan gelisah (“Penderitaan”), rimba muslihat syahwat, cahaya cintamu (“Kekasih”), makam kepahitan (“Catatan Kesaksian”), langit-langit kamar (“Catatan Kaki”), kepak sayap harapan (“Aku, Perempuanmu”), rimba-rimba jiwa (“Pengakuan”), perasaanmu yang rimba (“Bening”), ruang-ruang rimba (“Kepada Angka dan Usia”), langit hasrat (“Engkau dan Perempuan Itu”), cahaya jiwaku (“Penanda”), sayap inginku (“Itikad”), angin pagi kesabaran (“Inikah Jendela”), angin gelisah (“Sajak Kayu”), riak-riak masa (“Tafsir Cahaya”), bara rindu, jingga setiaku (“Mendung”), jurang matamu (“Tanah Retak”), kemarau rindu, samudera setiamu (“Menyisir Kabut”), kemarau mata (“Akhirnya”), cahaya memata, bulan menyabit (“Cahaya”), palung mata (“Sayap Putih”), bongkah rindumu, benih-benih kenangan, sungai jantungku, riak-riak rindu, kolam ingatan (“Mungkin Nanti”).

Pemakaian ungkapan penyangat, pembesar, itu membuat segala apa yang Indri nyatakan berasa pula besar, sangat, intens. Dan, bagi saya, kesan itu pula memang yang muncul. Pengalaman Indri yang tertuang dalam puisi-puisinya pun memperlihatkan intensitas itu. Rindu Indri adalah rindu yang sangat. Sakit Indri adalah sakit yang sangat. Kesepian, keterasingan, ketundukan Indri adalah juga kesepian, keterasingan, ketundukan yang sangat.

Kesan pembacaan itu menguat manakala saya menemu ungkapan yang nyaris sama dan berulang pada sajak “Dejavu 4” (ada merah mengucur dari pangkal paha), “Dejavu 7” (mengalir merah di antara belah dadanya), “Dejavu 9” (memuncrat merah dari pusar dan lubang malunya), “Dejavu 10” (Sungai merah membajiri pangkal paha), “Dejavu 13” (tubuhnya bersimbah merah), “Dejavu 14” (menggenang kolam darah dari tubuhnya), “Luka Rindu” (hidungku menyungai mimis). Bahkan ungkapan sama persis berulang pula pada sajak berbeda: sajak “Gemetar” (halaman 26: sebab perjalanan rinduku/tak pernah sampai alamat) dan “Penderitaan” (halaman 29: rindu setiaku bergumul/tak pernah sampai alamat).

Puisi-puisi Indri mengesankan kekelaman; kelam, bukan gelap. Rindunya rindu yang kelam, cinta dan pengharapannya pun cinta dan pengharapan yang kelam. Membaca puisi-puisi Indri, saya “terjebak” dalam labirin kekelaman. Kekelaman itu terasa liris. Kekelaman yang puitis.

Majas-majas Indri yang bertumpu pada penyangatan dengan melekatkan bagian dari alam dalam penghayatan individual dia menjadikan puisi-puisinya terasa sangat personal. Ungkapan-ungkapan Indri pun merupakan ungkapan personal; khas Indri – setidaknya dalam Teka-teki Catatan Kaki ini.

Namun – ah, kenapa saya terlalu sering memakai kata ini? – model majas macam itu yang produktif dan berulang membuat moda ungkap Indri cenderung menjenuhkan. Sudah sampai pada titik jenuh. Saya berharap, Indri tak berhenti mencari dan menemu moda ungkap baru, yang lebih variatif – yang mencerminkan pula kekayaan perspektif dalam melihat permasalahan. Itulah yang kemudian disebut pandangan dunia sang penulis.

Jika itu dia lakukan, tak akan dia tergiur, misalnya, memodifikasi ungkapan penulis atau penyair lain, misalnya, dengan menyatakan alam “Engkau dan Perempuan Itu”: dengan segenap dukanya abadi. Lantaran, Anda ingat benar bukan, pernah ada puisi dengan ungkapan: dukamu abadi?

Semarang, 20 Mei 2019: 13.45

 

Gunawan Budi Susanto mengelola Kelas Membaca Pram dan Kelas Menulis Cerpen di Kedai Kopi Kang Putu Semarang. Bukunya yang telah terbit Kesaksian Kluprut (kolom, 1996), Edan-edanan pada Zaman Edan (esai-reportase, 2008), Nyanyian Penggali Kubur (cerpen, 2011 & 2016), Penjagal Itu Telah Mati (cerpen, 2015), Cik Hwa (cerpen bahasa Jawa dialek Blora, 2018), dan Dendam (novel, 2019).

 

Sumber Gambar: www.ngv.vic.gov.au

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.