Momen Bersama Orde Desain dan Studio

Spread the love

Oleh Ervan Nur Septian Ardi

Apa reaksi ketika melihat video atau foto momen terpenting dalam hidup kita? Senang, sedih, terharu, lucu, dan beragam lagi jawaban dari kita sesuai dengan keadaan pada gambar yang yang kita miliki. Cerita-cerita tentang keluarga, tetangga, sahabat, pacar, istri, sampai pada saat kita punya anak kelak tidaklah pas kalau hanya terlewat begitu saja tanpa terdokumentasi.

Semboyan terkenal yang dilontarkan oleh Bapak Proklamator kita, Sukarno pada pidato Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1966 yaitu “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Artinya, untuk membangun bangsa yang besar, jangan pernah melupakan sejarah bangsamu sendiri. Begitu juga ketika kita ingin mengembangkan diri, janganlah sampai melupakan diri kita sendiri.

Jauh sebelum pidato Sukarno tahun 1966 itu, tepatnya pada 17 Agustus 1945, Alex Mendur, yang berprofesi sebagai fotografer menyumbang karya sebagai bentuk dedikasinya terhadap bangsa dan negara berupa foto detik-detik proklamasi kemerdekaan.


Alexius Impurung Mendur lahir di Kawangkoang, Sulawesi Utara, 7 November 1907. Pada tahun 1922 setelah lulus dari sekolah rakyat, karena ketiadaan biaya akhirnya Alex Mendur memutuskan pergi ke Batavia bersama Nayoan, seorang kerabat keluarga yang menetap disana. Nayoan bekerja di sebuah perusahaan Belanda yang menjual alat kebutuhan fotografi, dan Nayoanlah yang mengajari Alex cara menggunakan kamera.


Seiring perkembangan, Alex menjadi seorang fotografer jurnalistik di Java-Bode. Selama pendudukan Jepang, dia ditugaskan ke cabang lokal dari kantor berita Jepang, Domei Tsushin. Pekerjaannya yang bersingggungan dengan negara penjajah tidak lantas meninggalkan rasa cinta pada tanah air.


Mendengar bahwa di kediaman Sukarno akan diselenggarakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dia mengajak saudaranya Frans Mendur untuk membidik momen bersejarah dalam bangsa ini. Lewat kamera yang dia bawa dari kantor perusahaan milik Jepang, Mendur bersaudara mengabadikan momen kemerdekaan.


Sebenarnya banyak foto yang mereka dapatkan. Namun, karena Alex terdeteksi menghadiri proses proklamasi dengan membawa kamera kantor, akhirnya film yang dia bawa disita oleh Jepang. Beruntung film yang dimiliki oleh Frans Mendur masih bisa terselamatkan.

Hingga saat ini, kita masih bisa melihat hasil foto kemerdekaan yang diabadikan oleh Mendur bersaudara lewat buku-buku sejarah ataupun buku edukatif yang ada di sekolah serta gambar yang tersebar luas di internet.


Bayangkan, apabila tidak ada foto saat Bung Karno dan Bung Hatta saat membacakan proklamasi? Atau, pengibaran bendera yang di hadiri para pemuda dan rakyat Indonesia, dan penjahitan bendera yang dilakukan oleh ibu Fatmawati? Bagaimana kita membuktikan pada generasi muda saat ini bahwa pernah ada suatu peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia? Walaupun ini bukan satu-satunya cara, tapi setidaknya tiga foto di atas, secara tidak langsung, dapat menggambarkan tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.


Perkembangan fotografi pada era milenial ini sangatlah pesat. Bersamaan dengan hadirnya media sosial, orang berlomba-lomba untuk mengabadikan momen terbaik dan tidak lupa juga untuk membagikannya di media sosial. Baik sendiri maupun dengan orang spesial yang ada di sekitarnya. Sadar atau tidak, mereka sedang mencatat sejarahnya.


Dengan demikian, persaingan merek kamera sekarang juga tidak bisa dimungkiri soal harga yang bersaing. Variasi harga sangat beragam, mulai dari harga murah sampai yang paling mahal sudah disediakan pasar untuk memenuhi kebutuhan pendokumentasian, baik individu maupun kelompok. Tentu harga menyesuaikan dengan kualitas yang beragam pula.


Kalau anda kerepotan dengan harus membeli sendiri,  memotret, dan mendokumentasikan menjadi video, untuk anda yang sekarang berada di Semarang dan sekitarnya, tidak perlu repot untuk mengabadikan momen anda sendiri. Kini sudah ada jasa penyedia dokumentasi baik foto atau video sesuai dengan keinginan anda. Dengan skema pengelolaan yang kooperatif dengan harga kompetitif, Orde Desain dan Studio siap menemani momen terbaik anda.


Ada berbagai macam paket pilihan. Mulai dari Paket Perunggu, Paket Perak, sampai Paket Emas. Momen seperti wisuda, prapernikahan, pernikahan, acara ulang tahun, seminar, foto produk, profil desa, profil sekolah, hingga profil perusahaan semua ada untuk memenuhi kebutuhan anda.


Jadi, sebenarnya banyak sekali yang menyediakan jasa dokumentasi. Yang menjadi pembeda adalah pengelolaanya secara kooperatif. Orde Desain dan Studio adalah salah satu lini usaha dari Kooperasi Moeda Kerdja.


Menurut Bung Hatta dalam bukunya Menindjau MasalahKooperasi (1954), kooperasi berasal dari kata-kata “ko”, yang artinya “bersama” dan “operasi”, yaitu bekerja”. Jadi, kooperasi artinya sama-sama bekerja. Perkumpulan yang dinamakan kooperasi ialah perkumpulan kerja-sama dalam mencapai suatu tujuan. Dalam kooperasi tak ada sebagian anggota bekerja dan yang sebagian berpangku tangan. Semua sama-sama bekerja untuk mencapai tujuan bersama, dengan berlandaskan asas kekeluargaan.


Kesadaran atas sejarah diri kita sendiri dengan contoh yang diberikan para pahlawan kita, adalah dokumentasi pada setiap momen itu penting. Kelak ketika kita sudah melewati jauh momen tersebut hingga di mana ada masa saat bernostalgia, maka sangatlah bahagia melihat kembali apa yang sudah kita capai pada masa lampau.


Gambar: Orde Desain dan Studio

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.